Mengenal Kisah Sejarah Raja Demak.- Kerajaan Demak merupakan keadipatin vazal dari Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Fatah pada tahun 1500-1550, yang merupakan keturunan dari bangsawan Kerajaan Majapahit yang mendapatkan pengukuhan dari Prabu Brawijaya secara resmi untuk menetap di Demak, dengan mengganji nama Demak menjadi Bintara.
Kisah sejarah Raja Demak ini merupakan hasil informasi yang saya dapatkan pada saat saya melakukan perjalanan wisata ziarah Masjid Agung Demak. Di mana di lokasi masjid Demak tersebut kita dapat menemukan makam-makam raja Demak. Dan hasil diskusi bersama para pengurus dan penjaga Masjid Agung Demak inilah kita bisa mengenal kisah sejarah Kerajaan Demak.
Lanjut.......
Konon, Kerajaan Demak dulunya pernah dipimpin oleh empat orang raja secara bergantian. Namun, hanya tiga Sultan Demak yang namanya cukup terkenal, yaitu Raden Fatah alias Jin Bun sebagai raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan Demak; Adipati Muhammad Yunus atau yang dikenal dengan nama Pati Unus sebagai mantu dari Raden Fatah dan pernah menjadi raja ke dua kerajaan Demak; dan Sultan Trenggana saudara dari Pati Unus sebagai raja ketiga (1524-1546).
Sekelumit informasi tentang sejarah asal mula pendiriaan Kerajaan Demak......
Bahwa Raden Fatah menolak menggantikan Arya Damar untuk menjadi Bupati Palembang, kemudian Raden Fatah merantau ke Pulau Jawa dengan ditemani oleh putra Arya Damar yang bernama Raden Kusen. Sesampainya di tanah Jawa keduanya kemudian berguru kepada Sunan Ampel di daerah Ngampel Denta yang sekarang di kenal dengan nama Surabaya.
Singkat cerita, Raden Kusen mengajak Raden Fatah untuk mengabdi kepada Kerajaan Majapahit sesuai dengan tujuan awal mengembara mereka berdua di tanah Jawa. Namun, Raden Fatah menolak ajakan Raden Kusen tersebut dan akhirnya Raden kusen pun berangkat mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Fatah pindah ke Jawa Tengah dengan membuka hutan Glagahwangi untuk dijadikan sebuah pesantren.
Seiring berjalanan waktu, Pesantren Glagahwangi yang didirikan oleh Raden Fatah semakin maju. Dan Raja Brawijaya alias Bhre Kertabumi di Majapahit khawatir jika Raden Fatah berniat memberontak. Maka, Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Fatah.
Setelah itu, Raden Fatah pun pergi ke Majapahit untuk menghadap Brawijaya. Sesampainya di Majapahit, Sang Prabu Brawijaya kemudian merasa terkesan melihat wajah Raden Fatah yang memiliki kemiripan dengan beliau. Dan akhirnya, Sang Prabu pun mengakui Raden Fatah sebagai putranya.
Cerita tersebut di atas mengingatkan para perjalanan wisata saya di tempat wisata semarang pada saat berkunjung di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang. ( Baca : Kelenteng Sam Poo Kong Jejak Kerajaan Demak Dan Majapahit ).
Lanjut.............
Dari pertemuan antara Sang Prabu Brawijaya dengan Raden Fatah tersebut, maka Raden Fatah pun di angkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara atau di baca "Bintoro".
Cerita tersebut diatas merupakan informasi asal mula pendirian kerajaan Demak dari salah seorang tokoh besar sekaligus pendiri Kerajaan Demak di Jawa Tengah dalam awal perjalanan sejarah Raja Demak di tanah Jawa.
Sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, Kerajaan Demak sangat memilki peranan besar dalam proses pengembangan dakwah agama Islam di tanah Jawa pada masa tersebut. Di mana keajaan ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan pusat peyebaran agama Islam. Konon wilayah kekuasaan Kerajaan Demak ini meliputi Jepara, Tuban, Sedayu Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan.
Letak geografis Kerajaan Demak yang sangat strategis sebagai jalur perdagangan nasional yang menghubungkan antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur, dan berkembang menjadi kerajaan besar di Pulau Jawa, dengan raja pertamanya yaitu Raden Fatah yang memiliki gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah.
Selain itu pula, Kerajaan Demak juga memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik yang berkembang menjadi sebuah pelabuhan-pelabuhan transit atau penghubung. Puncak kejayaan dan ke emasan kerajaan Demak yang pernah diraih pada masa kerajaan Pati Unus dan Sultan Trenggana.
Lanjut...........
Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546 maka puncuk pimpinan Kerajaan Demak beralih kepada putra pertamanya yang bernama Raden Mukmin yang dikenal dengan Sunan Prawata, dan beliaulah yang menjadi raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah hanya berjalan selama beberapa tahun saja yaitu dari 1546-1549.
Dalam kepemimpinannya Raden Mukmin pun memindahkan pusat pemerintahan Demak dari Kota Bantara menuju bukit Prawata, sekarang lokasinya berada di Desa Prawata, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Oleh sebab itulah beliau mendapat julukan sebagai Sunan Prawata.
Raden Mukmin yang berambisi melanjutkan cita-cita ayahandanya yaitu Sultan Trenggana untuk menaklukkan Pulau Jawa. Namun, ketrampilan berpolitiknya tidak begitu baik , dan beliau lebih suka hidup sebagai ulama daripada sebagai raja.
Satu persatu daerah Demak pun berkembang secara bebas, seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik. Karena Demak tidak mampu menghalanginya. Akhirnya kekuasaan Demak pun mengalami kemunduran yang cukup pesat di bawah kepemimpinan Raden Mukmin atau Sunan Prawata,
Seiring waktu berjalan kerajaan Demak pun tidak berumur panjang, dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasan di antara kerabat kerajaan. Dan pada tahun 1546, kerajaan Demak pun berakhir.
Itulah sekelumit informasi tentang catatan kisah perjalanan sejarah kerajaan Demak yang saya dapatka dari hasil perjalanan wisata sejarah di tempat wisata Demak yang berlokasi di Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. ( Baca : Wisata Ziarah Ke Masjid Agung Banten )
Mengenal Kisah Sejarah Kerajan Demak melalui perjalanan wisata sejarah di tempat wisata rohani Masjid Agung Demak akan membuat kita mengenal lebih dekat perjalanan singkat dari kisah catatan sejarah kerajaan Demak ini. Walau pun hingga kini belum di temukan situs bersejrah dalam bentuk bangunan kerajaan Demak ini di daerah sekitar kota Demak. Semoga suatu hari nanti bangsa Indonesia dapat melihat jelas bentuk fisik bekas bangunan kerajaan Demak dari kebesaran situs sejarah yang telah memiliki nama besar hingga di belahan dunia ini.[]
Salam wisata,
Kisah sejarah Raja Demak ini merupakan hasil informasi yang saya dapatkan pada saat saya melakukan perjalanan wisata ziarah Masjid Agung Demak. Di mana di lokasi masjid Demak tersebut kita dapat menemukan makam-makam raja Demak. Dan hasil diskusi bersama para pengurus dan penjaga Masjid Agung Demak inilah kita bisa mengenal kisah sejarah Kerajaan Demak.
Lanjut.......
Konon, Kerajaan Demak dulunya pernah dipimpin oleh empat orang raja secara bergantian. Namun, hanya tiga Sultan Demak yang namanya cukup terkenal, yaitu Raden Fatah alias Jin Bun sebagai raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan Demak; Adipati Muhammad Yunus atau yang dikenal dengan nama Pati Unus sebagai mantu dari Raden Fatah dan pernah menjadi raja ke dua kerajaan Demak; dan Sultan Trenggana saudara dari Pati Unus sebagai raja ketiga (1524-1546).
Sekelumit informasi tentang sejarah asal mula pendiriaan Kerajaan Demak......
Bahwa Raden Fatah menolak menggantikan Arya Damar untuk menjadi Bupati Palembang, kemudian Raden Fatah merantau ke Pulau Jawa dengan ditemani oleh putra Arya Damar yang bernama Raden Kusen. Sesampainya di tanah Jawa keduanya kemudian berguru kepada Sunan Ampel di daerah Ngampel Denta yang sekarang di kenal dengan nama Surabaya.
Singkat cerita, Raden Kusen mengajak Raden Fatah untuk mengabdi kepada Kerajaan Majapahit sesuai dengan tujuan awal mengembara mereka berdua di tanah Jawa. Namun, Raden Fatah menolak ajakan Raden Kusen tersebut dan akhirnya Raden kusen pun berangkat mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Fatah pindah ke Jawa Tengah dengan membuka hutan Glagahwangi untuk dijadikan sebuah pesantren.
Seiring berjalanan waktu, Pesantren Glagahwangi yang didirikan oleh Raden Fatah semakin maju. Dan Raja Brawijaya alias Bhre Kertabumi di Majapahit khawatir jika Raden Fatah berniat memberontak. Maka, Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Fatah.
Setelah itu, Raden Fatah pun pergi ke Majapahit untuk menghadap Brawijaya. Sesampainya di Majapahit, Sang Prabu Brawijaya kemudian merasa terkesan melihat wajah Raden Fatah yang memiliki kemiripan dengan beliau. Dan akhirnya, Sang Prabu pun mengakui Raden Fatah sebagai putranya.
Cerita tersebut di atas mengingatkan para perjalanan wisata saya di tempat wisata semarang pada saat berkunjung di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang. ( Baca : Kelenteng Sam Poo Kong Jejak Kerajaan Demak Dan Majapahit ).
Lanjut.............
Dari pertemuan antara Sang Prabu Brawijaya dengan Raden Fatah tersebut, maka Raden Fatah pun di angkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara atau di baca "Bintoro".
Cerita tersebut diatas merupakan informasi asal mula pendirian kerajaan Demak dari salah seorang tokoh besar sekaligus pendiri Kerajaan Demak di Jawa Tengah dalam awal perjalanan sejarah Raja Demak di tanah Jawa.
Sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, Kerajaan Demak sangat memilki peranan besar dalam proses pengembangan dakwah agama Islam di tanah Jawa pada masa tersebut. Di mana keajaan ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan pusat peyebaran agama Islam. Konon wilayah kekuasaan Kerajaan Demak ini meliputi Jepara, Tuban, Sedayu Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan.
Letak geografis Kerajaan Demak yang sangat strategis sebagai jalur perdagangan nasional yang menghubungkan antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur, dan berkembang menjadi kerajaan besar di Pulau Jawa, dengan raja pertamanya yaitu Raden Fatah yang memiliki gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah.
Selain itu pula, Kerajaan Demak juga memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik yang berkembang menjadi sebuah pelabuhan-pelabuhan transit atau penghubung. Puncak kejayaan dan ke emasan kerajaan Demak yang pernah diraih pada masa kerajaan Pati Unus dan Sultan Trenggana.
Lanjut...........
Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546 maka puncuk pimpinan Kerajaan Demak beralih kepada putra pertamanya yang bernama Raden Mukmin yang dikenal dengan Sunan Prawata, dan beliaulah yang menjadi raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah hanya berjalan selama beberapa tahun saja yaitu dari 1546-1549.
Dalam kepemimpinannya Raden Mukmin pun memindahkan pusat pemerintahan Demak dari Kota Bantara menuju bukit Prawata, sekarang lokasinya berada di Desa Prawata, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Oleh sebab itulah beliau mendapat julukan sebagai Sunan Prawata.
Raden Mukmin yang berambisi melanjutkan cita-cita ayahandanya yaitu Sultan Trenggana untuk menaklukkan Pulau Jawa. Namun, ketrampilan berpolitiknya tidak begitu baik , dan beliau lebih suka hidup sebagai ulama daripada sebagai raja.
Satu persatu daerah Demak pun berkembang secara bebas, seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik. Karena Demak tidak mampu menghalanginya. Akhirnya kekuasaan Demak pun mengalami kemunduran yang cukup pesat di bawah kepemimpinan Raden Mukmin atau Sunan Prawata,
Seiring waktu berjalan kerajaan Demak pun tidak berumur panjang, dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasan di antara kerabat kerajaan. Dan pada tahun 1546, kerajaan Demak pun berakhir.
Itulah sekelumit informasi tentang catatan kisah perjalanan sejarah kerajaan Demak yang saya dapatka dari hasil perjalanan wisata sejarah di tempat wisata Demak yang berlokasi di Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. ( Baca : Wisata Ziarah Ke Masjid Agung Banten )
Mengenal Kisah Sejarah Kerajan Demak melalui perjalanan wisata sejarah di tempat wisata rohani Masjid Agung Demak akan membuat kita mengenal lebih dekat perjalanan singkat dari kisah catatan sejarah kerajaan Demak ini. Walau pun hingga kini belum di temukan situs bersejrah dalam bentuk bangunan kerajaan Demak ini di daerah sekitar kota Demak. Semoga suatu hari nanti bangsa Indonesia dapat melihat jelas bentuk fisik bekas bangunan kerajaan Demak dari kebesaran situs sejarah yang telah memiliki nama besar hingga di belahan dunia ini.[]
Salam wisata,
Label:
Wisata Demak,
Wisata Sejarah





