Di Balik Pesona Keindahan Candi Jabung. Candi Jabung yang terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Candi Jabung merupakan salah satu candi Hindu yang terdapat di kawasan Jawa Timur, dan tercatat sebagai salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit.
Lokasi Candi Jabung sendiri berjarak +/- 5 km dari Kraksaan dan berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo.
Perjalanan saya di kawasan Situs Candi Jabung di kawasan Lumajang merupakan salah satu rangkaian perjalanan wisata yang saya lakukan setelah mengunjungi Situs Biting. Di mana lokasi ini tercatat dalam sebuah kitab Negarakertagama sebagai tujuan akhir perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk pada masa memimpin Kerajaan Majapahit untuk melakukan upacara "srada". ( Baca : Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk ).
Perjalanan menuju kawasan Candi Jabung ini saya melalui jalan desa. Dan perjalanan ini saya di temani dengan seorang sahabat yang merupakan penduduk asli dari Trowulan. Jadi tidak terlalu sulit saya sampai di lokasi ini. Walau lokasi candi berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo, lokasi ini terlihat tenang.
Tiba di kawasan Candi Jabung saya bersama teman waktunya masih belum terlalu sore. Terlihat bangunan candi yang menjulang tinggi dapat mudah dikenali dari kejauhan. Setibanya kami di lokasi candi, kami pun langsung bertemu dengan salah seorang juru rawat Candi Jabung atau yang di kenal dengan anam kuncen Candi Jabung. Beliau bernama Bapak Abdul Rahman. Di mana beliau pernah ikut andil dalam proyek pemugaran Candi Jabung pada tahun 1980 yang di lakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo.
Lanjut........
Konon informasi yang saya terima dari juru kuncen Candi Jabung, Candi ini di yakini sebagai tempat para leluhur Raja Hayam Wuruk. Sehingga pada masa lalu Sang Raja melakukan upacara ritual sambil mendoakan para leluhurnya sambil meminta petunjuk Tuhan melalui ritual untuk mendapatkan sebuah ilham yang baik dalam mempimpin Kerajaan Majapahit yang beliau pimpin.
Memasuki kawasan Candi Jabung, kita bisa menemukan sosok bangunan candi yang menjulang tinggi bagaikan bangunan pencakar langit. Bangunan Candi Jabung ini terbuat dari bata merah yang tersusun rapih. Namun, sangat di sayangkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi terlihat sudah pada haus.
Informasi yang saya dapatkan di lokasi, di balik pesona keindahan Candi Jabung ini ternyata terdapat suatu peristiwa yang menyebabkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi menjadi terkikis. Hal ini di sebabkan akibat dari pengikisan dari pasir laut yang di gunakan untuk menimbun (menguruk) candi agar tidak terlihat dan terselamatkan dari serangan penjajah pada masa tahun 1942 Masehi.
Dalam sebuah catatan bangunan Candi Jabung kit bisa melihat bahwa candi ini berukuran panjang bangunan 12,11 meter, dengan lebar bangunan candi 9,58 meter, dan tinggi bangunan candi 15,58 meter.
Candi Jabung ini telah mengalami pemugaran pada tahun 1980 - 1986 yang di lakukan oleh Pemerinatah Derah Kabupaten Probolinggo. Sebelum pemugaran candi ini hanya memiliki luas area yang sempit, yaitu berkisar 35 x 40 meter persegi. Namun, setelah di lakukan pemugaran dan penelitian di area Cadni ini ternyata kawasan area ini luasnya bertambah menjadi 20.042 meter persegi.
Bila di tinjau dari segi seni bangunan arsitektur, Candi Jabung kita dapat melihat sisi-sisi pesona keindahannya seperti dari bentuk bagian tubuh candi yang berbentuk bulat atau silender persegi delapan, dan bangunan candinya berdiri menjulang atap langit yang memiliki tiga tingkat berbentuk persegi. Sedangkan bagian atap candi berbentuk pagoda atau yang di kenal dengan nama stupa. Namun, bila kita perhatikan secara perlahan pada bagian puncak Candi Jabung kita akan melihat relif motif salur-saluran yang indah.
Lanjut............
Bergeser ke sebelah barat lokasi Candi Jabung. Di lokasi ini kita akan menemukan sebuah pintu bilik yang menghadap ke arah sebelah barat, di mana bagian depannya ada sebuah anak tangga yang menjorok ke depan dan bisa dinaiki oleh siapa saja untuk menuju lokasi bilik ruangan candi yang berada di atas.
Dari pengalaman saya di lokasi, untuk menaki anak-anak tangga tersebut tidak lah mudah. Bagi kita yang akan menaiki anak tangga hingga sampai di lokasi puncak atas depan bilik candi di butuhkan perjuangan ekstra. Dan bagi kita yang akan mencobanya sangat di sarankan untuk berhati-hati di area ini. Terutama bila pada saat musim penghujan. Dan jangan membawa barang bawaan atau tas yang menambah berat beban dan ruang bebas kita dalam menapaki setiap anak tangga yang kecil untuk hingga sampai ke atas.
Lanjut............
Dengan sedikit perjuangan melalui anak tangga sebelah barat, sampailah saya di ruang dalam Candi Jabung yang berada di posisi atas. Tentunya perjalanan kali ini saya tidak melakukannya sendiri. Dengan mengikuti bekas jejak Bapak Adul Rahman di setiap anak tangga yang bisa di lewati hingga sampai di atas atau pun depan bilik pintu Candi Jabung.
Setelah sampai di lokasi puncak dan berada di depan pintu bilik Candi Jabung, kita bisa melihat sebuah tulisan di atas pintu ruangan badan Candi. Dalam tulisan tersebut kita dapat melihat bahwa keterangan di bangunnya Candi Jabung ini di buat pada tahun 1276 c (saka) atau pada tahun 1345 Masehi. Di mana pada tahun tersebut merupakan salah satu masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Dari lokasi atas candi terlihat sosok bangunan di sebelah barat dari Candi Jabung terdapat sebuah bangunan candi juga. Dari informasi yang saya terima di lokasi. Menara sudut candi yang di perkirakan sebagai penjuru pagar di lokasi candi, dan memiliki fungsi sebagai pelengkap bangunan Candi Jabung. Candi tersebut di berinama Candi Menara Sudut, dan bangunannya juga terbuat dari bata merah yang sama, dan sisi-sisi candinya berukuran +/- 2.55 meter, dengan ketinggiian banguan +/- 6 meter.
Lanjut...........
Yang paling menarik dalam penelusuran saya untuk tahu asal usul dari nama Candi Jabung dari keterangan juru kunci Candi, beliau mengatakan bahwa dulunya lokasi candi ini merupakan dataran yang berbentuk cekung ke dalam tanah. Setelah di urut dan di adakan pemugaran maka nama "Jabung" tersebut pilihlah untuk nama candi ini.
Namun, bila kita melihat dari kitab Nagarakertagama, Candi Jabung ini merupakan lokasi yang pernah di kunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada masa tahun 1359 Masehi untuk melakukan upacara ritual. Dan dari keterangan yang terdapat di dalam kitab Paraton disebutkan Sajabung merupakan tempat pemakaman Bhra Gundul yaitu salah sorang keluarga raja. ( Baca : Menelusuri Negarakertagama )
Terlepas dari beberapa keterangan tersebut di atas bersumber dari nara sumber dan daftar pustaka yang berbeda tentang asal usul nama Candi Jabung ini. Kita bisa melihat bila cerita ini kita jadikan satu dan menjadi sebuah rangkaian cerita maka kita akan menemukan bahwa lokasi Candi Jabung yang di pilih oleh Raja Hayam Wuruk untuk melakukan upacara ritual "srada" di jadikan sebuah tempat untuk mencari ilham dari Tuhan untuk mempimpin Raja Majapahit sambil beliau merawat atau pun mendoakan para leluhurnya di lokasi area tersebut.
Informasi kejelasan dari ide pembanguanan dan keberadaan lokasi Candi Jabung ini kita bisa melihat di dalam prasasti Gajah Mada. ( Baca : Mengenal Prasasti Gajah Mada )
Mengakhiri perjalanan wisata sejarah saya di kawasan Candi Jabung dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk ini, terlintas dalam pikiran bahwa dengan sebuah susunan batu bata merah bisa berdiri sebuah candi yang megah hingga berusia berabad-abad. Tentu apa yang bisa kita lihat di lokasi ini adalah sebuah bukti sejarah dan nilai seni arsitektur bangunan yang luar biasa yang bisa di kaji lebih jauh dari pembelajaran yang dapat diambil di balik pesona keindahan Candi Jabung.
Salam wisata,
Candi Jabung merupakan salah satu candi Hindu yang terdapat di kawasan Jawa Timur, dan tercatat sebagai salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit.
Lokasi Candi Jabung sendiri berjarak +/- 5 km dari Kraksaan dan berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo.
Perjalanan saya di kawasan Situs Candi Jabung di kawasan Lumajang merupakan salah satu rangkaian perjalanan wisata yang saya lakukan setelah mengunjungi Situs Biting. Di mana lokasi ini tercatat dalam sebuah kitab Negarakertagama sebagai tujuan akhir perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk pada masa memimpin Kerajaan Majapahit untuk melakukan upacara "srada". ( Baca : Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk ).
Perjalanan menuju kawasan Candi Jabung ini saya melalui jalan desa. Dan perjalanan ini saya di temani dengan seorang sahabat yang merupakan penduduk asli dari Trowulan. Jadi tidak terlalu sulit saya sampai di lokasi ini. Walau lokasi candi berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo, lokasi ini terlihat tenang.
Tiba di kawasan Candi Jabung saya bersama teman waktunya masih belum terlalu sore. Terlihat bangunan candi yang menjulang tinggi dapat mudah dikenali dari kejauhan. Setibanya kami di lokasi candi, kami pun langsung bertemu dengan salah seorang juru rawat Candi Jabung atau yang di kenal dengan anam kuncen Candi Jabung. Beliau bernama Bapak Abdul Rahman. Di mana beliau pernah ikut andil dalam proyek pemugaran Candi Jabung pada tahun 1980 yang di lakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo.
Lanjut........
Konon informasi yang saya terima dari juru kuncen Candi Jabung, Candi ini di yakini sebagai tempat para leluhur Raja Hayam Wuruk. Sehingga pada masa lalu Sang Raja melakukan upacara ritual sambil mendoakan para leluhurnya sambil meminta petunjuk Tuhan melalui ritual untuk mendapatkan sebuah ilham yang baik dalam mempimpin Kerajaan Majapahit yang beliau pimpin.
Memasuki kawasan Candi Jabung, kita bisa menemukan sosok bangunan candi yang menjulang tinggi bagaikan bangunan pencakar langit. Bangunan Candi Jabung ini terbuat dari bata merah yang tersusun rapih. Namun, sangat di sayangkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi terlihat sudah pada haus.
Photo :
Informasi yang saya dapatkan di lokasi, di balik pesona keindahan Candi Jabung ini ternyata terdapat suatu peristiwa yang menyebabkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi menjadi terkikis. Hal ini di sebabkan akibat dari pengikisan dari pasir laut yang di gunakan untuk menimbun (menguruk) candi agar tidak terlihat dan terselamatkan dari serangan penjajah pada masa tahun 1942 Masehi.
Dalam sebuah catatan bangunan Candi Jabung kit bisa melihat bahwa candi ini berukuran panjang bangunan 12,11 meter, dengan lebar bangunan candi 9,58 meter, dan tinggi bangunan candi 15,58 meter.
Candi Jabung ini telah mengalami pemugaran pada tahun 1980 - 1986 yang di lakukan oleh Pemerinatah Derah Kabupaten Probolinggo. Sebelum pemugaran candi ini hanya memiliki luas area yang sempit, yaitu berkisar 35 x 40 meter persegi. Namun, setelah di lakukan pemugaran dan penelitian di area Cadni ini ternyata kawasan area ini luasnya bertambah menjadi 20.042 meter persegi.
Bila di tinjau dari segi seni bangunan arsitektur, Candi Jabung kita dapat melihat sisi-sisi pesona keindahannya seperti dari bentuk bagian tubuh candi yang berbentuk bulat atau silender persegi delapan, dan bangunan candinya berdiri menjulang atap langit yang memiliki tiga tingkat berbentuk persegi. Sedangkan bagian atap candi berbentuk pagoda atau yang di kenal dengan nama stupa. Namun, bila kita perhatikan secara perlahan pada bagian puncak Candi Jabung kita akan melihat relif motif salur-saluran yang indah.
Lanjut............
Bergeser ke sebelah barat lokasi Candi Jabung. Di lokasi ini kita akan menemukan sebuah pintu bilik yang menghadap ke arah sebelah barat, di mana bagian depannya ada sebuah anak tangga yang menjorok ke depan dan bisa dinaiki oleh siapa saja untuk menuju lokasi bilik ruangan candi yang berada di atas.
Dari pengalaman saya di lokasi, untuk menaki anak-anak tangga tersebut tidak lah mudah. Bagi kita yang akan menaiki anak tangga hingga sampai di lokasi puncak atas depan bilik candi di butuhkan perjuangan ekstra. Dan bagi kita yang akan mencobanya sangat di sarankan untuk berhati-hati di area ini. Terutama bila pada saat musim penghujan. Dan jangan membawa barang bawaan atau tas yang menambah berat beban dan ruang bebas kita dalam menapaki setiap anak tangga yang kecil untuk hingga sampai ke atas.
Lanjut............
Dengan sedikit perjuangan melalui anak tangga sebelah barat, sampailah saya di ruang dalam Candi Jabung yang berada di posisi atas. Tentunya perjalanan kali ini saya tidak melakukannya sendiri. Dengan mengikuti bekas jejak Bapak Adul Rahman di setiap anak tangga yang bisa di lewati hingga sampai di atas atau pun depan bilik pintu Candi Jabung.
Photo :
Setelah sampai di lokasi puncak dan berada di depan pintu bilik Candi Jabung, kita bisa melihat sebuah tulisan di atas pintu ruangan badan Candi. Dalam tulisan tersebut kita dapat melihat bahwa keterangan di bangunnya Candi Jabung ini di buat pada tahun 1276 c (saka) atau pada tahun 1345 Masehi. Di mana pada tahun tersebut merupakan salah satu masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Dari lokasi atas candi terlihat sosok bangunan di sebelah barat dari Candi Jabung terdapat sebuah bangunan candi juga. Dari informasi yang saya terima di lokasi. Menara sudut candi yang di perkirakan sebagai penjuru pagar di lokasi candi, dan memiliki fungsi sebagai pelengkap bangunan Candi Jabung. Candi tersebut di berinama Candi Menara Sudut, dan bangunannya juga terbuat dari bata merah yang sama, dan sisi-sisi candinya berukuran +/- 2.55 meter, dengan ketinggiian banguan +/- 6 meter.
Lanjut...........
Yang paling menarik dalam penelusuran saya untuk tahu asal usul dari nama Candi Jabung dari keterangan juru kunci Candi, beliau mengatakan bahwa dulunya lokasi candi ini merupakan dataran yang berbentuk cekung ke dalam tanah. Setelah di urut dan di adakan pemugaran maka nama "Jabung" tersebut pilihlah untuk nama candi ini.
Namun, bila kita melihat dari kitab Nagarakertagama, Candi Jabung ini merupakan lokasi yang pernah di kunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada masa tahun 1359 Masehi untuk melakukan upacara ritual. Dan dari keterangan yang terdapat di dalam kitab Paraton disebutkan Sajabung merupakan tempat pemakaman Bhra Gundul yaitu salah sorang keluarga raja. ( Baca : Menelusuri Negarakertagama )
Terlepas dari beberapa keterangan tersebut di atas bersumber dari nara sumber dan daftar pustaka yang berbeda tentang asal usul nama Candi Jabung ini. Kita bisa melihat bila cerita ini kita jadikan satu dan menjadi sebuah rangkaian cerita maka kita akan menemukan bahwa lokasi Candi Jabung yang di pilih oleh Raja Hayam Wuruk untuk melakukan upacara ritual "srada" di jadikan sebuah tempat untuk mencari ilham dari Tuhan untuk mempimpin Raja Majapahit sambil beliau merawat atau pun mendoakan para leluhurnya di lokasi area tersebut.
Informasi kejelasan dari ide pembanguanan dan keberadaan lokasi Candi Jabung ini kita bisa melihat di dalam prasasti Gajah Mada. ( Baca : Mengenal Prasasti Gajah Mada )
Mengakhiri perjalanan wisata sejarah saya di kawasan Candi Jabung dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk ini, terlintas dalam pikiran bahwa dengan sebuah susunan batu bata merah bisa berdiri sebuah candi yang megah hingga berusia berabad-abad. Tentu apa yang bisa kita lihat di lokasi ini adalah sebuah bukti sejarah dan nilai seni arsitektur bangunan yang luar biasa yang bisa di kaji lebih jauh dari pembelajaran yang dapat diambil di balik pesona keindahan Candi Jabung.
Salam wisata,













