JALAN-JALAN DI ISTANA MANGKUNEGARAN SOLO

http://www.ejawantahtour.com/2014/06/jalan-jalan-di-istana-mangkunegaran-solo.html Jalan-Jalan Di Istana Mangkunegaran Solo.- Istana Mangkunegaran Solo berdiri sejak tahun 1757. Awalnya di area ini belum ada pendapa atau Pendopo Agung,  Menurut informasi di lokasi baru pada masa pemerintahan Mangkunegara IV baru dibangun pendapa, yaitu pada tahun 1866. Angka tersebut tertera pada lambang yang ada di pendopo Istana. Coraknya mengikuti gaya Jawa dan Eropa.

Istana Mangkunegaran Solo merupakan sebuah sosok bangunan perwujudan dari keteguhan seorang Pangeran Sambernyawa yang sudah digembleng dalam proses kehidupannya sejak kecil, dan nama tokoh Pangeran Sambernyawa cukup dikenal dalam perjalanan sejarah di tanah Jawa.

Bangunan Istana Mangkunegaran Solo tetap berdiri kokoh dan bertahan di tengah arus modernisai. Bila dibandingkan dengan Kasunanan atau Keraton Solo yang di kenal dengan nama Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran lebih terbuka, dan ada banyak yang bisa kita lihat dan juga rasakan di lokasi ini.

Istana Mangkunegaan Solo atau dikenal dengan nama lain Pura ( Jawa : Puro) Mangkunegaran ini berlokasi  di Jalan Ranggowasito, Solo, Jawa Tengah.

Lanjut.........
Konon dari keterangan yang saya dapatkan, cikal bakal Mangkunegaran ini adalah Perjanjian Salatiga yang ditandatangani pada tanggal 17 Maret 1757 di Salatiga. Dua tahun sebelumnya, wilayah Mataram dibagi menjadi dua, yaitu menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasunanan Yogyakarta melalui perjanjian Gayanti oleh VOC.

Atas dasar inilah hubungan kerabat antara Isatan Mangkunegaran Solo dan Keraton Yogyakarta masih ada hubungannya. Karena aspek hubungan perjanjian pada jaman VOC dulu maka wilayah ini terbagi menjadi dua wilayah ini. ( Baca : Keraton Yogyakarta Cerita Budaya Dalam Perjalanan Babad Tanah Jawi ).

Raden Mas Said yang bergelar Pangeran Sambernyawa terus melakukan pemberontakan terhadap VOC, atas dukungan dari beberapa tokoh, maka Sunan pun mendirikan kerajaan sendiri. Murut informasi Kekusaan dari Raden Mas Sain tersebut berada di sebelah barat terpiang Sungai Pepe.

Sekelumit cerita mengenai perjalanan sejarah Istana Mangkunegaran Solo ini yang di paparkan oleh seorang abdi dalem kepada saya beserta rombongan di awal perjalanan kami dalam menelusuri halaman menuju pendopo Pura Mangkunegaran yang terlihat bersih.

Lanjut.....
Menelusuri halaman menuju pendopo Pura Mangkunegaran kita akan dapat melihat empat buah patung berwarna emas yang berada di sisi kiri dan kanan undakan yang menuju pendapa. Pandangan mata dari keempat singa tersebut tersebar ke berbagai arah. Informasi yang saya terima patung-patung emas ini berasal dari Berlin, dan di taruh di lokasi tersebut dengan maksud sebagai penjaga keamana.

Sesampainya kita diujung pendopo, sebelum menginjakan kaki di dalamnya, semua peserta harus melepaskan alas kaki, dan memasukannya di dalam tas plastik bersih yang sudah kami persipakan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar lebih menghormati dan sopan bila kita akan mengunjungi tempat raja.

Pendopo yang berwujud bangunan joglo ini diberinama Pendapa Agung, dan tempat ini dulunya sering digunakan sebagai tempat menghadap Pangeran. Konon, dulu untuk menghadap Pangeran orang harus jalan jongkok.

Luas dari Pendopo Agung  ini +/- 3.270 meter persegi. Lantai yang terlihat bersih dan mengkilat mencerminkan tempat ini selalu di rawat dengan sunguh-sungguh hingga sekarang.

Di sebelah kiri Pendopo Agung terliaht dua perangkat gamelan yang bernama Gamelan Kyai Kanyut Mesem dengan duplikatnya.. Munurut informasi, Gamelan Kyai Kanyut ini sudah berusia +/- 300 tahun, dan hanya di gunakan pada saat-saat tertentu saja, seperti hari penobatan Pangeran. Sedangkan untuk Gamelan Kyai Kanyut yang duplikatnya di pergunakan untuk kegiatan latihan.

Lanjut..........
Setelah puas elihat sekeliling area Pendopo Agung, mata saya pun melihat sebuah pemandangan yang mengarahkan ke atap Pendopo Agung ini. Di mana atap Pendopo Agung ini disokong oleh empat pilar kayu jati. Konon dari infomrasi yang saya dapatkan kayu-kayu jati ini berasal dari satu pohon yang tinggi +/- 11.5 meter. Kayu jati ini diambil dari hutan Donoloyo di daerah Wonogiri.

