BERBURU GUDEG KHAS JOGJA DI DAERAH WIJILAN

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/berburu-gudeg-khas-jogja-di-daerah.html Berburu Gudeg Khas Jogja Di Daerah Wijilan.- Gudeg merupakan kuliner Khas Jogja. Begitu banyak orang yang menyatakan kuliner gudeg merupakan kuliner yang istimewah untuk rasanya, sehingga membuat orang banyak mengira bahwa gudeg merupakan kuliner yang berasal dari Keraton. Padahal bila melihat dari sejarahnya gudeg ini bukan berasal dari Keraton.

Konon, informasi yang saya dapatkan kuliner gudeg ini berada sejak jaman kerajaan mataram. Kuliner gudeg, di buat oleh seorang prajurit pada saat pembukaan hutan mentok yang digunakan sebagai pembangunan Keraton.

Namun, adapula cerita yang menyatakan bahwa pencipta kuliner gudeg ini asal muasalnya adalah dari masakan seorang istri prajurit Mataram yang bernama Sri Sumatri pada tahun 1557.

Terlepas dari cerita asal-muasal dari kuliner gudeg Jogja, makanan ini telah menjadi salah satu icon kuliner tradisional Jogja yang telah mampu mengangkat cita rasa kuliner Indonesia hingga dunia internasional.

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/berburu-gudeg-khas-jogja-di-daerah.html

Gori atau nangka muda menjadi bahan utama dari kuliner gudeg yang mudah didapat di kebun-kebun warga di daerah sekitar Jogja. Untuk pembuatan kuliner gudeg  sebenarnya sangat sederhana, namun dibutuhkan waktu yang cukup lama dalam hal proses pembuatan gudeg diperlukan waktu hingga 5-6 jam. Layaknya semut mengerubungi gula, manisnya gudeg basah dan kering di daerah ini mengundang para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berburu gudeg khas Jogja di daerah Wijilan.

Tempat kuliner Gudeg Jogja yang cukup di kenal adalah kawasan pusat makanan gudeg di Jalan Wijilan sebelah timur alun-alun utara kota Jogja. Di lokasi ini kita akan banyak menemukan jajanan berbagai macam kuliner gudeg khas Jogja yang cukup di kenal. Dari sajian yang masih berbentuk tradisional hingga yang telah di kemas secara modern dalam bentuk gudeg yang di kemas kalengan.

Untuk harga kulier gudeg di tempat jajanan kuliner gudeg Jogja ini harganya sangat bervariasi, dari harga murah hingga yang harga mahal, itu tergantung dengan isi lauk yang kita pilih. Namun, untuk kuliner gudeg yang bisa awet tahan lama harganya lebih mahal dengan harga gudeg yang hanya bisa disantap untuk sehari-harinya.

Makan gudeg kurang lengkap tanpa sayur krecek yang terbuat dari kulit sapi, ayam goreng kampung, ati ampela, tahu dan tempe bacem kita tinggal pilih menu mana saja yang paling kita suka menurut selera.

Kenikmatan gudeg di tempat kuliner gudeg Jogja Jalan Wijilan akan beratambah bila kita mengkonsumsinya dengan siraman bumbu are atau kuah santan nangurih. Rasa gudegnya terasa sempurna, perpaduan khas antara krecek, sambel bajak dan kerupuk gendar. Manisnya gudeg sangat mengundang selera makan kita.

Tempat Kuliner Gudeg Jogja di Jalan Wijilan alun-alun utara sangat cukup di kenal di kota Jogja, dan untuk transporatasi ke lokasi tersebut kita bisa menggunakan becak, andong, sepeda, taksi maupun tranportasi yang ada di kota Yogyakarta. Bila sahabat dan para pembaca setia Ejawantah Wisata membutuhkan informasi kuliner gudeg khas Jogja yang enak, silahkan datang langsung ke jalan Wijilan, karena lokasi tersebut menjadi sentra makanan khas gudeg Jogja, dan menjadi tempat kuliner gudeg Jogja bagi para wisatawan yang Berburu Gudeg Khas Jogja Di Daerah Wijilan.[]



Salam wisata, 

MENELUSURI PANTAI PARANGTRITIS JOGYA

http://www.ejawantahtour.com/2014/06/menelusuri-pantai-parangtritis-jogya.html
Menelusuri Pantai Parangtritis Jogya. - Pantai indah di sisi selatan Kota Jogya yang merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara. Letaknya tidak jauh dari pusat kota Jogya.

Pantai Parangtritis Jogya ini cukup di kenal dan memiliki sebuah cerita legenda yang berhubungan dengan anak turunan kerajaan Mataram dari Penembahan Senopati alias Sutawijaya.

Waktu saya menelusuri Pantai Parangtritis Jogya dengan kuda, sangat terasa sebuah pemandangan indah di sekitar padang pasir pantai putih yang halus. Deburan ombak yang memecah suara di setiap bibir pantainya seakan menjadikan suasana perjalanan di sekitaran pantai Parangtritis Jogya ini mengajak kita dalam sebuah arena permainan di sekitaran pantai hingga larut petang.

Kisah menarik dari seorang penduduk asli pantai Parangtritis Jogya yang saya kenal di lokasi, beliau menceritakan sebuah cerita legenda pantai laut selatan yang masih menjadi sebuah kepercayaan dan keyakinan bangsa Jawa hingga saat ini.

Di mana obrolan ini bermula pada saat saya bertanya kepada Pak Seto pemilik kuda yang saya sewa untuk menelusuri Pantai Parangtritis Jogya ini tentang sebuah cerita legenda yang berhubungan dengan daerah pesisir Pantai Laut Selatan Jogya ini yang berhubungan dengan kerjaan Mataram di Jogya.

Alkisah...............
Berawal dari seorang tokoh Penembahan Senopati yang merupakan tokoh central yang berhail membuat sebuah anyaman mistik dan politik. Di mana hasil karya seorang Penembahan Senopati ini memiliki perpaduan keteladanan antara alam pikiran Jawa.

Sosok Penembahan Senopati yang menjadi cerita legenda Pantai Parangtritis Jogya memiliki sebuah kepribadian personafikasi terhadap pemahaman tertinggi dari ajaran Jawa yang disebut manggali, yang artinya bahwa beliau menguasai dan mengenal soal-soal esesnsial.; pasca manah yang artinya membidik anak panah, mengenal soal-soal problematik di jantung kehidupan, pusat lingkaran yang dikenal sebagai jangka, itulah yang disebut dengan makna jangkah jangkaning jaman.

Lanjut.......
Dari segi mistik atau hal gaib yang diyakini dengan sosok tokoh Penembahan Senopati Sutawijaya konon, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, terlepas dari perdebatan tentang fakta atau pun cerita mitos. Antara Penembahan Senopati Sutawijaya dengan Ratu Kidul telah memiliki hubungan yang diwali dengan sebuah perjanjian antara Penembahan Sonopati dengan Kanjeng Ratu Kidul untuk saling membantu apabila terjadi gangguan dalam tubuh kerajaan.

Mengenai hubungan tersebut, Pak Seto menjelaskan bahwa Penembahan Senopati digambarkan sebagai tokoh sakti mandraguna. Bahkan, beliau bisa mengguncangkan ketenangan Laut Selatan dan membuat Ratu Kidul cukup terkejut akibat perbuatan dari Penembahan Senopati Sutawijaya yang membuat ikan-ikan di lautan pada geger, air laut berubah menjadi sepeti rebusan air yang mendidih dengan suara yang ditimbulkannya seperti gemuruh yang mengerikan..

Selama hidupnya, Kanjeng Ratu Kidul baru menyaksikan kejadian tersebut dimana sebuah perisitiwa yang dapat mengguncangkan Laut Selatan. Hal ini di sebabkan oleh kekuatan doa Penembahan Senopati Sutawisya ketika beliau berada di daerah pesisir Laut Selatan.

Lanjut...........
Dari kejadian itulah awal mula perkenalan Kanjeng Ratu Kidul penguasa Laut Selatan dengan Penembahan Senopati Sutawija. Ketika keduanya bertemu, Ratu Kidul meminta belas kasihan kepada Pembahan Senopati, agar kegiatan ritual doanya di hentikan dan keadaan laut kembali menjadi normal. Melihat kejadian ini, Sang Penembahan Senopati Sutawijaya pun tergoda oleh kecantikan Kanjeng Ratu Kidul, dan mulai saat itulah mucul benih-benih asmara di antara mereka.

Lalu,,,,,,, Penembahan Senopati Sutawijaya pun berjalan mengikuti Kanjeng Ratu Kidul menuju kedaton nya di bawah laut. Sesampainya di kedaton, mereka beristirahat ditunggui oleh para penunggu laut yang terdiri dari jin, setan, dan peri perayangan. Mendengar cerita ini saya pun langusng merinding dan bulu kudu pun pada berdiri..........

Lanjut.............
Senopati pun terkagum-kagum melihat perabotan yang ditata oleh  Kanjeng Ratu Kidul dengan indah sampai pada tempat tidurnya. Senopati benar-benar terpikat dan menjadi kasmaran dengan Kanjeng Ratu Kidul. Hingga saat ini, masih banyak masyarkat yang mempercayai bahwa Kanjeng ratu kidul akan siap membantu Penemabahan Senopati dan anak turunannya apabila menghadapi masalah. Bahkan menurut informasi cerita masayrakat Jogya, Kanjeng Ratu Kidul dipangil Eyang oleh Sultan Hamengku Buwono IX. karena para raja Keaton Jogyakarta merupakan keturunan Senopati yang menjadi "suami" Kanjeng Ratu Kidul.

Bahkan, anggapan bahwa adanya hubungan mistis antara raja-raja Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul Pantai Laut Selatan menempatkan bahwasanya diri raja tidak hanya sebagai manusia biasa, tetapi sebagai manusia yang mempunyai kempuan dan kekuatan di atas kodrat manusia biasa. Untu mengenal nama-nama raja-raja Mataram Jogya ( Baca : Keraton Yogyakarta Cerita Budaya Dalam Perjalanan Babad Tanah Jawi )

Itulah sekelumit cerita yang saya dapatkan dari seorang penduduk asli Pantai Parangtritis Jogya yang berprofesi sebagai tukung penyewa kuda di tempat wisata di sana. Namun, terlepas dari kebenaran sebuah cerita ini semua atau hanya sebuah cerita legenda mitos tentang Pantai Laut Selatan dengan Penembahan Senopati Kerajaan Mataram, ada sebuah pembelajaran yang bisa kita ambil sebagai nilai positifnya di sana.

Sedangakn untuk sebuah cerita Pantai Parangtritis versi lain yang pernah saya dapatkan juga di lokasi tempat wisata Yogya ini, teman-teman atau pembaca setia Ejawantah Wisata dapat membacnaya di halaman : Pantai Prangtritis Yogyakarta Dan Sebuah Mitos Cerita Legenda Tanah Babad Tanah Jawi

Menelusuri Pantai Parangtritis Jogya tentu merjadi pengalaman perjalan wisata yang mengasyikan bagi saya pribadi dan juga banyak orang yang telah berkunjung di tempat wisata Jogya ini. Di mana kita akan dapat menikmati pemandangan tepi pantai selatan kota Jogya yang indah, dan sebuah catatan pembelajaran dari cerita legenda masyarakat Jawa yang tersohor ini. bahwa di dalam setiap sebuah tradisi dan budaya ada sebuah keyakinan yang memiliki pembelajaran positif, dan hal itu merupakan sebuah identitas bangsa Indonesia yang unik dan sangat menarik. Dan perbedaan pendapat merupakan sebuah kunci rahmat dalam kesinambungan hidup tanpa harus mencela dan menghakimi tardisi dan budaya bangsa sendiri tanpa mau peduli untuk mengenal lebih jauh dengan identitas bangsanya sendiri. Semoga bermanfaat.[]




Salam wisata,

MENIKMATI WISATA AGRO SALAK PONDOH YOGYA

http://www.ejawantahtour.com/2014/06/wisata-agro-salak-pondoh-yogya.html
Menikmati Wisata Agro Salak Pondoh Yogya. Tempat wisata agro buah salak pondoh di kawasan Yogya salah satunya yang terkenal adalah di Desa Agro Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kawasan daerah ini memiliki berbagai jenis salak unggulan yang cukup dikenal, dan belum tentu ada di negara lain.

Salak Pondoh cukup di kenal di daerah Turi, Pakem Sleman ini. Tepat lokasi yang berada disebelah utara kota Yogyakarta. Desa ini hampir sebagian besar penduduknya mempunyai kebun salak sendiri, baik kebun yang berukuran kecil atau pun kebun yang berukuran luas. Bila musim buah tiba, di lokasi ini banyak sekali penduduk atau pun warga yang menjajakan dagangan buah salak pondoh ini di pinggir jalan. Untuk itu tempat ini cukup dikenal dengan daerah wisata agro salak pondoh Yogya.

Memasuki kawasan daerah desa wisata agro salak pondoh Yogya ini,  kita akan disambut dengan deretan tanaman pohon salak di sertai udara sejuk udara dengan pemandangan alam pedesaan yang masih asri dan segar sekali.

Kehadiran saya di lokasi tempat wisata agro salak pondoh Yogya ini bersama rombongan pada saat melakukan perjalanan wisata menuju tempat wisata Yogyakarta. Teman-teman dan pembaca bisa mengikuti petualangan saya di Kota Yogyakarta ( Baca : Keunikan Masjid Bawah Tanah Di Kota Tua Yogyakarta ).

Lanjut..............
Informasi yang terima, "pondoh" bukanlah sebuah nama daerah. Namun, kata "pondoh" memang digunakan oleh penduduk setempat untuk calon manggar atau yang dikenal dengan mayang kelapa. Sedangkan salak merupakan kata yang berasal dari daerah ini. Diberi nama Salak Pondoh karena rasa buahnya manis, namun tidak sepat sepertinya halnya rasa calon mayang kelapa. Itulah sekelumit keterangan dari salah seorang penjual yang saya temukan di lokasi tempat wisata agro salak pondoh Yogya.

Di lokasi Desa Bangunkerto ini terdapat sekitar 17 jenis salak unggulan yang sering di sebut salak super asli Indonesia. Buah salak yang terdapat di lokasi ini seperti ; salak madu, salak manggala, salak hitam, salak gading, salak klinting, salak gula pasir, dan beberapa tanaman buah salak jenis lainnya.

Lanjut..............
Informasi dari para pedagang di lokasi wisata agro salak pondoh Yogya ini, salak yang paling digemari para wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini, mereka lebih memilih salak jenis super. Selain harganya relatif murah, salak ini terkenal manis dan memiliki daging yang besar. Sedangkan untuk salak jenis lainnya mereka para wisatawan juga sering memilih jenis salak Gading, karena jenis buahnya termasuk dalam katagori salak yang paling mahal dan juga temasuk jenis buah salak yang langka.

Pada saat berada di lokasi wisata agro salak pondoh Yogya ini saya berkesempatan berbicara dengan para pedagang di lokasi, dan hal ini cukup membuat saya bertanya tentang memilih buah salak dengan jenisnya yang benar. Dan informasi yang saya dapatkan adalah untuk memilih salak pondoh super dan salak pondoh hitam kita harus bisa membedakannya.

Hal ini disebabkan karena untuk jenis salak pondoh super  biasa memiliki bagian daging buahnya berwarna putih dan rasanya pun manis, sedangkan untuk salak pondoh hitam bisa dikanali dari kulitnya yang berwarna coklat kehitam-hitaman dan lebih sering berada di toko-toko buah.

Dan ternyata, informasi yang paling menakjubkan adalah untuk salak super sendiri merupakan varietas baru yang lebih unggul. Dibandingkan dengan salak pondoh biasa rasanya lebih enak dari perawatan pohon yang harus dilakukan oleh para petani salak pun jauh lebih mudah untuk di lakukan. Itulah sekelumit cerita yang saya dapatkan dari salah seorang petani warga desa Bangunkerto, Sleman, Yogyakarta.

Menikmati Wisata Agro Salak Pondoh Yogya kita dapat menikmati langsung buah salak yang masih segar dan alami, bahkan baru di peting langsung dari kebun. Dengan rasa daging buah yang khas manisnya dan legit rasanya, kita pun dapat mengetahui potensi buah salak lokal yang memilki nilai kualitas eksport yang tiada duanya di dunia ini. Teman-teman penasaran ? bisa langsung menuju ke lokasi alamt tersebut di atas, dan buktikan sendiri.




Salam wisata,

TAMAN SARI YOGYAKARTA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/09/taman-sari-yogyakarta.html
Taman Sari Yogyakarta sering di kenal dengan nama Istana Taman Sari. Lokasi dari objek wisata Taman Sari Yogyakarta ini terletak di sebelah barat Keraton Yogyakarta. Belum lengkap rasanya bila kita mengunjungi Yogyakarta dan mengunjungi Keraton Yogyakarta tanpa mengunjungi Istana Taman Sari Yogyakarta ini.

Kenapa bila kita mengunjungi Keraton Yogyakarta tanpa mengunjungi Istana Taman Sari Yogyakarta ini kurang lengkap ?.......

Karena Taman Sari Yogyakarta merupakan taman kerajaan atau yang sering disebut pesanggrahan Sultan Yogyakarta bersama keluarganya. Dan merupakan rangkaian sarana dan fasilitas kerajaan Keraton Yogyakarta yang menyimpan banyak sejarah perjalanan dari keluarga besar Keraton Yogyakarta.

Informasi yang penulis dapatkan di lokasi, Isatana Taman Sari Yogyakarta dibangun pada masaa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, dan proses penyelesaian dari bangunan Istana Taman Sari ini di lakukan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II.

Ada hal yang menarik di lokasi Taman Sari Yogyakarta ini. Dimana lokasi Umbul (mata air) Pacetokan atau nama lain dari Istana Taman Sari Yogyakarta ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penentuan letak lokasi Keraton Yogyakarta pada masa penembahan Senopati.

Istana Taman Sari Yogyakarta ini bukan hanya sekadar taman tempat rekreasi keluarga kerajaan pada zaman tersebut, namun tempat ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan dan pengintaian musuh kerajaan. Selain itu,

Taman Sari ini juga dijadikan tempat meditasi bagi raja Yogyakarta, tempat para selir raja dan putri-putri raja untuk membatik. Walau terlihat tidak terlalu luas lokasi Taman Sari ini juga pernah dijadikan tempat berlatih kemilteran tentara kerajaan Yogyakarta.

Sebelum atau sesudah mengunjungi objek wisata Taman Sari Yogyakarta, ada baiknya teman-teman dan sahabat Ejawantah Wisata juga menelusri objek wisata Masjid Bawah Tanah Yogyakarta yang letaknya tidak jauh dari lokasi Taman Sari Yogyakarta.

Semoga infromasi yang penulis dapatkan dari kunjungan di lokasi wisata Taman Sari Yogyakarta ini, dapat memberikan informasi tentang sejarah objek wisata ini sebagai objek wisata yang bernilai sejarah bagi kita untuk mengenal lebih dekat objek wisata Taman Sari Yogyakarta.



Salam wisata,

MALIOBORO DAN MUSEUM HIDUP KEBUDAYAAN JAWA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/09/malioboro-dan-museum-hidup-kebudayaan.html
Museum hidup kebudayaan jawa merupakan tempat dimana kita dapat melihat segala aktifitas masyarakat Jawa dalam menjalankan kehidupan kesehariannya dengan ciri has serta adat budaya Jawa yang di bawanya. Fenomena ini dapat kita lihat pada saat kita berkunjung di Kota Yogyakarta.

Salah satu icon Museum hidup kebudayaan Jawa di lokasi Yogyakarta adalah Malioboro. Mungkin bahasa ini jarang kita dengar, hal ini dikarenakan Malioboro menjadi pusat kegiatan masyarakat di Yogykarta. Sehingga untuk mengetahui Kota Yogyakarta dengan segala pernak-pernik dengan hasil industri makanan, tekstil, seni dan kreatif, serta lainnya, kita  hanya meluncur  di satu titik spot icon Kota Yogyakarta yaitu di Jalan Malioboro.

Malioboro memang kawasan wisata belanja yang menjadi andalan Kota Yogyakata. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak pertokoan, rumah makan, dan pusat perbelajaan yang menawarkan semua kebutuhan anggota keluarga. Tidak ketinggalan, para pedagang kaki lima yang menjadikan lokasi Malioboro menjadi lokasi yang sulit untuk dilupakan.

Dari pengalaman penulis pada saat berkunjung di wilayah jalan Malioboro ini, kita bisa medapatkan segala jenis barang yang di perjual belikan di area Malioboro. Tawar menawar merupakan pemandangan yang sudah biasa terjadi di lokasi ini. Seru dan sangat mengasyikan bisa melihat pemandangan di area ini. Suasana senyum, tawa, canda, serta obrolan kecil antara penjual dan pembeli.

Jika kita beruntung dalam hal menawar barang yang akan kita beli di kawasan Malioboro, biasanya kita akan mendapatkan harga sepertiga atau pun setengah dari harga yang mereka tawarkan kepada kita. Kejelian dan kelihaian kita dalam bernegosiasi kepada para pedagang di lokasi ini merupakan kunci dasar untuk mendapatkan harga murah di darah area Malioboro ini. Apalagi pada saat kita mengunjungi Pasar Bringharjo untuk berburu batik.

Untuk pertokoan, pusat perbelanjaan, dan rumah makan yang ada, sebenarnya sama seperti pusat bisnis dan belanja di kota besar lainnya. Di mana di lokasi area Malioboro, kita dapat menemukan barang dengan merek ternama asli atau pun KW (tiruan). Bagi anda yang akan berburu emas jawa anda dapat datang ke kawasan Ketandan kampung China di Yogya.

Dari pengamatan penulis di lokasi, para wisatawan atau pun pengunjung yang berada di lokasi ini rata-rata banyak yang minat dengan produk buatan lokal, dari batik, wayang, anyaman, tas hingga produk seni dan kreatif yang di penjual belikan di area ini.

Pada saat matahari mulai terbenam dimana lampu jalan sudah mulai dinyalahkan, perubahan suasana di aera jalan Malioboro lebih terasa unik dan klasik. Keindahan suasana Malioboro di waktu malam satu persatu pun mulai terlihat. Dari pergeseran satu persatu lapak lesehan yang mulai digelar di setiap sisi-sisi jalan untuk menghidangkan makanan has tradisonal  Yogyakarta, sampai dengan hadirnya para seniman jalanan Kota Yogyakarta yang berdatangan untuk menghibur para pengunjung untuk menikmati suasan Yogyakarta di waktu malam.

Menu masakan yang ditawarkan kepada para pengunjung di setiap warung tenda lesehan di area Malioboro beragam ciri has dan bentuk rasa yang dapat kita pilih, Dari menu masakan gudeg, pecel lele, opor ayam, masakan oriental, sea food, dan ada juga yang menyediakan masakan has dari daerah Padang. Atau..... ada juga yang menyediakan menu khusus makanan dan minuman yang unik dan aneh di telinga seperti sego kucing, wedang jahe, atau pun kopi jos.

Ramainya orang yang duduk bersila di alas tikar dengan beratapkan sebuah terpal tenda, harumnya aroma masakan yang sedang dalam proses penyajian, dan sebuah alunan lirik musik tradisional yang dimainkan secara modern para seniman jalanan, merupakan pemandangan yang dapat kita lihat, dengar, dan rasakan di setiap warung lesehan yang terdapat di sepanjang jalan Malioboro ini.

Bagitu banyak kenangan indah yang pernah dilakukan oleh para wisatawan domestik mau pun mancanegara di area Malioboro. Suasana indah, unik dan klasik merupakan mata rantai kehidupan yang tidak dapat terpisahkan oleh sebuah memori cerita indah bagi setiap orang yang pernah hadir di kota Yogyakarta. Hal ini terjadi kepada diri penulis dan juga mungkin sahabat lainnya. Itulah sebuah cerita kisah kenangan di kota budaya dari Yogyakarta yang sering dikenal dengan nama Museum Hidup Kebudayan Jawa.




Salam Wisata,

Informasi :
Hotel Murah di Malioboro Street
Yogyakarta Hostel Backpackers

DIBALIK KISAH MUSEUM SISA HARTAKU DI BAWAH KAKI GUNUNG MERAPI YOGYAKARTA

Yogyakarta yang terkenal dengan wisata budaya dan sejarah, kini menampilkan suatu fenomena konsep baru perjalanan wisata alam vulcanologi yang dapat dinikmati oleh para wisatawan dalam dan luar negeri yang banyak memberikan informasi dan suguhan menarik untuk para wisatawan.

Letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 merupakan letusan gunung berapi dalam kurun waktu 140 tahun aktivitasnya. Letusan yang terjadi pada bulan September akhir 2010 yang menyebabkan letusan puncak pada hari Selasa,  26 Oktober 2010 yang menewaskan sedikitnya 165 orang, termasuk juru kunci Merapi Mbah Maridjan.

Saat itu, karakter letusan Merapi eksplosif vertikal dengan ketinggian awan panas mencapai 7,5 km. Akibat pengaruh angin, awan panas meluncur turun dan menghanguskan wilayah-wilayah yang ada di bawahnya dalam radius 20 km.

Tiga tahun berselang pasca kejadian Gunung Merapi meletus, kawasan terdampak erupsi Merapi telah dibenahi, meski belum sepenuhnya. Banyak puing bangunan yang masih tersisa di lokasi. Namun yang paling penting dari itu semua, para korban yang selamat telah menempati hunian baru di kawasan relokasi bencana yang jauh dari zona bahaya.

Secara perlahan dengan berjalanannya waktu, geliat perekonomian warga di kawasan Merapi pun mulai bangkit. Warga menciptakan berbagai inisiatif usaha yang dapat memberikan penghasilan. Banyak warga yang mendirikan warung tenda sederhana yang menjual camilan dan makanan khas Yogyakarta.

Warung-warung sederhana yang berdiri dilokasi ini sangat mendukung objek-objek wisata baru yang tercipta pasca erupsi, salah satu wisata yang menarik untuk dinikmati bagi pecinta wisata alam yang memiliki konsep petualangan di daerah Yogyakarta yaitu Wisata Lahar Merapi.

Menelusuri area lokasi Gunung Merapi yang tersapu awan panas dengan menggunakan kendaraan jeep yang dikemudikan oleh para pemandu wisata lokal yang terlatih, merupakan perjalanan wisata alam yang sangat mengasyikan dan penuh tantangan yang mengharukan dengan melihat rumah-rumah yang menjadi korban erupsi Merapi.

Berdiri di hadapan gerbang mini berhiaskan tulang belulang hewan yang turut menjadi korban dari erupsi awan panas dari letusan Gunung Merapi, hal ini bisa membawa kita dalam suasana detik-detik saat letusan Gunung Merapi terjadi dan awan panas meluncur dengan cepatnya ke lokasi tersebut untuk menyapu habis desa-desa yang dilaluinya dengan suhu 400 derajat celcius.

Tidak jauh dari lokasi pintu gerbang mungil  yang berada di pinggir sungai Gendol kita akan menemukan sebuah batu besar unik, masyarakat setempat memberi nama "Batu Alien". Dikarenakan batu ini menyerupai wajah yang memiliki bagian mata, hidung, dan telinga. Dimana batu ini dipercaya merupakan sebuah batu lontaran dari kawah Gunung Merapi yang berjarak 5 km dari kawasan lokasi batu ini berdiri.

Menyisir dikawasan lokasi ini, ada sebuah pemandangan unik yang menyimpan cerita sejarah dari sebuah keluarga kecil yang menjadi lokasi rumahnya sebagai museum untuk menjadikan sebuah sumber cerita dengan barang-barang milik pribadinya yang terkena erupsi letusan Gunung Merapi.

"Museum Sisa Hartaku"  itulah sebuah nama yang diberikan oleh keluarga Bapak Kimin dan Ibu Wati. Bersama keempat orang anaknya, mereka selamat dan megungsi ke lokasi aman. Dan atas inisiatif anak sulungnya, bekas rumah mereka dibuka untuk umum dan dijadikan sebuah Museum sebagai saksi sejarah sisa-sisa hasil sapuan awan panas pasca erupsi Gunung Merapi.

Di Muerum Sisa Hartaku milik keluarga bapak Kimin dan ibu Wati ini kita dapat melihat barang-barang milik keluarga tersebut dari pakaian, alat makan, sepeda motor, mebel, bahkan hewan peliharaan keluarag ini yang tidak luput dari sapuan awan panas Gunung Merapi.

Hal menarik dari Museum Sisa Hartaku, kita dapat menemui sebuah jam dinding yang masih menempel di dinding rumah keluarga Bapak Kimin yang jarum-jarumnya sudah lengket menempel dan berhenti di angka 00:05. Dimana jam ini merupakan salah satu bukti yang menunjukan kejadian pada saat waktu awan panas menyambangi desa tersebut.

Cerita pada saat kejadian letusan Gunung Merapi pun kita akan dapatkan dari saksi yang masih terdapat dilokasi tersebut. Rasa pilu dan haru bercampur dalam menyimak kisah nyata dari masyarakat setempat. Namun, dari perjalanan wisata kali ini ada hal psotitif yang kita dapatkan dari kehidupan masyarakat di lokasi ini.

Dengan keterbatasan yang masyarakat Gunung Merapi ini miliki, mereka dapat bahu membahu untuk bangkit dari keterpurukan dengan bekretif dan berinovasi dengan pengembagan daerah tersebut untuk dijadikan objek wisata yang tidak kalah menarik dengan objek wisata lainnya yang ada di Yogyakarta.

Semoga sajian arikel ini dapat menjadi pilihan perjalanan wisata para sahabat dan pecinta Ejawantah Wisata dalam memilih objek wisata yang terdapat di Yogyakarta dalam mengisi waktu liburan bersama keluarga dan orang-orang yang Anda sayangi.

Bagi para sahabat yang akan berwisata ke tempay wisata ini, ada baiknya para sahabat dan pecinta Ejawantah Wisata mengingap di kawasan daerah sekitar Merapi Yogyakarta dengan mengunjungi halaman pemesanan penginapan Hotel di Mount Marapi



Salam wisata,  

CANDI RATU BOKO ISTANA DALAM SEBUAH PERBEDAAN RATU BANGAU

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/05/candi-ratu-boko-istana-dalam-sebuah.html
Menelusuri komplek Candi Prambanan, Jawa Tengah Yogyakarta, kurang sempurna bila kita tidak mengunjungi komplek Candi Ratu Boko. Hal ini disebabkan kedua candi ini memiliki nilai  perjalanan sejarah cerita legenda masyarakat tentang kedua candi tersebut.

Dari cerita sejarah yang penulis dapatkan informasi dari pusat sejarah informasi di daerah Candi Prambanan, Candi Ratu Boko yang berasal dari sebuah cerita masyarakat setempat yang memiliki arti arfiah "Raja Bangau" yaitu sosok seorang ayah dari "Loro Jonggrang" si putri ramping cantik yang dapat kita lihat dalam area Candi Prambanan.

Lokasi komplek Candi Ratu Boko sendiri berjarak +/- 3 km dari area Candi Prambanan dan terletak di daerah perbukitan. Untuk mencapai lokasi Candi Ratu Boko ini kita bisa memilih pintu masuk yang tersedia melalui dua alternatif.

Lokasi pitu masuk Candi Ratu Boko yang pertama akan berakhir di tempat parkir untuk kendaraan besar seperti Bus. Bila masuk dari pintu masuk di sini kita akan mendaki  anak tangga yang lumayan terjal posisinya. Lokasi ini sangat cocok bagi para pengunjung yang masih memiliki kondsi fisik yang masih kuat. Lokasi pitu pertema ini tidak jauh dari Candi Prambanan dan papan petunjuk untuk menuju lokasi Candi Ratu Boko ini dapat kita temukan di sekitar lokasi ini.

Dan lokasi ke dua untuk menuju lokasi Candi Ratu Boko ini, kita bisa melewati jalan belakang, dan lokasinya agak jauh dari Candi Prambanan. Dan papan petunjuknya kurang terlihat. Bila kita masuk melalui pintu ke dua ini, maka kita akan melewati area persawahan dengan jalan menanjak, dan kita akan diarahkan hingga sampai ke lokasi tempat palataran  Kompleks Candi Ratu Boko. Untuk jalur kedua ini kita dapat menghemat tenaga, karena kondisi medannya tidak terjal.
Dari catatan sejarah..........

Candi Ratu Boko merupakan peninggalan masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun sekitar abad 9 M. Tempat ini bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh dengan kedamaian).

Sebagai biara lokasi ini tentulah sebagai tempat untuk menyepi dalam memusatkan diri pada kehidupan spiritual. Berada di kompleks Candi Ratu Boko ini, penulis dapat merasakan kedamaian sekaligus keheningan yang berpadu dalam setiap tarikan nafas udara yang kita hirup di area sekelilingnya.

Tanpa terasa diri ini terbawa dalam suasana masa lalu yang sepi dan sunyi dari kegiatan manusia seperti sekarang ini. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, sebuah pemandangan sosok Candi Prambanan yang megah menjulang ke angkasa dengan latar belakang Gunung Merapi terlihat berdiri tegak sebagai simbol cerita legenda masyarakat sekitarnya.

Informasi yang penulis dapatkan........
Lokasi Candi Ratu Boko memiliki luas are sekitar 250.000 m persegi, dan terbagi atas empat wilayah.yaitu ; tengah, barat, tenggara, dan timur. Lokasi bagian tengah Candi Ratu Boko meliputi gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban.

Dan dibagian barat hanya perbukitan. Serta dibagian tenggara terdapat sebuah pendopo, balai-balai, tiga candi, kolam, dan komplek Keputren. Sementara dibagian timur bisa disaksikan kompleks gua, stupa Budha, dan kolam.

Pada saat penulis tiba dilokasi parkiran dari pintu kedua, kita akan menaiki beberapa anak tangga, sebelum akhirnya melihat gerbang kompleks. Dimana dilokasi ini penulis disambut dengan dua buah gapura tinggi. Yang pertama gapura yang memiliki tiga pintu, sementara yang kedua memiliki lima pintu.

Pada saat penulis memasuki gerbang gapura pertama, penulis mendapatkan sebuah tulisan "Panabwara". Menurut keterangan dari salah seorang pemandu wisata lokal yang mendampingi perjalanan penulis dilokasi ini. Tulisan bila mengacu kepada Prasasti Wanua Tengah III, kata tersebut merujuk ke Rakai Panabwara yang merupakan keturunan Rakai Panangkaran dan pengambil alih istana.

Tidak jauh dari gapura kedua penulis menemui sebuah bangunan candi yang berbahan dasar batu putih. Dan masyarakat di sekitar daerah ini, sering mnyebut dengan nama Candi Batu Putih. Tidak jauh dari Candi ini penulis diajak ke lokasi Candi Pembakaran yang berbentuk bujur sangkar (26 m x 26 m) yang memiliki dua teras..

Sesuai dengan namanya, Candi Pembakaran ini digunakan untuk pembakaran jenazah. Namun, dalam kesehariannya lokasi ini sering dijadikan tempat angon binatang ternak oleh penduduk sekitarnya.

Tidak jauh dari lokasi Candi Pembakaran di sebelah tenggara, penulis menemukan kolam penuh dengan beberapa cerita misteri. Konon menurut cerita pemandu wisata kami, sumur yang bernama Amrta Mantana yang memilki arti air suci yang diberikan mantra ini dapat membawa keberuntungan. Dan air ini sering dipergunakan oleh umat beragama Hindu untuk melakukan Upacara Tawur Agung sehari sebelum perayaan Nyepi.

Walaupun didirikan oleh seorang Budha, Kompleks Candi Ratu Boko ini memiliki unsur-unsur Hindu nya. Hal ini bisa penulis temukan dilokasi ada simbol Lingga dan Yoni, arca Ganesha, dan lempengan emas bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa.

Melihat hal ini semua, penulis berkesimpulan bahwa sudah berabad-abad silam sikap toleransi tumbuh di negara Indonesia ini. Karena di lokasi ini saja penulis dapat menemukan pada jaman Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha, mereka dapat hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Tanpa terasa hari  semakin sore dan senja pun akan pamit meninggalkan perjalanan penulis kali ini. Lembayung senja yang menampakan  keindahannya dalam setiap semburatnya menerobos  gerbang Candi Ratu Boko yang merubah sosok Candi menjadi sebuah siloet yang indah bagai sebuah lukisan pembelajaran kepada kita tentang arti perbedaan yang dapat hidup berdampingan dengan alam.

Semoga perjalanan wisata penulis kali ini dapat memberikan pembelajaran yang positif bagi diri kita semua, tentang arti perbedaan yang dapat hidup berdampingan secara harmonis yang selalu terjaga dalam kisah cerita yang dapat kita saksikan dalam sebuah sosok candi ini.


Salam wisata,

Info :
Hotel Kawasan Prambanan

SENDRATARI RAMAYANA SEBUAH KISAH CINTA DARI TANAH JAWA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/05/sendratari-ramayana-sebuah-kisah-cinta.html
Sendratari Ramayana atau Balet Ramayana adalah seni pertunjukan drama tari kesenian tradisional Jawa, dengan tarian yang indah dan mengagumkan. Dimana pertunjukan kesenian tradisional ini mampu menyatukan berragam kesenian yang ada di Jawa dalam bentuk tari, drama, dan musik yang tersaji dalam pertunjukan seni di atas panggung.

Cerita yang melukiskan setiap goresan pahatan yang terdapat di setiap relif susunan sebuah Candi Prambanan yang dibuat berabad-abad silam, sangat jelas digambarkan di lakon pentas kesenian tradisional ini

Kisah perjalanan cinta Ramayana yang terkemas dalam satu momentum penyuguhan kesenian di atas panggung ini merupakan epos legendaris dari sebuah karya seseorang Walmiki yang ditulisnya dalam bahasa Sanskerta.

Dalam kesempatan ini, penulis hadir untuk meliput langsung sebuah cerita yang sangat melegenda di masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarkat Jawa.Walau penulis tidak begitu lancar dalam mengartikan bahasa Jawa, dengan didampingi salah seorang keluarga yang mengerti bahasa Jawa, maka penulis pun meminta agar dia menceritakan dalam setiap lakon dan kejadian yang kita lihat, agar mempermudah dan tidak mengganggu konsentrasi penonton yang lain, sebuah alat rekam pun ikut menjadi medianya.

Dari jalan cerita yang panjang dan sangat menegangkan dalam bentuk sajian pertunjukan ini, penulis mencoba untuk merangkum pertunjukan yang kami saksikan. Pertunjukan Sendratari Ramayana sendiri  terbagi dalam empat lakon atau empat babak. yaitu penculikan Sinta, Misi Anoman ke Alengka,  kematian Kumbakarna atau Rahwana,  dan pertemuan kembali Rama - Sinta.

Sendratari Ramayana ini, seluruh ceritanya disuguhkan dalam bentuk rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari tradisonal yang sangat piawai dalam menyelaraskan antara gerakan dan iringan musik gamelan Jawa.

Nuansa romantis penuh dengan nilai tradisional Jawa mengajak kita untuk ikut larut dalam jalan cerita yang disuguhkan. Dengan mengamati setiap gerak penari disertai hentakan musik gamelan Jawa, hal ini membuat detak kaki dan kepala penonton yang berada di sekeliling penulis pun ikut bergoyang.

Tanpa dialog yang terucap, yang ada hanya sebuah penuturan dari sinden yang menggambarkan jalan cerita melalui lagu dalam bahasa Jawa yang dilantunkan dengan suara yang khas.


Dalam kisah ini menceritakan kisah Sang Rama yang memerintahkan di Kerajaan Kosala sebelah utara Sungai Gangga, ibukota Ayodhya. Kisah yang diawali dengan Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu Kosalya, Kekayi, dan Sunitra.

Dari Dewi Kosalya lahir Rama. Dan dari Dewai Kekayi, lahir Bharata, serta dari Dewi Sumitra, lahir putera kembar bernama Lakshmana dan Satrugna. keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir dalam bermain senjata.

Saat beranjak dewasa, Rama megikuti sayembara yang diadakan oleh Prabu Janaka, dan dia berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Dari hasil kemenangnya tersebut, dia berhak meminang Dewi Sinta, yaitu putri Prabu Janaka

Sedangkan Prabu Dasarata yang sudah tua ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Atas permohonan Dewi Kekayi, Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan takhta kepada Bharata, edangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun dan memilih menetap di dalam hutan.

Dalam masa pengasingannya di hutan. Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk Surpanaka. Dan dalam perkelahian mereka berdua, hidung Surpanaka terluka oleh pedang Lakshmana.

Surpanaka pun mengadukan kejadian ini kepada Rahwana, bahwa dirinya telah dianiaya oleh Lakshmana. Hal ini membuat Rahwana marah dan berniat untuk melakukan balas dendam. Dengan tipu muslihat, Rahwana menculik Dewi Sinta, istri Rama.

Setelah mengetahui istrinya diculik, Rama mencari Rahwana menuju Kerajaan Alengka. Dalam perjalanannya, Rama bertemu dengan Sugriwa, yaitu Sang Raja Kiskindha. Atas bantuan Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakanya, Subali.

Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Rama untuk mengempur Alengka. Dengan dibantu Hanuman dan ribuan wanara, mereka dapat menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.

Rawana yang mengetahui kerajaan diserbu, lalu mengutus para sekutunya, termasuk putranya-Indrajit untuk mengempur Rama. Ia gugur ditangan Lakshmana. Setelahsekutu dan para patihnya guur satu per satu, Rahwana pun maju dimedan perang, dan pertarungan berlangsung sangat seru. Dengan senjata Brahmastra yang sakti, Rahwana gugur dalam medan pertempuran ini, dan dia gugur sebagai kesatria.

Hal ini merupakan penggalan kesimpulan cerita dari seni pertunjukan Sendratari Ramayana yang penulis saksikan dan sempat penulis catat dari hasil diskusi dengan rekan penulis yang mengartikan lakon dalam penayangan di arena pertunjukan ini.

Tentunya bila hanya mengetahui dari sebuah cerita,  penayangan Sendratari Ramayana ini  dari isi artikel dan video di sini. Tidak seindah dan sefantastis dalam penayangan langsung di arena. Dengan panggung terbuka dan latar belakang pemandangan Candi Prambanan yang didukung dengan permainan pencahayaan dan sound yang profesional.

Dengan mencintai seni tradisional Indonesia, kita akan banyak mengetahui kebesaran akan suatu nilai budi pekerti yang disampaikan dalam arti yang sesungguhnya. Dan mencitai budaya merupakan dari mencintai tanah air

Dan bagi rekan-rekan yang ingin menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional Sendratari Ramayana, penulis menyarankan agar rekan-rekan dapat menghubungi pusat informasinya yang tertera di bawah ini.

Reservasi Tiket dan Informasi :
Prambanan Theatre.
Jalan Raya Yogya -Solo Km 16.
Prambanan, Yogyakarta, 55571.
Indonesia.

Informasi :

BERBURU EMAS DI CHINA TOWN YOGYAKARTA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/05/berburu-emas-di-china-town-yogyakarta.html
Menelusuri Pasar Beringharjo maka kita akan bertemu sebuah jalan Los di daerah belakang pasar Beringharjo. Dan jalan ini  berada diantara jalan perempatan antara Jalan Malioboro, Jalan Jend. A. Yani, Jalan Pejeksan, dan Jalan Saryatmajen kita akan menemukan sebuah perkampungan yang memiliki nilai histori unik tentang perjalanan alkuturasi budaya yang unik.

Kampung ini biasa disebut orang dengan nama Kampung Ketandan. Menelusuri daerah Kampung Ketandan, penulis banyak menemukan gaya arsitektur bangunan tempo dulu yang berjajar memanjang ke belakang, dan banyak banguan rumah yang dijadikan toko oleh pemiliknya. Dan para penghuni kampung ini kebanyakan bermata pencaharian sebagai pedagang.

Seperti kota-kota besar di belahan dunia lainnya, yang terdapat sebuah kawasan China Twon, maka di wilayah Yogyakarta pun kita akan dapat menemukan suatu kawasan perkampungan masyarakat Tionghoa, walaupun tidak semua masyarakat yang di lokasi perkampungan ini berasala dari Tionghoa. Mereka berbaur bersama dalam kehidupan kesehariannya bersama masyaakat pribumi.

Informasi yang penulis dapatkan,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Pada zaman dulu, masyarakat penduduk kampung Ketandan, rata-rata berjualan toko kelontong, toko jamu dan toko penyedia kebutuhan pokok. Namun, sejak tahun 1950 pola kehidupan masyarkat Kampung Ketandan bergesar menjadi pedagang emas, dan hampir rata-rata sekarang pendudung kampung ini melakukan perniagaan perhiasan emas.

Lokasi perkampungan ini pun sering didatangi oleh para wisatawan yang berburu koleksi perhiasan emas sebagai cinderamata atau pun koleksi pribadi. Apalagi bagi para pecinta perhiasan ornamen yang terbuat dari emas yang berasal dari lokasi tanah jawa (emas jawa).

Ketandan sendiri berasal dari kata "Tondo" yang merupakan sebuah ungkapan untuk para pejabat penarik pajak atau Pejabat Tondo yang memiliki wewenang (diberikan oleh Sultan Hamengkubuwono VII) kepada etnis China.

Sejak 230 tahun yang lalu atau sekitar tahun 1780 -an masyarakat etnis Tionghoa sudah menempati kawasan wilayah Malioboro. Mereka yang tersebar di beberapa daerah sekitar Kota Yogyakarta, seperti di kampung Ketandan, Beskalan dan Pajeksan.

Kampung Ketandan yang dibangun bersamaan dengan Pura Pakualaman yang letaknya berjarak +/- 2 km sebelah timur dari kota utama kantor Pos. Dimana Kampung Ketandan merupakan saksi sejarah perjalanan akulturasi antar budaya masyarakat Tionghoa, Keraton dan masyarakat Yogyakarta.

Dengan banyaknya masyakat Tionghoa yang tinggal dan membangun kehidupan di wilayah kampung ini, maka masyarakat umum selalu menyebut wilayah ini sebagai kawasan Pecinan yang ada di Yogyakarta.

Bila tahun baru Imlek atau tahun baru masyarakat China tiba, di kawasan Kampung Ketandan sering diadakan even Pekan Budaya Tionghoa. Dan kampung ini berubah menjadi sebuah negeri China yang di tandai dengan ornamen-ornamen yang berciri khas masyarakat Tionghoa.

Ada sebuah pesan yang dapat penulis temukan. Dengan meilihat kerukunan dan perbedaan etnis yang dapat berjalan seiring kehidupan ini. Masyarakat Kampung Ketandan merupakan suatu perpaduan keindahan akulturasi budaya yang mencerminkan bahwa, suatu perbedaan itu merupakan rahmat tersendiri yang diberikan Tuhan untuk kita sikapi secara positif.




Salam wisata,

BERBURU BATIK SAMPAI MAKANAN TRADISIONAL DI PASAR BERINGHARJO YOGYAKARTA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/05/berburu-batik-sampai-makanan.html
Jalan-jalan di kota Yogyakarta pasti tidak melewatkan sebuah icon pasar tradisional yang memiliki nilai sejarah yang panjang. Bila kita menelusuri jalan Malioboro untuk menikmati wisata belanja di Yogyakarta, maka kita akan menemukan sebuah pasar tradisional dengan tulisan yang terpampang di dipinggi jalan besar dengan nama Pasar Beringharjo.

Di lantai dasar bagian depan Pasar Beringharjo kita akan melihat dan mendengar suara riuh dari suara tawar menawar antara penjual dan pembeli. Dengan memperhatikan bahasa dan dialek penjual dan pembeli di lokasi Pasar Beringharjo ini, ternyata mereka menggunakan bahasa campur aduk antara bahasa jawa dan bahasa Indonesia.

Kita akan menemukan ribuan meter kios batik yang berada di dalam lokasi Pasar Beringharjo yang ditawarkan pedagang kepada setiap pengunjung yang melewati depan kiosnya. Puluhan pedagang batik bisa kita lihat di lokasi ini, dari batik cap batik tulis, sampai celana pendek batik , tas batik, sendal batik pun bisa kita dapatkan di lokasi pasar ini.

Area penjualan batik di area lokasi Pasar Beringharjo ini terbagi dalam beberapa los. Tiap losnya dihubungkan dengan jalan kecil. Meski harus berdesakan, namun terbayar lunas ketika menemukan barang yang kita inginkan.

Menelusuri ke sisi bagian timur yang mana area ini merupakan tempat penjualan ember, manik-manik, baju jawa, tas kulit, dan berbagai macam pernak-pernik rumah tangga. Di tengah pasar ada jalan kecil yang memisahkan area barat dan timur, sekaligus yang menghubungkan Jalan Beringharjo dengan kawasan Ketandan, pecinan di Yogyakarta.

Dimana kawasan Ketandan ini di dominasi oleh pedagang emas yang berderet-deret. Ada juga pedagang emas ala kaki lima yang mengadu untung di pinggir jalan.  Ketandan dan penghuninya punya sejarah yang panjang di Pasar Beringharjo, dan menjadi bagian dari sejarah ekonomi Kota Yogyakarta.

Bagi para pengkonsumsi jamu-jamuan, penulis menyarankan kepada para sahabat bila mencari bahan baku jamu dan rempah bisa datang ke lokasi Pasar Beringharjo. Tepatnya di lantai 2. Di mana di lantai 2 ini kita akan menemukan jahe, kunyit, kayu manis, dan berbagai rempah lain yang siap di jual eceran.

Produk-produk tradisional yang uni juga dapat kita jumpai di lokasi pasar beringharjo ini, seperti gula jawa jahe siap seduh sebgai bahan minuman. Dari pengamatan penulis di lokasi, banyak para pembeli yang datang dari daerah luar Yogyakarta yang membeli bahan-bahan jamu dan rempah-rempah ini dalam bentuk grosiran untuk dijualnya kembali di lokasi tempat tinggal mereka. Produk jamu dan rempah yang diperjual belikan di Pasar Beringharjo ini didatangkan dari daerah sekitar Yogyakarta.

Bagi sahabat yang suka akan barang antik, juga dapat berburu barang antik di lokasi Pasar Beringharjo  yang berlokasi di lantai 3. Dimana di lantai tiga ini terdapat berbagai macam bentuk barang antik yang di tawarkan oleh para pejual di sini. Ada uang kuno, badik, lonceng, jam antik sampai patung Buddha yang terbuat dari  perunggu.

Perlu kejelian bagi rekan-rekan dalam hal mencari barang-barang antik di lokasi pasar ini, karena untuk barang antik ada berbagai macam produk yang di perjual belikan di lantai 3 ini. Karena harga yag ditawarkan tidak ada patokan nilainya untuk sebuah barang anik. Dan yang perlu kita perhatikan adalah tingkat keaslian barang tersebut.

Pada pukul 17.00 sore hari menjadi akhir dai keramaian Pasar Beringharjo untuk berganti suasan ketenangan pedagang yang bergegas untuk merapihkan barang dagangannya. lampu kota di sekitar pasar dan jalan Malioboro pun mulai menyala.

Keramaian pasar berpinah ke sisi barat pasar tepatnya di depan gerbang yang mulai ramai. Pagi kita para pengemar kuliner tradisional, ada gudeg, klepon, cenil, dan berbagai macam jajan khas Yogya yang bisa kita dapatkan di lokasi ini.

Berjalan ke arah selatan sedikit kita akan menemui area nongkrong yang cukup luas dengan banyak tempat duduk yang dapat kita pilih untuk kita gunakan sebagai tempat kongkow-kongkow bersama rekan atau pun keluarga di sana sambil menikmati keindahan kota Yogyakarta menjelang malam tiba. Dimana kawasan  sering di sebut dengan nama Museum hidup kebudayaan Jawa.

Semoga pengalaman perjalanan penulis kali ini di daerah Yogyakarta dapat memberikan informasi kepada para sahabat dan berguna sebagai bahan pegangan pada saat berkunjung di lokasi wilayah Kota Yogyakarta,





Salam wisata,

KIPRAH KONCO WINGKING DI MUSEUM ULEN SENTALU YOGYAKARTA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/05/kiprah-konco-wingking-di-museum-ulen.html"Konco Wingking" merupakan ungkapan dari bahasa Jawa, yang memiliki pemahanan bahasa identik dengan seorang wanita (istri) yang secara kodrat hanya sebagai teman tidur atau pun pelengkap di belakang rumah untuk melayani kaum lelaki (suami).

Namun, dalam keterangan yang penulis dapatkan di salah satu objek wisata  Museum Ulen Sentalu Kaliurang Yogyakarta,  peran kiprah dari "Konco Wingking" sangat terlihat jelas sekali dalam membantu peran suami dalam menjalankan tugas kenegaraan, terutama dalam hal menjaga suatu nilai budiperkerti dalam berumah tangga.


Mungkin bagi sebagian masyarakat nama Museum Ulen Sentalu belum banyak dikenal. Tapi, jangan salah loh, nama Museum Ulen Sentalu sudah banyak dikenal oleh orang asing. Hal ini sangat terlihat jelas dalam setiap tampilan ornamen pajangan maupun photo-photo yang terdapat di dalam Museum Ulen Sentalu yang di tulis dalam beberapa bahasa, misalnya bahasa Inggris dan Jepang.

Melalui Museum Ulen Sentalu kita dapat mengetahui peran para permaisuri atau pun penghuni keputren di Keraton Mataram dalam bidang seni. Memang hal ini jarang sekali terungkap ditengah-tengah masyarakat. Karena Budaya Jawa  menempatkan wanita sebagai konco wingking yang menjadikan tabir penutup kiprah mereka para wanita keraton.

Selain itu, mereka tidak boleh menonjolkan diri. Misalnya dalam bidang seni, disini rajalah yang berperan sebagai pelindung kesenian, dan hal menjadi batu sandungan karya-karya mereka untuk diketahu oleh dunia luar. Dan hasil karya-karya seni batik dan tarian dari mereka hanya mereka persembahkan untuk raja.

Bersumber dari cerita pemandu wisata di lokasi Museum Ulen Sentalu penulis dapat tahu bahwa dibalik cerita photo-photo itulah kita akan tahu isi ceritanya. Misalnya saja, Gusti Situ Nurul Kamari Nasarati Kusumawardhani, putri yang paling banyak megukir prestasi yang bukan hanya cantik, namun juga pandai bermain kuda, tenis, menari, bermain piano, dan fasih berbahasa Belanda. Ia memilki garis bangsawan yang sangat kuat.

Lanjut cerita salah seorang pemandu wisata di Museum Ulen Sentalu yang menerangkan, bahwa Gusti Nurul yang merupakan cucu dari Hamengkubuwono VII dan putri tungal Raja Mangkunegoro VII, mendapatkan ijin dan diberi dukungan dari ayahhandanya untuk berkuda. Dimana dalam tradisi Mataram, yang dapat menunggang kuda itu biasanya hanya selir dan prajurit (putri) keraton. Hal ini dilakukan karena ayahandanya sangat sayang kepada dirinya.

Tentunya hal ini merupakan pertanyaan tersendiri dari benak penulis kepada pemandu wisata yang memberi keterangan seperti tersebut. Namun, dalam keterangan lanjutnya beliau mengatakan bahwa  dari empat dinasti Mataram di Yogyakarta dan Solo, tidak dapat dipungkiri terjadinya pernikahan di luar masing-masing dinasti.

Seperti halnya yang terjadi pada putri Mangkunegaran (Solo) atau Kasunanan Hadiningrat (Solo) menikah dengan Raja Paku Alam (Yogya). Dalam hal berbusana, kelak anak-anak mereka yang tinggal di Keraton Paku Alaman berbusana gaya Solo karena ibu mereka (permaisuri) berasal dari Solo.

Lanjut........
Yang bisa penulis dapatkan di Museum Ulen Sentalu yang dibuka pada tangal 1 Maret 1997 dan dikelola oleh Yayasan Ulen Sentalu, dimana anggotanya merupakan pewaris dinasti Mataram. Sedangkan nama Ulen Sentalu itu akronim dari "ulateng blencong sejatine tataraning lumaku". Yang memiliki arti dan makna kurang lebihnya "nyala lampu blencong sebagai pelita kehidupan manusia". Dimana blencong sendiri merupakan pelita yang digunakan pada layar saat pertunjukan wayang kulit.

Itulah beberapa keterangan yang penulis dapatkan mengenai cerita dari keluarga kerajaan dari salah seorang pemandu wisata di Museum Ulen Sentalu. Sedangkan untuk konsep Museum Ulen Sentalu adalah  konsep in the field arcchitecture, desain dan bangunan digarap langsung di lapangan, tepatnya di lereng Gunung Merapi,  dan digarap oleh K.P. Dr. Samuel Wedyadiningrat, DSB. 

Terlihat dengan jelas harmonisasi alam dan ekologi dalam bangunan Museum Ulen Sentalu, dan nuansa Jawa-Belanda terwujud pada bangunan Guwo Selo Giri (lorong bawah tanah). Dimana banguan ini harus mengikuti struktur tanah alam di lingkungan sekitarnya.

Dari setiap keterang yang penulis dapatkan pada saat berkunjung di lokasi Museum Ulen Sentalu Yogyakarta, penulis berpendapat bahwa ada sebuah nilai pembelajaran yang dilakukan untuk diterapkan dalam kehidupan melalui masayarakt Jawa yang di contohkan melalui kehidupan di dalam keluarga kerajaan.

Dimana maksud dari tujuan Konco Wingking yang diterapkan dan menjadi suatu hukum pakem, merupakan suatu upaya pembelajaran budi pekerti dalam kehidupan berumah tangga, dimana hal ini sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita agar tidak mudah mendapatkan perilaku pelecehan dari orang lain.

Dan mengajarkan  kita  semua agar menyadari apa pun yang dilakukan oleh pihak istri merupakan yang terbaik dan untuk dipersembahkan kepada suami sebagai pemimpin di rumah tangga. Hal inilah yang menyadarkan  kita, bahwa diri kita memang tidak bisa lepas dalam kodrat ketentuan Tuhan.

Semoga pengalaman peerjalan wisata penulis di Museum Ulen Sentalu Yogyakarta, dapat memberikan informasi dalam berbagi pengetahuan. Terutama dalam melakukan aktifitas perjalanan wisata budaya, dimana di setiap lokasi atau pun objek yang kita kunjungi, kita akan selalu mendapatkan suatu pembelajaran bersama dalam uraian yang tersirat dalam isi sebuah cerita tentang budaya Indonesia.



Salam wisata,

Sumber : Museum Ulen Sentalu Yogyakarta.

KEUNIKAN MASJID BAWAH TANAH DI KOTA TUA YOGYAKARTA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/04/keunikan-masjid-bawah-tanah-di-kota-tua.html
Yogyakarta merupakan salah kota yang memilki keindahan dalam sebuah tradisi dan budaya, hingga saat ini masih terjaga dengan baik dan dapat dilestarikan oleh pemerintahan daerah dan masyarakatnya.

Namun, bila kita berkunjung ke daerah Yogyakarta, kita akan menemukan sebuah bangunan unik dan bernilai sejarah yang hingga saat ini tetap dilestarikan. Di mana kita akan menemukan bangunan Masjid kuno yang merupakan warisan budaya pada masa Kesultanan Yogyakarta.


Masjid Bawah Tanah ini berlokasi di dalam area Taman Sari Yogyakarta.Memasuki dan menelusuri setiap anak tangga dengan melalui banyak lorong di dalam bangunan Masjid Bawah Tanah merupakan suatu pengalaman perjalanan wisata yang mengasyikan.

Kita dapat mersakan suatu aura fenomena klasik dan menarik di dalam area lingkungan Masjid Bawah Tanah. Ruang masuk Masjid yang diawalii dengan cahaya redup dan udara sejuk akan menyambut kehadiran kita dilokasi pintu Masjid Bawah Tanah.

Informasi yang penulis dapatkan d ilokasi Masjid Bawah Tanah melalui abdi dalem keraton, Masjid Bawah Tanah ini di bangun sekitar tahun 1750 -an. Dan dijadikan tempat ibadah para bangsawan Keraton Yogyakata pada masanya.Tentunya hal ini membuat penulis bertambah penasaran untuk melihat dari sisi keunikan bangun Masji Bawah Tanah ini secara lebih dekat.

Masjid Bawah Tanah yang memiliki 5 buah anak tangga yang menuju ke lantai masjid, dengan empat buah anak tangga membentuk panggung kecil yang di bawahnya terdapat sebuah sumur. Dan satu buah lagi anak tangga terhubung langsung ke lantai atas masjid. Dan kelima buah anak tangga ini merupakan pengejawantahan dari rukun Islam.

Sedangkan tangga tertinggi yang terdapat di dalam lokasi area Masjid Bawah Tanah tersebut menunjukkan arah kiblat (Makkah). Masjid Bawah Tanah yang berbentuk melingkar memilki dua lantai ini, memilki tempat tersendiri bagi jamaahnya. Untuk lantai dasar selalu dipergunakan untuk jamaah kaum laki-laki, dan untuk lantai atas dipergunakan untuk jamaah lantai wanitia.

Di setiap lantai Masjid Bawah Tanah ini kita dapat temui ruangan tersendiri yang berfungsi sebagai tempat berdirinya Imam dalam memimpin sholat. Dan bentuk bangunan melingkar pada Masjid Bawah Tanah ini dapat membuat suara terdengar menggema di dalam ruangan Masjid tersebut.

Dan bagi sahabat semua yang berkunjung ke daerah Yogyakarta, jangan lupa mampir di kawasan Masjid Bawah Tanah ini. Dapatkan informasi menarik dari keunikan sejarah yang menjadi bagian tradisi peninggalan para bansawan Keraton Yogyakarta di area Masjid Bawah Tanah Taman Sari.


Salam Wisata,


PESAN SILUET SENJA DI PANTAI GELAGAH KULON PROGRO YOGYAKARTA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/01/pesan-siluet-senja-di-pantai-gelagah.html
Pantai Gelagah merupakan salah satu objek wisata pantai yang terdapat di daerah Yogyakarta. Pantai Gelagah yang berlokasi di daerah Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Pantai Gelagah terkenal dikalangan masyarakat sebagai tempat wisata pantai yang sangat digemari. Dari perjalanan penulis menuju ke Pantai Gelagah Kulon Progo Yogyakarta penulis mendapatkan dua alternatif jalan untuk menuju Pantai Gelagah.


Jalan pertama bila kita dari arah Yogyakarta atau pun arah timur, berjalanlan menju ke selatan melewati jalan Bantul dan berbelok ke kanan menuju jalur Bantul-Purworejo. setelah sampai di daerah Palbapang ambillah arah barat, maka kita akan mendapatkan petunjuk menuju arah Pantai Gelagah ini.

Jalan yang ke dua, bila kita dari arah Yogyakarta berjalan ke barat melewati jalan Yogyakarta-Wates-Purworejo dan beloklah ke arah kiri setelah menemui arah penunjuk Pantai Gelagah. Arah jalan ini sangat mudah dilalui bagi kendaraan pribadi atau pun bus pariwisata.

Sepanjang jalan  menuju Pantai Gelagah, kita akan disuguhkan pemandangan hijau dengan hamparan sawah yang luas. Segala pernak-pernik kehidupan pertanian masyarakat desa tersebut dapat kita lihat sepanjang jalan menuju Pantai Gelagah. Pemandangan ini seakan bercerita tentang kehidupan keadaan mereka dalam kesehariannya kepada kita.

Suara gemuruh ombak yang memecah saling bersahutan memanggil setiap jiwa yang hadir di lokasi Pantai Gelagah. Kesan pasir  putih pantai yang landai, seakan mengajak kita untuk menikmati bersama dalam alunan suara alam yang dapat meresap seluruh jiwa yang hadir di lokasi ini.

Dari setiap destinasi pariwisata mengenai Pantai Gelagah yang penulis ketahui, hampir semua menceritakan hal yang sama. Tentang keadaan pantai dan fasilitasnya pantai ini. Hal ini yang membuat penulis merasa terpanggil untuk menggali sebuah potensi Pantai Gelagah ini yang masih tersembunyi.

Walau perjalanan menuju Pantai Gelagah penulis bersama rombongan sampai menjelang sore hari. Hal ini tidak membuat rasa putus asa untuk dapat menemukan yang unik di Pantai ini. Informasi yang penulis dapatkan, ternyata di daerah Pantai Gelagah kita akan menemukan laguna dan tempat agrowisata buah naga. Dan ternyata fasilitas di Pantai Gelagah sangat terbilang lengkap.

Sebelum sampai diujung bibir pantai, kita akan mendapatkan sebuah objek wisata laguna yang akan membawa kita unuk berkeliling danau sepanjang 3 kilometer dengan kedalaman kurang lebih hanya 3 meter. Terdapat barisan perahu yang terparkir di pigir laguna yang dapat kita sewa untuk berkeliling hingga batas area pemecah ombak di pinggir Pantai Gelagah.

Informasi yang penulis dapatkan dari salah seorang pengemudi perahu yang tidak mau disebutkan namanya di tempat ini, sewa perahu pada hari biasa dikenakan biaya sebesar Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah). Sedangkan untuk akhir pekan dan hari libur sebuah perahu dikenakan biaya sewa seharga Rp. 50.000,- (lima puluh ribu)

Menelusuri daerah Pantai........
Kelapangan dataran Pantai Gelagah sungguh memberi kesempatan bagi siapa saja yang hadir di lokasi ini untuk merentangkan pandangan ke seluruh penjuru. Pandangan dalam arah sejauh mata memandang, terlihat sebuah garis horizonal yang mempertemukan langit dan lautan dengan awan putih yang menggantung, terasa hempasan angin yang membelai jiwa, dengan menatap dua warna biru berpadu dalam sebuah cerita misteri yang menjadi sebuah legenda hingga kini.

Dalam penelusuran penulis di Pantai Gelagah, penulis menemukan berbagai penginapan yang siap menampung pengunjungnya yang berniat untuk menghabiskan malam panjang di  Pantai Gelagah ini. Namun, maaf dikarenakan terbatasnya waktu hingga membuat penulis lupa menanyakan harga untuk penginapan didaerah ini. Pantai Gelagah kita juga dapat menemui tempat wisata agrowisata yang dapat kita kunjungi berupa perkebunan buah naga yang sangat memiliki banyak khasiat untuk kesehatan.

Agrowisata Kusumo Wanadri salah satu yang penulis temui dilokasi ini. Kita dapat melihat jenis tanaman buah naga merah, dari yang baru mulai berbunga hingga buahnya yang siap dipetik. Sayangnya pada saat penulis sampai di lokasi tempat agrowisata ini sudah tutup.

Menjelang Senja.........
Tanpa terasa perjalanan penulis untuk mendampingi peserta rombongan wisata ke lokasi ini pun tidak bisa terlalu lama. Dengan hadirnya waktu senja yang akan meninggalkan wajahnya, para peserta pun mempersiapkan diri untuk menaiki bus pariwisata yang kami pergunakan dalam perjalanan kali ini.

Dalam perasaan berat hati melalui detik-detik terakhir ditepi Pantai Gelagah, ternyata suatu pemandangan eksotis indah tersenyum dengan terhembusnya angin dalam pesan yang membuat setiap mata yang tertuju kearahnya dibuat terperangah. Tersentak kaki penulis pun menjadi kaku seketika. Dengan segala upaya penulis mengabadikan fenomena alam ini dalam sebuah kamera photo yang memberikan keindahan tersendiri di Pantai Gelagah.

Ternyata Pantai Gelagah menyimpan pemandangan eksotis yang tidak kalah menarik pada saat senja akan meninggalkan kehidupan ini. Pengalaman yang mengasyikan disertai jawaban keindahan eksotisme alam yang indah.

Walau kegiatan wisata di Pantai Gelagah ini akan mulai sepi menjelang sore hari. Namun, keindahan yang ditampakkan oleh Pantai Gelagah ini, akan terlihat pada saat sore hari. Apalagi bagi para pecinta dunia photography.

Bagi para sahabat yang menginginkan perjalanan wisata ke Pantai Gelagah, penulis menyarankan agar memilih penginapan di daerah Yogyakarta. Dan bagi sahabat yang akan melakukan perjalanan wisata dengan konsep Backpaker, kita akan menemukan penginapan murah di daerah tepi pantai ini.

Semoga perjalanan wisata penulis ke Pantai Gelagah Yogyakarta dapat menjadi sebuah refrensi objek wisata Pantai daerah Yogyakarta yang dapat para sahabat kunjungi pada saat melakukan perjalanan menuju ke tempat wisata Yogyakarta.



Salam Wisata,

KERATON YOGYAKARTA CERITA BUDAYA DALAM PERJALANAN BABAD TANAH JAWI

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/12/keraton-yogyakarta-cerita-budaya-dalam.htmlMenelusuri kota Yogyakarta dengan ciri khas budaya Jawa yang begitu indah merupakan perjalanan wisata yang sangat mengasyikan. Dalam diam ku melihat dan merasakan serta meperhatikan sekeliling bangunan yang terdapat di Kota Yogyakarta merupakan suatu perpaduan multikultural budaya yang terdapat dalam sebuah gaya arsitektur yang terdapat di setiap bangunan rumah masyarakatnya.

Pemandangan serupa namun tidak sama, penulis temukan pada saat memperhatikan bentuk bangunan arsitektur yang terdapat di Keraton Yogyakarta, menurut informasi penulis dapatkan dari berbagai sumber dilokasi Keraton Yogyakarta, bangunan Keraton Yogyakarta ini memiliki salah satu arsitektur terbaik. Tentunya hal ini bukanlah suatu informasi yang penting dan diperhatikan oleh banyak para wisatawan pada saat berkunjung di kawasan Keraton Yogyakarta.

Fenomena relegius atupun spiritual Jawa akan menyambut kehadiran setiap pengunjung Keraton Yogyakarta mulai dari halaman alun-alun Keraton Yogyakarta, hingga ke lokasi pintu gerbang masuk menuju Keraton Yogyakarta yang disediakan untuk para pengunjung. Seakan kita dapat merasakan suatu aura spiritual untuk menyambut kehadiran kita di lokasi Keraton Yogyakarta.

Kraton Yogyakarta merupakan sebuah bangunan istana Kerajaan yang menjadi sebuah tempat tinggal para raja-raja Yogayakarta. Keraton Yogyakarta merupakan salah satu objek wisata budaya dalam sejarah yang tidak pernah terlewatkan oleh para wisatawan dalam negeri maupun internasional. Tercatat dalam sejarah dunia internasional bahwa Keraton Yogyakarta didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, tepatnya setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

Menelusuri wilayah Keraton Yogyakarta bersama rombongan yang selalu penulis bawa pada saat melakukan wisata budaya di Kota DI Yogyakarta merupakan perjalanan wisata yang memiliki fungsi untuk dapat mengenalkan sebuah budaya dengan segala bentuk latar belakang sejarah yang harus mereka peroleh sebagai bahan destinasi yang menunjang dunia pendidikan formal di sekolah maupun mata kuliah yang disajikan secara formal.

Hal ini sangat membutuhkan suatu peran penting kecerdasan para pemandu wisata dalam memberikan suatu pelayanan wisata yang dapat membangun suasana kedekatan dalam menyelami jiwa para tamu atau pun wisatawan yang dibawanya dalam hal memberikan edukasi budaya dan sejarah. Seperti penguasaan materi edukasi yang akan disampaikan oleh para pemandu wisata dalam hal ikut menggali sebuah pertanyaan untuk membantu para wisatawan yang ditujukan kepada pemandu wisata atau pun abdi dalam Keraton Yogyakarta.

Informasi yang penulis dapatkan...........
Keraton Yogyakarta berdiri pada saat awal cerita Pangeran Mangkubumi di beri sepetak tanah di kawasan Mataram, dan harus menyingkir dari lingkaran kekuasaan Kasunanan Surakarta setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Dan pada saat waktu itu Pangeran Mangkubumi mulai membangun sebuah dinastinya sendiri, berawal di Ambar Ketawang, Gamping, lalu berpindah kesuatu desa kecil yang diapit dua sungai besar, yaitu Sungai Winongo dan Sungai Code.

Informasi yang menarik..........
Keraton Yogyakarta juga menjadi sebuah sumbu kosmos Gunung Merapi dan Laut Selatan. Dimana, pada saat waktu itu Pangeran Mangkubumi mendapat sebuah wangsit atau pesan dalam mimpinya dia mengejar seekor kijang emas di belantara hutan beringin.

Letak sumbu kosmos tersebut..............
Dimana terdapat sumbu yang memanjang kurang lebih 5 km ke arah Selatan, berakhir di Panggung Kapryak, sedangkandari arah Keraton Yogyakarta, ke arah utara 2 km berakhir di Tugu. Inilah yang disebut dengan sumbu imajiner, semacam garis maya yang menghubungkan antara Keraton Yogyakarta dengan Gunung Merapi dan Laut Selatan. Dan ternyata posisi Malioboro termasuk pada jalur sumbu ke arah Utara.

Jika pagi hari dan suasana cuaca cerah, jika kita berada di Malioboro selain kita berbelanja kuliner tradisional, sempatkanlah sejenak untuk memandang dan berdiri menghadap arah Utara, maka kita akan melihat sebuah puncak gunung berwarna putih dari kejauhan. Dan jika kita beruntung, kita akan melihat Gunung Merapi yang berwarna kelabu di puncaknya.

Kembali dalam suasana Keraton Yogyakarta.......
Dengan adanya balairung yang terbilang mewah serta paviliun luas dan masih menyisakan lapangan yang luas di kawasan Keraton Yogyakarta. Walaupun pada tahun 1950 kesultanan telah bergabung dengan Republik Indonesia, dan kompleks bangunan kerajaan masih berfungsi sebagai tempat tinggal para sultan dan rumah tangga istana yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat sekarang ini.

Keraton Yogyakarta walaupun terbuka secara umum dan dapat dinikmati oleh para pengunjung wisatawan dalam maupun luar negeri, tidak seluruh bagian Keraton Yogyakarta dapat dilihat dan dikunjungi secara umum. Misalnya pada bangunan pokok tempat tinggal keluarga sultan menjalani kehidupan sehari-harinya.

Bangunan Keraton Yogyakarta terpusat pada Bangsal Kencana dan ini merupakan tempat memerintah. Sedangkan bangsal berikutnya adalah Bangsal Prabayeksa, yaitu sebuah bangsal yang dijadikan tempat untuk penyimpanan pusaka-pusaka Keraton Yogyakarta

Dalam Bangsal Prabayeksa tersebut terdapat sebuah lampu yang bernama Kyai Wijil. Informasi yang penulis dapatkan dari seorang abdi dalam Keraton Yogyakarta yang tidak mau disebutkan namanya, kondisi lampu Kyai Wijil yang terdapat di Bangsal Prabayeksa yang merupakan tempat penyimpanan pusaka Keraton Yogyakarta harus dalam keadaan selalu menyala terus menerus dan tidak boleh mati sekalipun.

Sekeliling Bangsal dibatasi dengan pelataran Kedhaton. Bangunan tersebut dijaga oleh para petugas yang diberi mandat oleh raja untuk menjaganya. Dari dalam bangunan para penjaga bangsal akan selalu melihat siapa saja yang melintas di pelataran, namun dari pelataran tidak bisa melihat ke dalam bangsal

Secara umum pemandangan dan situasi dalam kawasan Keraton Yogyakarta setiap kompleks utama terdiri atas halaman yang ditutupi dengan pasir laut dari Pantai Selatan. Terkadang di beberapa area terlihat jenis tanaman pohon tertentu yang sengaja di tanam di kawasan halaman Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan penyekat atau yang disebut dengan "regol" yang bergaya Semar Tinandu. Setiap daun pintu yang terdapat didalam kawasan Keraton Yogyakarta terbuat dari bahan kayu jati yang tebal, dimana disetiap belakang daun pintu tersebut terdapat dinding penyekat yang disebut renteng atau baturono yaitu sebutan untuk penyekat bagian pintu gerbang.


Melihat dan meperhatikan lebih detil secara langsung di lokasi Keraton Yogyakarta, terbesit dalam pikiran penulis bahwa bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa Tradisional yang merupakan suatu perpaduan budaya dari beberapa daerah atau pun negara. Karena di beberapa bagian bangunan tertentu terlihat sentuhan budaya asing, seperti Portugis, Balanda, dan Cina.

Bangunan di setiap kompleks yang berkonstruksi Joglo atau turunan kontruksinya. Dimana dalam beberapa daftar pustaka yang penulis dapatkan, bahwa Joglo yang tanpa dinding dan terbuka disebut bangsal, sedangkan Joglo yang tertutup dinding dinamakan gedhong (gedung).

Tidak jauh dari posisi penulis berdiri, terdapat sebuah bangunan berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut tratag. Pada perkembangannya informasi yang penulis dapatkan dari seorang abdi dalam keraton Yogyakarta yang tidak mau diebutkan namanya, bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.

Penulispun membayangkan bila melihat Keraton Yogkarta dari sebuah ketinggian udara, maka bangunan Keraton Yogyakarta sangat mirip dengan sebuah kotak raksasa yang berpusat pada bangsal. Di sebelah Utara bangsal masih terdapat sebuah bangunan yang bernama Siti Hinggil Utara, dimana di tempat Siti Hinggil Utara ini sering dijadikan sebuah tempat pertunjukan senacam tarian tradisional klasik dan pelantikan Sultan atau Putra Mahkota dilakukan. Dan di sebelah utaranya lagi terdapat Alun-alun Utara, sebuah lapangan yang sring dijadikan suatu arena kegiatan masyarakat Yogyakarta. Biasanya ini dijadikan pusat berkumpulnya masyarakat Yogyakarta dalam melakukan acara tradisi "Grebek" dan "Sekaten".

Sebaliknya, di sisi sebelah Selatan masih terdapat bangunan Siti Hinggil Selatan dan Alun-alun Selatan.  Dimana lokasi ini menjadi ujung poros utama Keraton Yogyakarta. yang secara tradisi, lokasi ini sering digunakan sebagai rute keluar untuk prosesi panjang pemakaman sultan ke Imogiri. Dan tempatt kandang gajah Keraton Yogyakarta informasi yang penulis dapatkan berada di Alun-alun Selatan. Dimana bila sore hari banyak anak-anak masyarakat setempat pada berebut naik gajah ini.

Arsitek pembangunan Keraton Yogyakarta adalah Sultan Hamengkubuwono I. Keahlian beliau sangat dihargai oleh seorang ilmuan berkebangsaan Belanda Dr. Pigeund dan Dr. Adam yang menganggapnya bahwa beliau sebagai arsitek saudara Pakubuwono II, Surakarta. Dan dari informasi yang penulis dapatkan dari bagian informasi Keraton Yogyakarta, bahwa keraton Yogyakarta telah dipimpin oleh  sembilan Raja. Dan inilah nama-nama raja Keraton Yogyakarta.

NAMA-NAMA SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO KERATON YOGYAKARTA :
  1. Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) memerintah tahun 1755-1792.
  2. Sri Sultan Haemngku Buwono II (GRM Sundoro) memerintah tahun 1792-1812.
  3. Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memerintah tahun 1812-1814.
  4. Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memerintah 1814-1823.
  5. Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah 1823-1855.
  6. Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah tahun 1855-1877.
  7. Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM Murtedjo) memerintah tahun 1877-1921.
  8. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM Sudjadi) memerintah tahun 1921-1939.
  9. Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM Dorojatun) memerintah tahun 1940-1988.
  10. Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno Darpito) memerintah tahun 1989-sekarang.
Bangunan pokok dan desain tata ruang Keraton Yogyakarta diselesaikan pada tahun 1755-1756. Bangunan lainnya ditambah oleh para Sultan Yogyakarta berikutnya. Dan bentuk Keraton Yogyakarta yang tampak sekarang, sebagian besar hasil dari pemugaran dan restorasi Sultan Hamengkubuwono VIII, yang bertakhta pada tahun 1921-1939. Dari informasi yang penulis dapatkan di lokasi Keraton Yogyakarta Sultan Hamengjubuwono VIII merupakan Sultan yang banyak menghabiskan dana untuk pembangunan Keraton, berikut dengan daerah Yogyakarta sekitarnya, yaitu berupa pembangunan sekolah dan mercusuar.

Adapun tiap-tiap benteng di kawsan Keraton Yogyakarta dilengkapi dengan bastion, yaitu sebuah tempat untuk mengintai musuh, yang lebih dikenal dengan nama "jokteng" atau pojok benteng. Dan dulu penjagaan benteng dilakukan oleh pasukan pemberani dan tangguh. Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijeron, dan Prajurit Bugis. Dan sekarang nama-nama Prajurit tersebut dijadikan sebuah nama perkampungan yang berada di wilayah sekitar benteng.


Di dalam wilayah benteng pun terdapat banyak perkampungan. Misalnya Kampung Patehan, yang merupakan kawasan pemukiman pembuatan teh. Ada lagi Kampung Nagan yang menjadi pemukiman penabuh gemelan Jawa. Penamaan kampung di seputaran Keraton Yogyakarta memang sangat unik. Ada kampung berdasarkan pada profesi yang ditekuni oleh warganya, golongan kerabat dan pejabat, keahlian abdi dalem, hingga pasukan prajurit.

Dan dari hasil penelusuran penulis di lokasi perkampungan tersebut, ternyata kampung ini berdasarkan dari letaknya bisa dibagi menjadi dua, yaitu Jeron Benteng (kawasan dalam kompleks Keraton Yogyakarta) dan Jaba Beteng (kawasan yang berada di luar Keraton Yogyakarta).

Dalam era modern dan globalisasi sekarang ini sangat sulit untuk menemukan sebuah daerah kerajaan yang masih menyimpan suatu nilai tradisi budaya yang masih dilestarikan dan dipertahankan oleh pihak keluarga raja. Dimana terdapat acara tradisi budaya yang selalu menjadi pegelaran yang melibatkan masyarakatnya untuk bersama-sama dalam menjaga dan melesatarikan nilai suatu tradisi budaya. Dimana dalam sebuah tradisi budaya terdapat suatu nilai pembelajaran yang baik sebagai penyeimbangan kehidupan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Yogyakarta memang merupakan suatu kota budaya yang memiliki budaya tradisi yang kental dibalik cerita tradisi budaya dengan nilai sejarah yang tinggi. Banyak kesan dan cerita yang dapat kita temukan dan rasakan bila kita melewati wisata budaya dan sejarah di Kota Yogyakarta.

Setelah menelusuri Keraton Yogyakarta, sebaiknya kita mengunjungi Taman Sari Yogyakarta dan Masjid Bawah Tanah.



Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus