DI BALIK PESONA KEINDAHAN CANDI JABUNG

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html
Di Balik Pesona Keindahan Candi Jabung. Candi Jabung yang terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Candi Jabung merupakan salah satu candi Hindu yang terdapat di kawasan Jawa Timur, dan tercatat sebagai salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit.

Lokasi Candi Jabung sendiri berjarak +/- 5 km dari Kraksaan dan berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo.

Perjalanan saya di kawasan Situs Candi Jabung di kawasan Lumajang merupakan salah satu rangkaian perjalanan wisata yang saya lakukan setelah mengunjungi Situs Biting. Di mana lokasi ini tercatat dalam sebuah kitab Negarakertagama sebagai tujuan akhir perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk pada masa memimpin Kerajaan Majapahit untuk melakukan upacara "srada". ( Baca : Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk ).

Perjalanan menuju kawasan Candi Jabung ini saya melalui jalan desa. Dan perjalanan ini saya di temani dengan seorang sahabat yang merupakan penduduk asli dari Trowulan. Jadi tidak terlalu sulit saya sampai di lokasi ini. Walau lokasi candi berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo, lokasi ini terlihat tenang.

Tiba di kawasan Candi Jabung saya bersama teman waktunya masih belum terlalu sore. Terlihat bangunan candi yang menjulang tinggi dapat mudah dikenali dari kejauhan. Setibanya kami di lokasi candi, kami pun langsung bertemu dengan salah seorang juru rawat Candi Jabung atau yang di kenal dengan anam kuncen Candi Jabung. Beliau bernama Bapak Abdul Rahman. Di mana beliau pernah ikut andil dalam proyek pemugaran Candi Jabung pada tahun 1980 yang di lakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo.

Lanjut........
Konon informasi yang saya terima dari juru kuncen Candi Jabung, Candi ini di yakini sebagai tempat para leluhur Raja Hayam Wuruk. Sehingga pada masa lalu Sang Raja melakukan upacara ritual sambil mendoakan para leluhurnya sambil meminta petunjuk Tuhan melalui ritual untuk mendapatkan sebuah ilham yang baik dalam mempimpin Kerajaan Majapahit yang beliau pimpin.

Memasuki kawasan Candi Jabung, kita bisa menemukan sosok bangunan candi yang menjulang tinggi bagaikan bangunan pencakar langit. Bangunan Candi Jabung ini terbuat dari bata merah yang tersusun rapih. Namun, sangat di sayangkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi terlihat sudah pada haus.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html

Informasi yang saya dapatkan di lokasi, di balik pesona keindahan Candi Jabung ini ternyata terdapat suatu peristiwa yang menyebabkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi menjadi terkikis. Hal ini di sebabkan akibat dari pengikisan dari pasir laut yang di gunakan untuk menimbun (menguruk) candi agar tidak terlihat dan terselamatkan dari serangan penjajah pada masa tahun 1942 Masehi.

Dalam sebuah catatan bangunan Candi Jabung kit bisa melihat bahwa candi ini berukuran panjang bangunan 12,11 meter, dengan lebar bangunan candi 9,58 meter, dan tinggi bangunan candi 15,58 meter.

Candi Jabung ini telah mengalami pemugaran pada tahun 1980 - 1986 yang di lakukan oleh Pemerinatah Derah Kabupaten Probolinggo. Sebelum pemugaran candi ini hanya memiliki luas area yang sempit, yaitu berkisar 35 x 40 meter persegi. Namun, setelah di lakukan pemugaran dan penelitian di area Cadni ini ternyata kawasan area ini luasnya bertambah menjadi 20.042 meter persegi.

Bila di tinjau dari segi seni bangunan arsitektur, Candi Jabung kita dapat melihat sisi-sisi pesona keindahannya seperti dari bentuk bagian tubuh candi yang berbentuk bulat atau silender persegi delapan, dan bangunan candinya berdiri menjulang atap langit yang memiliki tiga tingkat berbentuk persegi. Sedangkan bagian atap candi berbentuk pagoda atau yang di kenal dengan nama stupa. Namun, bila kita perhatikan secara perlahan pada bagian puncak Candi Jabung kita akan melihat relif motif salur-saluran yang indah.

Lanjut............
Bergeser ke sebelah barat lokasi Candi Jabung. Di lokasi ini kita akan menemukan sebuah pintu bilik yang menghadap ke arah sebelah barat, di mana bagian depannya ada sebuah anak tangga yang menjorok ke depan dan bisa dinaiki oleh siapa saja untuk menuju lokasi bilik ruangan candi yang berada di atas.

Dari pengalaman saya di lokasi, untuk menaki anak-anak tangga tersebut tidak lah mudah. Bagi kita yang akan menaiki anak tangga hingga sampai di lokasi puncak atas depan bilik candi di butuhkan perjuangan ekstra. Dan bagi kita yang akan mencobanya sangat di sarankan untuk berhati-hati di area ini. Terutama bila pada saat musim penghujan. Dan jangan membawa barang bawaan atau tas yang menambah berat beban dan ruang bebas kita dalam menapaki setiap anak tangga yang kecil untuk hingga sampai ke atas.

Lanjut............
Dengan sedikit perjuangan melalui anak tangga sebelah barat, sampailah saya di ruang dalam Candi Jabung yang berada di posisi atas. Tentunya perjalanan kali ini saya tidak melakukannya sendiri. Dengan mengikuti bekas jejak Bapak Adul Rahman di setiap anak tangga yang bisa di lewati hingga sampai di atas atau pun depan bilik pintu Candi Jabung.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html

Setelah sampai di lokasi puncak dan berada di depan pintu bilik Candi Jabung, kita bisa melihat sebuah tulisan di atas pintu ruangan badan Candi. Dalam tulisan tersebut kita dapat melihat bahwa keterangan di bangunnya Candi Jabung ini di buat pada tahun 1276 c (saka) atau pada tahun 1345 Masehi. Di mana pada tahun tersebut merupakan salah satu masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Dari lokasi atas candi terlihat sosok bangunan di sebelah barat dari Candi Jabung terdapat sebuah bangunan candi juga. Dari informasi yang saya terima di lokasi. Menara sudut candi yang di perkirakan sebagai penjuru pagar di lokasi candi, dan memiliki fungsi sebagai pelengkap bangunan Candi Jabung. Candi tersebut di berinama Candi Menara Sudut, dan bangunannya juga terbuat dari bata merah yang sama, dan sisi-sisi candinya berukuran +/- 2.55 meter, dengan ketinggiian banguan +/- 6 meter.

Lanjut...........
Yang paling menarik dalam penelusuran saya untuk tahu asal usul dari nama Candi Jabung dari keterangan juru kunci Candi, beliau mengatakan bahwa dulunya lokasi candi ini merupakan dataran yang berbentuk cekung ke dalam tanah. Setelah di urut dan di adakan pemugaran maka nama "Jabung" tersebut pilihlah untuk nama candi ini.

Namun, bila kita melihat dari kitab Nagarakertagama, Candi Jabung ini merupakan lokasi yang pernah di kunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada masa tahun 1359 Masehi untuk melakukan upacara ritual. Dan dari keterangan yang terdapat di dalam kitab Paraton disebutkan Sajabung merupakan tempat pemakaman Bhra Gundul yaitu salah sorang keluarga raja. ( Baca : Menelusuri Negarakertagama )

Terlepas dari beberapa keterangan tersebut di atas bersumber dari nara sumber dan daftar pustaka yang berbeda tentang asal usul nama Candi Jabung ini. Kita bisa melihat bila cerita ini kita jadikan satu dan menjadi sebuah rangkaian cerita maka kita akan menemukan bahwa lokasi Candi Jabung yang di pilih oleh Raja Hayam Wuruk untuk melakukan upacara ritual "srada" di jadikan sebuah tempat untuk mencari ilham dari Tuhan untuk mempimpin Raja Majapahit sambil beliau merawat atau pun mendoakan para leluhurnya di lokasi area tersebut.

Informasi kejelasan dari ide pembanguanan dan keberadaan lokasi Candi Jabung ini kita bisa melihat di dalam prasasti Gajah Mada. ( Baca : Mengenal Prasasti Gajah Mada )

Mengakhiri perjalanan wisata sejarah saya di kawasan Candi Jabung dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk ini, terlintas dalam pikiran bahwa dengan sebuah susunan batu bata merah bisa berdiri sebuah candi yang megah hingga berusia berabad-abad. Tentu apa yang bisa kita lihat di lokasi ini adalah sebuah bukti sejarah dan nilai seni arsitektur bangunan yang luar biasa yang bisa di kaji lebih jauh dari pembelajaran yang dapat diambil di balik pesona keindahan Candi Jabung.




Salam wisata,

CANDI SEMBADRA DATARAN TINGGI DIENG

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/08/candi-sembadra-dataran-tinggi-dieng.htmlCandi Sembadra Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu bangunan situs candi Hindu kuno yang tertua di Pulau Jawa. Lokasi Candi Sembadra ini berada di dalam lingkungan komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng. Candi Sembadra beralamat di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.

Menelusuri situs Candi Sembadra di lokasi dataran tinggi Dieng merupakan penenelusuran situs candi terakhir yang penulis lakukan di area kawasan komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng. Di mana dalam kawansan komplek Candi Arjuna ini terdapat lima buah situs candi, yaitu Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Puntadewa, dan Candi Srikandi. Sedangkan untuk lokasi tempat para pelaku ritual di kawasan ini, sebelum mereka melakukan ritual di setiap candi yang berada di lokasi komplek Candi Arjuna, mereka diharuskan melakukan ritual pembersihan diri terlebih dahulu di kawaan Sendang Sedayu yang terletak di sebelah kanan dari pintu masuk area komplek Candi Arjuna.

Bila kita lihat dan perhatikan Candi Sembadra ini memiliki bentuk arsitektur candi berupa bujur sangkar, di mana kita terlihat di sisi selatan, timur dan utara candi terdapat bagian yang menjorok keluar yang membentuk relung seperti bilik penampil. Pintu masuk Candi Sembadra ini terletak di sisi sebelah barat dan dilengkapi dengan bilik penampil. Adanya bilik penampil yang berada di sisi barat dan relung di ketiga sisi lainnya membuat candi terlihat seperti bagunan poligon. Dan termasuk salah satu Candi yang berada di dataran tinggi Dieng.

Lanjut........
Pada halaman luar Candi Sembadra terdapat batu yang tertata rapih sebagai jalan setapak untuk menuju pintu masuk candi. Sepintas candi ini terlihat seperti bangunan yang bertingkat, dan atap Candi Sembadra terlihat berbentuk kubus yang ukurannya hampir sama besar dengan ukuran bangunan candi. Namun, sayangnya atap Candi Sembadra terlihat sudah hancur dan tidak terlihat seperti bangunan candi aslinya. Dengan mengitari bagunan Candi Sembadra, kita akan melihat dan menemukan relung-relung kecil di setiap sisi atap candi, dmana menurut informasi yang penulis dapatkan tempat tersebut dipergunakan untuk menaruh arca candi.

Setelah mendapatkan banyak informasi Candi Sembadra yang berada di dalam area komplek Candi Arjuna. Maka penulis mempersiapkan diri untuk beralih ke obyek wisata Dieng lainnya. Obyek wisata yang akan dikunjungi selepas mengunjungi komplek Candi Arjuna adalah obyek wisata Kawah Sikidang, di mana di area tersebut kita dapat menyaksikan fenomena alam dengan sebuah cerita legenda asal mula terjadinya ritual mistis tentang rambut anak-anak gimbal penduduk asli dataran tinggi Dieng.

Semoga perjalanan wisata penulis kali ini di kawasan komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng dapat memberikan informasi positif kepada para rekan dan sahabat pecinta Ejawantah Wisata tentang keindahan fenomena alam dataran tinggi Dieng bersama nilai seni dan sejarah yang tinggi.

Dan bagi para pecinta dunia photography dan video maker, dataran dieng sangat menjanjikan suatu spot pemandangan yang indah, dan banyak sekali titik view yang bagus di lokasi ini, namun sayangnya pada perjalanan wisata kali ini penulis tidak memiliki banyak waktu untuk mengambil gambar video di dataran tinggi Dieng ini. Bagi rekan-rekan atau pun sahabat yang pernah mengabadikan melalui video dilokasi ini, sangatlah beruntung, namun bagi yang belum, jangan khawatir, dataran tinggi Dieng akan selalu menunggu kedatangan kita untuk diabadikan oleh para tangan-tangan kreatif seni.

Dapatkan informasi harga tiket masuk Dieng Plateau yang penulis pernah datangi di lokasi dataran tinggi Deing Plateauteau dengan mengunjungi halaman tempat wisata Dieng Plateau.lainnya dan halaman wisata candi di Indonesia.

Selamat menikmati panorama keindahan Candi Sembadra dataran tinggi Dieng !




Salam Wisata,

CANDI SRIKANDI DATARAN TINGGI DIENG

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/08/candi-srikandi-dataran-tinggi-dieng.html
Candi Srikandi dataran tinggi Dieng merupakan salah satu bangunan situs candi Hindu kuno yang terdapat di dalam komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng. Situs Candi Srikandi beralamat di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.

Menelusuri situs Candi Srikandi yang terletak disebelah utara Candi Arjuna terlihat berbentuk kubus dan di sisi timurnya terdapat anak tangga dengan bilik penampil yang menghubungkan daratan menuju pintu masuk candi yang kecil. Pahatan dengan ukiran indah yang terdapat didinding candi menggambarkan seorang tokoh yang bernama Wisnu. Sedangkan untuk di bangian timur Candi Srikandi  terlihat tokoh Syiwa.

Setelah memperhatian setiap keindahan ukiran dari setiap sisi sudut utara dan timur Candi Srikandi, kita bisa menemukan sebuah pahatan ukiran yang berada di sebelah selatan candi yang bergambarkan tokoh Brahma. Namun dari ketiga pahatan ukiran pahatan Candi Srikandi, sebagian besar sudah rusak, sehingga sudah tidak terlihat seperti aslinya.

Mungkin hal ini disebabkan usia bangunan situs Candi Srikandi yang sudah terlalu tua melewati proses alam yang berabad-abad lamanya dengan segala bentuk situasi cuaca alam yang berada di dataran tinggi Dieng.

Penelusuran penulis di area Candi Srikandi memang begitu singkat, hal ini dikarenakan pembagian waktu untuk melanjutkan penelusuran candi yang masih ada di dalam Kawasan Komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng lainnya, yaitu Candi Sebadra.

Di dalam komplek Candi Arjuna Dieng kita bisa menikmati beberapa objek dari Sendang Sedayu sebagai tempat ritual pencucian rambut anak-anak berambut gimbal pada saat upacara tradisional masyarakat Dieng, Museum Timor-Timur yang mengisahkan perjalanan sejarah wilayah Indonesia di daerah tersebut, dan obyek situs Candi Semar yang pernah dijadikan tempat penyimpanan senjata upacara pemujaan, situs Candi Arjuna yang juga merupakan icon dari Komplek Candi Arjuna di dataran tinggi Dieng, situs Candi Puntadewa, tokoh petapa Dieng Mbah Fanani yang sedang melakukan perjalanan ritual di daerah dataran tinggi Dieng dan obyek wisata Kawah Sikidang yang merupakan obyek kisah Legenda Anak cucu ketrunan Dieng berambut Gimbal.

Datarn tinggi Dieng merupakan fenomena alam yang memiliki sinerji antara seni, budaya, dan alam disertai keyakinan masyarakat yang unik hingga sekarang ini. Suatu peradaban kehidupan yang tetap terjaga dan terlestarikan di dataran tinggi Dieng. Anda akan mendapatkan informasi banyak dengan mengunjungi halaman tempat wisata Dieng Plateau dan halaman informasi harga tiket masuk Dieng Plateau.

Semoga pengalaman penulis pada saat melakukan perjalanan wisata dengan mengunjungi objek wisata candi dataran tinggi Dieng ini dapat menambah pengetahuan untuk kita semua. Selamat menikmati objek wisata Candi Srikandi Dataran Tinggi Dieng.



Salam wisata,

CANDI PUNTADEWA DATARAN TINGGI DIENG

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/08/candi-puntadewa-dataran-tinggi-dieng.htmlCandi Puntadewa dataran tinggi Dieng merupakan salah satu situs bangunan candi Hindu kuno yang berada di dalam Komplek Candi Arjuna di dataran tinggi Dieng. Candi Puntadewa beralamat di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.

Setelah menelusuri Candi Semar dan Candi Arjuna yang berada di dalam Komplek Candi Arjuna di dataran tinggi Dieng, kita bsa berkunjung ke salah satu candi yang letaknya sejajar dan tidak jauh dengan Candi Arjuna. Jarak Candi Puntadewa dan Candi Arjuna berjarak +/- 100 meter.

Sepintas bila kita lihat sosok bangunan Candi Puntadewa terlihat tidak terlalu besar, dan hampir sama seperti candi lainnya. Namun, bila kita perhatikan lebih jauh Candi Puntadewa terlihat lebih tinggi dari candi yang lainnya yang berada di Komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng.

Tubuh Candi Puntadewa yang berdiri di atas batur bersusun yang memiliki ketinggian +/- 2,5 meter dan memiliki anak tangga yang terbuat dari batu candi yang menghubungkan antara dataran hingga ke pintu mulut candi yang kecil dan terlihat ramping.

Menaiki setiap anak tangga Candi Puntadewa menghantarkan langkah terakhir penulis sampai pada muka pintu masuk dalam tubuh candi. Terlihat dalam tubuh Candi Puntadewa yang dilengkapi pipi candi yang dibuat menjadi dua susun sesuai dengan bentuk candi. Ruang tubuh candi yang gelap dan sempit, terasa sesak dengan hadirnya penulis beserta rombongan dalam tubuh candi ini. Apalagi diluar pintu gerbang candi di sedang dijadikan sesi photo untuk para wistawan yang berkunjung ke Komplek Candi Arjuna, hal ini tidak akan membuat penulis bisa berlama-lama di lokasi dalam tubuh candi. Terlihat pada ketiga sisi candi terdapat jendela yang tertutup yang bingkainya diberi hiasan seperti yang terdapat di pintu masuk Candi Puntadewa dataran tinggi Dieng ini.

Ruangan tubuh candi yang sempit dan sesak mebuat penulis merasa tidak nyaman, dan memilih untuk menelusuri bagunan candi dari luar saja. Melihat atap Candi Puntadewa yang berbentuk kubus besar dengan atap yang rusak, sehingga tidak terlihat lagi bentuk asli bangunan candi.

Pada keempat sisi atap Candi Puntadewa dataran tinggi Dieng terdapat relung kecil sisi atap Candi yang terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca. Dan sebuah pintu candi yang dilengkapi dengan penampilan bilik dan diberi bikai yang berhiaskan motif kertas setempat.

Setiap sisi bangunan Candi Puntadewa dataran tinggi Dieng yang berada dibawah terlihat setiap sisi bangunannya terdapat batu yang tersusun memagari kaki candi. Dan di depan Candi Puntadewa terdapat batu yang disusun berkeliling membentuk ruangan bujur sangkar yang di tengahnya terdapat dua buah susunan tumpukan dua buah batu bulat berujung runcing pada puncak Candi Puntadewa.

Suatu banguanan arsitektur Candi Puntadewa yang indah dan bernilai sejarah tinggi. Dimana bangunan candi ini dapat berdiri dengan kokoh melewati masa berabad-abad hingga sekarang. Kini bangunan candi ini berdiri kokoh di kelilingi tumbuhan hijau dengan warna bunga  yang indah, dipayungi birunya langit yang indah pada hamparan luas area dataran tinggi Dieng.

Setelah mengunjungi Candi Puntadewa rekan-rekan dan pecinta Ejawantah Wisata juga dapat menikmati objek-objek wisata tempat ritual untuk melakukan penjamasan anak-anak gimbal di Sendang Sedayu, Museum Timor -Timur, tempat petapa Mbah Fanani, Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Srikandi dan Kawah Sikidang tempat asal mula certa legenda kutukan anak anak gimbal di dataran tinggi Dieng.

Semoga pengalaman perjalanan penulis di Komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan bagi para rekan dan sahabat Ejawantah Wisata khususnya pada saat melakukan kunjungan di tempat wisata Dieng Plateau, dan dapatkan informasi harga tiket masuk Dieng Plateau sebelum kita mengunjungi Candi Puntadewa dataran tinggi Dieng.



Salam wiaata,

CANDI ARJUNA DATARAN TINGGI DIENG

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/08/candi-arjuna-dataran-tinggi-dieng.htmlCandi Arjuna dataran tinggi Dieng merupakan salah satu situs bangunan candi yang berada dalam Komplek Candi Arjuna. Letak Candi Arjuna pintu mukanya berhadapan dengan pintu muka Candi Semar. Candi Arjuna lokasinya beralamat di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.

Candi Arjuna dataran tinggi Dieng yang berdenah dasar persegi, dengan luas +/- 4 meter persegi yang berdiri di atas batur setinggi +/- 1 meter persegi, dapat kita lihat di sisi sebelah barat candi yang memiliki anak tangga untuk menuju pintu masuk ruangan tubuh candi. Pintu Candi Arjuna yang dilengkapi bilik dan penampilannya sedikit menjorok keluar dari tubuh candi.

Menelusuri setiap dinding Candi Arjuna dataran tinggi Dieng di bagian luar tubuh candi di sisi selatan, barat, dan utara kita akan menemukan sebuah hasil karya seni batu alam candi pada setiap relung tempat meletakkan arca di dinding luar Candi Arjuna. Di atas pintu masuk Candi Arjuna kita bisa dapat menemukan hiasan berupa Kalamakara.

Pada ambang relung Candi Arjuna diberi bingkai dengan hiasan pola kertas tempel dan Kalamakara di atasnya. Pada setiap kaki bingkainya dihiasi dengan pahatan kepala naga dengan mulut menganga. Tepat di pertengahan di pertengahan dinding bawah relung terdapat Jaladwara (saluran air).

Melihat dan memperhatikan atap Candi Arjuna, kita bisa melihat atap candi yang berbentuk kubus tersusun, semakin ke atas bentuknya semakin mengecil, sayangnya bagian atas puncak atap candi sudah rusak. Dan pada masing-masing kubus di setiap sisi atap Candi Arjuna terdapat relung yang di setiap sudutnya terdapat hiasan berbentuk seperti mahkota bulat berujung runcing. Namun, sebagian besar hiasan tersebut sudah rusak.

Di sebelah kiri Candi Arjuna berdiri candi candi yang berjajar, dari Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Puntadewa memiliki bentuk yang hampir mirip dengan Candi Arjuna, sementara Candi Srikandi dan Candi Sembadra sedikit lebih kecil dan pendek.

Berdasarkan informasi cerita pemandu wisata lokal dan masyarakat sekeliling area candi dataran tinggi Dieng. Candi Puntadewa yang berada di tengah-tengah Candi Srikandi dan Sembadra sebagai penengah bagi kedua kakak beradik yang sama-sama menjadi istri dari Arjuna tersebut.

Mendengar dari kisah cerita tersebut diatas, bisa kita simpulkan bahwa sosok-sosok bangunan candi yang berada di area komplek Candi Arjuna merupakan sebuah simbol keluarga kecil dari negeri kahyangan yang bahagia. Dan hal ini menjadi suatu pesan tersendiri bagi setip pengunjung yang melakukan wisata di  tempat wisata Dieng Plateau di area Komplek Candi Ajuna Dataran Tinggi Dieng.

Indahnya taman hijau yang ditumbuhi pohon-pohon cemara dan tanaman bunga yang indah di rasakan oleh penulis di sekeliling Komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng menghadirkan nuansa keindahan di tengah kedamaian serta keheningan sejuknya udara di hari yang cerah pada saat penulis hadir di kawasan Komplek Candi Arjuna dataran tinggi Dieng.

Semoga pengalaman penulis dalam melakukan perjalanan wisata Dieng di area Komplek Candi Arjuna ini, dapat memberikan pengalaman positif bagi para sahabat dan pecinta Ejawantah Wisata pada saat akan melakukan perjalanan wisata di area lokasi Candi Arjuna dataran tinggi Dieng. Para sahabat dapat mengunjungi informasi Harga Tiket Masuk Dieng.



Salam Wisata,

CANDI SEMAR DATARAN TINGGI DIENG

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/08/kawah-sikidang-dieng-panorama-alam-di.htmlCandi Semar dataran tinggi Dieng merupakan salah satu bangunan candi yang terdapat dalam kawasan Komplek Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng. Lokasi Candi Semar beralamat di Desa Dieng Kulon, kecamatan Batur, Kabupaten, Banjrnegara, Jawa Tengah, Indonesia.

Nama Candi Semar yang diambil dari sebuah nama tokoh punakawan atau yang disebut pamong dalam sebuah cerita pewayangan para satria Pandawa. Hal ini dapat terlihat pada sosok bangunan yang posisinya tidak berdampingan dengan Candi Arjuna, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Srikandi dan candi-candi lainnya di dalam kawasan komplek Candi Arjuna Dataran Tinggi Dieng.

Langit cerah dengan udara dingin yang menemani penulis dalam perjalanan kali ini menelusuri sebuah bangunan Candi Semar setelah dari lokasi Sendang Sedayu Dieng di Dataran Tinggi Dieng. Bangunan candi yang berbentuk persegi panjang beratapkan batu yang berbentuk limasan, dengan dasar dinding candi polos, menarik perhatian penulis untuk mengunjungi sosok situs bangunan candi ini.

Mernurut informasi yang penulis dapatkan dilokasi dari pusat informasi komplek Candi Arjuna, Candi Semar dataran tinggi Dieng ini kemungkinan besar mengambil bentuk mendapa, yang menjadi bagian dari candi di Indonsia, sebagai tempat untuk para perziarah dan festival. Dimana sebelum melakukan ziarah di kawasan komplek Candi Arjuna ini, para perziarah melakukan bersih diri di area Sendang Dayu.

Candi Semar dataran tinggi Dieng yang letaknya berhadapan muka dengan Candi Arjuna ini memiliki ketinggian +/- 50 cm, dengan lima buah anak tangga yang akan menghantarkan kita menuju muka pintu masuknya. Bangunan Candi Semar yang tidak memiliki susunan atap, dan bagian dasar pintu candinya yang berupa lantai dengan potongan batu yang bermotif datar dengan kepala naga di ujung bawahnya. Sedangkan di bagian atas pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang.

Dengan manaiki lima buah anak tangga penulis sampai di depan muka pintu masuk Candi Semar. Namun sebelum memasuki Candi Semar dataran tinggi Dieng, penulis menyempatkan diri untuk mengabadikan photo di depan pintu masuk Candi Semar.

Memasuki ruangan tubuh Candi Semar di Dataran Tinggi Dieng, bagaikan kita memasuki sebuah ruangan yang dikelilingi oleh alat pendingin ruangan yang membuat seluruh ruangan candi terasa dingin. Pada dinding candi yang berada disebelah kanan dan kiri bangunannya, kita bisa melihat lubang jendela kecil yang berfungsi sebagai jendela. Dan dibagian sebelah selatan, utara, dan barat atau di belakang candi terdapat dua buah lubang jendela kecil. Hal inilah yang membuat suasana di dalam tubuh Candi Semar tidak terasa gelap.

Dengan cuaca cerah kita bisa melihat isi dalam tubuh Candi Semar dataran tinggi Dieng dengan jelas, dari susudan batu alam yang tersusun rapih membentuk bangunan candi, hingga untuk pengambilan spot gambar photo yang dapat ditunjang dengan pencahayaan lampu kamera sedikit.

Walau suasana dalam tubuh Candi Semar dataran tinggi Dieng ini kita diperbolehkan memasukinya, namun yang harus kita perhatikan dalam mengunjungi situs-situs bersejarah candi seperti ini, kita harus tetap dapat menjaga prilaku dan ucapan. Walau bagaimanapun lokasi candi merupakan salah satu tempat peribadatan umat beragama untuk melakukan ritual persembahyangan kepada Tuhan mereka.

Dari informasi yang penulis dapatkan dilokasi, Candi Semar dataran tinggi Dieng pernah dipergunakan sebagai gudang untuk penyimpanan senjata dan perlengkapan ritual pemujaan pada masa lalu. Namun, sayangnya dari pantauan penulis atap puncak Candi Semar terlihat sudah hancur, dan sangatlah sulit untuk mengembalikan nilai sejarah arkeologi dari sebuah bangunan Candi.

Walau terlihat hancur atap candi ini, lokasi area Candi Semar masih dapat kita kunjungi dengan aman dan nyaman. Karena kawasan ini tertata dan mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk ikut terus melestarikan dan menjaga serta merawat situs candi yang berada di Dataran Tinggi Dieng.

Sebuah karya seni arsitektur yang indah dan memiliki nilai sejarah arkeologi yang tinggi. Walau bangunan Candi Semar ini terlihat kecil, namun dapat berdiri kokoh dengan usia yang cukup tua. Dari catatan sejarah bangunan Candi Semar ini diperkirakan dibangun pada masa Wangsa Sanjaya. Hal ini dapat dilihat pada sebuah tulisan prasasti tertua yang bertuliskan huruf Jawa Kuno pada Arca Syiwa yang ditemukan di kawasan Dataran Tinggi Dieng yang sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Perjalanan wisata di Dataran Tinggi Dieng bukan sekedar melintasi jalan dan waktu dengan segala bentuk di tempat wisata Dieng Plateau. Namun, kita harus bisa melihat proses perjalanan waktu yang ada disekeliling kita untuk dapat berinteraksi dalam menerima apa yang kita lihat dan dengar untuk kita rasakan. Sehingga kita dapat dengan mudah berbagi dalam sebuah karya untuk dinikmati bersama di kawasan Candi Semar dataran tinggi Dieng. Para shaabat dan pecinta Ejawantah Wisata dapat mengunjungi halaman informasi untuk mendapatkan informasi harga tiket masuk Dieng Plateau.


Salam wisata,

CANDI RATU BOKO ISTANA DALAM SEBUAH PERBEDAAN RATU BANGAU

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/05/candi-ratu-boko-istana-dalam-sebuah.html
Menelusuri komplek Candi Prambanan, Jawa Tengah Yogyakarta, kurang sempurna bila kita tidak mengunjungi komplek Candi Ratu Boko. Hal ini disebabkan kedua candi ini memiliki nilai  perjalanan sejarah cerita legenda masyarakat tentang kedua candi tersebut.

Dari cerita sejarah yang penulis dapatkan informasi dari pusat sejarah informasi di daerah Candi Prambanan, Candi Ratu Boko yang berasal dari sebuah cerita masyarakat setempat yang memiliki arti arfiah "Raja Bangau" yaitu sosok seorang ayah dari "Loro Jonggrang" si putri ramping cantik yang dapat kita lihat dalam area Candi Prambanan.

Lokasi komplek Candi Ratu Boko sendiri berjarak +/- 3 km dari area Candi Prambanan dan terletak di daerah perbukitan. Untuk mencapai lokasi Candi Ratu Boko ini kita bisa memilih pintu masuk yang tersedia melalui dua alternatif.

Lokasi pitu masuk Candi Ratu Boko yang pertama akan berakhir di tempat parkir untuk kendaraan besar seperti Bus. Bila masuk dari pintu masuk di sini kita akan mendaki  anak tangga yang lumayan terjal posisinya. Lokasi ini sangat cocok bagi para pengunjung yang masih memiliki kondsi fisik yang masih kuat. Lokasi pitu pertema ini tidak jauh dari Candi Prambanan dan papan petunjuk untuk menuju lokasi Candi Ratu Boko ini dapat kita temukan di sekitar lokasi ini.

Dan lokasi ke dua untuk menuju lokasi Candi Ratu Boko ini, kita bisa melewati jalan belakang, dan lokasinya agak jauh dari Candi Prambanan. Dan papan petunjuknya kurang terlihat. Bila kita masuk melalui pintu ke dua ini, maka kita akan melewati area persawahan dengan jalan menanjak, dan kita akan diarahkan hingga sampai ke lokasi tempat palataran  Kompleks Candi Ratu Boko. Untuk jalur kedua ini kita dapat menghemat tenaga, karena kondisi medannya tidak terjal.
Dari catatan sejarah..........

Candi Ratu Boko merupakan peninggalan masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun sekitar abad 9 M. Tempat ini bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh dengan kedamaian).

Sebagai biara lokasi ini tentulah sebagai tempat untuk menyepi dalam memusatkan diri pada kehidupan spiritual. Berada di kompleks Candi Ratu Boko ini, penulis dapat merasakan kedamaian sekaligus keheningan yang berpadu dalam setiap tarikan nafas udara yang kita hirup di area sekelilingnya.

Tanpa terasa diri ini terbawa dalam suasana masa lalu yang sepi dan sunyi dari kegiatan manusia seperti sekarang ini. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, sebuah pemandangan sosok Candi Prambanan yang megah menjulang ke angkasa dengan latar belakang Gunung Merapi terlihat berdiri tegak sebagai simbol cerita legenda masyarakat sekitarnya.

Informasi yang penulis dapatkan........
Lokasi Candi Ratu Boko memiliki luas are sekitar 250.000 m persegi, dan terbagi atas empat wilayah.yaitu ; tengah, barat, tenggara, dan timur. Lokasi bagian tengah Candi Ratu Boko meliputi gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban.

Dan dibagian barat hanya perbukitan. Serta dibagian tenggara terdapat sebuah pendopo, balai-balai, tiga candi, kolam, dan komplek Keputren. Sementara dibagian timur bisa disaksikan kompleks gua, stupa Budha, dan kolam.

Pada saat penulis tiba dilokasi parkiran dari pintu kedua, kita akan menaiki beberapa anak tangga, sebelum akhirnya melihat gerbang kompleks. Dimana dilokasi ini penulis disambut dengan dua buah gapura tinggi. Yang pertama gapura yang memiliki tiga pintu, sementara yang kedua memiliki lima pintu.

Pada saat penulis memasuki gerbang gapura pertama, penulis mendapatkan sebuah tulisan "Panabwara". Menurut keterangan dari salah seorang pemandu wisata lokal yang mendampingi perjalanan penulis dilokasi ini. Tulisan bila mengacu kepada Prasasti Wanua Tengah III, kata tersebut merujuk ke Rakai Panabwara yang merupakan keturunan Rakai Panangkaran dan pengambil alih istana.

Tidak jauh dari gapura kedua penulis menemui sebuah bangunan candi yang berbahan dasar batu putih. Dan masyarakat di sekitar daerah ini, sering mnyebut dengan nama Candi Batu Putih. Tidak jauh dari Candi ini penulis diajak ke lokasi Candi Pembakaran yang berbentuk bujur sangkar (26 m x 26 m) yang memiliki dua teras..

Sesuai dengan namanya, Candi Pembakaran ini digunakan untuk pembakaran jenazah. Namun, dalam kesehariannya lokasi ini sering dijadikan tempat angon binatang ternak oleh penduduk sekitarnya.

Tidak jauh dari lokasi Candi Pembakaran di sebelah tenggara, penulis menemukan kolam penuh dengan beberapa cerita misteri. Konon menurut cerita pemandu wisata kami, sumur yang bernama Amrta Mantana yang memilki arti air suci yang diberikan mantra ini dapat membawa keberuntungan. Dan air ini sering dipergunakan oleh umat beragama Hindu untuk melakukan Upacara Tawur Agung sehari sebelum perayaan Nyepi.

Walaupun didirikan oleh seorang Budha, Kompleks Candi Ratu Boko ini memiliki unsur-unsur Hindu nya. Hal ini bisa penulis temukan dilokasi ada simbol Lingga dan Yoni, arca Ganesha, dan lempengan emas bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa.

Melihat hal ini semua, penulis berkesimpulan bahwa sudah berabad-abad silam sikap toleransi tumbuh di negara Indonesia ini. Karena di lokasi ini saja penulis dapat menemukan pada jaman Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha, mereka dapat hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Tanpa terasa hari  semakin sore dan senja pun akan pamit meninggalkan perjalanan penulis kali ini. Lembayung senja yang menampakan  keindahannya dalam setiap semburatnya menerobos  gerbang Candi Ratu Boko yang merubah sosok Candi menjadi sebuah siloet yang indah bagai sebuah lukisan pembelajaran kepada kita tentang arti perbedaan yang dapat hidup berdampingan dengan alam.

Semoga perjalanan wisata penulis kali ini dapat memberikan pembelajaran yang positif bagi diri kita semua, tentang arti perbedaan yang dapat hidup berdampingan secara harmonis yang selalu terjaga dalam kisah cerita yang dapat kita saksikan dalam sebuah sosok candi ini.


Salam wisata,

Info :
Hotel Kawasan Prambanan

MENGISI LIBURAN DENGAN WISATA CANDI DI INDONESIA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/12/mengisi-liburan-dengan-wisata-candi-di.html
Mengisi liburan dengan suatu kegiatan positif untuk anak-anak kita bukanlah menjadi hal yang menyulitkan bagi diri kita.   

Wisata Candi Indonesia juga merupakan salah satu wahana perjalanan yang bersifat mendidik anak-anak untuk mengenal langsung secara lebih dekat kebesaran sejarah dan tradisi yang disampaikan oleh setiap artefak-artefak yang dimiliki oleh setiap objek Candi yang ada di Indonesia.

WISATA CANDI INDONESIA
Untuk urusan yang bersifat artefak-artefak kuno, Indonesia merupakan tempat yang tepat. Dimana hampir di setiap pulau besar, khususnya yang ada di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Irian terdapat beberapa peninggalan sejarah kuno yang dapat dijadikan tempat objek wisata edukasi sebagai sarana pembelajaran anak.

Teringat pada masa sekolah dasar, kita selalu diperkenalkan dengan nama-nama Candi yang berada di Indonesia. Dan cerita ini tentunya  dilengkapi dengan beberapa kisah-kisah besar dari sebuah kerajaan sampai dengan sebuah mitos masyarakat yang menjadi daya tarik tersendiri untuk dikaji dan dinikmati.

Tentunya hal yang kita dapatkan pada saat kita di sekolah, hal ini juga dirasakan oleh anak-anak kita melalui pelajaran dan pengetahuan yang mereka dapatkan di bangku sekolah serta pergaulan dalam dunia mereka.

Peran serta kita atau pun para pendidik sangat diperlukan dalam hal ini, untuk mengarahkan anak-anak atau pun peserta didiknya dapat mengenal lebih dekat kebesaran tradisi dan sejarah yang dimiliki bangsa Indonesia melalui Wisata Candi Indonesia. Dimana perjalanan wisata yang bertujuan untuk mendekatkan dan memperkenalkan anak kepada sejarah melalui dunia mereka.

Sebuah pengalaman penulis pada saat memandu kegiatan wisata para siswa sekolah, hampir semua peserta didik mengetahui nama candi yang pada umumnya mereka ketahui dari mata pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah. Namun, mereka tidak mengetahui apa yang menjadi keistimewahan dari objek candi tersebut.

Dengan melakukan perjalanan wisata menuju objek-objek Wisata Candi Indonesia, mereka bisa langsung melihat perbendaannya dan tidak lagi memandang sebuah photo yang terdapat di dalam buku atau pun website melalui internet.

Ada beberapa Candi terkenal yang sudah direvitalisasi dan diberi tambahan fasilitas yang membuat candi tersebut lebih terlihat menarik. Sebut saja Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang berada di Jawa Tengah. Kedua Candi ini berdiri megah sama seperti pada masa kejayaannya dulu, dan menjadi salah satu objek Wisata Candi Indonesia yang terkenal di dunia internasional.

Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang sama-sama memiliki taman yang luas, tempat parkir yang memadai, toko-toko souvenir, museum, dan tentu saja fasilitas penunjang yang baik seperti ketersediaan pemandu lokal di objek-objek candi tersebut yang menguasai materi destinasi yang terdapat di lokasi Candi-Candi tersebut. Baik untuk pemandu berbahasa internasional maupun bahasa Indonesia.

Memasuki kawasan kompleks Candi Borobudur atau pun Candi Prambanan kita akan disambut dengan suasana bersih dan tertata rapi, dan sangat menarik. Saat melakukan perjalanan Wisata Candi Indonesia khususnya di objek-objek Wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan ini akan jauh lebih baik bila kita tidak lupa memakai topi  atau pun payung sebagai pelindung kepala kita dari sinar matahari yang langsung jatuh di atas kepala kita. Karena di kedua lokasi ini tempat-tempat berteduh sangat minim.

Adapun lokasi untuk mengisi liburan dengan melakukan wisata Candi dapat di lakukan dengan mengunjungi tempat wisata Dieng Plateau. Dimana di lokasi tersesebut kita akan banyak menemukan lokasi candi-candi kuno sebagai sarana pembelajaran dalam membarikan wawasan yang positif kepada anak-anak kita.

Dalam mengisi liburan bersama keluarga terlebih dengan anak. Tentunya Wisata Candi Indonesia hal ini tidak bisa dikatakan mudah atau pun sulit. Tugas kita sebagai orang tua harus dapat memberikan perjalanan Wisata Candi Indonesia untuk mengisi liburan kepada anak-anak kita bukan hanya suatu perjalanan yang bersifat menghibur dan senang-senang saja, namun juga yang bersifat menambah wawasan ilmu pengetahuan mereka.

Dan Wisata Candi Indonesia merupakan salah satu satu solusi bagi kita untuk menambah dan merangsang pengetahuan anak-anak untuk mencintai budaya dan tradisi besar sejarah bangsa Indonesia yang menjadi suatu aset budaya dan tradisi kebesaran dunia sebagai bentuk nilai yang tinggi dari sebuah Mahakarya Sejati Traveling Indonesia. Selamat menikmati perjalanan dalam mengisi liburan bersama orang-orang yang kita sayangi.



Salam Wisata,

CANDI BOROBUDUR SEBUAH PESAN DALAM TAPA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/11/candi-borobudur-sebuah-pesan-dalam-tapa.html
Candi Borobudur merupakan sebuah candi  atau rumah peribadatan bagi umat beragama Buddha, dan merupakan salah satu candi mahakarya Wangsa Syailendra yang terletak di Desa Borobudur. Candi Borobudur juga merupakan salah satu keajaiban budaya dan sejarah dunia yang dilestarikan oleh bangsa Indonesia. Candi Borobudur terletak lebih kurang 40 km dari Kota Yogyakarta, dan 3 km dari Kota Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.

Dari catatan sejarah......
Candi Borobudur yang dibangun oleh Raja Samaratrungga dari Dinasti Syailendra pada abad VIII. Dan berdasarkan prasati Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai di bangun pada tanggal 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangunnya Candi Borobudur tersebut.

Nama Candi Borobudur sendiri menurut pendapat beberapa orang, memiliki arti sebuah gunung yang berteras-teras atau yang disebut (buddhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti sebuah biara yang terletak di tempat yang tinggi.

Dari sebuah tradisi upacara keagamaan yang masih berjalan.......
Candi Boroudur yang berbentuk punden berundak memiliki 10 (sepuluh) tingkat. Yang mana tinggi Candi Borobudur tersebut 42 meter (sebelum renovasi), dan 34,5 meter (setelah renovasi) akibat terjadinya bencana alam yang terjadi di daerah sekitar kota Candi Borobudur.

Candi Borobudur tingkat paling bawahnya berbentuk bujur sangkar,  tiga tingkat diatasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Buddha yang menghadap ke arah Barat. Setiap tingkatan yang terdapat di objek lokasi Candi Borobudur, yang merupakan lambang tahapan kehidupan manusia. dan menurut catatan penulis hal ini sesuai dengan mahzhab Buddha Mahayana, dimana setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Buddha harus melalui setiap proses tingkatan kehidupan tersebut.

Photo  :

Penjabaran dalam mahzhab Buddha Mahayana pada setiap  relif Candi Borobudur secara garis besar yang menjadi konsep bagi kehidupan masyarakat Jawa anda dapat membacanya dalam artikel yang berjudul "Candi Borobudur Ksatria Dari Tanah Jawa"

Setiap tahun pada bulan purnama penuh dan di bulan Mei atau Juni, umat Buddha Indonesia memperingati hari besar agama Buddha yaitu Waisak, dimana lokasi pusat acaranya dibuat di area Candi Borobudur.

Waisak di peringati sebagai hari kelahiran, kematian dan saat ketika Siddharta Gautama memperoleh kebijaksanaan tertinggi dengan menjadi Buddha Shakyamuni. Dimana ketiga peristiwa ini disebut sebagai Trisuci Waisak. Upacara Waisak yang dipusatkan pada tiga buah Candi Buddha dengan berjalan dari Candi Mendut ke Candi Pawon, serta berakhir di Candi Borobudur.

Kunjungi dan nikmati panorama alam keunikan Candi Borobudur secara langsung. Kita akan merasakan suatu aroma dan  fenomena penuh pesan pembelajaran yang terurai dalam nilai tinggi kehidupan di setiap reliefnya.

Keindahan dan harmonisasi kehidupan antar umat beragama di wilayah Indonesia merupakan salah satu budaya yang selalu terjaga dalam kehidupan keseharian. Unik, namun tetap memberikan kesan dalam sebuah cerita yang selalu memiliki makna indah dalam sebuah kebersamaan.

Dimana sebuah perbedaan merupakan warna indah kehidupan yang selalu membawa cerita dan pesan disetiap kejadian, serta dalam sebuah  peristiwa yang dapat membawa kita dalam sebuah tujuan hidup bersama. Candi ini merupakan salah satu candi sebgai obyek Wisata Candi di Indonesia.

Tersaji demi suatu tujuan bersama dalam menciptakan sebuah keharmonisan hidup lebih indah dalam suatu perbedaan, namun dalam satu tujuan keutuhan untuk menuju kesempurnaan hidup. Suatu keindahan dalam nilai tradisi budaya Indonesia dengan segala keunikannya.

Semoga informasi yang penulis berikan dapat membantu para rekan dan sahabat dalam menemukan lokasi hotel penginapan yang letaknya tidak jauh dengan Candi Borobudur. Silahkan mengunjungi halaman informasi  Hotel di Candi Borobudur . Semoga bermanfaat.




Salam Wisata,

CANDI PRAMBANAN ATMOSFER PUTRI RAMPING SENI ARSITEKTUR DARI SEBUAH LEGENDA RORO JONGGRANG DAN BANDUNG BONDOWOSO

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/09/candi-prambanan-atmosfer-putri-ramping.html
Candi Prambanan atau nama lainnya kita sering menyebut dengan Candi Loro Jonggrang (Loro dibaca Roro). Candi Prambanan terletak di perbatasan Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarta dengan Jawa Tengah. Candi Prambanan terleak di daerah dataran indah yang dihiasi dengan monumen arkeologi di antara sawah dan desa yang terletak di Desa Prambanan.

Candi Prambanan nampak terlihat indah bila kita memandangnya dari kejauhan, candi yang selalu membuat orang yang memandangnya menjadi terkesan dan terpesona, dan ini merupakan sarana tempat peribadatan umat beragama Hindu. Candi Prambanan di bangun pada abad 8 - 10 M.

Bangunan artistik yang menjulang tinggi ini memiliki ketinggian mencapai 47 m ( dari data yang penulis dapakan Candi Prambanan lebih tinggi dari pada Candi Borobudur, yang memilki selisih 5 m ). Dan Candi Prambanan merupakan Candi tertinggi yang ada di Indonesia, sekaligus peninggalan tempat peribadatan keagamaan yang terbaik di Asia Tenggara, dan diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

Candi Prambanan terdiri atas tiga candi utama di halaman utama, yaitu Wisnu, Brahma, dan Siwa, yang merupakan lambang Trimurti dalam agama Hindu, ketiga candi tersebut menghadap ke Timur dari halaman utama. Terletak ditengah.

Candi Siwa merupakan candi paling tinggi dan memiliki empat buah ruangan. Satu ruangan utama berisi Arca Siwa, tiga ruangan lainnya masing-masing berisi Arca Durga (yaitu istri dari Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesa (putra Siwa).

Dua candi lainnya dipersembahkan kepada atara Wisnu, yang menghadap ke utara bila kita dari halaman utama, dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke selatan dari halaman utama.

Selain itu, ada beerapa candi kecil yang dipersembahkan kepada pembantu para dewa yang berupa wahana atau kendaraan yang selalu dipergunakan untuk mengangkut, yaitu Nandini-Sang Lembu, Batara Siwa-Sang Angsa, Batara Brahma-Sang Garuda, dan Batara Wisnu. Relief yang berada disekeliling cadi menggambarkan wiracarita Ramayana.

Informasi yang diterima penulis dari sebuah katalog panduan di lokasi Candi Prambanan yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata setempat. Komplek Cnadi Prambanan ini dikelilingi lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda yang disebut perwara.

Album Photo Wisata Candi Prambanan:

Di dalam area Candi Prambanan kita dapat menemukan sebuah museum yang menyimpan benda-benda bersejarah, termasuk batu Lingga Batara Siwa, sebagai lambang kesuburan. Menyelisik sebuah cerita masyarakat setempat berkaitan dengan keberadaan Candi Prambanan yang selalu membuat penulis tertarik untuk selalu menyelusuri sebuah pesan dari isi cerita tersebut.

Seperti kisah Bandung Bondowoso (putra Prabu Damar Maya) yang mencintai Roro Jonggrang (putri Prabu Baka). Perseteruan antar kedua kerajaan yang memperebutkan wilayah kekuasaan berakhir dengan kematian. Prabu Baka dalam perang ini dibunuh oleh Bandung Bondowoso. Sedangkan Pangeran Bandung Bondowoso terus memburu seluruh pasukan Prabu Baka, sampai tiba dikerajaan Baka.

Setibanya Pangeran Bandung Bondowoso di Kerajaan Baka ia bertemu dengan Roro Jonggrang dan jatuh hatilah si Pangeran Bandung Bondowoso ini. Namun, dikarenakan Roro Jonggrang merupakan anak dari Prabu Baka, tidaklah mungkin Roro Jonggrang menikahi pembunuh ayah kandungnya sendiri.

Namun, pangeran Bandung Bondowoso terus merayu dan tidak menyerah agar Roro Jonggrang mau meerima cintanya. Dengan kejadian ini maka Roro Jonggrang mengakalinya dengan suau permintaan dengan syarat, agar pangeran Bandung Bondowoso membuatkan sumur yang dalam yang dinamakan (jalatunda) dan candi dengan seribu arca dalam waktu semalam.

Untuk permintaan pertama Roro Jonggrang dapat terpenuhi oleh pangeran Bandung Bondowoso, sedangkan permintaan kedua pada akhir penyelesaian pembuatan candi, Roro Jonggrang Tanpa diketahui oleh pangeran Bandung Bondowoso meminta bantuan kepada warga desa agar melakukan aktifitas menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari.

Baca juga : Legenda Roro Jonggrang Di Candi Prambanan.

Dengan melihat kejadian ini pangeran Bandung Bondowoso yang pada saat waktu itu sudah menyelesaikan 999 arca tetulah maah besar, maka dengan kemarahan pangran Bandung Bondowoso ini maka, Roro Jonggrang seorang putri cantik yang dia cintai dikutuk oleh dirinya untuk menjadi arca yang ke-1.000.

Kisah inilah yang selalu terdegar di telinga kita setiap kita melihat sosok Arca Durga seorang putri yang ramping di dalam lokasi Candi Prambanan, yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai perwujudan dari Roro Jonggrang yang dikutuk oleh kekasihnya yaitu Bandung Bondowoso, dan ini menjadi bagian seni arsitektur candi yang cantik di daerah Desa Prambanan.

Banyak para wisatawan yang menanyakan kepada penulis perihal perilaku ditempat Candi Prambanan. Seperti halnya tentang adanya mitos, bila oang yang berpacaran tidak boleh datang ke lokasi Candi Prambanan. Karena  hal itu dapa menyebabkan hubungan pacarannya bisa putus.

Memang benar ada mitos yang mengatakan hal seperti itu yang penulis ketahui dari masyarakat setempat. Namun, bila kita mau melihat lebih jauh lagi, kenapa mitos ini sengaja disebar luaskan hingga orang meyakini sampai saat ini ? Penulis beranggapan dikarenakan Candi Prambanan merupakan sebuah tempat peribadatan umat beragama Hindu, masa rumah peibadatan dipergunakan untuk pacaran ? Kira-kira kalau rumah ibadah kita dipergunakan untuk berpacaran bagaimana ? (jawaban Anda cerdas)

Baiklah sahabat-sahabat semuanya. Semoga dengan artikel sederhana ini kita dapat tergugah untuk dapat menyikapi segala sesuatu dengan pikiran yang yang jernih. Dan kita harus mampu milihat akar permasalahan yang selalu timbul dari sebuah mitos itu sendiri.

Jadikanlah mitos sebagai suatu rasa penghormatan kita, dan bukan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini. Dengan kita bersikap sepeti itu, maka kepedulian kita merupakan kompromi dari persetujuan bersama dalam bertoleansi dengan tidak menyakiti. Karena kepedulian yang terindah dalam hidup ini adalah kehati-hatian sikap kita untuk tidak melukai orang lain.

Dengan melakukan wisata sejarah dan budaya arkeologi, kita akan selalu mendapakan suatu pesan yang akan disampaikan dari sebuah historis cerita. Semoga perjalan dan pengalaman penulis kali ini dapat memberikan manfaat kepada para pencinta Ejawantah Wisata. Dari lokasi Candi Prambanan, anda dapat mengunjungi Candi Ratu Boko yang lokasinya tidak jauh dari Candi Prambanan.





Salam wisata,

CANDI CETHO JEJAK TERAKHIR KEJAYAAN KERAJAAN MAJAPAHIT YANG HILANG

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/09/candi-cetho-jejak-terakir-kejayaan.html
Candi Cetho Jajak Terakhir Kejayaan Kerajaan Majapahit Yang Hilang. - Candi Cetho yang berlokasi di Desa Cetho, Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasi Candi Cetho yang berada di lereng gunung Lawu, dengan ketinggian 1.496 meter dari permukaan laut.  

Candi Cetho selalu beringin dengan Candi Sukuh bila kita mendengar dari setiap orang bercerita. Hal dikarenakan Candi Cetho letaknya tidak terlalu jauh dari Candi Sukuh. Jadi kalau kita datang ke Candi Sukuh, berarti kita juga dapat melanjutkan perjalanan menyelusuri jejak  sejarah akhir Kerajaan Majapahit yang pernah terukir di daerah ini. Perjalanan dari Candi Sukuh menuju Candi Cetho hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dengan perjalanan santai.

Dalam perjalanan menuju Candi Cetho banyak kita jumpai pemandangan alam yang indah, dan pemandangan rumah penduduk yang menyerupai rumah penduduk di Bali. Terutama ini terlihat jelas dengan pemandangan setiap pagar pintu rumahnya.

Setiap pagar pintu rumah yang berbentuk gapura bentar, yaitu sebuah gunungan yang dibelah dua secara vertikal, mirip pintu masuk pura. Ada yang terbuat dari bata, dan ada juga yang terbuat dai batu alam hitam. Sungguh pemandangan yang indah dan penuh dengan kratifitas sebuah seni karya yang memancarakan atmosfer spiritual hingga menenggelamkan setiap mata yang memandang dan menikmatinya.

Candi Cetho memang terletak di tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan Candi Sukuh, yakni sekitar 1400 meter dari permukaan laut. Candi Cetho sampai saat ini masih dipergunakan sebagai tempat melakukan ritual keagamaan, terutama sering digunakan bagi masyarakat setempat.

Dari pengalaman penulis mengunjungi Candi Sukuh dan Candi Cetho, penulis berpendapat bahwa Candi Cetho lebih terkesan familier bagi masyarakat setempat yang merupakan penganut masyarakat beragama Hindu Bali dan Kejawen, dan sampai saat ini Candi Cetho masih berfungsi sebagai tempat peribadatan (pura dan petilasan)

Candi Cetho memiliki 13 teras yang memanjang kebelakang sejauh 190 m, sedangkan lebar Candi Cetho sekitar 30 m. Jalannya berbatu dengan gapura setiap teras yang membelah kompleks Candi Cetho dengan pusatnya candi induk yang berada di tingkat paling atas. Sedangkan posisi candi induk yang diatas tidak mudah untuk selalu dikunjungi. karena lokasinya selalu terkunci, dan hanya dibuka pada saat akan digunakan untuk melakukan ritual sembahyang.

Informasi yang penulis dapatkan mengenai sejarah berdirinya Candi Cetho ini masih berkaitan dengan lahirnya Raden Brawijaya, raja terakhir Kerajaan Majapahit, dari kejaran putranya yaitu Raden Fatah seorang penguasa Demak. ( Baca : Mengenal Kisah Kerajaan Demak )

Setelah Raden Fatah memporak-porandakan Sukuh, maka Raden Brawijaya lari menuju arah timur laut, dan mendirikan Candi Cetho ini. Sebelum pembuatan Candi Cetho selesai dibuat, timbullah pertikaian lama Raden Brawijaya dengan Adipati Cepu, yang mengakibatkan Raden Brawijaya lari, dan akhirnya "moksa" di puncak Gunung Lawu.

Gapura bentar yang berada di depan Candi Cetho sangat mencuri perhatian penulis dan para pengunjung yang lainnya. Gapura yang terlihat megah, tinggi, besar, hitam,berdiri kokoh saling berhadapan. Sungguh indah dan membuat takjub setiap mata yang memandangnya.

Jalan yang mendaki beberapa langkah untuk mencapai anak tangga yang mengantarkan penulis menuju gapura bentar. Persis sebelum anak tangga pertama, penulis melihat dua arca berpunggungan. Satu menghadap pintu masuk, dan satu lagi menghadap anak tangga.

Di pintu masuk Candi Cetho penulis menemukan sebuah tulisan yang memuat rasa kekecewaan pada saat pemugaran Candi Cetho. Seperti yang penulis kutip dari teulisan tersebut : "Sangat disayangkan bahwa pemugaran atau lebih tepat disebut pembangunan oleh "seseorang" terhadap Candi Cetho ini tidak memperhatikan konsep arkeologi sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah." Namun tulisan itu tidak membuat rasa keingin tahuan penulis untuk mendapatkan informasi tentang Candi Cetho ini.

Candi Cetho untuk pertama kali dilaporkan oleh Van de Vlis pada ahun 1842. Penemuan ini menarik perhatian sejumlah ahli perbakala dunia karena berbeda dengan kebanyakan candi yang ada di dunia.Karena Candi Cetho terdiri dari 13 teras yang berundak dari barat ke timur sepanjang 190 meter, mengahadap barat, dan candi intinya berada di posisi paling belakang. Dan Arca-arcanya dipahat dengan sangat sederhana. Relief dan arca lainnya mirip dengan yang ada di Candi Sukuh.

Dan pada teras ketiga terdapat susunan batu yang membentuk phallus (alat kelamin pria) sepanjang dua meter di depan kura-kura raksasa. Kura-kura ini merupakan lambang dari penciptaan alam semesta, sedangkan phallus merupakan simbol penciptaan manusia.

Simbol phallus ini juga dapat kita temui di area utama, yaitu diteras ke-11, 12 dan 13. Simbol penciptaan manusia di area ini berupa arca berbentuk penis (alat kelamin lelaki) yang diletakkan di dalam cungkup kayu. Di sisni kita juga dapat melihat batu nisan peninggalan Empu Supo serta arca Brawijaya V yang merupakan nama dari Bhre Kertabumi.

Candi Cetho didirikan pada tahun 1373 Saka, atau sama dengan tahun 1451 Masehi. Hal ini dapat diketahui dari keberadaan prasasti yang terdapat dilokasi. Dan berdasarkan prasasti tersebut, serta penggambaran figur binatang maupun relief dan arca-arca yang ada, Candi Cetho diperkirakan berasal abad 15,  sebuah masa dimana Kerajaan Majapahit mendekati masa kejayaannya.

Tidak jauh dari Candi Cetho kita bisa melihat Puri Taman Saraswati. Kita akan mnemukan papan petunjuk arah dilokasi untuk menuju Puri Saraswati ini. Dan untuk memasuki area Puri Saraswati ini, kita diharuskan melepaskan alas kaki. Di sebelah puri ini ada sebuah sendang yang menjadi bagian perjalanan ritual di tempat ini.

Menurut informasi dari Dinas Pariwisata Karanganyar melalui brosur yang berada dilokasi objek wisata Candi Cetho, sepasang arca ini menunjukkan sekap ambinguitas di tahap awal ketika manusia ingin bertobat. Kenangan tentang masa lalu yang susah dilepaskan ketika akan melangkah maju.

Tidak diketahui arca tersebut menggambarkan tokoh siapa, karena tidak menunjukan ciri-ciri dewa tertentu. Demikian pula dengan arca-arca lain yang di teras-teras berikutnya, yang ternyata menurut brosur yang penulis dapatkan, arca-arca tersebut tidak diletakkan di tempat yang sebenarnya.

Dari informasi brosur yang dikeluarkan secara resmi oleh Dinas Pariwisata Karanganyar terlihat jelas bahwa ada perasaan kecewa akibat keteledoran pada saat pemugaran Candi Cetho yang dilakukan oleh Humardani, yaitu salah seorang asisten pribadi mantan Presiden Soeharto, yang dilakukan pada tahun 1975 / 1976. Struktur asli Candi banyak diubah, bahkan bangunan berbentuk kubus yang ada di puncak Candi Cetho merupakan bangunan baru.

Dan dari informasi rekan penulis yang berprofesi sebagai pemandu wisata setempat dari Dinas Pariwisata Karanganyar, Jawa Tengah bahwa peninggalan yang masih asli di Candi Cetho itu yang masih asli hanya ada di teras ke-7. Ini merupakan teras terpenting, karena menampilkan tahun pendirian candi serta fungsi keagamaannya.

Di teras ke-7 kita dapat menemukan sengkalan memet (tahun yang digambarkan dalam bentuk binatang atau tumbuhan) berupa tiga ekor katak, mimi, ketam (kepiting), seekor belut, dantiga ekor kadal. Menurut seorang arkeolog asal Belanda, Bernet Kempres, arca ketam, belut, dan mimi merupakan sengkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku = mimi (1), menunjukkan angka 1373 Saka atau 1451 Masehi, tahun didirikannya Candi Cethoa. 

Melanjutkan perjalanan di lokasi area Candi Cehto, kita akan menemukan susunan batu di atas tanah yang membentuk burung dengan sayap berkembang selebar enam meter dan di atas badan burung kita dapat melihat seekor arca kura-kura yang sedang menumpang diatasnya. Susunan batu tersebut merupakan penggalan sebuah cerita Samudramanthana dan Garudeya.

Dengan menyimak segala keterangan dan pertanyaan yang dilontarkan para wisatawan, si pemandu wisata menunjukkan persis di ujung paruh burung serta di ujung kedua sayapnya ada Surya Majapahit, yakni logo Kerajaan Majapahit yang menunjukkan adanya hubungan situs ini dengan Kerajaan Majapahit. Logo ini berada segaris dengan paruh burung, membujur lambang lingga yoni, lambang Dewa Syiwa dan Betari Durga. ( Baca : Dibalik Legenda Sejarah Raja Majapahit )

Pada kondisinya aslinya, hampir tiap teras memiliki arca dan bangunan-bangunan terbuka seperti pendopo yang berkerangka kayu. Namun, sampai dengan terakhir penulis datang kelokasi sudah tidak seperti itu.. Yang ada hanya dua teras teratas yang masih ada pendopo, selebihnya tidak ada.

Bila kita mau mengunjungi lokasi omjek wisata Candi Cetho, sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari, dan penulis menyarankan agar membawa  jaket. Karena pada siang hari lokasi yang terletak didataran tinggi ini selalu dihinggapi kabut setiap siang hari.

Walau Candi Cetho sudah bukan merupakan situs bersejarah yang kehilangan nilai aslinya dikarenakan telah banyaknya perubahan pada bangunan asli ulah oknum dengan kecerobohannya pada saat melakukan pemugaran Candi Cetho, hal ini tidak menghilangkan rasa keindahan alam yang ada disekitarnya. Namun kita masih bisa menikmati di beberapa titik keaslian situs bersejarah ini.

Begitu besar arti sebuah nilai situs bersejarah bukan hanya untuk bangsa Inodnesia, namun bila kita mau menjaga dan melestarikan sebuah nilai sejarah maka, ini akan menjadi aset sejarah dunia. Semoga ini akan dapat menambah wawasan kita tentang tempat situs bersejarah yang ada di Indonesia.


Salam Wisata

CANDI SUKUH SEBUAH PESAN DAN KEYAKINAN

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/09/candi-sukuh-sebuah-pesan-dan-keyakinan.html
Candi Sukuh Sebuah Pesan Dan Keyakinan. - Candi Sukuh, namun masyarakat setempat selalu menyebutnya dengan julukan Candi Saru (candi porno), hal ini dikarenakan di candi tersebut terdapat patung dan relief organ seks serta perilaku seksual manusia. Hal inilah yang selalu disebut orang candi paling erotis yang dapat dijumpai di Pulau Jawa.

Candi Sukuh
berada diketinggian 910 meter di atas permukaan laut yang beralamat di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh tidak berada di kawasan yang ramai, namaun jalan menuku objek wisata ini sangat mulus dan beraspal. Transportasi yang menjadi handalan ditempat ini adalah sepeda motor, atau yang biasa kita sebut dengan ojek.

Candi Sukuh yang memiliki kekhasan bentuk yang menyerupai gunungan layaknya candi-candi di Pulau Jawa, melainkan sebuah trapesium. Candi Sukuh yang memiliki tiga gapura dan tiga teras sebagai lambang tahap-tahap sebelum mencapai kesempurnaan. Candi Sukuh ini menghadap ke arah barat dengan bersandar ke timur dan ke dinding gunung Lawu.

Di sudut tangga gapura kita dapat menemukan sepasang pasu, yaitu jambangan dari batu yang airnya digunakan untuk bersuci pada saat kita akan memasuki area dan sebelum melangkah masuk gapura. Caranya dengan membasuh kedua tangan dan meminum sedikit airnya, serta air diusapkan ke kening, pipi, dan telinga.

Gapura pertama di Candi Sukuh akan menghantarkan kita ke teras terdepan yang bernama Kamandatu. Gapura yang berbentuk paduraksa. Dindingnya memuat relief gapuro bhuto anguntal jalmo (raksasa sedang memakan manusia) yang mana ini merupakan candra sengkala penanda tahun dibangunnya Candi Sukuh, yaitu pada tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi.

Bila kita melihat suatu pemandangan sebuah hasil karya pahatan dua relief Jatayu dan Garudeya di Gapura, itu merupakan sebuah simbol Candi Sukuh, yang masing-masing menghadap utara dan selatan, sedang mencekram dua ekor naga. Kaitannya dengan kisah Carudeya yang sedang mencari tirta amarta (air kehidupan)

Menyelusuri gerbang utama dan menaikan 14 buah anak tangga hingga lantai teratas kita akan mendapatkan sebuah relief lingga yoni dalam lingkaran rantai. Menurut informasi yang penulis dapatkan di objek wisata Candi Sukuh setempat, pada zaman dulu lambang ini dilewati (dilengkapi) oleh setiap orang yang akan masuk Candi Sukuh. Sekarang, bagian teratas dipagari untuk melindungi dari kerusakan sehingga para pengunjung hanya bisa melihat, dan tidak boleh melangkahi.

Dalam mitologi Hindu, lingga adalah lambang Dewa Syiwa, sedangkan yoni lambang Bertari Durga (Dewi Uma atau Dewi Parwati). Selain sebagai lambang maskulinisme dan feminisme, hingga yoni juga bermakna sebagai peringatan kepada manusia tentang asal-usulnya. Lingga Yoni mengingatkan manusia agar kita tidak sombong, karena alasannya kita sebagai manusia berasal dari pertemuan sel sperma dan sel telur.

Sejarah berdirinya Candi Sukuh sangat erat sekali dengan suatu peristiwa pada saat Raden Brawijaya dan pengikutnya pada masa senja Kerajaan Majapahit. Di mana pada masa itu Kerajaan Majapahit yang sudah rapuh dan tidak berkutik ketika diserang Demak, di bawah pimpinan Raden Fatah yang tidak lain adalah putra Brawijaya. Demak yang masuk dengan membawa Islam. Yang mana Brawijaya menolak menjadi penganut agama yang dibawa putranya, lantas bersama pangikutnya lari ke barat, naik ke perbukitan Gunung Lawu. Di tengah kejaran tentara Demak, mereka membangun rumah ibadah. Karena di buat dalam keadaan tergesa-gesa, maka tempat ibadah itu dinamakan Sukuh. Ini berasal dari akronim kesusu tur bakuh  (terburu-buru tetapi kukuh). ( Baca  : Mengenal Kisah Sejarah Kerajaan Demak )

Lambang lingga yoni di kawasan objek wisata Candi Kukuh oleh Raden Fatah dijadikan monumen peringatan, bahwa dirinya tidak lupa berasal dari ayahnya yang bernama Raden Brawijaya.

Melanjutkan perjalanan dengan 15 meter ke arah timur, naik ke teras kedua yang bernama Rupadatu.Kita akan menemui "Gapura Rupadatu". Gapura Rupadatu sekarang ini hanya dapat kita jumpai berupa reruntuhan bebatuan, dan luasnya tidak selebar dua teras yang lainnya.

Sebelum mencapai candi inti, kita akan menemukan  dua Jatayu yang sedang berdiri dengan sayap terkembang mengapit satu arca kecil. Ketiganya tanpa kepala. Begitu pula dengan sebuah arca yang terlindung di dalam Candi Perwara (candi pengapit) di depan Candi Induk. Tinggi arca yang kepalanya terpenggal yang diperkirakan tingginya setengah meter, dimana dihadapannya terlihat serakan bunga setaman dan beberapa batang hio yang apinya sudah mulai memadam.

Informsi yang saya dapatkan dia adalah Ki Pociro atau Ki Ageng Sukuh, mbahurekso atau penjelmaan dari Candi Sukuh yang akan menyampaikan doa manusia kepada Sang Hyang Widhi. Semasa hidupnya beliau merupakan pemuka agama Hindu yang bertahan sekaligus memberi perlawanan terhadap masuknya Islam yang dibawa pasukan Raden Fatah. Setelah wafat, Ki Ageng Sukuh dimakamkan (atau abunya disimpan) di Candi Perwara, walau hingga sekarang bukti itu belum ditemukan.

Berlanjut keteras yang ketiga yang bernama Arupadatu. Teras Arupadatu merupakan teras tertinggi, dimana tempat ini sering dijadikan tempat proses penyucian rohani dan untuk meninggalkan urusan duniawi. Ditempat inilah kita dapat menemukan inti dari Candi Sukuh. Di mulut tangganya kita dapat menemukan tiga patung kura-kura yang kepalanya menghadap barat, punggungnya rata berdiameter satu meter, mungkin pada masanya itu berfungsi sebagai altar saji.

Sepasang kura-kura yang terdapat di kiri-kanan mulut tangga, dan satu lagi "menutup" jalan menuju anak tangga karena berada persis segaris dengan tangga sehingga yang akan naik, harus lebih dulu melipir setengah lingkaran tubuh kura-kura.

Dalam agama Hindu, kura-kura merupakan jelmaan dari Dewa Wisnu. Dari informasi yang penulis dapatkan dari beberapa rekan pemandu wisata di tempat ini, patung kura-kura itu sebagai pengingat para Brahmana agar berlaku seperti kura-kura yang selalu merunduk (andhap asor) dan tidak sombong (adigang adigung adiguna).

Dari penglihatan penulis dilokasi Candi Sukuh hampir seluruh arca di Candi Sukuh tidak berkepala. Dan orang yang pertama kali mepublikasikan Candi Sukuh ini aadalah Raffles melalui bukunya The History of Java yang terbit pada tahun 1817. Di dalam bukunya Raffles menuliskan :"Sebagian besar patung yang bukan merupakan relief, keadaannya telah terpenggal dan kepalanya tidak diketemukan."

Candi Sukuh Sebuah Pesan Dan Keyakin bagi masyarakat penduduk setempat dalam menjalankan keyakinannya, dan kini tempat tersebut telah menjadi salah satu tempat wisata yang dapat dinikmati oleh setiap wisatawan yang datang ke tempat ini. Itulah sekelumit cerita dari pengalaman perjalanan saya di Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah. Menikmati kesejukan udara perbukitan dibalik gunung Lawu dengan mengurai kisah yang terselimuti kabut di Candi Sukuh merupakan perjalanan wisata yang mengasyikan dan dapat menambah pengetahuan dari pesan yang akan disampaikannya oleh sebuah karya sejarah untuk kita sebagai manusia.


Salam wisata.

Sumber : Dinas Pariwisata daerah Karanganyar
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus