Jalan-Jalan Di Istana Mangkunegaran Solo.- Istana Mangkunegaran Solo berdiri sejak tahun 1757. Awalnya di area ini belum ada pendapa atau Pendopo Agung, Menurut informasi di lokasi baru pada masa pemerintahan Mangkunegara IV baru dibangun pendapa, yaitu pada tahun 1866. Angka tersebut tertera pada lambang yang ada di pendopo Istana. Coraknya mengikuti gaya Jawa dan Eropa.Istana Mangkunegaran Solo merupakan sebuah sosok bangunan perwujudan dari keteguhan seorang Pangeran Sambernyawa yang sudah digembleng dalam proses kehidupannya sejak kecil, dan nama tokoh Pangeran Sambernyawa cukup dikenal dalam perjalanan sejarah di tanah Jawa.
Bangunan Istana Mangkunegaran Solo tetap berdiri kokoh dan bertahan di tengah arus modernisai. Bila dibandingkan dengan Kasunanan atau Keraton Solo yang di kenal dengan nama Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran lebih terbuka, dan ada banyak yang bisa kita lihat dan juga rasakan di lokasi ini.
Istana Mangkunegaan Solo atau dikenal dengan nama lain Pura ( Jawa : Puro) Mangkunegaran ini berlokasi di Jalan Ranggowasito, Solo, Jawa Tengah.
Lanjut.........
Konon dari keterangan yang saya dapatkan, cikal bakal Mangkunegaran ini adalah Perjanjian Salatiga yang ditandatangani pada tanggal 17 Maret 1757 di Salatiga. Dua tahun sebelumnya, wilayah Mataram dibagi menjadi dua, yaitu menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasunanan Yogyakarta melalui perjanjian Gayanti oleh VOC.
Atas dasar inilah hubungan kerabat antara Isatan Mangkunegaran Solo dan Keraton Yogyakarta masih ada hubungannya. Karena aspek hubungan perjanjian pada jaman VOC dulu maka wilayah ini terbagi menjadi dua wilayah ini. ( Baca : Keraton Yogyakarta Cerita Budaya Dalam Perjalanan Babad Tanah Jawi ).
Raden Mas Said yang bergelar Pangeran Sambernyawa terus melakukan pemberontakan terhadap VOC, atas dukungan dari beberapa tokoh, maka Sunan pun mendirikan kerajaan sendiri. Murut informasi Kekusaan dari Raden Mas Sain tersebut berada di sebelah barat terpiang Sungai Pepe.
Sekelumit cerita mengenai perjalanan sejarah Istana Mangkunegaran Solo ini yang di paparkan oleh seorang abdi dalem kepada saya beserta rombongan di awal perjalanan kami dalam menelusuri halaman menuju pendopo Pura Mangkunegaran yang terlihat bersih.
Lanjut.....
Menelusuri halaman menuju pendopo Pura Mangkunegaran kita akan dapat melihat empat buah patung berwarna emas yang berada di sisi kiri dan kanan undakan yang menuju pendapa. Pandangan mata dari keempat singa tersebut tersebar ke berbagai arah. Informasi yang saya terima patung-patung emas ini berasal dari Berlin, dan di taruh di lokasi tersebut dengan maksud sebagai penjaga keamana.
Sesampainya kita diujung pendopo, sebelum menginjakan kaki di dalamnya, semua peserta harus melepaskan alas kaki, dan memasukannya di dalam tas plastik bersih yang sudah kami persipakan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar lebih menghormati dan sopan bila kita akan mengunjungi tempat raja.
Pendopo yang berwujud bangunan joglo ini diberinama Pendapa Agung, dan tempat ini dulunya sering digunakan sebagai tempat menghadap Pangeran. Konon, dulu untuk menghadap Pangeran orang harus jalan jongkok.
Luas dari Pendopo Agung ini +/- 3.270 meter persegi. Lantai yang terlihat bersih dan mengkilat mencerminkan tempat ini selalu di rawat dengan sunguh-sungguh hingga sekarang.
Di sebelah kiri Pendopo Agung terliaht dua perangkat gamelan yang bernama Gamelan Kyai Kanyut Mesem dengan duplikatnya.. Munurut informasi, Gamelan Kyai Kanyut ini sudah berusia +/- 300 tahun, dan hanya di gunakan pada saat-saat tertentu saja, seperti hari penobatan Pangeran. Sedangkan untuk Gamelan Kyai Kanyut yang duplikatnya di pergunakan untuk kegiatan latihan.
Lanjut..........
Setelah puas elihat sekeliling area Pendopo Agung, mata saya pun melihat sebuah pemandangan yang mengarahkan ke atap Pendopo Agung ini. Di mana atap Pendopo Agung ini disokong oleh empat pilar kayu jati. Konon dari infomrasi yang saya dapatkan kayu-kayu jati ini berasal dari satu pohon yang tinggi +/- 11.5 meter. Kayu jati ini diambil dari hutan Donoloyo di daerah Wonogiri.
Pada langit-langit Pendopo Agung kita bisa melihat lukisan batik atau yang disebut kumudawati, yang melambangkan nyla api dengan warna yang berbeda-beda di tengahnya. Nyala api tersebut menunjukkan semangat. Sedangkan warna yang berada di tengah-tengahnya dimaksudkan untuk melawan hal-hal negatif yang melingkupi kehidupan manusia.
Dalam penuturan yang saya dapatkan..........
Warna kuning yang terdapat pada warna api tersebut berfungsi untuk menghindari rasa kantuk, warna biru sebagai menghalau penyakit dan bencana alam, warna hitam menahan lapar, warna putih untuk menahan nafsu, warna pink untuk melawan rasa takut, warna merah untuk menghalau roh halus, dan terakhir warna ungu untuk mengeyahkan pikiran-pikiran jahat.
Sedaangkan beberapa lampu yang tergantung di atap Pendopo Agung yang dalam pembangunannya tidak menggunakan paku.
Lanjut..........
Setelah puas perjalanan dengan menelusuri Pendopo Agung, kami pun mengarah menuju ke bagian belakang. Di lokasi ini kita akan melihat sebuah beranda terbuaka yang bernama Pringgitan. Di tampat inilah sering di adakan pagelaran pertunjukan wayang kulit.
Dari lokasi Pringgitan kita akan menemukan sebuah anak tangga yang akan mengarahkan kita menuju Dalem Agung, yaitu sebuah ruangan yang menurut informasi yang saya dapatkan luasnya +/- 1.000 meter persegi. Secara tradisional ruangan ini merupakan ruang tidur pengantin kerajaan. Sekarang ruangan ini berfungsi sebagai museum, dan yang tersisa di ruangan ini hanya sebuah ranjang (tempat tidur) pengantin.
Untuk di ruangan museum ini sayangnya kita tidak bisa mengambil gambar photo, apalagi mengambil gambar video. Karena di dalam museum ini banyak sekali menyimpan benda-benda pusaka kerajaan. Dan salah stau yang membuat menarik bagi setiap wisatawan yang berkunjung di temapt wisata Solo yang menarik ini adalah sebuah kunci kesetiaan yang berada di dalam ruang museum. Bagi teman-teman yang penasaran dengan benda tersebut silahkan lihat langsung di dalam area museum pada saat jalan-jalan di Istana Mangkunegaran Solo.
Lanjut..........
Selain Museum yang terdapat di dalam area Istana Mangkunegaran Solo, kita juga dapat melihat sebuah bangunan yang dijadikan sebagai tempat tinggal anggota kerajaan di belakang Daelm Ageng. Namu sayangnya tempat ini tidak semua boleh dilihat dan mengambil photo. Yang boleh dilihat hanyalah ruang maan yang memiliki banyak ornamen.
Di dalam salah ruangan tersebut kita akan melihat sebuah ornamen salah satunya adalah gading yang berukir. Ada juga ruang yang menjual cendera mata. Mulai dari batik sampai dengan pernak-pernik kerajianan.
Jalan-jalan di Istana Mangkunegaran Solo merupakan perjalanan wisata Solo yang mengasyikan. Di lokasi inilah kita dapat menemukan segala bentuk keunikan dan keindahan dari sebuah nilai tradisi dan budaya peninggalan dari Kerajaan Mataram hingga sekarang. Perpaduan setia ornamen arsitektur bangunan dan koleksi-kolekasi yang terdapat di dalamnya pun sangat indah.Bila teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata penasaran silahkan Jalan-jalan Di Istana Mangkunegaran Solo.[]
Salam wisata
Label:
Wisata Budaya,
Wisata Solo