Pada langit-langit Pendopo Agung kita bisa melihat lukisan batik atau yang disebut kumudawati, yang melambangkan nyla api dengan warna yang berbeda-beda di tengahnya. Nyala api tersebut menunjukkan semangat. Sedangkan warna yang berada di tengah-tengahnya dimaksudkan untuk melawan hal-hal negatif yang melingkupi kehidupan manusia.

Dalam penuturan yang saya dapatkan..........
Warna kuning yang terdapat pada warna api tersebut berfungsi untuk menghindari rasa kantuk, warna biru sebagai menghalau penyakit dan bencana alam, warna hitam menahan lapar, warna putih untuk menahan nafsu, warna pink untuk melawan rasa takut, warna merah untuk menghalau roh halus, dan terakhir warna ungu untuk mengeyahkan pikiran-pikiran jahat.

Sedaangkan beberapa lampu yang tergantung di atap Pendopo Agung yang dalam pembangunannya tidak menggunakan paku.

Lanjut..........
Setelah puas perjalanan dengan menelusuri Pendopo Agung, kami pun mengarah menuju ke bagian belakang. Di lokasi ini kita akan melihat sebuah beranda terbuaka yang bernama Pringgitan. Di tampat inilah sering di adakan pagelaran pertunjukan wayang kulit.

Dari lokasi Pringgitan kita akan menemukan sebuah anak tangga yang akan mengarahkan kita menuju Dalem Agung, yaitu sebuah ruangan yang menurut informasi yang saya dapatkan luasnya +/- 1.000 meter persegi. Secara tradisional ruangan ini merupakan ruang tidur pengantin kerajaan. Sekarang ruangan ini berfungsi sebagai museum, dan yang tersisa di ruangan ini hanya sebuah ranjang (tempat tidur) pengantin.

Untuk di ruangan museum ini sayangnya kita tidak bisa mengambil gambar photo, apalagi mengambil gambar video. Karena di dalam museum ini banyak sekali menyimpan benda-benda pusaka kerajaan. Dan salah stau yang membuat menarik bagi setiap wisatawan yang berkunjung di temapt wisata Solo yang menarik ini adalah sebuah kunci kesetiaan yang berada di dalam ruang museum. Bagi teman-teman yang penasaran dengan benda tersebut silahkan lihat langsung di dalam area museum pada saat jalan-jalan di Istana Mangkunegaran Solo.

Lanjut..........
Selain Museum yang terdapat di dalam area Istana Mangkunegaran Solo, kita juga dapat melihat sebuah bangunan yang dijadikan sebagai tempat tinggal anggota kerajaan di belakang Daelm Ageng. Namu sayangnya tempat ini tidak semua boleh dilihat dan mengambil photo. Yang boleh dilihat hanyalah ruang maan yang memiliki banyak ornamen.

Di dalam salah ruangan tersebut kita akan melihat sebuah ornamen salah satunya adalah gading yang berukir. Ada juga ruang yang menjual cendera mata. Mulai dari batik sampai dengan pernak-pernik kerajianan.

Jalan-jalan di Istana Mangkunegaran Solo merupakan perjalanan wisata Solo yang mengasyikan. Di lokasi inilah kita dapat menemukan segala bentuk keunikan dan keindahan dari sebuah nilai tradisi dan budaya peninggalan dari Kerajaan Mataram hingga sekarang. Perpaduan setia ornamen arsitektur bangunan dan koleksi-kolekasi yang terdapat di dalamnya pun sangat indah.Bila teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata penasaran silahkan Jalan-jalan Di Istana Mangkunegaran Solo.[]




Salam wisata

TEMPAT WISATA SURAKARTA YANG MENARIK: PANGGUNG SANGGABUWANA

http://www.ejawantahtour.com/2014/06/tempat-wisata-surakarta-yang-menarik-panggung-sanggabuwana.html Tempat Wisata Surakarta Yang Menarik Panggung Sanggubuwana.- Pada masanya bangunan Panggung Sanggabuwana ini merupakan bangunan tertinggi yang berada di Surakarta. Sebuah sosok bangunan yang terlhat menonjol jika memasuki Kori Kamandungan Lor Keraton Surakarta.

Halaman yang bertabur butiran pasir yang didatangkan langsung dari Pantai Parangkusumo dan Gunung Merapi. Butiran lembut pasir ini akan membuat kaki kita merasa nyaman dalam menapak dan menelusuri halaman Keraton Surakarta menuju samping pendopo keraton.

Kesan natural yang terpancarkan dari sosok bangunan Panggung Sanggabuwana beratapkan limas seperti tutup saji (tutup makanan) yang berwana biru, memancarkan keindahan tersendiri di setiap decak kekaguman bagi yang memandangnya. Perpaduan gaya Jawa dan Eropa terlihat membungkus bangunan yang dipenuhi oleh patung dewa-dewi.

Bangunan Panggung Sanggabuwana terdiri atas lima lantai, dan menurut informasi yang saya dapatkan di lokasi, tinggi bangunan ini +/- 36 meter, dibangun pada masa Pakubuwono III pada tahun 1708 (tahun Jawa) atau tepatnya pada tahun 1782 m dan dikerjakan oleh  Ki Baturatma sebagai tukang batu dan Kyai Nayawreksi sebagai tukang kayunya.

Atap dari bangunan Panggung Sanggabuwana yang manarik perhatian mata untuk mengarahkan ke atas atapnya. Terlihat atap secara sepintas berbentuk  tutup saji sebagai perlambang bahwa bagian tersebut digunakan untuk menaruh sesaji.

Pada puncak atap bangunan Panggung Sanggabuwana terdapat sebuah hiasan berbentuk orang yang sedang membawa busur panah yang memiliki naga bersayap dan bermahkota. Menurut informasi ini merupakan  sengkalan dari Naga Muluk Tinnitihan Janma yang berarti (Naga = 8, Muluk = 0, Tinitihan = 7, Janma = 1) yang digabungkan menjadi 1708 tahun Jawa.

Namun oleh Pakubuwono III, atas saran Pujanggadalem Yosodipura Tus Pajang, hiasan tersebut bisa dibaca sebagai Keblat  Rimaros Tri Buwono yang berarti tahun 1364 H. Dan ini bertepatan dengan tahun 1945. Hal inilah yang menarik bagi saya pribadi dan mungkin saja para pengunjung di Keraton Surakarta yang memperhatikannya, karena tahun 1945 bertepatan dengan tahun kemerdekaan Republik Indonesia, dan hal ini telah terbaca dalam hiasan pada bangunan Panggung Sanggabuwana di Keraton Surakarta.

Lanjut.......
Konon, menurut informasi yang beredar di lokasi Keraton Surakarta, bangunan Panggung Sanggabuwana ini dianggap sebagai bangunan keramat, sebab bangunan ini dikenal sebagai bangunan yang sering digunakan para Raja yang berkuasa untuk bersemedi.

Dan pada saat peperangan bangunan Panggung Sanggabuwana ini sering digunakan untuk mengawasi aktivitas musuh yang akan datang ke area Keraton Surakarta. Itulah sekelumit cerita yang saya dapatkan dari seorang abdi dalem Keraton Surakarta pada saat mengunjungi tempat wisata Surakarta di kawasan Keraton.

Hal inilah yang menjadikan tempat wisata Surakarta menarik untuk dikunjungi pada saat kita jalan-jalan di Kota Solo. Lokasinya berada di Jalan Mangkubumen Sasono Mulyo, Kota Solo, Pasar Klewer, Solo Jawa Tengah.

Konon, menurut cerita dari catatan sejarah tempat ini merupakan perpindahan lokasi kerajaan. Dan dibutuhkan waktu dua tahun untuk mempersiapkan hingga pada tanggal 17 Febuari 1745 Keraton Kartasura pun pindah ke Sala dan diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat. ( Baca : Jejak Sejarah Keraton Kartasura )

Jalan-jalan di Kota Solo, Jawa Tengah. Kurang lengkap bila kita tidak mengunjungi area Keraton Surakarta ini. Di lokasi inilah kita akan banyak sekali mengetahui sebuah nila tradisi dan budaya dengan catatan sejarah yang panjang dari salah satu kerajaan Mataram di tanah Jawa di Tempat Wisata Surakarta Yang Menarik Panggung Sanggabuwana.[]



Salam wisata,

JARIK BATIK PIALA DUNIA BUATAN LAWEYAN SOLO

http://www.ejawantahtour.com/2014/06/jarik-batik-piala-dunia-buatan-laweyan-solo.html Jarik Batik Piala Dunia Buatan Laweyan Solo. - Musim Piala Dunia 2014 yang melanda dunia menjadi sebuah momen bagi para pengrajin batik di daerah kawasan Kampung Batik, Laweyan, Solo, Jawa Tengah tidak kehabisan ide.

Peluang tersebut ditangkap dan jadikan sebuah pengembangan dari motif kerajinan batik yang tidak mau ketinggalan sebagai salah satu marchandis piala dunia 2014 versi Indonesia.

Batik piala dunia terdiri dari berbagai macam pernak-pernik, diantaranya adalah bonek bola, selimut, kemeja, dan softcase laptop yang memiliki motif batik dengan pernak-pernik world cup 2014.

Gegap gempita piala dunia 2014 walau berlangsung di negara Brasil, namun bukan berarti di kawasan kota Solo yang terkenal memiliki tempat wisata yang juga ramai di kunjungi oleh para wisatawan  baik domestik maupun mancanegara  menjadikan pilihan souvenir yang beragam dengan has tradisi budaya Indonesia.

Jarik batik Pila Dunia buatan Indonesia ini bisa dimiliki oleh kita bila kita datang di kawasan pasar Laweyan atau pun di daerah sekitar Solo dan Yogya yang dibandrol dengan harga yang relatif murah, yakni Rp 20 ribu hingga Rp. 150 ribu.

Bagi teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata yang berada di sekitar kota Solo, tidak ada salahnya bila ingin mengoleksi jenis batik pila dunia 2014 ini sebagai salah satu koleksi pribadi atau pun bisa sebagai pakaian yang bisa digunakan di waktu yang trend ini. Selamat berbelanja Jarik Batik Piala Dunia Buatan Laweyan Solo.[]




Salam wisata

Sumber photo : Yudha S (Portalkbr.com)

JEJAK SEJARAH KERATON KARTASURA

http://www.ejawantahtour.com/2014/04/jejak-sejarah-keraton-kartasura.html
Jejak Sejarah Kraton Kartasura. - Menelusuri jejak sejarah Keraton Kartasura yang berlokasi Kompleks Keraton Kartasura yang berada di daerah Katasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Konon lokasi ini merupakan kawasan kesultanan Mataram yang berdiri pada tahun 1680 - 1742. Dan benteng ini merupakan pelindung kompleks inti Keraton Kartasura yang satu-satunya tersisa dari bangunan keraton yang masih dapat di lihat dan di nikmati pada masa sekarang ini.

Dari informasi yang saya dapatkan riwayat Kerajaan Mataram ini usianya ralatif singkat, dan cendrung di warnai oleh konflik perang saudara yang memperebutkan tahta Kerajaan Mataram. Sebagaimana kita ketahui dari catatan sejarah bahwa, Amangkurat I yang merupakan raja terakhir Kesultanan Mataram yang memerintah dengan sewenang-wenang sejak tahun 1645.

Lanjut......
Beliau (Amangkurat I) juga terlibat perselisihan dengan putranya sendiri yang menjabat sebagai Adipati Anom pada tahun 1670. Di mana dalam cerita sejarah tersebut Adipati Anom menggunakan Trunojoyo dari Madura sebagai alat untuk melakukan kudeta terhadap ayahnya yaitu Amangkurat I.

Namun, pemberontakan Trunojoyo yang semakin besar membuatnya sulit dikendalikan lagi. Sehingga perang ini  mengalami puncaknya pada tanggal 2 Juli 1677, di mana Istana Mataram yang terletak di Plered diserbu oleh kaum pemberontak.

Dan Adipati Anom memilih kabur bersama Amangkurat I ke arah barat. Amangkurat I pun meninggal dalam perjalanan, namun beliau sempat berwasiat agar Adipati Anom meminta bantuan VOC untuk menumpas Trunojoyo, dan merebut kembali tahta kerajaan Mataram.

Lanjut.........
Sesuai wasiat ayahnya (Amangkurat I), Adipadi Anom bekerja sama dengan VOC untuk menumpas Trunojoyo, dan ia pun menandatangani Perjanjian Jepara pada tahun 1677 dengan VOC yang salah satu isinya adalah VOC akan membantu Adipati Anom melawan Trunojoyo. Dan sebagai gantinya, VOC berhak memonopoli perdagangan di Pantai Utara Pulau Jawa.

Atas bantuan VOC, Adipati Anom diangkat sebagai raja tanpa tahta, dan bergelar Amangkurat II. Trunojoyo akhirnya berhasil ditangkap, dan dihukum mati pada awal tahun 1680.

Ketika itu, istana lama Mataram yang berlokasi di Plered telah dikuasai oleh Pangeran Puger, pura Amangkurat I lainnya, yang ditugaskan oleh sang ayah untuk merebutnya dari tangan Turnojoyo. Dari peristiwa ini maka, Amangkurat II terpaksa membangun istana baru di Hutan Wanakarta yang diberi nama Kartasura.

Adipati Anom mulai pindah ke Istana baru di Hutan Wnakarta pada bulan September 1680. Dengan demikian, Sri Susuhunan Amangkurat II adalah pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1677 - 1703, seperti informasi yang saya tangkap pada saat rekam jejak sejarah Keraton Surakarta di lokasi.

Sri Susuhunan Amangkurat II merupakan raja Jawa pertama yang menggunakan pakaian dinas ala Eropa, sehingga rakyat memanggilnya dengan sebutan Sunan Amral yaitu, ejaan Jawa untuk Admiral.

Nama asli dari Adipati Anom yang menjadi Amangkurat II di Kasunanan Kartasura adalah Raden Mas rahmat, putra dari Amangkurat I Raja Mataram, yang lahir dari Ratu Kulon putri Pangeran Pekik dari Surabaya.

Konon informasi yang saya terima Amangkurat II Raja pertama Kasunanan Kartasura memiliki banyak istri, namun hanya satu yang melahirkan putra yang kelak menjadi Amangkurat III.  Dan menurut cerita Babad Tanah Jawi, Ibu Amangkurat III mengguna-guna semua istri Amangkurat II sehingga mandul.

Lanjut...........
Setelah Kasunanan Kartasura berdiri, kemudian pecahlah perang antara Kartasura melawan Mataram untuk memperebutkan kekuasaan atas tanah Jawa sebagai pewaris Amangkurat I yang sah. Dan pada tanggal 28 november 1681, akhirnya Pangeran Puger menyerah kalah kepada Amangkurat II yang di bantu VOC.

Sejak tanggal 28 November 1681 Mataram resmi menjadi bagian dari Kartasura, dan menurut informasi Babad Tanah Jawa di sana disebutkan bahwa Mataram runtuh pada tahun 167, sedangkan Kartasura merupakan Kerajaan baru sebagai penerusnya. Dan di Keraton Kartasura ini pun terdapat jejak sejarah Untung Suropati. (Baca : Jejak Sejarah Untung Suropati Di Kartasura)

Jejak Sejarah Keraton Kartasura di dalamnya di kisahkan bahwa Amangkurat II sebagai raja yang berhati lemah dan mudah dipengaruhi. Sedangkan, Pengeran Puger, adiknya, jauh lebih berperan dalam pemerintahan. Dan ia naik atas bantuan VOC dengan utang atas biaya perang sebesar 2,5 juta gulden.

Jejak Sejarah Keraton Kartasura ini pun menjelaskan bahwa ada seorang tokoh anti VOC bernama Patih Nerangkusuma yang berhasil menghasut Amangkurat II agar lepas dari jeratan utang dengan VOC. Maka, pada tahun 1683, terjadi pemberontakan Wanakusuma, seorang keturunan Kajoran. Pemeberontakan Wanakusuma ini berpusat di Gunung Kidul, Yogyakarat dan berhasil di padamkan.

Jejak Sejarah Keraton Kartasura ini merupakan kisah perjalanan wisata sejarah dan budaya yang bisa kita telusuri di daerah Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Akan banyak sisa-sisa bukti sejarah di lokasi teersebut yang bisa kita telusuri di sana. Dengan keramahtamahan penduduk aslinya, kita akan melebur bersama serta ikut merasakan nuansa alam dengan pesona keindahan tradisi dan budaya masyarakatnya yang eksotik dan menarik di kawasan daerah bekas Kerajaan Mataram ini.




Salam wisata,

FESTIVAL JENANG SOLO 2014

http://www.ejawantahtour.com/2014/02/festival-jenang-solo-2014.html
Festival Jenang Solo 2014 akan diadakan pada tanggal 16-17 Febuari 2014. Tema yang diangkat dari Festival Jenang Solo 2014 dengan mengangkat tema "Boyong Kedaton". Dimana acara ini akan dimeriahkan dengan menampilkan 17 macam Jenang sebagai prosesi ritual pemindahan Keraton Kartasura ke Keraton Kasunanan Surakarta.

Informasi yang saya dapatkan Ke-17 jenang tersebut di masak dalam jumlah besar di kawasan Pasar Triwindu. Dan rencananya jenis kuliner tradisional jenang ini akan di bagikan kepada masyarakat secara gratis pada saat acara Festival Jenang Solo 2014 nanti berlangsung.

Adapun ke -17 jenis jenang yang akan di ikutkan pada acara Festival Jenang Solo 2014 ini adalah ;
  1. Jenang Abrit Petak.
  2. Jenang lang.
  3. Jenang Saloko.
  4. Jenang Manggul.
  5. Jenang Suran.
  6. Jenang Timbul.
  7. Jenang Grendul.
  8. Jenang Sumsum.
  9. Jenang Lahan.
  10. Jenang Pati.
  11. Jenang Kolep.
  12. Jenang Ngangrah.
  13. Jenang Taming.
  14. Jenang Lemu.
  15. Jenang Koloh.
  16. Jenang Katul.
  17. Jenang Wami 4.
Rangkaian ke 17 jenang tersebut di atas ikut memeriahkan acara Festival Jenang Solo 2014 ini. Konon menurut cerita legenda di tengah masayrakat yang berkembang, prosesi boyong kedaton dari Keraton Surakarta ke Keraton Kasunan Surakarta dulunya diiringi sebanyak 17 jenang ini. Sebagai icon kuliner tradisonal masyarakat setempat jenang merupakn sebuah simbol yang memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Jawa.

Acara Festival Jenang Solo 2014 juga akan di meriahkan oleh peserta dari eks Karasdenan Surakarta, Kota Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Provinsi Bali, Bandung, dan DKI Jakarta. Sedangkan untuk rangkaian acaranya akan diawali pameran fotografi di Perempatan Ngarsopuro, Pasar Triwindu & Omah Sinten. Kemudian perlombaan untuk menyantap jenang dengan peserta on the spot yang sedang menikmati Solo Car Free Day.

Bagi teman-teman atau pun pembaca setia Ejawantah Wisata dapat ikut merasakan kegiatan Festival Jenang Solo 2014 ini pada hari Minggu dan Senin, 16 - 17 Febuari 2014, acara akan diselenggarakan di Koridor Budaya Ngarsopuro, waktunya Minggu dari pukul , 07.00 WIB - 21.00 WIB. Dan hari Senin dari pukul, 07.30 WIB - 11.00 WIB.

Semoga informasi Festival Jenang Solo 2014 ini dapat membantu para sahabat dan pecinta Ejawantah Wisata untuk mendapatkan alternativ pilihan dalam berlibur bersama keluarga dan orang-orang yang anda sayangi di Kota Solo pada bulan Febuari 2014 ini. Untuk susunan acara Festival Jenang Solo 2014 anda dapat melihat dari website Dinas Pariwisata Kota Surakarta yang berada di bawah.






Salam Wisata.

Sumber :
Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Surakarta

INFORMASI JADWAL UPACARA AGUNG KERATON SURAKARTA 2014

http://ejawantahtour.blogspot.com/2014/02/informasi-jadwal-upacara-agung-keraton.html
Informasi Jadwal Upacara Keraton Surakarta 2014 - Keraton Surakarta Hadiningrat dikenal sebagai situs seni budaya peninggalan dari Mataram yang ada di Kota Surakarta, Jawa Tengah Indonesia.  Sampai saat ini keluarga besar dari Keraton Surakarta Hadiningrat Surakarta masih melakukan kegiatan seni budaya yang menjadi idestitas salah satau budaya dari Indonesia.

Jadwal Upacara Agung Keraton Surakarta 2014 merupakan bagian dari agenda wisata budaya Solo 2014 yang akan di gelar sepanjang tahun, hal ini bertujuan untuk menjaga dan melestarikan budaya dalam rangka "nguri-nguri budaya Jawi". Terlepas dari dari konflik yang ada di dalam internal, semangat untuk melestarikan budaya yang ada merupakan hal yang sangat positif.

Adapun informasi jadwal upacara Agung Keraton Surakarta 2014 yang saya dapatkan, anda dapat melihat di bawah ini. :

  1. 7 Januari 2014 - Miyoaken Gangsa Sekaten.
  2. 13 Januari 2014 - Jamasan Mriyem Nyai Setomi.
  3. 14 Januari 2014 - Miyosaken hajad dalem perden dihateng kagungan daem masjid Agung Keraton Surakarta. (Sekatenan)
  4. 13 Febuari 2014 - Kol Susuhunan Paku Buwana XII.
  5. 27 Febuari 2014 - Sesaji Mahesa lawung ing Alas Kredhawahan. Karanganyar.
  6. 22 April 2014  - Kol Susuhunan paku Buwana XI.
  7. 26 April 2014 - Kol Susuhunan Paku Buwana VIII.
  8. 12 Mei 2014 - Kol Susuhunan Paku Buwana VI.
  9. 18 Mei 2014 - Wiwit Ajar-ajar Bedhaya Ketawang.
  10. 24 Mei 2014 - Paes Bedhaya Ketawang.
  11. 25 Mei 2014 - Tingalan, Jumenang Dalem Kaping 10, SISKS Paku buawa XIII.
  12. 27 Juni 2014 - Kol Susuhunan Paku buwana !X.
  13. 16 Juli 2014 - Kol KGPH Kusumoyudo.
  14. 18 Juli 2014 - Malem Selikuran.
  15. 25 Juli 2014 - Kol Susuhunan Paku Buwana VII.
  16. 26 Juli 2014 - Paring Dalem Zakat Fitrah.
  17. 29 Juli 2014 - Ngebekten.
  18. 30 Juli 2014 - Miyosaken Hajad dalem Paregen Dhateng Kagungan Dalem masjid Agung Keraton Surakarta. (Grebeg Pasa)
  19. 5 Oktober 2014 - Miyosaken Hajad dalem Pareden Dhateng Kagungan Dalem Mesjid Agung Keraton Surakarta hadiningrat. (Grebeg Besar).
  20. 18 Oktober 2014 - Kol Susuhunan Paku buwana IV.
  21. 20 Oktober 2014 - Kol Susuhunan paku Buwana III.
  22. 24 Oktober 2014 - Kol Susuhunan Paku Buwana V.
  23. 24 Oktober 2014 - Malem 1 Sura.
  24. 25 Oktober 2014 - Kol Susuhuan paku Buwana X.
  25. 4 November 2014 - Kol Susuhunan Paku buwana II.
  26. 10 November 2014 - Pangetan Hadeging Nagari Suarakarta Hadiningrat.
Untuk informasi jadwal upacara Agung keraton Surakata 2014 tersebut di atas merupakan rangkaian jadwal agenda kegiatan sepanjang tahun 2014 yang saya dapat dari nara sumber Semoga jadwal kegiatan tersebut dapat membantu teman-teman atau pun pembaca setia Ejawantah Wisata sebagai pilihan alternatif pilihan untuk mengikuti kegiatan wisata budaya yang unik dan klasik bernuansa eksotis. Dimana kegiatan wisata budaya ini sangat diminati oleh para wisatawan domestik dan mancanegara untuk hadir di Kota Surakarta. Bagi anda yang ingin mengetahui kegiatan pagelaran seni budaya Solo 2014 dapat mengunjungi halaman informasi agenda wisata Solo 2014.






Salam wisata,

Photo by : RM. Restu Budi Setiawan.
Editor photo : Indra KS.

Penginapan Dapat Lihat Di :
Informasi Hotel Murah Di Surakarta.

AROMA CITRA SEBUAH NILAI TRADISI INDONESIA DI KAMPUNG KAUMAN SOLO

Dalam perjalanan dari suatu tempat-ketempat yang lainnya dalam menelusuri objek-objek wisata Indonesia selama ini, tentu saja ada banyak cerita dalam sebuah ingatan yang memberikan kesan tersendiri. Dan biasanya bagi setiap orang yang melakukannya tentu berbeda hasilnya.

Seperti dari pengalaman penulis pada saat melakukan perjalanan wisata di Kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia bersama rombongan. Di mana banyak sekali keunikan dari setiap unsur budaya Indoensia yang terdapat di Kota ini. Namun, ada satu hal yang membuat penulis selalu teringat pada saat tercium aroma khas sebuah kain batik.

Dimana aroma ini memiliki khas tersendiri di panca indera penciuman kita, dan memiliki sebuah nilai keidentikan akan sebuah nilai aroma tradisi  nilai seni budaya Indoensia. Apalagi pada saat penulis hadir di salah satu perkampungan batik yang berlokasi di dekat pasar Klewer Kota Solo, Jawa Tengah.

Untuk menuju ke lokasi ini, kita bisa melalui beberapa jalan arah besar yang bisa menjadi pintu gerbang msuk ke lokasi Kampung Kauman Solo, Jawa Tengah. Yaitu dengan malalui Jalan K. H. Hasyim Asyari dari sisi timur; Jalan Dr. Radjiman dari sisi selatan; Jalan. Yos Sudarso dari sisi barat; dan Jalan. Slamet Riyadi dari sisi utara.

Dari informasi yang penulis dapatkan di lokasi dari beberapa tokoh tua di sana, nama Kauman mengacu kepada suatu kaum, yang berarti pegawai pemghulu keraton yang mengurus masjid agung sebuah kerajaan.

Kampung ini memang ada kaitannya dengan sejarah perpindahan Kraton Kartosuro ke Solo, yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Dari pengamatan penulis hampir semua kerajaan di tanah Jawa,  memiliki masjid agung yang letaknya tidak jauh dari Keraton dan alun-alun. Dan sebuah perkampungan yang terletak di belakang masjid agung merupakan perkampungan untuk menampung para kaum yang mengurus masjid tersebut.

Pada zaman dulu, masyarakat kaum ini mendapatkan latihan secara khusus dari Kasunanan untuk membuat batik demi keperluan keperluan, batik yang biasa mereka produksi seperti jarik atau selendang. Secara tidak langsung tradisi batik di Kampung Kauman mewarisi tradisi membatik ala "Ndalem" Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. ( Baca : Tempat Wisata Surakarta Yang Menarik: Panggung Sanggabuana )

Berbekal warisan tradisi budaya membatik, masyarakat Kampung Kauman dapat menghasilkan batik dengan motif yang sering digunakan oleh kerabat kraton. Jika dulu masih murni mengandalkan batik tulis dan dikerjakan secara manual, sekarang sudah  muncul batik cap.

Dari pengamatan penulis di lokasi Kampung Kauman. Perbedaan dua batik yang dihasilkan oleh masyarakat Kampung Kauman sangat jelas sekali. Hal ini penulis dapatkan informasi dari beberapa orang pengrajin batik di lokasi Kamung Kauman.

Pada batik tulis, pola batik digambar di kain, lalu ditegaskan dengan mengunakan malam yang dicairkan. Sedangkan untuk batik cap, motif sudah dicetak pada sebuah plat besi yang dipanaskan, plat besi tersebut dicelupkan pada lembaran malam dan di cap kan ke kain.

Lanjut..........
Dengan melihat kedua proses ini  sangatlah jelas, bahwa batik tulis dihasilkan melalui proses yang lama, sedangkan untuk batik cap dapat dihasilkan dengan cepat dan persis motifnya. Untuk jenis kain yang dapat digunakan ada banyak macamnya, mulai dari sutra sampai rayon.

Selain melihat dan mendapatkan informasi tentang memabatik di lokasi Kampung Kauman, kita juga akan dapat menikmati suasana masa lalu, di mana masih banyak bangunan lama yang unik serta bernilai sejarah. Di lokasi Kampung Kauman ini masih banyak terdapat rumah-rumah joglo, limasan, atau perpaduan arsitektur kolonial dan lokal.

Bagunan-bangunan tua di lokasi Kampung Kauman itu berdampingan dengan bangunan modern seperti pusat perbelanjaan, pusat perbankan, atau hotel yang banyak bertebaran di daerah sekitarnya. Sistem bangunan di daerah Kampung Kauman memilki sistem kampung bermodel blok, jadi jangan heran bila kita berkunjung di lokasi ini, kita akan banyak menemukan jalan perempatan.

Namun, jalan perempatan yang berada di lokasi Kampung Kauman ini sangat menguntungkan. Terutama bagi kendaraan yang berpapasan saat masuk lokasi Kampung Kauman. Dan hal ini dapat digunakan untuk bergilir untuk bergantian saat dua kendaraan mobil akan berpapasan, karena salah satu kendaraan mobil dapat bersembunyi di jalan perempatan yang lainnya.

Sebagian jalan di lokasi Kampung Kauman semuanya sudah di paving blok, hal ini dibuat agar memungkinkannya air untuk meresap ke dalam pori-pori tanah. Dan mencegah air untuk menggenang pada saat hujan tiba.

Dari data yang terpampang di peta wisata batik Kampung Kauman penuls dapat melihat ada sekitar 50 UKM yang berkecimpung dalam perbatikan. Rata-rata berlokasi di Jalan Wijayakusuma dan Jalan Cakra. Kelebihan dari lokasi Kampung Batik Kauman ini adalah beberapa toko yang ada di lokasi ini merangkap sebagai rumah produksi terbuka bagi para wisatawan untuk melihat bahkan mencoba untuk membuat batik sendiri.

Proses pembuatan batik tulis dapat kita lakukan sendiri di lokasi ini, namun hal ini tentu akan mendapat pengarahan dari seorang pembatik yang sudah terbiasa dengan pekerjaan. Dengan mendapatkan penjelasan dan merasakan tingkat kesulitan dalam proses pengkerjaan batik tulis, maka kita akan memahami mengapa ada pakaian dan kain batik yang memiliki tingkat harga yang berbeda-beda di pasaran.

Nah,,,,,,, daripada penasaran. Para sahabat bisa mampir ke Komplek perkampungan Kampung Kauman di Kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Dimana kita akan mendapatkan pengalaman dan keunikan langsung dari para pelaku seni batik. Aroma sebuah tadisi khas batik yang selalu mengingatkan citra sebuah nilai tradisi yang tidak ternilai harganya.

Semoga perjalaan wisata penulis di Kota Solo, Jawa Tengah, dapat memberikan infromasi tentang dunia pariwisata Indonesia untuk para sahabat pecinta Ejawantah Wisata semuanya.



Salam wisata,

"GALABO" WISATA KULINER KOTA SOLO JAWA TENGAH

Galabo Wisata Kuliner Kota Solo Jawa Tengah. "Galabo" merupakan salah satu pusat wisata kuliner  yang berada di Kota Solo Jawa Tengah. Dan berlokasi di Jalan Mayor Sunaryo sebelah timur bundaran Gladag. Galabo yang memiliki kepanjangan dari Gladag Langen Bogan, dimana lokasi ini hanya dijadikan pusat jajanan kuliner dimalam hari.

Bila kita berkunjung di Kota Solo dan hanya memiliki waktu yang tidak banyak namun ingin menjelejahi kenikmatan kuliner Kota Solo, Galabo bisa dijadikan objek wisata kuliner yang dapat dikunjungi. Di lokasi ini kita akan banyak menemukan kuliner tradisional dan jajanan.

Jika kita berjalan dari bundaran Gladag, maka kita akan temui semacam patung selamat datang berupa dandang dan kukusan di sebelah kiri ujung Jalan Mayor Sunarso. Menyusuri jalan di sebelah kanan kita bisa menemukan Beteng Trade Center (BTC) dan Pusat Grosir Solo (PGS), sementara disebelah kiri terdapat  Beteng Vastenburg.

Dari informasi masyarakat setempat dan pengamatan penulis dilokasi Galabo. Jalan ini ditutup dan dipergunakan sebagai pusat objek wisata kuliner Kota Solo pada malam hari, dan siangnya dipeergunakan untuk jalan raya seperti biasa. Sedangkan lokasi untuk parkir disediakan tidak jauh dari lokasi Galabo.

Pada saat penulis tiba di lokasi "Galabo" tempat wisata kuliner Kota Solo sore hari sekitar jam 16:15, meski jalan  sudah dalam proses penutupan dan beberapa kendaraan masih lalu lalang namun sudah tidak terlihat ramai, terlihat para pedagang yang sedang  menata lapaknya.

Terlintas dalam pemikiran penulis kala itu berpikir warung-warung tersebut sedang proses untuk tutup dan akan digantikan dengan warung yang akan buka pada malam hari. Ternyata pemikiran penulis kala itu kurang tepat. Mereka yang penulis lihat ternyata sedang mempersiapkan untuk membuka warung dagangannya di lokasi "Galabo" tempat wisata kuliner kota Solo.

Hari semakin gelap dan lokasi ini pun mulai dikunjungi banyak orang, dimana penjual dan pembeli berbaur di jalan yang sama. Ada hal yang menarik di lokasi "Galabo" tempat wisata kuliner Kota Solo  ini dalam pengamatan penulis. Di "Galabo" penjual dibikinkan dapur di trotoar dengan corak yang seragam, sementara pengunjung disediakan tempat di bawah tenda yang seragam pula. Dan untuk lokasi tenda berada di tengah jalan.

Dalam penyisiran penulis di lokasi "Galabo" pusat wisata kuliner Kota Solo, Jawa Tengah ini terdapat 50-an warung yang terdaftar di papan yang berada tidak jauh lokasinya dari patung dandang dan kukusan. Dan dari keterangan salah seorang penjual di lokasi Galabo, hampir setiap malam lokasi "Galabo" ini dipenuhi oleh pengunjung, baik dari Solo sendiri ataupun dari luar Solo.

Untung pada saat penulis tiba di lokasi ini lokasi cukup cerah dan bersahabat, jadi bisa melihat dan berkeliling menyusuri lokasi "Galabo". Dimana kita bisa menikmati makanan sambil melihat para pengunjung yang sedang menikmati kuliner di hamparan lempeng bumi beraspal yang beralaskan tikar dan beratapkan langit.

Berhubung waktu penulis yang tidak bisa terlalu lama di lokasi "Galabo" tempat wisata kuliner Kota Solo  ini, dan harus kembali kerombongan untuk mengantarkan rombongan kembali ketempat penginapan, maka tidak banyak yang dapat penulis sajikan dalam tulisan artikel ini dalam berbagi informasi

Namun dari pengalaman pribadi penulis dilokasi, "Galabo" cukup meyajikan makanan has tradisional dan jajanan sebagai tempat wisata yang cocok untuk menikmati kuliner tradisional yang dapat dinikmati oleh kita di Kota Solo. Dimana para penjual berjejer di trotoar, dan kita dapat menikmati hidangan makanan di tenda-tenda yang telah tersedia.

Semoga artikel ini dapat memberikan refrensi kepada para sahabat di saat mengunjungi "Galabo" sebagai tempat wisata kuliner di Kota Solo, Jawa Tengah yang membutuhkan informasi lokasi wisata kuliner tradisional dan jajanan has Kota Solo.



Salam wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus