SEJARAH SENDANG ONTROWULAN GUNUNG KEMUKUS

http://www.ejawantahtour.com/2013/11/sejarah-sendang-ontrowulan-gunung.html
Sejarah Sendang Ontrowulan Gunung Kemukus merupakan sebuah "sendang" atau sumur tempat pemandian di mana cerita seorang ibu yang akan berjumpa dengan anak kandungnya yang telah meninggal, dengan mata airnya yang tidak pernah kering. Sendang Ontrowulan ini berada di lokasi Gunung Kemukus daerah Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Alikisah cerita sejarah Sendang Ontrowulan yang saya dapatkan dari cerita beberapa tokoh masyarakat yang terdapat di lokasi Gunung Kemukus. Konon pada masa lalu setelah menerima kabar dari abdi dalem Pangeran Samudro tentang wafatnya pangeran dalam perjalanan menuju Demak dari hasil perantauannya untuk belajar dan mengkaji Ilmu agama Islam. Namun, dalam perjalanan kembali ke Demak Sang Pangeran terserang penyakit panas yang menyebabkan dirinya meninggal dunia dan pada akhirnya di makamkan di sekitar kampung tempat beliau mengabdikan dirinya. (baca : Sejarah Pangeran Samudro),

Lanjut cerita..........
Sultan Demak yang melanjutkan berita ini kepada R. Ay Ontrowulan (Ibu kandung dari Pangeran Samudro) Mendengar berita meninggalkan sang Pangeran tersebut, maka sang bunda pun memutuskan untuk menyusul menuju tempat Pangeran Samudro dimakamkan. Kepergian Ibu pangeran Samudro pun di hantar serta di dampingi oleh seorang abdi dalem setia sang Pangeran.

Perjalanan Ibunda Pangeran Samudro menuju pusaran (makam) anaknya, sang ibunda pun berniat untuk bermukim di daerah dekat makam anaknya sambil merawat makam anaknya. Sesampainya di pusaran (makam) Pangeran Samudro, sang ibu pun memeluk pusaran anak kandungnya yang merupakan anak satu-satunya yang sangat dia cintai. Sampai pada suatu ketika ia merasa bertemu kembali dengan putranya dalam pertemuan gaibnya. Dia bisa merasakan kehadiran sang Pangeran dengan menatap mukanya yang jelas sambil berbincang-bincang.

Dalam pertemuan dengan anaknya sang Ibu Pangeran Samudro pun berkata, "Oh..... Ananda begitu sampai hati engkau meninggalkan aku, siapa lagi yang akan kujuntuk sebagai gantimu, hanya engkau satu-satunya putraku dan aku tidak dapat berpisah denganmu".

Jawab Pangeran kepada Ibunya, " Oh, ibunda, Bunda tentu tidak dapat berkumpul dengan Ananda. Sebab ibunda masih berbadan jasmani, dan selama belum melepas raga bunda tidak dapat bersamaku. Untuk itu bunda harus bersuci dahulu di sebuah "sendang" yang letaknya tidak jauh dari tempat ini".

Setelah terbangun dan tersadar dari pertemuan dengan putranya, sang ibu pun bangkit dan pergi ke sebuah sendang yang dikatakan putranya untuk melakukan bersuci diri. Setelah itu, rambutnya yang sudah terurai dikibas dan dijatuhkanlah bunga-bunga penghias rambutnya. Dimana menurut cerita yang saya dapatkan, konon bunga-bunga tersebut tumbuh mekar menjadi pepohonan "Nagasari" yang dapat dijumpai di sekitar lokasi Sendang Ontrowulan di kawasan Gunung Kemukus hingga sekarang.

Lanjut cerita.....
Karena keyakinan dan tekadnya sang Ibu dari Pangeran Samudro dalam melakukan lakon prihatin di kawasan sendang tersebut, maka beliau akhirnya dapat mencapai tingkatan "muksa" secara gaib, dan sampai hari ini badan jasmaninya tidak dapat ditemukan. Hal ini dikarenakan tidak seorang pun yang tahu kemana perginya R. Ay. Ontrowulan (Ibunda Pangeran Samudro) yang hilang tidak tahu rimbanya. Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka tempat ini di berinama "Sendang Ontrowulam"

Mendengar kisah sejarah Sendang Ontrowulan Gunung Kemukus di daerah Sragen ini dari beberapa tokoh masyarkat setempat dan dilengkapi dari berbagai sumber cerita dari beberapa literatur sejarah, maka kita lebih mengetahui tempat sejarah yang menjadi salah satu icon obyek wisata di daerah kawasan Gunung Kemukus ini. Tentunya hal ini agar icon yang berkembang di tengah masyarakat tentang obyek wisata di kawasan daerah ini tidak identik dengan kawasan obyek wisata Gunung Kemukus untuk ritual kekayaan. Ini merupakan hal pelencengan sejarah yang di lakukan oleh beberapa oknum dengan mensalah artikan cerita legenda sejarah tokoh besar  yang terdapat di kawasan Gunung Kemukus, Sragen Jawa Tengah.

Bila kita akan mengunjungi daerah kawasan obyek Gunung Kemukus ini, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu cerita dari Sejarah Pangeran Samudro, Asal Usul Nama Daerah Gunung Kemukus,

Semoga cerita sejarah tentang Sendang Ontrowulan di kawasan Gunung Kemukus ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang kawasan obyek tersebut.



Salam Wisata,

SEJARAH ASAL USUL NAMA GUNUNG KEMUKUS

http://www.ejawantahtour.com/2013/11/sejarah-asal-usul-nama-gunung-kemukus.htmlSejarah asal-usul nama Gunung Kemukus ini berasal dari cerita sejarah Pangeran Samudro putra dari salah seorang raja dari Kerajaan Majapahit dari ibu selir yang bernama R. Ay. Ontrowulan. Dimana pada saat perjalanan kembalinya Sang Pangeran dari berguru untuk mendalami ajaran agama Islam dari Kyai Ageng Gugur yang berasal dari Desa pandan Gugur yang merupakan kakanya sendiri ( baca : Cerita Sejarah Pangeran Samudro)

Singkat cerita pada perjalanan kembali pulang menuju Demak bersama kedua abdinya Pangeran Samudro jatuh sakit panas dan meninggal dunia, lalu di kebumikan di daerah "Dukuh Samudro" atau sekarang dikenal dengan nama "Dukuh Mudro".

Pada awalnya keadaan di lokasi Makam pangeran Samudro terlihat sepi dan jarang dijamah orang taua pun dikunjungi orang. karena lokasi terletak di tangah hutan belantara yang lebat, serta banyak di huni oleh binatang buas. Namun, sedikit-demi sedikit keadaan berubah setelah daerah tersebut dihuni oleh para penduduk.

Dari keterangan beberapa penduduk dan tokoh masyarakat setempat yang sempat berbincang-bincang dengan saya dilokasi, konon dulu di atas bukit tempat Pangeran Samudro dimakamkan, apabila menjelang musim hujan atau pun kemarau tampak kabut-kabut hitam seperti asap ( bahasa jawa : kukus). Karena hal itulah penduduk setempat menyebut bukit tersebut dengan sebuatan "Gunung Kemukus".

Namun, obyek wisata ini juga terkenal menjadi obyek wisata sex, namun hal ini menjadi keliru dari para ulah oknum yang menyalah artikan sebuah pesan amanat dan menjadi kesalahan yang diperbuat selama turun temurun hingga sekarang. Ada baiknya anda mencari kebenaran dari cerita tersebut dengan membaca tulisan artikel saya tentang obyek wisata Gunung Kemukus untuk ritual kekayaan. Hal tersebut merupakan tindakan yang tidak benar dan terlalu meleceng dari kisah sebenarnya tentang Sejarah Pangeran Samudro dan cerita sejarah dari Sendang Ontrowulan yang terdapat di lokasi Gunung Kemukus.

Semoga informasi yang saya dapatkan di lokasi daerah Gunung Kemukus ini, dapat membantu atau pun memberikan informasi tentang cerita asal usul nama Gunung Kemukus di daerah Desa Pendem, kecamatan Sumber Lawan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.



Salam Wisata,

CERITA SEJARAH PANGERAN SAMUDRO GUNUNG KEMUKUS

http://www.ejawantahtour.com/2013/11/cerita-sejarah-pangeran-samudro-gunung.html
Cerita sejarah Pangeran Samudro yang berkembang di kawasan Gunung Kemukus Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah memiliki beberapa versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat. Seperti halya kisah cerita ini saya dapatkan di lokasi dengan berbagai sumber literatur catatan sejarah tentang cerita tokoh yang satu ini.

Dari beberapa sumber cerita yang saya dapatkan di lokasi dan saya lengkapi dengan beberapa catatan literatur sejarah, Pangeran Samudro yang merupakan putra dari seorang Raja Majapahit terakhir dan lahir dari ibu selir yang bernama R. Ay. Ontrowulan.

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh. Pangeran Samudro yang telah berusia 18 tahun tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain. Bahkan beliau bersma ibunya ikut diboyong ke daerah Demak Bintoro oleh Sultan Demak.

Selama berada di Demak, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Ketika dirasa cukup dan usianya beranjak dewasa, maka atas petunjuk perintah dari Sultan Demak melalui kanjeng Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro diperintahkan untuk berguru tentang agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur, yang letaknya di daerah lereng Gunung Lawu. Perintah yang di tugaskan kepada Pangeran Samudro ini sekaligus mengemban misi suci untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah terpisah lama.

Setelah mendapatkan petunjuk perintah dan nasehat dari Sultan Demak, maka pangeran Samudro pun mentaati nasehat tersebut dan pergi berguru kepada Kyai Ageng Gugur dengan didampingi dua orang abdinya yang setia.

Hari demi hari Pangeran Samudro melalui proses belajar dengan gurunya yang bernama Kyai Ageng Gugur, dan Sang Pengeran pun diberi ilmu tentang intisari ajaran Islam secara mendalam. Selama itulah Pangeran tidak mengetahui bahwa yang Kyai Ageng Gugur sebenarnya adalah kakak kandungnya sendiri. Setelah Pangeran Samudro mengusai ilmu yang dijarkan oleh Kyai Ageng Gugur, barulah sang guru menceritakan siapa sebenarnya dirinya.

Mendengar keterangan dari gurunya Sang Pangeran terlihat terkujut dan bahagia. Beliau teringat akan amanat Sultan Demak untuk menyatukan saudaranya. Dan pada akhirnya setelah amanat dari Sultan di bicarakan kepada kakanya, maka Kyai Ageng Gugur bisa menerima dan bersedia dipersatukan kembali dan ikut membangun bersama Kerajaan Demak.

Setelah selesai berguru dan tercapai maksud tujuannya, pangeran Samudro bersama abdinya kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan sampailah di Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong), kemudian mereka beristirahat untuk melepaskan lelah.

Di dukuh tersebut mereka bertemu dengan orang yang berasal dari Demak (Wulucumbu Demak) yang bernama Kyai Kmaliman. Di dukuh ini Pangeran Samudro berniat bermukim sementara untuk menyebarkan agama Islam.

Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampai di suatu tempat di padang "oro-oro" Kabar. Sampai sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong). Di tempat inilah pangeran Samudro terserang penyakit panas. Walaupun demikian, perjalanan tetap dilanjtkan sampai ke Dukuh Doyong (wilayah Kecamatan Miri). karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut.

Ketika sakitnya semakin parah dan dirasa tidak sanggup melanjutkan perjalanannya. pangeran Samudro memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Singkat cerita pada saat abdi Pangeran Samudro menghadap Sultan Demak, maka Sultan pun mangataka, "Menurut hematku bahwa skitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik dan jauh dari kemungkinan untuk sampai ke Demak. Jika memang sudah menjadi surata Yang Maha Kuasa bahwasanya sampai di situ saja riwayatnya atau menemui ajalnya, maka kebumikanlah jasadnya pada suatu tempat di bukit arah barat laut dari tempat Pangeran Samudro meninggal. Boleh jadi kelak di ekitar tempat itu akan menjadi ramai sehingga dijadikan tauladan orang-orang yang berada diekitar sana.

Seusai mendengarkan amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Ketika Abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat. Pangeran Samudro telah meninggal. Namun sebelum Pangeran Samudro meninggal beliau sempat memberikan sebuah wejangan, "Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang-sieweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakno dhemene kaya dene yen arep nekani marang penggonane dhemenane". (Sumber : Kadjawen, Yogyakarta : Oktober 1934).

Dari keterangan beberapa sumber wejangan terakhir dari Pangeran Samudra sebelum beliau meninggal dan dialihkan menjadi bahasa Indonesia dengan para akhli bahasa [esan nasehat tersebut berbunyi, "Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikendaki maka untuk mencapai tujuan harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan / kiri harus konsentrasi pada yang dikehendaki atau yang diinginkan, dekatkankeinginan, seakan-akan seperti muju ke tempat kesayangannya atau kesenangnannya".

Lanjut cerita sejarah Pangeran Samudro........
Dan selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut. Sebelum pemakaman, diadakan musyawarah di antara orang-orang yang meilki lahan di sekitar wilayah tersebut. mereka bersepakat bahwa lokasi bekas perawatan atau peristirahatan Pangeran Samudro akan didirikan desa baru, dan desa tersebut diberi nama desa "Dukuh Samudro" yang sampai saat ini dikenal dengan nama "Dukuh Mudro"

Itulah sekelumit cerita sejarah kehidupan Pangeran Samudro, namun bagaimana hubungannya dengan nama Gunung Kemukus ? sedangkan nama Desa tempat beliau di makamkan saja bernama "Dukuh Samudro" atau "Dukuh Mudro" ? Untuk menjawab pertanyaan ini adabaiknya anda membaca Sejarah Asal Usul Penamaan Gunung Kemukus,

Bila kita melihat ceita sejraha pesan terakhir yang di sampaikan Pangerah Samudro diatas yang saya dapatkan dari berbagai sumber literatur dan keterangan tokoh-tokoh masyarakat Gunung Kemukus yang terdapat di atas, wejangan ini disalah artikan oelh sebagain orang atau oknum yang berziarah atau berkunjung ke Makam Pangeran Samudro harus seperti berkunjung ke tempat kekasih ( bahasa jawa : dhemenan) dalam pengertian bahwa para perziarah yang datang ke tempat tersebut harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebonya, dan melakukan hubungan suami isteri dengan yang bukan isteri atau suaminya yang sah. yang menyebabkan kawasan ini dikenal orang sebagai obyek wisata Gunung Kemukus untuk ritual kekayaan.

Keterangan dari salah seorang tokoh masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya kepada saya, bahwa pandangan atau penilaian orang yang menjadikan tempat ini sebagai obyek wisata sex dalam melakoni ritual kekayaan adalah tidak benar. Dan muculnya pembenaran dari tindakan ini berawal dari penafsiran orang yang salah akan pengertian bahasa dalam kata "dhemenan" di mana dalam bahasa Jawa kata "dhemenan" diartikan kekasih lain yang bukan isteri atau suami yang sah (pasangan kumpul kebo), kekasih gelap, isteri atau simpanan. (Pria atau wanita Idaman lain).

Lanjut keterangan salah seorang tokoh masyarakat Gunung Kemukus.......
Arti sesungguhnya dari kata "dhemenan" dalam konteks naskah dalam bahasa Jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang akan segera terwujud atau tercapai seperti kita akan menumui kekasih pujaan hati.

Dapat disimpulkan bahwa inti dari ziarah ke Makam pangeran Samudro di gunung Kemukus adalah apabila kita memiliki kemauan, cita-cita yang akan dicapai, kita harus mampu menghadapi segala rintangan yang menghalangi untuk mencapai tujuan cita-cita kita yang diharapkan. Dan tujuan tersebut harus dlakukan dengan cara bersungguh-sungguh dengan hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian, terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut dengan mudah.

Itulah cerita dan kesimpulan yang saya dapatkan dari hasil pembicaraan dengan beberapa tokoh masyarakat di daerah Gunung Kemukus di daerah Sragen. memang tidak mudah kita untuk mengetahui dari setiap makna yang terssurat dari sebuah kisah cerita sejarah Pangeran Samudro ini yang sudah menjadi legenda masayrakat, kita pun harus mendapatkan informasi yang benar dari maksud tujuan sebenarnya dari cerita sejarah benar. Dan tetap menjadikan daerah Gunung Kemukus tetap menjadi destinasi tujuan wisata yang dapat dinikmati keindahan alamnya dengan mengenang sejarah perjuangan Pangeran Samudro yang menjadi tokoh penyebar agama Islam di daerah Gunung Kemukus.



Salam wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus