
Menelusuri komplek Candi Prambanan, Jawa Tengah Yogyakarta, kurang sempurna bila kita tidak mengunjungi komplek Candi Ratu Boko. Hal ini disebabkan kedua candi ini memiliki nilai perjalanan sejarah cerita legenda masyarakat tentang kedua candi tersebut.
Dari cerita sejarah yang penulis dapatkan informasi dari pusat sejarah informasi di daerah Candi Prambanan, Candi Ratu Boko yang berasal dari sebuah cerita masyarakat setempat yang memiliki arti arfiah "Raja Bangau" yaitu sosok seorang ayah dari "Loro Jonggrang" si putri ramping cantik yang dapat kita lihat dalam area Candi Prambanan.
Lokasi pitu masuk Candi Ratu Boko yang pertama akan berakhir di tempat parkir untuk kendaraan besar seperti Bus. Bila masuk dari pintu masuk di sini kita akan mendaki anak tangga yang lumayan terjal posisinya. Lokasi ini sangat cocok bagi para pengunjung yang masih memiliki kondsi fisik yang masih kuat. Lokasi pitu pertema ini tidak jauh dari Candi Prambanan dan papan petunjuk untuk menuju lokasi Candi Ratu Boko ini dapat kita temukan di sekitar lokasi ini.
Dan lokasi ke dua untuk menuju lokasi Candi Ratu Boko ini, kita bisa melewati jalan belakang, dan lokasinya agak jauh dari Candi Prambanan. Dan papan petunjuknya kurang terlihat. Bila kita masuk melalui pintu ke dua ini, maka kita akan melewati area persawahan dengan jalan menanjak, dan kita akan diarahkan hingga sampai ke lokasi tempat palataran Kompleks Candi Ratu Boko. Untuk jalur kedua ini kita dapat menghemat tenaga, karena kondisi medannya tidak terjal.
Candi Ratu Boko merupakan peninggalan masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun sekitar abad 9 M. Tempat ini bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh dengan kedamaian).
Sebagai biara lokasi ini tentulah sebagai tempat untuk menyepi dalam memusatkan diri pada kehidupan spiritual. Berada di kompleks Candi Ratu Boko ini, penulis dapat merasakan kedamaian sekaligus keheningan yang berpadu dalam setiap tarikan nafas udara yang kita hirup di area sekelilingnya.
Informasi yang penulis dapatkan........
Lokasi Candi Ratu Boko memiliki luas are sekitar 250.000 m persegi, dan terbagi atas empat wilayah.yaitu ; tengah, barat, tenggara, dan timur. Lokasi bagian tengah Candi Ratu Boko meliputi gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban.
Dan dibagian barat hanya perbukitan. Serta dibagian tenggara terdapat sebuah pendopo, balai-balai, tiga candi, kolam, dan komplek Keputren. Sementara dibagian timur bisa disaksikan kompleks gua, stupa Budha, dan kolam.
Pada saat penulis memasuki gerbang gapura pertama, penulis mendapatkan sebuah tulisan "Panabwara". Menurut keterangan dari salah seorang pemandu wisata lokal yang mendampingi perjalanan penulis dilokasi ini. Tulisan bila mengacu kepada Prasasti Wanua Tengah III, kata tersebut merujuk ke Rakai Panabwara yang merupakan keturunan Rakai Panangkaran dan pengambil alih istana.
Sesuai dengan namanya, Candi Pembakaran ini digunakan untuk pembakaran jenazah. Namun, dalam kesehariannya lokasi ini sering dijadikan tempat angon binatang ternak oleh penduduk sekitarnya.
Melihat hal ini semua, penulis berkesimpulan bahwa sudah berabad-abad silam sikap toleransi tumbuh di negara Indonesia ini. Karena di lokasi ini saja penulis dapat menemukan pada jaman Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha, mereka dapat hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.
Semoga perjalanan wisata penulis kali ini dapat memberikan pembelajaran yang positif bagi diri kita semua, tentang arti perbedaan yang dapat hidup berdampingan secara harmonis yang selalu terjaga dalam kisah cerita yang dapat kita saksikan dalam sebuah sosok candi ini.
Salam wisata,
Info :
Hotel Kawasan Prambanan


