Mengenal Seni Ukir Kayu Suku Asmat. - Suku Asmat merupakan salah suku tertua yang ada di bagian Timur Indonesia, tepatnya berada di daerah Papua. Nama besar yang di sandang Suku Asmat ini di dunia Internasional membuat saya memiliki keinginan lebih jauh mengenal kehidupan dan kearifan dari salah satu suku yang berada di Papua ini. Dengan mengunjungi Museum Nasional di kawasan Jakarta Pusat, saya pun mendapatkan informasi banyak tentang tentang Suku Asmat ini.
Masuk dalam area pameran lokasi daerah Suku Asmat di Museum Nasional Jakarta terlihat banyak sekali artefak bersejarah dari Suku Asmat ini di pamerkan. Sebuah perahu panjang yang terbuat dari ukiran kayu yang unik pun saya hampiri.
Perahu tradisonal dari suku Asmat ini disebut dengan nama Kole-kole, dengan ukiran ular dengan ciri khas suku asmat di ujung bagian kepala perahunya. Dan perahu ini dipergunakan sebagai salah satu mata pencaharian penduduknya yang berada di daerah pesisir pantai.
Bila saya perhatikan di bagian atas perahu terdapat ukiran-ukiran yang sangat natural bentuknya. Dan perahu ini terbuat dari sebuah pohon yang di buang tengahnya, hingga di tengahnya berbentuk cekungan yang dapat menampung 3 (tiga) samai 5 (lima) orang orang. Itu pun tergantung dari ukuran perahunya. Perahu ini terbuat dari kayu pohon ketapang rawa, dan panjangnya kira-kira 12 meter. Yang unik dan mencuri perhatian saya adalah, dayung dari perahu ini menyerupai tombak dan ujungnya memiliki keunikan ukiran, dan bentuknya menyerupai lesung yang terbuat dari kayu pala hutan. Dari informasi yang saya dapatkan di lokasi untuk membuat dayungnya saja, diperlukan waktu satu sampai dengan dua minggu. Sedangkan untuk perahunya sendiri jawaban pastinya saya tidak mendapatkan informasinya di lokasi.
Lanjut.................
Dari catatan yang saya dapatkan di kawasan Museum Nasional Indonesia, Suku Amsat terbagi menjadi dua kawasan, yaitu di daerah pesisir dan di daerah pedalaman. Dan kedua populasi suku ini saling berbeda satu dengan yang lainnya dalam hal
dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi Suku Asmat di kawasan daerah pesisir pun terbagi menjadi dua bagian, yaitu Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan Sungai Nin, dan yang satu lagi adalam suku Simai.
Menurut data yang saya baca sekarang ini
Suku Asmat populasinya kira-kira ada 100 sampai dengan 1.000 orang yang hidup di satu kampung. dan di setiap kampungnya memiliki rumah Bujang. Di mana rumah bujang ini merupakan rumah adat yang sering di gunakan untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Dan rumah Bujang ini di huni oleh banyak keluarga, yaitu sekitar 2 (dua) - 3 (tiga) keluarga. Rumahnya memiliki kamar mandi dan dapur sendiri. Dan hingga sampai saat ini jumlah total Suku Asmat yang hidup di Indonesia tercatat 70.000 jiwa.
Tidak jauh dari tempat saya berdiri telihat dengan jelas sebuah ukiran kayu dari Suku Asmat yang indah, hal ini memperkuat keterangan yang saya dapatkan di lokasi Museum Nasional Indonesia, bahwa orang-orang dari Suku Asmat memang pola hidupnya menyatu dengan alam. Dan mereka sangat menghormati serta menjaga alam sekitarnya.
Melalui patung ini saya mendapatkan keunikan dari keterangan di lokasi, bahwa pohon disekitar tempat mereka hidup, mereka gambarkan menjadi diri mereka. Seperti yang terlihat di patung ini, di mana buah menggambarkan kepala, batang pohon menggambarkan tangan, dan akar menggambarkan kaki. Sungguh cerdas sekali, dan hasil karyanya sangat indah untuk di nikmati.
Lanjut .................
Konon untuk ukiran patung kayu yang paling di sakralkan bagi masyarakat Suku Asmat adalah Patung Bis, namun pada jaman sekarang hasil ukiran tersebut bukan hanya untuk ke sakralan bagi mereka, namun lebih dari itu. Karena patung ini bernilai ekonomis sangat tinggi bagi para penduduk, maka hasil ukiran tersebut biasanya di perjual belikan, dan yang biasa memburu hasil dari patung ukiran ini adalah para wisatawan asing yang datang langsung ke daerah Suku Asmat untuk mengetahui secara langsung kehidupan mereka di sana.
Salah satu ukiran budaya dari
Suku Asmat ini merupakan salah satu budaya Indonesia yang di kenal dunia Internasional dan sangat diminati oleh para wisatawan asing, apalagi tentang karakteristik ukiran dengan pola unik dan bersifat naturalis seperti ini. Saya pribadi merasa kagum akan seni ukiran budaya dari suku Asmat ini.
Lanjut............................
Konon menurut informasi yang saya dapatkan melalui pemandu wisata di sini, Masyarakat
Suku Asmat dalam hal mengerjakan seni ukirannya itu sangat terkait dengan perjalanan ritual spiritual mereka. karena hal ini menyangkut penghormatan mereka kepada nenek moyang nya. dalam prosesnya pembutanan ukiran mereka tidak sekedar membuat pola dalam kayu, namun mereka mengalirkan sebuah energi spiritual yang mereka hasilkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Model dari ukiran yang dihasilkan dari suku asmat ini, adalah termasuk aliran naturalis. Karena yang menjadi model ukiran kebanyakan dari makhluk hidup seperti burung, ikan, pohon atau pun manusia yang diwujudkan dalam sebuah ukiran patung kayu mereka. Dan hal ini sudah menjadi tradisi, bagi mereka lebih menyatu dengan alam dan dapat mereka rasakan dan hayati secara langsung dalam hal mengadopsi dari pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola seni ukiran kayu yang mereka hasilkan.
Mengenal seni ukiran kayu Suku Asmat bagi saya pribadi sangatlah mengasyikan. Penuh aura karsa dan rasa yang mereka ciptakan dalam hasil seni sebuah karya yang indah dalam hasil yang natural. Banyak pembelajaran yang dapat saya petik disini, salah satunya adalah mereka bukan menaklukkan alam, namun dengan bersinerji dengan alam mereka dapat menciptkan suatu hasil karya yang indah. Dan hal ini sangat terbukti dengan hasil karya seni ukir kayu mereka yang di kenal hingga pelosok dunia Internasional yang memburunya.
Terdiam diri ini sejenak sambil merenungkan diri, seberapa besar kita memiliki keinginan untuk menaklukan alam ini ? Karena alam tidak akan pernah habis dan bisa ditaktuklan dengan kesombongan dan keserakahan, namun alam hanya mampu di senergikan dengan pikiran dan hati yang jernih dari setiap orang yang dapat menghasilkan sebuah karya yang akan dapat bermanfaat untuk dirinya, dan orang-orang di sekitarnya. Itulah benang merah yang saya dapatkan dari perjalanan saya mengenal lebih dekat dari hasil karya
seni ukir kayu Suku Asmat ini.
Bila teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata tertarik untuk mengenal lebih dekat hasil karya seni ukir kayu dari Suku Asmat, anda dapat berkunjung langsung ke Papua, atau anda dapat mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah di anjungan Papua dan
Museum Nasional Indonesia.
Salam wisata,