MENGENAL GAJAH MADA DI TEMPAT WISATA JAKARTA

http://www.ejawantahtour.com/2014/06/mengenal-gajah-mada-di-tempat-wisata-jakarta.html
Mengenal Gajah Mada Di tempat Wisata Jakarta.- Dalam sejarah Gajah Mada dikenal dengan nama lain Mpu Mada, Jaya Mada, atau Dwira Mada. Dan menurut versi agama nama lain Gajah mada adalah Lembu Muksa, yang dianggap sebagai penjrlmaan Mahadewa Wisnu.

Nama Gajah Mada memiliki arti Gajah yang galak dan tangkas, penuh dengan kegiatan ketika ia sedang memendam birahi. Hal ini dapat kit lihat dari perjalanan hidup nya dalam membaktikan dirinya kepada Kerajaan Majapahit pada tempo dulu.

Memperkenalkan sosok Gajah Mada dari dekat kepada anak-anak tentu merupakan tantangan tersendiri bagi kita yang memiliki anak-anak di usia sekolah. Hal inilah yang membuat saya harus memutar otak untuk dapat membantu menjawab setiap pertanyaan dari anak saya dalam membantu mengarahkannya untuk mengenal sosok nama besar Gajah Mada dalam sejarah perjalanan negeri Nusantara Indonesia.

Langkah sederhana agar anak mengenal dan mengetahui sejarah biasanya saya mengajaknya berkunjung ke tempat wisata di Jakarta yang di dalamnya memiliki keterangan tentang perjalanan sejarah itu sendiri. Jadi mereka tidak terlalu merasakan sebuah kejenuhan. Namun, resikonya kita harus siap-siap menjawab dari setiap pertanyaan anak-anak kita dengan bahasa mereka.

Tempat wisata Jakarta untuk memperkenalkan toko Gajah Mada mudah kita temukan, salah satunya di Museum Keprajuritan TMII yang terletak di dalam area TMII Jakarta Timur. Atau kita dapat menemukan di tempat wisata Jakarta seperti museum lainnya yang terdapat di daerah atau pun kota di dekat tempat tinggal kita.

Lanjut.......
Asal usul Gajah Mada sampai hari ini tidak diketahui sumber sejarah yang pastinya, dari tanggal lahir atau pun tempat lahir dari tokoh Gajah Mada ini. Banyak versi yang menceritakan tokoh Gajah Mada ini. Baik versi cerita kepercayaan orang Bali yang mengatakan bahwa Gajah Mada dilahirkan di Pualu Bali Agung. Hal ini terungkap seperti tertulis dalam kitab Usana Jawa. Sedangkan menurut versi lain Gajah Mada di lahirkan di daerah aliran Sungai Brantas daerah Malang, Jawa Timur.

Terlepas dari perdebatan asal usul nama besar Gajah Mada ini berasal dari daerah mana ? Namun, ada pembelajaran yang bisa kita peroleh dari tokoh yang memiliki nama besar ini. Bila kita melihat masa lalunya Gajah Mada, ia adalah seorang anak yang di lahirkan dari rakyat jelata, tidak bertopang kepada darah turunan raja, dan merupakan rakyat murba yang acap kali dilangkahi oleh sejarah yang berpihak kepada yang dianggapnya lebih menarik dari perhatiannya.

Hal yang cukup membuat gempar dari Gajah Mada ini adalah bunyi dari Sumpah Palapa yang diucapkannya, yang hingga saat ini cukup dikenal di seluruh jagad Nusantara.

Isi Sumpah Palapa Gajah Mada
"Sira Gajah Mada Pepatih Amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa".
Arti Isi Sumpah Palapa Gajah Mada
"Gajah Mada sebagai Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Gajah Mada berkata, "Bila telah megalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa"

Lanjut........
Konon, menurut cerita sejarah, pada saat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa seperti yang tertera di atas dihadapan Ratu Tribhuwanatunggadewi, dia mendapatkan perlakukan diejek sambil di caci maki, dan banyak yang tidak percaya, dan dihina oleh Arya Tadah. Hal ini di karenakan Gajah Mada mengucapkan sumpahnya dengan kesuguhan hati, dan ia pun sangat marah ketika menjadi bahan ejekan dan tertawakan. Dan kesungguhan Sumpah Palapa Gajah Mada  pun dapat dia buktikan dalam menunaikan tugas Politik Nasantara-nya.

Pada hakikatnya, Sumpah Palapa Gajah Mada tersebut merupakan penguman resmi tentang program politik pemerintah yang dipimpinnya. Karena Ratu Tribhuwanatunggadewi yang saat itu memerintah. pada dasarnya banyak berhutang budi kepada Gajah Mada. Maka dalam kenyataannya, politik pemerintahan itu hampir seluruhnya ada di tangan Patih Amangku Bumi. Dan program politik Gajah Mada tersebut sebenarnya adalah kelanjutan gagasan Nusantara Raja Kertanegara. Lebih tepatnya disebut sebagai Gagasan Nusantara II.

Tentu ada dari teman-teman dan pemabaca setia Ejawantah Wisata yang memiliki pertanyaan siapakah tokoh Ratu Tribuwanatunggadewi ini, dan apa hubungannya dengan cerita Gajah Mada ?

Seperti yang pernah saya jelaskan dalam artikel postinga terdahulu bahwa Gajah Mada memiliki peranan penting di lingkungan Kerajaan Majapahit, hal ini bisa dibuktikan seperti yang tertulis dalam prasasti Gajah Mada. ( Baca : Mengenal Prasati Gajah Mada ).

Lanjut........
Bagitu kuat karismatik Patih Gajah Mada, sehingga hampir seluruh Nusantara dapat dipersatukan di bawah Kerajaan Majapahit. Patih yang sangat terkenal di jamannya, sebanding dengan  pemerintah waktu tersebut di bawah Prabu Hayam Wuruk. Sampai saat ini nama besar dan kemasyuran Patih Gajah Mada cukup dikenal dan dikagumi, ia merupakan tokoh yang pandai dan piawai dalam segala hal seperti ; strategi, hubungan, ketangkasan, sampai dengan pertempuran.

Dengan bantuan nasihat dan perancangan perdana menterinya, Gajah Mada mampu menaklukkan beberapa wisayah seperti : Wilayah Gurun (Lombok), Seran (Seram), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumater Utara), Pahang (Tanah Melayu), Dompo , Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Singapura). Dan wilayah-wilayah ini menajdi satu kesatuan di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit, sebagai pembuktian Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan Raja Ratu Tribhuwanatunggadewi.

Itulah sekelumit cerita sejarah dalam perjalanan wisata sejarah yang saya dapatkan di beberapa tempat wisata di Jakarta yang terdapat catatan perjalanan dan kisah dari Mahapatih Gajah Mada yang memiliki nama besar dari Kerajaan Majapahit.

Mengenal Gajah Mada Di Tempat Wisata Jakarta, mengantarkan kepada kita akan sebuah kerinduan seorang pemimpin yang berani mempertanggung jawabkan sumpah dan penjabaran program poltiknya di hadapan rakyatnya, walau ia terlahir dari rakyat biasa dan bukan bertopang kepada darah turunan ayah atau pun keluarga yang telah memiliki nama besar, ia pun acap kali selalu mendapatkan prilaku ketidak pedulian. Namun, perjalanan Gajah Mada di dalam catatan sejarah hidupnya dapat membuat nama Kerajaan Majapahit bahkan negeri Indonesia ini menjadi sebuah negeri nusantara yang besar dan disegani.[]




Salam Wisata,

MENELUSURI NEGARAKERTAGAMA

http://www.ejawantahtour.com/2014/04/menelusuri-negarakertagama.html
Menelusuri Negarakertagama hasil karya Mpu Prapanca atau disebut juga dengan nama Decawaronana yang merupakan kakawin Jawa Kuna yang paling termasyur. Dalam pengucapan kita selalu menggunakan kata Negarakertagama, namun yang sebenarnya adalah Nagarakertagema.

Naska Nagarkertagama ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September-Oktober 1365 M). Dan nama Mpu Prapanca bukanlah nama asli, melainkan nama pena dari penulisnya yang berarti "kesedihan", rintangan untuk tindakan utama (penyesalan, nafsu, kesombongan).

Sedangkan menurut informasi yang saya peroleh nama Nagakertagama memiliki arti sejarah pembentukan negara dan ini bukanlah nama asli sebenarnya, melainkan tambahan dari penyalin kawin tersebut pada bulan Kartika (Oktober-November) tahun Saka 1662 (tahun Masehi 1740). Menurut informasi yang dituliskan pada Mpu Prapanca sendiri didalam Nagarakertagama pada pupuh 94/2 menyebutkan ciptaannya decawaronana yang memiliki arti desa-desa.

Namun, nama yang diberikan oleh penctiptaannya sendiri ini malah dilupakan oleh masyarakat umum. Kakawin itu hingga sekarang biasa disebut Nagarkertagama. Nama ini di ambil dalam kolofon terbitan J.L Brander; iti Nagakertagama samapta.

Lanjut........
Menelusuri Negarakertagama tidak semudah membalikkan telapak tangan, di mana perjalanan dari suatu peristiwa sejarah harus dapat dirunut dengan benar dari berbagai sumber pustaka sejarah. Selain Nagarkertagama, Mpu Prapanca ternyata juga menciptakan beberapa kakawin lagi, yang memiliki nama juga disebut dalam kakawin Nagarakertagama pupuh 94/3, yaitu Tahun Saka, Lambang, Parwasagara, Bhismacaranantya, dan Sugataparwa.

Kakawin Lambang dan Tahun Saka belum selesai pada saat Prapanca menulis Nagarakertagama. Kedua kakawin itu akan dilanjutkan kemudian. Dimikianlah penciptaan Sugaragara, Bhismacaranantya, dan Parwasagara mendahului penciptaan Nagarakertagama. Apalagi yang diciptakan oleh Prapanca kemudian tidak diketahui.

Bahkan kakawin yang disebutkan dalam Nagarakertagama itu pun sebagian tidak sampai kepada kita. Namun, dia di antara lima kakawin tersebut dapat bangsa Indonesia miliki. Namun, hal ini semua masih merupakan persoalan yang menghendaki pemecahan secara disiplin ilmu sejarah dengan para ahlinya. Bila para shabat dan pembaca setia Ejawantah Wisata ingin mengetahui garis besar isi dari pupuh kakawin Nagarakertagama (Baca : Kearifan Mpu Prapanca).

Menelusuri Negarakertagama merupakan kisah kisah perjalanan wisata sejarah yang mengasyikan bagi saya pribadi, dari menelsuri jejak sejarah Kerajaan Majapahit di kawasan daerah Jawa Timur, hingga membuat sebuah catatan melalui beberapa refrensi catatan sejarah dari daftar pustaka yang bisa kita susun. Walau saya bukan dari ahli sejarah, namun kita bisa dapat  mengumpulkan buih-buih sejarah yang bisa kita dapatkan dan dedikasikan sebagai penambahan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, karena sebuah catatan sejarah akan meberiakn informasi catatan dan palaporan langsung menganai kehidupan di masa lalu khususnya Inodnesia yang memiliki sebuah tradisi dan budaya yang akan menambah pengetahuan kita bila di gali dan dikaji. Krena tradisi dan budaya Indonesia masih menyimpan sebuah ilmu penngetahuan yang masih banyak belum terkaji. Dan catatan ini merupakan bentuk kepedulian secara pribadi untuk generasi bangsa Indonesia.



Salam wisata,

Sumber
Perpustakaan Nasional RI

KEARIFAN MPU PRAPANCA

http://www.ejawantahtour.com/2014/04/kearifan-mpu-prapanca.html
Kearifan Mpu Prapanca. - Nama Mpu Prapanca adalah nama pena atau nama samaran untuk menyembunyikan identitas sebenarnya dari si penulis sastra ini. Hasil karyanya bersifat pujasastra, dan hanya hal yang baik yang dituliskan. Karena sifat pujasastra inilah, sebagian pihak mengkritik bahwa Nagarakertagama kurang netral dan cenderung membesar-besarkan kewibawaan Hayam Wuruk dan Majapahit.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang hasil karya Mpu Prapanca dengan hasil karyanya Nagarakertagama, tentu tidak ada salahnya kita menelisik kebelakang tentang kearifan yang telah di lakukan oleh Mpu Prapnca ini, di mana hasil karyanya Nagarakertagama berhasil diakui oleh badan dunia PBB oleh UNESCO pada tahun 2008, sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia (Memory of the Worl Program).

Lanjut......
Siapakah sebenarnya Mpu Prpanca itu ?........
Beradasarkan hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan dan diketahui bahwa penulis naskah Nagarakeratama bernama Dang Acarya Nadendra, seorang bekas pembesar urusan agama Buddha di Istana Majapahit, putra dari seorang pujangga di Istana Majapahit bernama Samenaka, dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. Informasi ini terdapat di dalam isi naskah kakawin Nagarakertagama 17/8.

Penulis naskah Dang Acarya Nadendra kakawin Nagarakertagama ini menyelesaikan haslkaryanya di usia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana. Namun, hingga hari ini umumnya orang atau pun kita mengetahui penulis dari kakawin Nagarakertagama ini bernama Mpu Prapanca.

Lanjut........
Semula, teks Nagarakertagama dikira hanya berwariskan dala sebuah naskah tunggal yang diselamatkan oleh J.L.A Brandes, seorang ahli sastra Jawa-Belanda yang ikut menyerbu Istana Raja Lombok. Ketika penyerbuan ini dilaksanakan oleh para tentara KNIL membakar Isatan Raja Lombok, maka Brandes menyelamatkan isi perpustakaan raja yang berisikan ratusan naskah lontar. Dan salah satunya adalah lontar Nagarakertagama.

Semua naskah dari Istana Lombok ini dikenal dengan nama lontar-lontar koleksi Lombok yang sangat termansyur. Koleksi Lombok disimpan di perpustakaa Universitas Leiden, Belanda. Dengan penuturan tersebut dapat diketahui bahwa naskah Nagarakertagama disimpan di Leiden, dan diberi namor kode L Or 5.023.

Lalu, dengan kunjungan Ratu Juliana, Belanda ke Indonesia pada tahun 1973, naskah ini diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Dan sekarang naskah Nagarakertagama disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan diberi kode NB 9.

Lanjut.........
Kearifan Mpu Prapanca mengajarkan kepada kita dalam hasil karyanya di dalam kakawin Nagarakertagama. Secara umum yang berisikan tentang uraian keadaan di Keraton Majapahit dalam masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, Raja Agung di tanah Jawa dan Nusantara yang bertahta dari tahun 1350-1389 M, pada masa puncak Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara.

Bagian terpenting dari teks Nagarakertagama adalah di mana Mpu Prapanca menerangkan danmenguraikan dalam bentuk tulisan daerah-daerah Kerajaan Majapahit yang harus menghaturkan upeti.

Naskah kakawin Nagarakertagama terdiri atas 98 pupuh.
Dan Pupuh 1-49 merupakan bagian pertama dari naskah kakawin Nagakertagama, bila dilihat dari isinya pembagian pupuh-pupuh ini sudah dilakukan dengan sangat rapih, yaitu :

  • Naskah kakawin Nagarakertagama pupuh 1-7 menguraikan raja dan keluarganya. 
  • Naskah kakawin Nagarakertagama pupuh 8-16 menguraikan tentang kota dan wilayah Majapahit. 
  • Naskah kakawin Nagarakertagama pupuh 17-39 menguraikan perjalanan keliling ke Lumajang. 
  • Naskah kakawin Nagarakertagama pupuh 40-49 menguraikan silsilah Raja hayam Wuruk, dengan rincian lebih detailnya pupuh 40-44 tentang sejarah raja-raja Singasari.
  • Naskah kakawin Nagarakertagama pupuh 45-49 tentang sejarah raja-raja Majapahit dari Kertarajasa Jayawardhana sampai Hayam Wuruk.
Sedangkan bagian kedua dari naskah kakawin Nagarakertagama juga terdiri atas 49 pupuh., yaitu :

  • Pupuh 50-54 menguraikan kisah Raja Hayam Wuruk yang sedang berburu di hutan Nandawa.
  • Pupuh 55-59 menguraikan kisah perjalanan pulang ke Majapahit.
  • Pupuh 60 menguraikan oleh-oleh yang dibawa pulang dari berbagai daerah yang dikunjungi.
  • Pupuh 61-70 menguraikan perhatian Raja Hayam Wuruk kepada leluhurnya berupa pesta srada dan zairah ke makam candi.
  • Pupuh 71-72 menguraikan tentang berita kematian Gajah Mada.
  • Pupuh 73-82 menguraikan tentang bagngunan suci yang terdapat di Jawa dan Bali.
  • Pupuh 83-91 menguraikan tentang upacara berkala yang berulang kembali setiap tahun di Majapahit, yakni musyawarah, kirap, dan pesta tahunan.
  • Pupuh 92-94 tentang pujian para pujangga, termasuk Prapanca kepada Raja Hayam Wuruk. Sedangakn, pupuh 95-98 khusus menguraikan tentang pujangga Prapanca yang menulis naskah tersebut.
Isi dari kakawin Negarakertagama semuanya bersifat pujasastra, artinya, karya sastra menyanjung dan mengagung-agungkan Raja Majapahit Hayam Wuruk, serta kewibawaan Kerajaan Majapahit. Namun, karya ini semua bukan disusun atas perintah Hayam Wuruk dengan tujuan politik pencitraan diri ataupun legitimasi kekuasaan. Melainkan murni dari kehendak sang pujangga Mpu Prapanca yang ingin menghaturkan bakti kepada Sang Mahkota, serta berharap agar Sang Raja ingat sang pujangga yang dahulu pernah berbakti di Keraton Majapahit. Arti dari ini semua adalah bahwa naskah kakawin Nagarakertagama ini disusun setelah Prapanca pensiun dan mengundurkan diri dari Istana Majapahit.

Kearifan Mpu Prapanca mengajarkan kepada kita bahwa segala bentuk kreatifitas yang mengalir tanpa mengenal pamrih dengan maksud tujuan tertentu akan menghasilkan sebuah karya yang indah. Dengan perjalanan wisata sejarah kita akan mengetahui lebih dekat kearifan tradisi dan budaya lokal bangsa Indonesia yang kaya akan sebuah nilai sejarahnya. Semoga informasi hasil perjalanan wisata sejarah saya kali ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi para sahabat dan pembaca setia Ejawantah Wisata dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan yang berharga.




Salam wisata,

Sumber :
Perpustakaan Nasional RI.

MENGENAL PRASASTI GAJAH MADA

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/mengenal-prasasti-gajah-mada.html
Mengenal Prasasti Gajah Mada - Banyak informasi ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan bila kita berkunjung ke salah satu obyek wisata di suatu daerah. Seperti perjalanan wisata sejarah yang bisa kita lakukan di tempat wisata sejarah Jakarta yang banyak menyimpan bukti-bukti otentik dengan fakta benda bersejarah yang bisa kita temukan dan lihat di lokasi tertentu. Seperti perjalanan wisata saya di lokasi Museum Nasional Indonesia ini.

Prasasti Gajah Mada yang saya temukan di lokasi museum menggambarkan sebuah bukti otentik sejarah cinta dan bhakti seorang Mahapatih Gajah Mada  kepada rajanya terurai dalam sebuah tulisan Jawa Kuno yang terpahat rapih untuk tokoh pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Raja Kertanegara untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau sebuah candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada.

Mengenal prasasti Gajah Mada secara langsung dapat mengantarkan kita dalam sebuah dimensi dari sekelumit cerita sejarah dari kisah perjalanan panjang Kerajaan Majapahit, karena di dalam Prasasti Gajah Mada tersebut sangat jelas tertulis bahwa pembangunan caitya atau candi pemakaman yang di sebuat dengan bangunan suci di dirikan pada tahun 1273 Saka atau pada tahun 1351 Masehi.

Lanjut.....
Sedangkan untuk pembagian lokasi pemakaman di dalam prasasti Gajah Mada di jelaskan bahwa untuk para brahmana Siwa dan Buddha lokasinya berada di lingkungan sekitar pedharman atau percandian Kertanegara di Singosari (Siwabudha) yang wafat pada tahun 1213 Saka atau 1291 Masehi. Tempat ini di sediakan sebagai tempat pemberian bakti sanak saudara atau keturunan Kertanegara yang setia kepadanya.

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/mengenal-prasasti-gajah-mada.html

Pada saat pembangunan Caitya ini Mahapatih Gajah Mada selaku inspirator dan tokoh utama Majapahit dan penasehat raja atau yang disebut "Sapta Prabhu" yaitu bernama Tribhuwantotungadewi yang tidak lain adalah ibu dari Maharaja Hayam Wuruk ikut hadir di lokasi.  Dan pada tahun tersebut Maharaja Hayam Wuruk baru menjabat selama 1 (satu) tahun menduduki tahta kerajaan sebagai kepala pemerintahan.  Dan sangatlah wajar jika langkah awal ini di jalankan dalam roda pemerintahannya sebagai bentuk mempersatukan keluarga besar atau "klan" Rajasa di sekitar Ibukota Majapahit.  ( Baca : Di Balik Pesona Keindahan Candi Jabung )

Itulah sebuah catatan kecil yang saya dapatkan dari nara sumber pusat innformasi Museum Nasional Indonesia tentang isi yang terdapat di dalam prasasti Gajah Mada. Dan informasi selanjutnya  yang saya terima dari pemandu wisata setempat,  Prasasti Gajah Mada ini di temukan pertama kalinya oleh penduduk setempat menemukan prasasti di sebuah kolam dekat dengan langar atau musholah milik Kyai Napii, di sebelah utara Candi Singosari, Malang, Jawa Timur.

Mengenal Prasasti Gajah Mada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, merupakan salah satu pengalaman perjalanan wisata sejarah di tempat wisata Jakarta. Di mana obyek wisata ini merupakan pusat sejarah dunia arkeologi yang dapat membantu kita bukan hanya mendapatkan informasi pengetahuan, namun juga menyajikan nuansa tempat wisata yang menarik dan menyenangkan di lokasi museum ini. Bila teman-teman dan pembaca setia hadir di lokasi Jakarta, bisa menyempatkan hadir di lokasi museum ini dan melihat koleksinya yang bernilai tinggi seperti prasasti Gajah Mada ini.





Salam wisata,

MENELUSURI JEJAK SEJARAH SITUS BITING

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/menelusuri-jejak-sejarah-situs-biting.html
Menelusuri Jajak Sejarah Situs Biting - Perjalanan wisata di kawasan daerah Kabupaten Lumajang ini merupakan kelanjutan perjalanan wisata saya dalam menelusuri jejak ritual sejarah Raja Hayam Wuruk bersama kedua teman saya . Di mana kawasan daerah ini di kenal sebagai daerah penghasil buah pisang dengan nama yang tidak asing lagi adalah buah "pisang agung".  Bentuk buahnya yang besar dan tahan lama bila di simpan, hal inilah yang menjadi salah satu ciri khas dari daerah kawasan tersebut.

Dari kawasan wisata Situs Banyubiru yang berada di daerah Kabupaten Psuruan Jawa Timur, perjalanan saya lanjutkan ke kawasan daerah Kabupetn Lumajang, Jawa Timur dengan menggunakan kendaraan motor bersama teman saya. Perjalanan ini menempuh waktu +/- 45 menit dengan mengambil jalur jalan utama.

Informasi yang saya dapatkan dari teman saya. Daerah Kabupaten Lumajang ini merupakan salah satu daerah yang menjadi tujuan wisata untuk para wisatawan domestik dan mancanegara (internasional). Karena di daerah kawasan ini memiliki tempat wisata alam yang  menarik sekali untuk di kunjungi. Namun, dalam perjalanan wisata kali ini saya mengambil konsep yang berbeda untuk menelusuri kawasan daerah ini dengan mengikuti jejak sejarah dari perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk, dengan menelusuri jejak sejarah Situs Biting.

Lanjut.................
Di kawasan daerah Lumajang ini kita akan menemukan suatu situs bangunan bersejarah dari peninggalan Kerajaan Majapahit. Di mana dalam catatan sejarah yang terdapat di dalam Kitab Negarakertagama yang di tulis oleh Mpu Prapanca diterangakn bahwa kawasan ini pernah di kunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada saat beliau melakukan perjalanan ritual menuju Candi Jabung. ( Baca : Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk )

Menelusuri jalan setapak yang beralaskan tanah merah di antara perumahan adan kampung desa di sekitar Dusun Biting, membuat perjalanan wisata ini bagaikan perjalanan wisata yang penuh nuansa petualngan yang mengasyikan. Untungnya pada saat saya sampai di lokasi, cuaca sangat bersahabat dan tidak turun hujan. Dan teman saya pun sepertinya sudah hafal dengan lokasi area ini. Jadi tidak ada kendala yang berarti dalam perjalanan kali ini.

Konon, Situs Biting ini tercatat juga sebagai bangunan sejarah dari peninggalan Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Aria Wiraraja. Dan lokasi Situs Biting ini berlokasi di daerah Dusun Biting, Desa Ketorenon, Kecamatan Sukodonon, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Posisi Situs Biting ini ternyata berdiri di atas lahan milik warga dan Perhutani. Itulah informasi yang saya dapatkan di lokasi. Nah loh...... lo bisa ya ?....  ya bisa lah.... karena situs ini kan pada awalnya tidak di ketahui dan enatah berapa luas dari bagian Situs Biting ini yang masih terpendam dalam tanah akibat proses siklus alam. Hal ini terungkap setelah di lokasi Situs Biting di adakan penelitian dalam bidang arkeologi dan sejarah di sana.

Lanjut............
Bentuk bangunan dari Situs Biting ini terlihat seperti bukit kecil yang berada di dekat perumahan yang berjarak +/- 40 meter, dan lokasinya dekat dengan sebuah sugai. Secara sepintas bila kita lihat dan mendekati situs Biting ini, bangunan ini bagaikan benteng pertahanan. Konon dulunya benteng ini sebagai tempat untuk mengintai musuh dan sekaligus menjadi benteng pertahanan dari Kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Menaiki bukit kecil hingga berdiri di atas benteng membuat saya merasa takjub dengan stratergi ilmu perang yang di gunakan pada masa lalu. Walau terlihat hanya berupa kotak dengan  kedalaman +/- 8 - 10 meter dan ketebalan dinding diding seluas +/- 6 meter lokasi ini bisa menggambarkan betapa strategi ilmu perang bangsa Indonesia yang di gunakan pada masa Kerajaan dulu sudah bisa memberikan sebuah inspirasi. Belum lagi bila di kawasan ini terus di kembangkan penggalian untuk di lakukan penelitian arkeologi dan sejarah. tentu akan terkuak tentang kebesaran dari Kerajaan Majapahit yang pernah ada di lokasi ini.

Setelah melihat beberapa titk obyek di lokasi Situs Biting ini, saya bersama teman saya pun melanjutkan perjalanan wisata saya menuju ke kawasan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Di mana di kawasan Probolinggo tersebut saya akan menuju salah satu situs Candi Jabung yang memiliki catatan cerita sejarah yang menarik untuk di telusuri. ( Baca : Di Balik Keindahan Candi Jabung )

Terlepas dari informasi yang saya lihat dan saya dapatkan di lokasi Situs Biting ini, tentu kita sebagai warga dan masyarakat berharap agar upaya dan pelestarian akan sebuah pengembangan dari penelitian sebuah sejarah dari analisa ilmu arkeologi ini dapat berjalan dengan lancar. Sehingga apa yang menjadi suatu pertanyaan dari Misteri dan Kebesaran Kerjaan Majaphit yang telah tersohor di penjuru negeri nusantara hingga belahan bumi ini, bisa di nikmati oleh genarasi bangsa Indonesia.

Menelusuri jejak Sejarah Situs Biting ini kita akan di bawa dalam nuansa kebesaran dari kejayaan Kerajaan Majapahit yang hingga kini masih belum tuntas terpecahkan. Semoga informasi yang saya dapatkan di lokasi Situs Biting ini dapat menawambah wawasan kita bersama bagi para pecinta Ejawantah Wisata, terutama dalam memberikan piliha konsep perjalanan wisata. Karena perjalan wisata sejarah di Indonesia itu lebih nikmat dan banyak ilmu pengentahuan yang dapat kita peroleh sebagai penunjang pendidikan dan pengetahuan.





Salam wisata,

DI BALIK PESONA KEINDAHAN CANDI JABUNG

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html
Di Balik Pesona Keindahan Candi Jabung. Candi Jabung yang terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Candi Jabung merupakan salah satu candi Hindu yang terdapat di kawasan Jawa Timur, dan tercatat sebagai salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit.

Lokasi Candi Jabung sendiri berjarak +/- 5 km dari Kraksaan dan berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo.

Perjalanan saya di kawasan Situs Candi Jabung di kawasan Lumajang merupakan salah satu rangkaian perjalanan wisata yang saya lakukan setelah mengunjungi Situs Biting. Di mana lokasi ini tercatat dalam sebuah kitab Negarakertagama sebagai tujuan akhir perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk pada masa memimpin Kerajaan Majapahit untuk melakukan upacara "srada". ( Baca : Jejak Ritual Raja Hayam Wuruk ).

Perjalanan menuju kawasan Candi Jabung ini saya melalui jalan desa. Dan perjalanan ini saya di temani dengan seorang sahabat yang merupakan penduduk asli dari Trowulan. Jadi tidak terlalu sulit saya sampai di lokasi ini. Walau lokasi candi berada di pinggir jalan raya Surabaya - Situbondo, lokasi ini terlihat tenang.

Tiba di kawasan Candi Jabung saya bersama teman waktunya masih belum terlalu sore. Terlihat bangunan candi yang menjulang tinggi dapat mudah dikenali dari kejauhan. Setibanya kami di lokasi candi, kami pun langsung bertemu dengan salah seorang juru rawat Candi Jabung atau yang di kenal dengan anam kuncen Candi Jabung. Beliau bernama Bapak Abdul Rahman. Di mana beliau pernah ikut andil dalam proyek pemugaran Candi Jabung pada tahun 1980 yang di lakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo.

Lanjut........
Konon informasi yang saya terima dari juru kuncen Candi Jabung, Candi ini di yakini sebagai tempat para leluhur Raja Hayam Wuruk. Sehingga pada masa lalu Sang Raja melakukan upacara ritual sambil mendoakan para leluhurnya sambil meminta petunjuk Tuhan melalui ritual untuk mendapatkan sebuah ilham yang baik dalam mempimpin Kerajaan Majapahit yang beliau pimpin.

Memasuki kawasan Candi Jabung, kita bisa menemukan sosok bangunan candi yang menjulang tinggi bagaikan bangunan pencakar langit. Bangunan Candi Jabung ini terbuat dari bata merah yang tersusun rapih. Namun, sangat di sayangkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi terlihat sudah pada haus.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html

Informasi yang saya dapatkan di lokasi, di balik pesona keindahan Candi Jabung ini ternyata terdapat suatu peristiwa yang menyebabkan panel-panel yang terdapat pada dinding candi menjadi terkikis. Hal ini di sebabkan akibat dari pengikisan dari pasir laut yang di gunakan untuk menimbun (menguruk) candi agar tidak terlihat dan terselamatkan dari serangan penjajah pada masa tahun 1942 Masehi.

Dalam sebuah catatan bangunan Candi Jabung kit bisa melihat bahwa candi ini berukuran panjang bangunan 12,11 meter, dengan lebar bangunan candi 9,58 meter, dan tinggi bangunan candi 15,58 meter.

Candi Jabung ini telah mengalami pemugaran pada tahun 1980 - 1986 yang di lakukan oleh Pemerinatah Derah Kabupaten Probolinggo. Sebelum pemugaran candi ini hanya memiliki luas area yang sempit, yaitu berkisar 35 x 40 meter persegi. Namun, setelah di lakukan pemugaran dan penelitian di area Cadni ini ternyata kawasan area ini luasnya bertambah menjadi 20.042 meter persegi.

Bila di tinjau dari segi seni bangunan arsitektur, Candi Jabung kita dapat melihat sisi-sisi pesona keindahannya seperti dari bentuk bagian tubuh candi yang berbentuk bulat atau silender persegi delapan, dan bangunan candinya berdiri menjulang atap langit yang memiliki tiga tingkat berbentuk persegi. Sedangkan bagian atap candi berbentuk pagoda atau yang di kenal dengan nama stupa. Namun, bila kita perhatikan secara perlahan pada bagian puncak Candi Jabung kita akan melihat relif motif salur-saluran yang indah.

Lanjut............
Bergeser ke sebelah barat lokasi Candi Jabung. Di lokasi ini kita akan menemukan sebuah pintu bilik yang menghadap ke arah sebelah barat, di mana bagian depannya ada sebuah anak tangga yang menjorok ke depan dan bisa dinaiki oleh siapa saja untuk menuju lokasi bilik ruangan candi yang berada di atas.

Dari pengalaman saya di lokasi, untuk menaki anak-anak tangga tersebut tidak lah mudah. Bagi kita yang akan menaiki anak tangga hingga sampai di lokasi puncak atas depan bilik candi di butuhkan perjuangan ekstra. Dan bagi kita yang akan mencobanya sangat di sarankan untuk berhati-hati di area ini. Terutama bila pada saat musim penghujan. Dan jangan membawa barang bawaan atau tas yang menambah berat beban dan ruang bebas kita dalam menapaki setiap anak tangga yang kecil untuk hingga sampai ke atas.

Lanjut............
Dengan sedikit perjuangan melalui anak tangga sebelah barat, sampailah saya di ruang dalam Candi Jabung yang berada di posisi atas. Tentunya perjalanan kali ini saya tidak melakukannya sendiri. Dengan mengikuti bekas jejak Bapak Adul Rahman di setiap anak tangga yang bisa di lewati hingga sampai di atas atau pun depan bilik pintu Candi Jabung.

Photo  :
http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-pesona-keindahan-candi-jabung.html

Setelah sampai di lokasi puncak dan berada di depan pintu bilik Candi Jabung, kita bisa melihat sebuah tulisan di atas pintu ruangan badan Candi. Dalam tulisan tersebut kita dapat melihat bahwa keterangan di bangunnya Candi Jabung ini di buat pada tahun 1276 c (saka) atau pada tahun 1345 Masehi. Di mana pada tahun tersebut merupakan salah satu masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Dari lokasi atas candi terlihat sosok bangunan di sebelah barat dari Candi Jabung terdapat sebuah bangunan candi juga. Dari informasi yang saya terima di lokasi. Menara sudut candi yang di perkirakan sebagai penjuru pagar di lokasi candi, dan memiliki fungsi sebagai pelengkap bangunan Candi Jabung. Candi tersebut di berinama Candi Menara Sudut, dan bangunannya juga terbuat dari bata merah yang sama, dan sisi-sisi candinya berukuran +/- 2.55 meter, dengan ketinggiian banguan +/- 6 meter.

Lanjut...........
Yang paling menarik dalam penelusuran saya untuk tahu asal usul dari nama Candi Jabung dari keterangan juru kunci Candi, beliau mengatakan bahwa dulunya lokasi candi ini merupakan dataran yang berbentuk cekung ke dalam tanah. Setelah di urut dan di adakan pemugaran maka nama "Jabung" tersebut pilihlah untuk nama candi ini.

Namun, bila kita melihat dari kitab Nagarakertagama, Candi Jabung ini merupakan lokasi yang pernah di kunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada masa tahun 1359 Masehi untuk melakukan upacara ritual. Dan dari keterangan yang terdapat di dalam kitab Paraton disebutkan Sajabung merupakan tempat pemakaman Bhra Gundul yaitu salah sorang keluarga raja. ( Baca : Menelusuri Negarakertagama )

Terlepas dari beberapa keterangan tersebut di atas bersumber dari nara sumber dan daftar pustaka yang berbeda tentang asal usul nama Candi Jabung ini. Kita bisa melihat bila cerita ini kita jadikan satu dan menjadi sebuah rangkaian cerita maka kita akan menemukan bahwa lokasi Candi Jabung yang di pilih oleh Raja Hayam Wuruk untuk melakukan upacara ritual "srada" di jadikan sebuah tempat untuk mencari ilham dari Tuhan untuk mempimpin Raja Majapahit sambil beliau merawat atau pun mendoakan para leluhurnya di lokasi area tersebut.

Informasi kejelasan dari ide pembanguanan dan keberadaan lokasi Candi Jabung ini kita bisa melihat di dalam prasasti Gajah Mada. ( Baca : Mengenal Prasasti Gajah Mada )

Mengakhiri perjalanan wisata sejarah saya di kawasan Candi Jabung dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk ini, terlintas dalam pikiran bahwa dengan sebuah susunan batu bata merah bisa berdiri sebuah candi yang megah hingga berusia berabad-abad. Tentu apa yang bisa kita lihat di lokasi ini adalah sebuah bukti sejarah dan nilai seni arsitektur bangunan yang luar biasa yang bisa di kaji lebih jauh dari pembelajaran yang dapat diambil di balik pesona keindahan Candi Jabung.




Salam wisata,

JEJAK SEJARAH MAJAPAHIT DI SITUS RAOS PACINAN

http://www.ejawantahtour.com/2014/02/jejak-sejarah-majapahit-di-situs-raos.html
Jejak Sejarah Majapahit Di Situs Raos Pacinan. Lokasi Situs Raos Pacinan yang berlokasi di Dusun Raos, Desa Carat, Kelurahan Carat, Kecamatan Gempol berjarak +/- 10 km di  Selatan Sidoarjo, Jawa Timur. Situs ini walau tidak tercatat dalam kita Negara Kertagama, keberadaannya memiliki cerita sejarah dari jejak Majapahit juga loh....

Perjalanan saya dalam menelusuri jejak ritual Raja Hayam Wuruk di tempat wisata daerah Jawa Timur merupakan salah satu perjalanan wisata petualangan yang penuh dengan informasi, terutama dari setiap informasi catatan sejarah bersumber dari lokasi di sekitar kawasan daerah tersebut. Kisah perjalanan nama besar Kerajaaan Majapahit, membawa diri saya hingga menginjakkan kaki di daerah Dusun Raos ini. Kehadiran saya di lokasi bukan sebagai akhli sejarah dan arkeologi, namun hanya sebagai pecinta dunia sejarah tentang kebesaran bangsa Indonesia.

Awal perjalanan wisata ini, saya bergerak dari kawasan Trowulan. Awalnya perjalan wisata kali ini saya akan menuju kawasan Candi Pari. Dikarenakan lokasi Situs Raos Pacinan dekat dan searah dengan Candi Pari, maka saya pun mengambil keputusan untuk mampir sejenak di situs ini untuk mendapatkan informasi tentang jejak sejarah Majapahit di situs Raos Pacinan.

Tepat di pinggir jalan besar antara Mojosari - Gempol, sebua papan penunjuk arah menuju lokasi Situs Raos Pacinan dapat kita temukan. Walau Terlihat sudah agak miring, namun petunjuk arah jalan menju lokasi tersebut masih mengarahkan kita kepada petunjuk jalan yang benar menuju ke lokasi situs yang akan di saya tuju.

Memasuki lokasi Situs Raos Pacinan yang berjarak +/- 1,5 km dari jalan utama, saya bersama rekan harus melewati jalan perkebunan tebu dan kanal-kanal dari Sungai Porong. Perjalanan yang cukup memberikan kesan petualangan sendiri yang mengasyikan di area Desa ini. Apalagi pada saat melewati jalan yang beralaskan tanah merah dengan pagar rumput kecil yang membatasi dinding jalan, serasa sedang berada di area motor cross.

Setibanya kami di lokasi, terlihat jelas sebuah papan nama yang bertuliskan Situs Raos Pacinan, Dusun Raos, Desa Carat, Kelurahan Gempol. Saya pun berkenalan dengan seorang penjaga atau juru rawat situs (kuncen) Situs Raos Pacinan yang bernama Bapak Soemari. Sambil melepas lelah selama perjalanan, saya bersama teman menikmati air perbekalan yang kami bawa, sambil mendengarkan cerita dari nara sumber kami tentang keberadaan jejak sejarah Majapahit di Situs Raos Pacinan.

Informasi yang saya dapatkan.......
Konon, sebelum tahun 1965 situs ini memiliki cungkup dan pendopo untuk memayungi patung dwarapala atau yang di kenal sebagai raksasa penjaga Situs Raos Pacinan ini.. Dan lokasi ini sering di kunjungi oleh para pengusaha etnis Tionghoa untuk mencari dan mendapatkan petunjuk ilham menurut keyakinan dan kepercayaan mereka di tempat ini. Namun, pada masa gejolak politik di Indonesia pada tahun 1965, Situs Raos Pacinan merupakan salah satu objek yang terkena imbas dari pengerusakan pada masa pergolakan di tahun tersebut.

Lanjut.......
Konon nama Desa Carat ini berasal dari sebuah nama lama yang terdapat di dalam Prasasti Gunung Butak (1294. Dimana di dalam cerita tersebut di terangkan bahwa setelah mengalah tentara pemberontak Gelang-Gelang (Kediri) di Kedung Peluk dan Kapulungan, Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Singhasari. pada saat itu Kertanegara menghadapi kemenangan terakhirnya di Rabut Carat.

Lanjut........
Setelah kejadian itu Beliau segera bergerak ke arah utara bersama Ardharaja, namun dari arah Hanyiru, muncullah armada besar Kediri yang memporak porandakan barisan pertahanan Singhasari. Ardharaja pun membelot dan meninggalkan Raden Wijaya berjuang sendirian. Dan pada akhirnya Beliau bersama-sama dengan sisa pasukannya yang berjumlah 600 orang melarikan diri dan bersembunyi sementara waktu di Rabut Carat.

Sekelumit cerita perjalanan perjuangan di atas itu merupakan catatan kecil yang bisa saya catat dari keterangan nara sumber Bapak Soemari sebagai salah seorang juru rawat (kuncen) Situs Raos Pacinan. Sedangkan untuk cerita keberadaan dua buah patung dwarapala yang terletak di lokasi situs adalah merupakan simbol sebuah pangkalan militer aliansi Majapahit - Tentara Mongol sebelum melakukan serangan balasan terhadap pemberontakan Gelang-Gelang di Kediri.

Lanjut........
Konon, dulunya area Situs Raos Pacinan dulunya merupakan salah satu gerbang masuk ke wilayah kantor persekutuan  dua pasukan aliansi dari Majapahit - Tentara Mongol. Hal ini di dukung keberadaan di kawasaan lokasi Situs Raos Pacinan yang dekat dengan Sungai Porong yang berjarak +/- 30 meter yang di jadikan sebagai sarana fasilitas tempat bersandarnya kapal-kapal mereka pada masa lalu.

Dari cerita ini semua, secara pribadi saya mencoba untuk menela'ah dengan pikiran sehat, jadi dulunya lokasi kawasan ini merupakan sebuah pangkalan militer. Dan tidak mengherankan bahwa Delta Sungai Berantas - Porong memang memiliki sebuah catatan sejarah besar bagi bangsa Indonesia, yang menjadi salah satu lokasi terpenting dari sebuah peristiwa perjalanan sejarah negeri ini.

Terlintas dalam benak pikiran, mungkinkah di daerah kawasan ini masih terdapat situs peninggalan sejarah bangsa Indonesia yang masih terpendam dan belum terangkat akibat proses alam ? Bila saja lokasi ini dapat di optimalkan dari segi bidang observasi pendidikan arkeologi dan sejarah, kemungkinan dengan objek situs yang ada ini lokasi ini dapat menjadikan tempat wisata ini sebagai sarana informasi sejarah yang menarik. Apalagi bila kawasan di daerah ini dapat menjadi salah satu kawasan desa wisata yang tertata rapih.

Setelah photo-photo saya bersama teman saya pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi tempat wisata sejarah lainnya di Candi Pari untuk melanjutkan perjalanan wisata dalam menemusuri jajak perjalanan ritual Raja Hayam Wuruk.

Jejak Sejarah Majapahit di Situs Raos Pacinan merupakan catatan kecil yang saya peroleh selama melakukan perjalanan wisata di tempat wisata di daerah kawasan Jawa Timur ini. Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat untuk para rekan dan pecinta Ejawantah Wisata semua dalam mengambil sebuah pembelajaran dari nilai sejarah dari sebuah potensi nama besar situs sejarah yang mencatat jejak sejarah Majapahit di Situs Raos Pacinan.




Salam wisata,

DIBALIK LEGENDA SEJARAH MAJAPAHIT

http://ejawantahtour.blogspot.com/2014/02/dibalik-legenda-sejarah-majapahit.html
Dibalik Legenda Sejarah Majapahit.  Menelusuri jajak sejarah di kawasan Trowulan membuat saya melihat satu sisi pembelajaran yang sangat berharga. Dimana saya mendapat pelajaran dari pesan yang tersirat di lokasi, dan salah satunya adalah mengenai sebuah Legenda Sejarah majapahit tentang kolam"Segaran".

Lokasi situs sejarah Kerajaan Majapahit  ini berada di kawasan Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit membentuk peradaban di Trowulan sejak abad 12. Dan  konon dulunya Kolam Segaran ini merupakan salah satu tempat santai para pembesar Kerajaan Majapahit bersama ratu dan selirnya. Di tambah ada sebuah cerita lain bahwa pada masa lalu di kolam ini pernah di buang harta kekayaan dari Kerajaan Majapahit berupa bentuk barang perhiasan yang beragam di dalam kolam ini pada saat menerima tamu dari negeri Tiongko.

Photo Kolam Segaran :
http://ejawantahtour.blogspot.com/2014/02/dibalik-legenda-sejarah-majapahit.html

Terlepas dari cerita dibalik legenda sejarah Majapahit tentang kolam segaran ini,  Kita bisa melihat bahwa pola kehidupan Majapahit dan masyarakatnya menyisahkan instalasi pengairan yang lengkap dan beragam. Dari sistem pengairah di Majapahit Trowulan, saya bisa melihat bahwa pengairan di kawasan daerah ini terdiri dari kolam penampungan, jaringan kanal, waduk dan bak kontrol.  Namun, di saat saya hadir di lokasi sebagian dari itu semua yang ada telah terlupakan dan berubah wujud beralih fungsi.

Lanjut..........
Salah satu instalansi air yang masih tersisah adalah kolam penampungan seluas 6,5 hektar dengan nama kolam" segaran".  Kedalaman kolam segaran ini di perkirakan sedalam 4 meter. Sebagian dinding kolam sebagaian telah mengalami pemugaran sekitar tahun 1975.  Namun sebagai lainnya terlihat masih bisa saya lihat terbuat dari bata asli di masa Majapahit. Itulah informasi yang saya dapatkan melalui keterangan instasi yang terkait.

Dari informasi yang dapatkan di Museum Troluwan, jaringan kanal air Majapahit Trowulan memanjang sekitar 4 - 5 km dengan pola bersilangan, lebar kanal bervariasi mulai dari 20 - 80 m, dengan kedalam 6 - 9 meter. Kanal di buat secara sitematis dengan membelah kota. Air dari hulu di alirkan dari kanal menuju waduk di sekitar Trowulan, lalu menyebar menjadi sarana irigasi.

Kanal air di Trowulan terkenal juga sebagai pengendali banjir, dan sebagai pengaturan kelembaban udara. Sistem pengairan di Trowulan juga di rangkai untuk keperluan pemujaan, sebagian air dari kanal-kanal di alirkan ke lokasi Candi Tikus, di Desa Temon.

Photo Candi Tikus :
http://ejawantahtour.blogspot.com/2014/02/dibalik-legenda-sejarah-majapahit.html

Lanjut.........
Candi Tikus diperkirakan berfungsi sebagai kolam pemandian dengan saluran air bawah tanah. Kanal di bawah tanah berfungsi untuk mengatur debit air di kolam. Saat air berlebih salurah air di dalam tanah menyalurkannya ke sungai-sungai yang ada di sekitar Trowulan. Hal inilah yang dapat saya ambil dibalik legenda sejarah Majapahit ini.

Sejarah mencatat bahwasanya air tidak pernah menjadi ancaman bagi Majapahit. Manajemen air yang dirangkai membuat Trowulan terbebas dari banjir saat hujan dan kekeringan kala kemarau tiba. Sistem pengairan di Trowulan menunjukan hasil karya dan pemikiran orang Majapahit yang layak di lestarikan. Namun sejarah hanya bisa banyak memberi arti saat peninggalan yang tersisa tetap di jaga dan lestari. Semoga kita dapat mengambil pembelajaran dibalik legenda sejarah Mapahit.




Salam wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus