MENELUSURI JEJAK SEJARAH SITUS BITING

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/menelusuri-jejak-sejarah-situs-biting.html
Menelusuri Jajak Sejarah Situs Biting - Perjalanan wisata di kawasan daerah Kabupaten Lumajang ini merupakan kelanjutan perjalanan wisata saya dalam menelusuri jejak ritual sejarah Raja Hayam Wuruk bersama kedua teman saya . Di mana kawasan daerah ini di kenal sebagai daerah penghasil buah pisang dengan nama yang tidak asing lagi adalah buah "pisang agung".  Bentuk buahnya yang besar dan tahan lama bila di simpan, hal inilah yang menjadi salah satu ciri khas dari daerah kawasan tersebut.

Dari kawasan wisata Situs Banyubiru yang berada di daerah Kabupaten Psuruan Jawa Timur, perjalanan saya lanjutkan ke kawasan daerah Kabupetn Lumajang, Jawa Timur dengan menggunakan kendaraan motor bersama teman saya. Perjalanan ini menempuh waktu +/- 45 menit dengan mengambil jalur jalan utama.

Informasi yang saya dapatkan dari teman saya. Daerah Kabupaten Lumajang ini merupakan salah satu daerah yang menjadi tujuan wisata untuk para wisatawan domestik dan mancanegara (internasional). Karena di daerah kawasan ini memiliki tempat wisata alam yang  menarik sekali untuk di kunjungi. Namun, dalam perjalanan wisata kali ini saya mengambil konsep yang berbeda untuk menelusuri kawasan daerah ini dengan mengikuti jejak sejarah dari perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk, dengan menelusuri jejak sejarah Situs Biting.

Lanjut.................
Di kawasan daerah Lumajang ini kita akan menemukan suatu situs bangunan bersejarah dari peninggalan Kerajaan Majapahit. Di mana dalam catatan sejarah yang terdapat di dalam Kitab Negarakertagama yang di tulis oleh Mpu Prapanca diterangakn bahwa kawasan ini pernah di kunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada saat beliau melakukan perjalanan ritual menuju Candi Jabung. ( Baca : Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk )

Menelusuri jalan setapak yang beralaskan tanah merah di antara perumahan adan kampung desa di sekitar Dusun Biting, membuat perjalanan wisata ini bagaikan perjalanan wisata yang penuh nuansa petualngan yang mengasyikan. Untungnya pada saat saya sampai di lokasi, cuaca sangat bersahabat dan tidak turun hujan. Dan teman saya pun sepertinya sudah hafal dengan lokasi area ini. Jadi tidak ada kendala yang berarti dalam perjalanan kali ini.

Konon, Situs Biting ini tercatat juga sebagai bangunan sejarah dari peninggalan Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Aria Wiraraja. Dan lokasi Situs Biting ini berlokasi di daerah Dusun Biting, Desa Ketorenon, Kecamatan Sukodonon, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Posisi Situs Biting ini ternyata berdiri di atas lahan milik warga dan Perhutani. Itulah informasi yang saya dapatkan di lokasi. Nah loh...... lo bisa ya ?....  ya bisa lah.... karena situs ini kan pada awalnya tidak di ketahui dan enatah berapa luas dari bagian Situs Biting ini yang masih terpendam dalam tanah akibat proses siklus alam. Hal ini terungkap setelah di lokasi Situs Biting di adakan penelitian dalam bidang arkeologi dan sejarah di sana.

Lanjut............
Bentuk bangunan dari Situs Biting ini terlihat seperti bukit kecil yang berada di dekat perumahan yang berjarak +/- 40 meter, dan lokasinya dekat dengan sebuah sugai. Secara sepintas bila kita lihat dan mendekati situs Biting ini, bangunan ini bagaikan benteng pertahanan. Konon dulunya benteng ini sebagai tempat untuk mengintai musuh dan sekaligus menjadi benteng pertahanan dari Kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Menaiki bukit kecil hingga berdiri di atas benteng membuat saya merasa takjub dengan stratergi ilmu perang yang di gunakan pada masa lalu. Walau terlihat hanya berupa kotak dengan  kedalaman +/- 8 - 10 meter dan ketebalan dinding diding seluas +/- 6 meter lokasi ini bisa menggambarkan betapa strategi ilmu perang bangsa Indonesia yang di gunakan pada masa Kerajaan dulu sudah bisa memberikan sebuah inspirasi. Belum lagi bila di kawasan ini terus di kembangkan penggalian untuk di lakukan penelitian arkeologi dan sejarah. tentu akan terkuak tentang kebesaran dari Kerajaan Majapahit yang pernah ada di lokasi ini.

Setelah melihat beberapa titk obyek di lokasi Situs Biting ini, saya bersama teman saya pun melanjutkan perjalanan wisata saya menuju ke kawasan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Di mana di kawasan Probolinggo tersebut saya akan menuju salah satu situs Candi Jabung yang memiliki catatan cerita sejarah yang menarik untuk di telusuri. ( Baca : Di Balik Keindahan Candi Jabung )

Terlepas dari informasi yang saya lihat dan saya dapatkan di lokasi Situs Biting ini, tentu kita sebagai warga dan masyarakat berharap agar upaya dan pelestarian akan sebuah pengembangan dari penelitian sebuah sejarah dari analisa ilmu arkeologi ini dapat berjalan dengan lancar. Sehingga apa yang menjadi suatu pertanyaan dari Misteri dan Kebesaran Kerjaan Majaphit yang telah tersohor di penjuru negeri nusantara hingga belahan bumi ini, bisa di nikmati oleh genarasi bangsa Indonesia.

Menelusuri jejak Sejarah Situs Biting ini kita akan di bawa dalam nuansa kebesaran dari kejayaan Kerajaan Majapahit yang hingga kini masih belum tuntas terpecahkan. Semoga informasi yang saya dapatkan di lokasi Situs Biting ini dapat menawambah wawasan kita bersama bagi para pecinta Ejawantah Wisata, terutama dalam memberikan piliha konsep perjalanan wisata. Karena perjalan wisata sejarah di Indonesia itu lebih nikmat dan banyak ilmu pengentahuan yang dapat kita peroleh sebagai penunjang pendidikan dan pengetahuan.





Salam wisata,

DI BALIK PESONA KEINDAHAN CANDI JABUNG

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html
Di Balik Pesona Keindahan Candi Jabung. Candi Jabung yang terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Candi Jabung merupakan salah satu candi Hindu yang terdapat di kawasan Jawa Timur, dan tercatat sebagai salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit.

Lokasi Candi Jabung sendiri berjarak +/- 5 km dari Kraksaan dan berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo.

Perjalanan saya di kawasan Situs Candi Jabung di kawasan Lumajang merupakan salah satu rangkaian perjalanan wisata yang saya lakukan setelah mengunjungi Situs Biting. Di mana lokasi ini tercatat dalam sebuah kitab Negarakertagama sebagai tujuan akhir perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk pada masa memimpin Kerajaan Majapahit untuk melakukan upacara "srada". ( Baca : Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk ).

Perjalanan menuju kawasan Candi Jabung ini saya melalui jalan desa. Dan perjalanan ini saya di temani dengan seorang sahabat yang merupakan penduduk asli dari Trowulan. Jadi tidak terlalu sulit saya sampai di lokasi ini. Walau lokasi candi berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo, lokasi ini terlihat tenang.

Tiba di kawasan Candi Jabung saya bersama teman waktunya masih belum terlalu sore. Terlihat bangunan candi yang menjulang tinggi dapat mudah dikenali dari kejauhan. Setibanya kami di lokasi candi, kami pun langsung bertemu dengan salah seorang juru rawat Candi Jabung atau yang di kenal dengan anam kuncen Candi Jabung. Beliau bernama Bapak Abdul Rahman. Di mana beliau pernah ikut andil dalam proyek pemugaran Candi Jabung pada tahun 1980 yang di lakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo.

Lanjut........
Konon informasi yang saya terima dari juru kuncen Candi Jabung, Candi ini di yakini sebagai tempat para leluhur Raja Hayam Wuruk. Sehingga pada masa lalu Sang Raja melakukan upacara ritual sambil mendoakan para leluhurnya sambil meminta petunjuk Tuhan melalui ritual untuk mendapatkan sebuah ilham yang baik dalam mempimpin Kerajaan Majapahit yang beliau pimpin.

Memasuki kawasan Candi Jabung, kita bisa menemukan sosok bangunan candi yang menjulang tinggi bagaikan bangunan pencakar langit. Bangunan Candi Jabung ini terbuat dari bata merah yang tersusun rapih. Namun, sangat di sayangkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi terlihat sudah pada haus.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html

Informasi yang saya dapatkan di lokasi, di balik pesona keindahan Candi Jabung ini ternyata terdapat suatu peristiwa yang menyebabkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi menjadi terkikis. Hal ini di sebabkan akibat dari pengikisan dari pasir laut yang di gunakan untuk menimbun (menguruk) candi agar tidak terlihat dan terselamatkan dari serangan penjajah pada masa tahun 1942 Masehi.

Dalam sebuah catatan bangunan Candi Jabung kit bisa melihat bahwa candi ini berukuran panjang bangunan 12,11 meter, dengan lebar bangunan candi 9,58 meter, dan tinggi bangunan candi 15,58 meter.

Candi Jabung ini telah mengalami pemugaran pada tahun 1980 - 1986 yang di lakukan oleh Pemerinatah Derah Kabupaten Probolinggo. Sebelum pemugaran candi ini hanya memiliki luas area yang sempit, yaitu berkisar 35 x 40 meter persegi. Namun, setelah di lakukan pemugaran dan penelitian di area Cadni ini ternyata kawasan area ini luasnya bertambah menjadi 20.042 meter persegi.

Bila di tinjau dari segi seni bangunan arsitektur, Candi Jabung kita dapat melihat sisi-sisi pesona keindahannya seperti dari bentuk bagian tubuh candi yang berbentuk bulat atau silender persegi delapan, dan bangunan candinya berdiri menjulang atap langit yang memiliki tiga tingkat berbentuk persegi. Sedangkan bagian atap candi berbentuk pagoda atau yang di kenal dengan nama stupa. Namun, bila kita perhatikan secara perlahan pada bagian puncak Candi Jabung kita akan melihat relif motif salur-saluran yang indah.

Lanjut............
Bergeser ke sebelah barat lokasi Candi Jabung. Di lokasi ini kita akan menemukan sebuah pintu bilik yang menghadap ke arah sebelah barat, di mana bagian depannya ada sebuah anak tangga yang menjorok ke depan dan bisa dinaiki oleh siapa saja untuk menuju lokasi bilik ruangan candi yang berada di atas.

Dari pengalaman saya di lokasi, untuk menaki anak-anak tangga tersebut tidak lah mudah. Bagi kita yang akan menaiki anak tangga hingga sampai di lokasi puncak atas depan bilik candi di butuhkan perjuangan ekstra. Dan bagi kita yang akan mencobanya sangat di sarankan untuk berhati-hati di area ini. Terutama bila pada saat musim penghujan. Dan jangan membawa barang bawaan atau tas yang menambah berat beban dan ruang bebas kita dalam menapaki setiap anak tangga yang kecil untuk hingga sampai ke atas.

Lanjut............
Dengan sedikit perjuangan melalui anak tangga sebelah barat, sampailah saya di ruang dalam Candi Jabung yang berada di posisi atas. Tentunya perjalanan kali ini saya tidak melakukannya sendiri. Dengan mengikuti bekas jejak Bapak Adul Rahman di setiap anak tangga yang bisa di lewati hingga sampai di atas atau pun depan bilik pintu Candi Jabung.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html

Setelah sampai di lokasi puncak dan berada di depan pintu bilik Candi Jabung, kita bisa melihat sebuah tulisan di atas pintu ruangan badan Candi. Dalam tulisan tersebut kita dapat melihat bahwa keterangan di bangunnya Candi Jabung ini di buat pada tahun 1276 c (saka) atau pada tahun 1345 Masehi. Di mana pada tahun tersebut merupakan salah satu masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Dari lokasi atas candi terlihat sosok bangunan di sebelah barat dari Candi Jabung terdapat sebuah bangunan candi juga. Dari informasi yang saya terima di lokasi. Menara sudut candi yang di perkirakan sebagai penjuru pagar di lokasi candi, dan memiliki fungsi sebagai pelengkap bangunan Candi Jabung. Candi tersebut di berinama Candi Menara Sudut, dan bangunannya juga terbuat dari bata merah yang sama, dan sisi-sisi candinya berukuran +/- 2.55 meter, dengan ketinggiian banguan +/- 6 meter.

Lanjut...........
Yang paling menarik dalam penelusuran saya untuk tahu asal usul dari nama Candi Jabung dari keterangan juru kunci Candi, beliau mengatakan bahwa dulunya lokasi candi ini merupakan dataran yang berbentuk cekung ke dalam tanah. Setelah di urut dan di adakan pemugaran maka nama "Jabung" tersebut pilihlah untuk nama candi ini.

Namun, bila kita melihat dari kitab Nagarakertagama, Candi Jabung ini merupakan lokasi yang pernah di kunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada masa tahun 1359 Masehi untuk melakukan upacara ritual. Dan dari keterangan yang terdapat di dalam kitab Paraton disebutkan Sajabung merupakan tempat pemakaman Bhra Gundul yaitu salah sorang keluarga raja. ( Baca : Menelusuri Negarakertagama )

Terlepas dari beberapa keterangan tersebut di atas bersumber dari nara sumber dan daftar pustaka yang berbeda tentang asal usul nama Candi Jabung ini. Kita bisa melihat bila cerita ini kita jadikan satu dan menjadi sebuah rangkaian cerita maka kita akan menemukan bahwa lokasi Candi Jabung yang di pilih oleh Raja Hayam Wuruk untuk melakukan upacara ritual "srada" di jadikan sebuah tempat untuk mencari ilham dari Tuhan untuk mempimpin Raja Majapahit sambil beliau merawat atau pun mendoakan para leluhurnya di lokasi area tersebut.

Informasi kejelasan dari ide pembanguanan dan keberadaan lokasi Candi Jabung ini kita bisa melihat di dalam prasasti Gajah Mada. ( Baca : Mengenal Prasasti Gajah Mada )

Mengakhiri perjalanan wisata sejarah saya di kawasan Candi Jabung dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk ini, terlintas dalam pikiran bahwa dengan sebuah susunan batu bata merah bisa berdiri sebuah candi yang megah hingga berusia berabad-abad. Tentu apa yang bisa kita lihat di lokasi ini adalah sebuah bukti sejarah dan nilai seni arsitektur bangunan yang luar biasa yang bisa di kaji lebih jauh dari pembelajaran yang dapat diambil di balik pesona keindahan Candi Jabung.




Salam wisata,

JEJAK SEJARAH MAJAPAHIT DI SITUS RAOS PACINAN

http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-sejarah-majapahit-di-situs-raos.html
Jejak Sejarah Majapahit Di Situs Raos Pacinan. Lokasi Situs Raos Pacinan yang berlokasi di Dusun Raos, Desa Carat, Kelurahan Carat, Kecamatan Gempol berjarak +/- 10 km di  Selatan Sidoarjo, Jawa Timur. Situs ini walau tidak tercatat dalam kita Negara Kertagama, keberadaannya memiliki cerita sejarah dari jejak Majapahit juga loh....

Perjalanan saya dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk di tempat wisata daerah Jawa Timur merupakan salah satu perjalanan wisata petualangan yang penuh dengan informasi, terutama dari setiap informasi catatan sejarah bersumber dari lokasi di sekitar kawasan daerah tersebut. Kisah perjalanan nama besar Kerajaaan Majapahit, membawa diri saya hingga menginjakkan kaki di daerah Dusun Raos ini. Kehadiran saya di lokasi bukan sebagai akhli sejarah dan arkeologi, namun hanya sebagai pecinta dunia sejarah tentang kebesaran bangsa Indonesia.

Awal perjalanan wisata ini, saya bergerak dari kawasan Trowulan. Awalnya perjalan wisata kali ini saya akan menuju kawasan Candi Pari. Dikarenakan lokasi Situs Raos Pacinan dekat dan searah dengan Candi Pari, maka saya pun mengambil keputusan untuk mampir sejenak di situs ini untuk mendapatkan informasi tentang jejak sejarah Majapahit di situs Raos Pacinan.

Tepat di pinggir jalan besar antara Mojosari - Gempol, sebua papan penunjuk arah menuju lokasi Situs Raos Pacinan dapat kita temukan. Walau Terlihat sudah agak miring, namun petunjuk arah jalan menju lokasi tersebut masih mengarahkan kita kepada petunjuk jalan yang benar menuju ke lokasi situs yang akan di saya tuju.

Memasuki lokasi Situs Raos Pacinan yang berjarak +/- 1,5 km dari jalan utama, saya bersama rekan harus melewati jalan perkebunan tebu dan kanal-kanal dari Sungai Porong. Perjalanan yang cukup memberikan kesan petualangan sendiri yang mengasyikan di area Desa ini. Apalagi pada saat melewati jalan yang beralaskan tanah merah dengan pagar rumput kecil yang membatasi dinding jalan, serasa sedang berada di area motor cross.

Setibanya kami di lokasi, terlihat jelas sebuah papan nama yang bertuliskan Situs Raos Pacinan, Dusun Raos, Desa Carat, Kelurahan Gempol. Saya pun berkenalan dengan seorang penjaga atau juru rawat situs (kuncen) Situs Raos Pacinan yang bernama Bapak Soemari. Sambil melepas lelah selama perjalanan, saya bersama teman menikmati air perbekalan yang kami bawa, sambil mendengarkan cerita dari nara sumber kami tentang keberadaan jejak sejarah Majapahit di Situs Raos Pacinan.

Informasi yang saya dapatkan.......
Konon, sebelum tahun 1965 situs ini memiliki cungkup dan pendopo untuk memayungi patung dwarapala atau yang di kenal sebagai raksasa penjaga Situs Raos Pacinan ini.. Dan lokasi ini sering di kunjungi oleh para pengusaha etnis Tionghoa untuk mencari dan mendapatkan petunjuk ilham menurut keyakinan dan kepercayaan mereka di tempat ini. Namun, pada masa gejolak politik di Indonesia pada tahun 1965, Situs Raos Pacinan merupakan salah satu objek yang terkena imbas dari pengerusakan pada masa pergolakan di tahun tersebut.

Lanjut.......
Konon nama Desa Carat ini berasal dari sebuah nama lama yang terdapat di dalam Prasasti Gunung Butak (1294. Dimana di dalam cerita tersebut di terangkan bahwa setelah mengalah tentara pemberontak Gelang-Gelang (Kediri) di Kedung Peluk dan Kapulungan, Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Singhasari. pada saat itu Kertanegara menghadapi kemenangan terakhirnya di Rabut Carat.

Lanjut........
Setelah kejadian itu Beliau segera bergerak ke arah utara bersama Ardharaja, namun dari arah Hanyiru, muncullah armada besar Kediri yang memporak porandakan barisan pertahanan Singhasari. Ardharaja pun membelot dan meninggalkan Raden Wijaya berjuang sendirian. Dan pada akhirnya Beliau bersama-sama dengan sisa pasukannya yang berjumlah 600 orang melarikan diri dan bersembunyi sementara waktu di Rabut Carat.

Sekelumit cerita perjalanan perjuangan di atas itu merupakan catatan kecil yang bisa saya catat dari keterangan nara sumber Bapak Soemari sebagai salah seorang juru rawat (kuncen) Situs Raos Pacinan. Sedangkan untuk cerita keberadaan dua buah patung dwarapala yang terletak di lokasi situs adalah merupakan simbol sebuah pangkalan militer aliansi Majapahit - Tentara Mongol sebelum melakukan serangan balasan terhadap pemberontakan Gelang-Gelang di Kediri.

Lanjut........
Konon, dulunya area Situs Raos Pacinan dulunya merupakan salah satu gerbang masuk ke wilayah kantor persekutuan  dua pasukan aliansi dari Majapahit - Tentara Mongol. Hal ini di dukung keberadaan di kawasaan lokasi Situs Raos Pacinan yang dekat dengan Sungai Porong yang berjarak +/- 30 meter yang di jadikan sebagai sarana fasilitas tempat bersandarnya kapal-kapal mereka pada masa lalu.

Dari cerita ini semua, secara pribadi saya mencoba untuk menela'ah dengan pikiran sehat, jadi dulunya lokasi kawasan ini merupakan sebuah pangkalan militer. Dan tidak mengherankan bahwa Delta Sungai Berantas - Porong memang memiliki sebuah catatan sejarah besar bagi bangsa Indonesia, yang menjadi salah satu lokasi terpenting dari sebuah peristiwa perjalanan sejarah negeri ini.

Terlintas dalam benak pikiran, mungkinkah di daerah kawasan ini masih terdapat situs peninggalan sejarah bangsa Indonesia yang masih terpendam dan belum terangkat akibat proses alam ? Bila saja lokasi ini dapat di optimalkan dari segi bidang observasi pendidikan arkeologi dan sejarah, kemungkinan dengan objek situs yang ada ini lokasi ini dapat menjadikan tempat wisata ini sebagai sarana informasi sejarah yang menarik. Apalagi bila kawasan di daerah ini dapat menjadi salah satu kawasan desa wisata yang tertata rapih.

Setelah photo-photo saya bersama teman saya pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi tempat wisata sejarah lainnya di Candi Pari untuk melanjutkan perjalanan wisata dalam menemusuri jajak perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk.

Jejak Sejarah Majapahit di Situs Raos Pacinan merupakan catatan kecil yang saya peroleh selama melakukan perjalanan wisata di tempat wisata di daerah kawasan Jawa Timur ini. Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat untuk para rekan dan pecinta Ejawantah Wisata semua dalam mengambil sebuah pembelajaran dari nilai sejarah dari sebuah potensi nama besar situs sejarah yang mencatat jejak sejarah Majapahit di Situs Raos Pacinan.




Salam wisata,

JEJAK RITUAL RAJA HAYAM WURUK

http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-ritual-raja-hayam-wuruk.html
Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk - Mojokerto merupakan salah satu wilayah Jawa Timur yang memiliki kawasan obyek wisata yang sangat menarik di kunjungi. Di mana lokasi ini terdapat situs bersejarah bekas Ibu Kota Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan besar yang pernah ada di indonesia.

Kehadiran saya di kawasan daerah ini, salah satunya ingin menelusuri jejak rutual Raja Hayam Wuruk yang terdapat di dalam catatan sejarah.

Untuk menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk ini di beberapa kawasan daerah yang memiliki situs bersejarah tetang cerita sejarah kejayaan Kerajaan Majapahit di tanah Jawa, yang kini lokasi tersebut di jadikan tempat wisata sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

Sebuah pintu gerbang masuk di kawasan tempat wisata Trowulan Kerajaan Majapahit, kita dapat melalui pintu gerbang yang di berinama "Uringin Lawang"  dan "bajang ratu"  Dari silsilah raja Majapahit saya temukan di lokasi,   tercatat dalam sejarah sebagai raja terbesarnya adalah "Rajasanagara" atau yang dikenal dengan nama "Hayam Wuruk". Tercatat dengan jelas bahwa Hayam Wuruk berkuasa dari tahun 1350 M - 1389 M. Anda dapat melihat dalam foto di bawah.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-ritual-raja-hayam-wuruk.html

Menurut Negara Kertagama yang di tulis Mpu Prapanca diketahui bahwa Raja Hayam Wuruk pernah melakukan perjalanan ritual ke daerah Lumajang dengan melalui beberapa tempat persinggahan. Di mana pada masa lalu Raja Hayam Wuruk singgah di beberapa tempat suci, yang hingga kini tempat tersebut masih ada dan bisa dinikmati oleh setiap orang, bahkan lokasi ini di jadikan tempat wisata sejarah dan budaya di kawasan daerah tersebut.

Lanjut...........
Tempat singgah atau yang dikunjungi dari perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk diantaranya adalah Candi Pari, Situs Banyubiru, Situs Biting, dan Candi Jabung. Dari informasi yang saya dapatkan di pusat sejarah Majapahit Trowulan, sebelum ke Candi Pari Raja Hayam Wuruk di perkirakan singgah di kawasan daerah Raos Pacinan yang berada di Selatan Sungai Berantas, dan saat ini lokasi tersebut masuk dalam kawasan Kabupaten Pasuruan.

Memasuki lokasi Situs Raos Pacinan yang jaraknya +/- 1,5 km dari jalan utama, saya harus melewati jalan yang beralaskan tanah merah dengan pagar rumput kecil yang membatasi dinding jalan. Dan lokasinya pun berdekatan dengan kawasan Candi Pari. Kenadaraan sepeda motor yang saya gunakan untungnya masih tergolong umur muda. Ya,,,,,, inilah salah satu keuntungan memiliki kawan yang bisa mengantarkan saya sekaligus sebagai pemandu wisata lokal untuk menuju lokasi tersebut.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-ritual-raja-hayam-wuruk.html

Sampai di lokasi Situs Raos Pacinan saya menemukan sebuah papan nama yang menandakan lokasi situs tersebut. Di lokasi Situs Raos Pacinan ini kita akan menemukan dua patung "dwarapala" atau yang di sebut dengan nama "Gupala" yang berarti penjaga candi. Patung ini terbuat dari batu. (Baca : Jejak Sejarah Majapahit Situs Raos Pacinan)

Tidak jauh dari lokasi Situs Raos Pacinan terdapat Candi Pari yang konon dulunya di pergunakan oleh Raja Hayam Wuruk untuk melakukan upacara ritual atau "srada". Lokasi kawaan candi ini berada di wilayah Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-ritual-raja-hayam-wuruk.html

Setelah dari Candi Pari Raja Hayam Wuruk melanjutkan perjalanan meuju situs Banyubiru di daerah Kabupaten Pasuruan. Sekarang kawasan ini menjadi tempat wisata kolam renang dan menjadi sumber air minum bagi kawasan masyarakat di sekitarnya.

Photo:
http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-ritual-raja-hayam-wuruk.html

Konon dalam catatan sejarah Situs Banyubiru merupakan daerah percandian, dan lokasi ini terdapat sebuah sumber mata air dan pernah di singgahi oleh Raja Hayam Wuruk. Salah satu bukti bahwa lokasi Situs Banyu Biru ini merupakan kawasan bekas percandian, dan di lokasi ini kita dapat menemukan banyak patung.

Lanjut..........
Dari Situs Banyubiru saya pun melajutkan perjalanan menuju Kota Lumajang. Di mana kawasan daerah Lumajang dikenal sebagai daerah penghasil buah pisang. Buah pisang di kawasan daerah Lumajang yang terkenal khususnya "pisang agung" di mana bentuk buahnya yang besar dan tahan lama bila di simpan.

Photo  :


Di daerah Lumajang inilah jejak ritual Raja Hayam Wuruk pernah tercatat dalam sejarah. Dan salah satunya adalah Situs Biting yang merupakan benteng benteng kerajaan Majapahit yang berfungsi sebagai benteng pertahanan. Situs benteng ini terletak di tepi sungai desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. ( Baca : Menelusuri Jejak Sejarah Situs Biting )

Lanjut.............
Dari kawasan daerah Lumajang, perjalanan pun saya lanjutkan menuju ke daerah Probolinggo untuk mengunjungi Situs Candi Jabung. Di mana di candi ini konon Raja Hayam Wuruk tercatat dalam sejarah melakukan upacara ritual "srada". Perjalanan menuju Candi Jabung ini saya melalui jalan desa, di mana kawasan ini terlihat begitu asri dan tenang. Menurut informasi yang saya dapatkan dari salah seorang kuncen setempat, bahwa Candi Jabung ini di yakini sebagai tempat leluhur Raja Hayam Wuruk.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-ritual-raja-hayam-wuruk.html

Memasuki kawasan Candi Jabung telihat jelas sosok bangunan yang mejulang tinggi, dan bahan dasar bangunannya terbuat dari bata merah, namun sayangnya panel-panel yang terdapat di dinding candi terlihat sudah haus karena terkikis oleh garam laut. Konon menurut cerita, candi ini pernah di uruk oleh pasir laut yang di fungsikan sebagai penutup situs candi ini dari serangan masa penjajahan Jepang pada tahun 1942. Dan akibat timbunan dari pasir laut tersebut maka situs Candi Jabung terlihat banyak yang haus.
Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-ritual-raja-hayam-wuruk.html

Akibat dari pengikisan dinding Candi Jabung sulit sekali untuk dikenali jalan cerita menghiasi candi yang terdapat di dinding candi. Di lokasi ini saya mendapatkan cerita menarik dari seorang juru kuncen yang bernama bapak Abdul Rahman, konon dulunya Candi Jabung ini bernama Candi Kalayu, yang dikenal sebagai tempat pemujaan atau tempat peristirahatan pada masa itu.

Menurut penuturan dari bapak Abdulah, Candi Kalayu berubah nama menjadi Candi Jabung, hal tersebut berhubungan dengan nama lokasi daerah sekitar Candi yang lokasi konon dulunya merupakan kawasan tanah berbentuk cembung ke dalam (tanah legok).itulah sekilah informasi yang saya dapatkan di lokasi. ( Baca : Di Balik Pesona Keindahan Candi Jabung )

Di situs Candi Jabung ini,  berakhir juga jelajah wisata sejarah saya dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk di kawasan daerah Jawa Timur. Banyak pembelajaran bagi saya dalam menelusuri jejak sejarah di setiap kawasan obyek wisata yang memiliki nilai sejarah yang sangat penting Di mana kisah cerita dari sebuah situs bersejarah merupakan rangkaian perjalanan seorang tokoh Raja Majapahit Hayam Wuruk, di mana di lokasi yang selalu di datangi, beliau selalu disambut dengan merriah dan pesta besar, dengan menampilkan pertunjungan kesenian dan hidangan yang melimpah ruah.

Konon menurut cerita sejarah, dari jejak ritual Raja Hayam Wuruk inilah tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh sisa-sisa kesenian dan seni boga yang berakar pada jaman Majapahit tersebut masih meninggalkan pengaruh pada seni tari dan makanan tradisonal di kawasan Lumajang, pasuruan, Probolinggo, Malang, Porong Surabaya dan sekitarnya. Semoga bermanfaat bagi kita dalam menambah wawasan dtentang sejarah dan budaya dari salah satu kisah dari bekas Kerajaan Maapahit.



Salam wisata,

DIBALIK LEGENDA SEJARAH MAJAPAHIT

http://ejawantahtour.blogspot.com/2014/02/dibalik-legenda-sejarah-majapahit.html
Dibalik Legenda Sejarah Majapahit.  Menelusuri jajak sejarah di kawasan Trowulan membuat saya melihat satu sisi pembelajaran yang sangat berharga. Dimana saya mendapat pelajaran dari pesan yang tersirat di lokasi, dan salah satunya adalah mengenai sebuah Legenda Sejarah majapahit tentang kolam"Segaran".

Lokasi situs sejarah Kerajaan Majapahit  ini berada di kawasan Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit membentuk peradaban di Trowulan sejak abad 12. Dan  konon dulunya Kolam Segaran ini merupakan salah satu tempat santai para pembesar Kerajaan Majapahit bersama ratu dan selirnya. Di tambah ada sebuah cerita lain bahwa pada masa lalu di kolam ini pernah di buang harta kekayaan dari Kerajaan Majapahit berupa bentuk barang perhiasan yang beragam di dalam kolam ini pada saat menerima tamu dari negeri Tiongko.

Photo Kolam Segaran :
http://ejawantahtour.blogspot.com/2014/02/dibalik-legenda-sejarah-majapahit.html

Terlepas dari cerita dibalik legenda sejarah Majapahit tentang kolam segaran ini,  Kita bisa melihat bahwa pola kehidupan Majapahit dan masyarakatnya menyisahkan instalasi pengairan yang lengkap dan beragam. Dari sistem pengairah di Majapahit Trowulan, saya bisa melihat bahwa pengairan di kawasan daerah ini terdiri dari kolam penampungan, jaringan kanal, waduk dan bak kontrol.  Namun, di saat saya hadir di lokasi sebagian dari itu semua yang ada telah terlupakan dan berubah wujud beralih fungsi.

Lanjut..........
Salah satu instalansi air yang masih tersisah adalah kolam penampungan seluas 6,5 hektar dengan nama kolam" segaran".  Kedalaman kolam segaran ini di perkirakan sedalam 4 meter. Sebagian dinding kolam sebagaian telah mengalami pemugaran sekitar tahun 1975.  Namun sebagai lainnya terlihat masih bisa saya lihat terbuat dari bata asli di masa Majapahit. Itulah informasi yang saya dapatkan melalui keterangan instasi yang terkait.

Dari informasi yang dapatkan di Museum Troluwan, jaringan kanal air Majapahit Trowulan memanjang sekitar 4 - 5 km dengan pola bersilangan, lebar kanal bervariasi mulai dari 20 - 80 m, dengan kedalam 6 - 9 meter. Kanal di buat secara sitematis dengan membelah kota. Air dari hulu di alirkan dari kanal menuju waduk di sekitar Trowulan, lalu menyebar menjadi sarana irigasi.

Kanal air di Trowulan terkenal juga sebagai pengendali banjir, dan sebagai pengaturan kelembaban udara. Sistem pengairan di Trowulan juga di rangkai untuk keperluan pemujaan, sebagian air dari kanal-kanal di alirkan ke lokasi Candi Tikus, di Desa Temon.

Photo Candi Tikus :
http://ejawantahtour.blogspot.com/2014/02/dibalik-legenda-sejarah-majapahit.html

Lanjut.........
Candi Tikus diperkirakan berfungsi sebagai kolam pemandian dengan saluran air bawah tanah. Kanal di bawah tanah berfungsi untuk mengatur debit air di kolam. Saat air berlebih salurah air di dalam tanah menyalurkannya ke sungai-sungai yang ada di sekitar Trowulan. Hal inilah yang dapat saya ambil dibalik legenda sejarah Majapahit ini.

Sejarah mencatat bahwasanya air tidak pernah menjadi ancaman bagi Majapahit. Manajemen air yang dirangkai membuat Trowulan terbebas dari banjir saat hujan dan kekeringan kala kemarau tiba. Sistem pengairan di Trowulan menunjukan hasil karya dan pemikiran orang Majapahit yang layak di lestarikan. Namun sejarah hanya bisa banyak memberi arti saat peninggalan yang tersisa tetap di jaga dan lestari. Semoga kita dapat mengambil pembelajaran dibalik legenda sejarah Mapahit.




Salam wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus