Wisata Sejarah Dan Budaya Di Museum Nasional Indonesia. - Unik, modern dan nyaman itulah kesan pertama kali saya pada saat memasuki area Museum Nasional yang berada di Jalan Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat, Indonesia.
Kehadiran sebuah museum bukan hanya sebagai gedung yang dapat menampung, menyimpan, dan memajang benda-benda koleksi yang berfungsi sebagai tempat menggelar koleksi kolekium-kolekium ilmiah saja, namun lebih dari itu kita sebagai para pengunjung dapat menikmati setiap sajian yang berada di lokasi museum tersebut.
Namun, lebih dari itu kehadirannya kini juga dapat memberikan suatu tempat sarana hiburan keluarga yang bernilai edukatif dengan tampilan yang di suguhkannya di dalam setiap penataan ruang dengan konsep keanekaragaman budaya dalam kesatuan bangsa Indonesia.
Aset yang berharga tidak serta merta menjadi pemicu masyarakat untuk berkunjung ke museum ini. Namun penerapan konsep kreatif, informatif, edukatif, komunikatif, dan atraktif dari sajian di dalam museum inilah yang dapat menjadikan museum ini dicintai oleh masyarakat domestik maupun mancanegara.
Melalui museum inilah kita banyak menemukan benda-benda koleksi peninggalan sejarah bangsa Indonesia, dari jaman pra sejarah, jaman Hindu Budha, jaman Islam, dan masa kolonial Belanda.
Kesan pertama yang menggoda memang tidak bisa disalahkan. Melihat wajah depan museum pasti banyak orang yang tidak enggan menoleh ke sebuah area bangunan yang memiliki keunikan gaya arsitektur kolonial Belanda dan bangunan modern yang terkesan hijau dan nyaman ini.
Lokasi museum ini letaknya sangat strategis dan mudah dijangkau dari arah mana saja. Karena letaknya berada di tengah-tengah pusat Kota Jakarta dan berada di dekat bundaran air mancur Monumen Nasional (MONAS). Untuk bisa sampai ke lokasi museum ini kita bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, motor, atau pun bagi kita yang menggunakan bus bersama rombongan. Kita hanya tinggal menemukan Jalan Merdeka Barat dari arah bundaran Hotel Indonesia menuju ke Istana Negara.
Sebuah pemandangan ikon "Patung Gajah" yang terbuat dari perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand Muangtai pada tahun 1871, menyambut kehadiran saya atau pun para pengunjung museum yang hadir di tempat wisata ini.
Bagi kita yang menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan Bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M - Kota, atau Bus City Tour Jakarta. Setelah turun dari angkutan umum di halte pemberhentian bus yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang museum ini.
Lanjut...........
Menelusri pintu gerbang masuk museum, kita akan melihat sebuah pemandangan bangunan lama bergaya masa kolonial Belanda yang merupakan bangunan lama dari museum. Bangunan ini memiliki bentuk keunikan gaya arsitektur dengan pilar-pilar penyanggah yang juga merupakan ciri khasnya.
Bila kita akan menelusuri museum ini kita bisa membeli tiket masuk melalui pintu utama yang berada di depan sebelah kanan gedung lama museum ini. Untuk informasi harga tiket dan jadwal hari serta jam kunjungan adalah sebagai berikut :
Harga tiket masuk museum :
1. Dewasa ===> Rp. 5.000,-/orang.
Rp. 3.000,-/ orang (rombongan, minimum 20 orang)
2. Anak-anak ===> Rp. 2.000,-/orang.
Rp. 1.000,-/orang (rombongan, minimum 20 orang).
3. Turis Asing ===> Rp. 10.000,-/orang.
Dan untuk hari serta jam operasinya museum ini adalah :
Hari Senin dan hari besar atau libur nasional tutup.
Hari Selasa - Jum'at 08:00 - 16:00 WIB.
Hari Sabtu - Minggu 08:00 - 17:00 WIB.
Daftar harga tiket masuk museum di atas merupakan daftar tiket masuk yang saya dapatkan informasinya melalui loket tiket yang tersedia di depan pintu masuk museum.Untuk informai selanjutnya anda dapat menghubungi pihak museum.
Lanjut.......
Konon dari keterangan catatan sejarah yang saya dapatkan di lokasi, museum ini dikenal dulunya dengan nama Museum Gajah, dan dibangun pada tahun 1862 oleh pemerintah kolonial Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jendral Reinier de Klerk.
Awalnya Reinier de Klerk ini memiliki sebuah cita-cita untuk membangun sebuah gedung yang dapat menampung, menyimpan, dan memajang benda-benda koleksi yang berfungsi sebagai kantor dan tempat menggelar koleksi kolekium-kolekium ilmiah.
Singkat cerita perjalanan museum ini konon dulunya pengelolaannya di serahkan kepada Perhimpunan Bataviaasch Gonootschep va Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1868 oleh Reinier de Klerk.
Sedangkan untuk pemberian nama museum ini berubah menjadi nama Museum Gajah asal mulanya adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Chulalonkorn dari Thailand yang telah menghadiahkan sebuah "Patung Gajah" yang terbuat dari perunggu pada tahun 1871, di mana patung gajah tersebut sampai hari ini masih terdapat di halaman depan museum dan sebagai salah satu icon museum ini.
Selanjutnya pada tanggal 29 Febuari 1950 nama gedung ini berubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Tepat 100 tahun setelah pembangunan museum ini pada tanggal 17 September 1962 Museum Gajah diserah terimakan kepada pemerinatah Republik Indonesia. Dan pada tanggal 28 Mei 1979 namanya resmi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia.
Sebuah pengenalan kilas balik perjalanan sejarah museum ini saya dapatkan dari pusat informasi museum dan pemandu wisata di lokasi yang memberikan keterangan tentang museum ini pada perjalanan wisata saya bersama para pengunjung dan tamu lainnya.
Lanjut.......
Menelusuri area pameran dalam museum ini, kita seperti diajak masuk dalam sebuah dimensi ruang masa mulai berdirinya museum ini. Seperti yang terdapat di dalam photo ini.
Semua terurai sangat jelas sekali, awal proses perjalanan sejarah museum ini didokumentasikan di dalam bentuk foto-foto dan keterangan berupa catatan yang memuat keterangan nama lokasi, tokoh, hingga kelembagaan yang terlibat dalam proses perjalanan museum ini di setiap lembarnya.
Di area pameran ini saya dapat menemukan sebuah koleksi dari hasil karya buah tangan kain batik seorang tokoh emansipasi wanita Indonesia R.A. Kartini, dan sebuah pelana tunggangan kuda dari pahlawan nasional Diponegoro seperti yang terlihat di dalam foto di bawah ini.
Lanjut..........
Koleksi di museum ini di kelompokan dan tertata rapih mulai jaman pra sejarah sampai dengan Hindu Budha. Di area jaman pra sejarah, kita dapat mengetahui di mana manusia belum mengenal tulisan. Kita bisa melihat-lihat jaman poleotikum yang berasal dari kebudayaan Pacitan seperti kapak genggam, kapak perimbas, alat serpih. Sedangkan yang berasal dari kebudayaan Ngandong kita dapat melihat kapak genggam, alat-alat tulang dan tanduk rusa.
Bergeser sedikit dari lokasi, kita bisa menemukan benda-benda koleksi yang berasal dari jaman mesolitikum. Di sini kita dapat menemukan alat-alat yang digunakan pada masa tersebut seperti ; kapak genggam Sumatera, alat-alat tulang dan tanduk, alat-alat serpih, kapak pendek dan lukisan gua.
Ada awal tentu juga ada akhir, seperti area koleksi ini. Era terakhir pra sejarah disebut dengan jaman neolitikum, dan di lokasi ini kita dapat menemukan koleksi benda-benda peninggalan pada jaman tersebut seperti ; kapak persegi, kapak lojong, kapak bahu, gerabah, perhiasan berupa gelang dan manik-manik, serta alat memukul yang terbuat dari kulit kayu.
Setelah melihat dan menyaksikan koleksi benda-benda museum pada jaman pra sejarah, kita dapat melanjutkan perjalanan wisata untuk menyaksikan koleksi benda-benda jaman Hindu Budha di museum ini.
Lanjut.......
Di lokasi ini kita dapat menyaksikan koleksi patung-patung Dewa Hindu Budha seperti ; patung Dewa Brahma, patung Dewa Wisnu, dan Patung Dewa Syiwa. Dimana patung-patung tersebut merupakan perwujudan dari raja-raja jaman Hindu Budha seperti ; Raja Airlangga yang pernah berkuasa di Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Beliau digambarkan sebagai Dewa Wisnu yang sedang naik burung Garuda; Patung selanjutnya adalah patung dari Raja Kediri, dan patung dari Raja Singasari dari Jawa Timur.
Konon menurut cerita, patung raja dengan tangan banyak merupakan simbol perwujudan sebuah dewa bagi rakyat banyak, patung tersebut merupakan perwujudan dari patung Raja Singasari yang perkasa seperti Dewa Siwa yang bertangan banyak.
Lanjut.........
Di museum ini juga terdapat koleksi benda-benda prasasti, di mana kita dapat menemukan sebuah prasasti yang merupakan catatan sejarah perjalanan pengabdian seorang Mahapatih dari Kerajaan Majapahit yang beranama Gajah Mada, di mana prasasti tersebut di kenal dengan nama prasasti "Gajah Mada"; Prasasti kaligrafi yang sangat indah, prasasti ini merupakan peniggalan dari kerajaan Islam di Indonesia, prasasti Mulawarman. serta kolekasi prasasti-prasasti lainnya.
Lanjut..............
Selain itu ada juga koleksi benda-benda keramik Cina dari Dinasti Han yang memerintah Cina antara tahun 206 SM - 220 M; Dinasti Tang yang memerintah Cina 618 - 906; dan Dinasti Ming yang berkuasa di Cina sejak tahun 1368 -1644.
Benda-benda berupa keramik tersebut di atas bisa sampai di Indonesia antara lain dikarenakan adanya hubungan dagang antara pedagang dari Cina dan kerajaan-kerajaan yang berada di nusantara Indonesia.
Di dalam area museum ini pun kita dapat menemukan tradisi dan kebudayaan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah, dari bentuk kerajinan tangan, rumah tradisional dalam bentuk miniatur, alat kesenian musik dan masih banyak lagi yang lainnya. Melalui area ini kita dapat melihat dari satu daerah ke daerah lainnya beragam bentuk dan warna kehidupan tradisi masyarakat Indonesia yang beragam. Walau terpisah dan beragam bentuk semua ini bisa menjadi sebuah kesatuan.
Lanjut..............
Yang tidak kalah menarik di museum ini terdapat koleksi benda-benda perhiasan emas yang indah dan artistik, serta singgahsana raja yang terbuat dari emas.
Kita dapat menyaksikan koleksi benda-benda peninggalan dari jaman kolonial Belanda, seperti meriam, senjata, buku catatan, peta kuno, serta parabotan bergaya eropa dari abad ke -18.
Semua koleksi dari benda-benda tersebut di atas merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai sejarah yang besar, tentu saja ini hanya merupakan bagian kecil yang dapat dilihat melalui artikel ini. Sebagai bangsa yang besar dan kaya akan keanekaragaman tradisi dan budaya, tentu hal ini merupakan sebuah aset yang harus dijaga dan dilestarikan.
Museum ini bukan hanya sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda bersejarah saja. Lebih dari itu museum ini juga sering mengadakan segala kegiatan aktifitas berupa pameran seni dan kriya yang ikut memperkenalkan sebuah tradisi dan budaya dari bangsa Indonesia seperti contohnya yang saya temukan di lokasi yaitu pembuatan batik, dan wayang kulit.
Menikmati wisata sejarah dan budaya Indonesia di museum ini bukanlah suatu perjalanan liburan yang membosankan bagi saya pribadi maupun banyak orang di lokasi museum ini. Ada banyak pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari setiap penjelasan yang terurai dalam siratan koleksi benda-benda bersejarah di tempat ini.
Dengan suasana yang tenang dan nyaman serta hidupnya sebuah kegiatan yang dapat merangsang kreatiftas dalam bentuk pengenalan dari tradisi budaya yang di olah dengan inovasi tentu dapat membuat para pengunjung lebih dapat menikmati liburan di museum seperti ini.
Bila kita berkunjung ke museum ini sekarang, maka kita akan melihat lokasi yang berada di tengah museum sedang dalam tahap pengembangan perluasan area, di mana bangunan gedung museum ini rencananya akan selesai pada tahun 2017 nanti dengan penampilan yang lebih mengasyikan seperti yang bisa dilihat di dalam foto-foto di bawah ini.
Bila melihat dari skema foto-foto cikal bakal dari area bangunan museum di atas, kita dapat membayangkan bahwa Indonesia akan memiliki sebuah bangunan museum yang bukan hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi kolekium-kolekium ilmiah bersejarah saja, namun juga menjadi sarana liburan yang nyaman dan modern nantinya, di mana semua sarana ini mengusung konsep kreatif, informatif, edukatif, komunikatif, dan atraktif dari sajian yang akan diberikan kepada para pengunjungnya sebagai bentuk pengejawantahan pemersatu sejarah tradisi dan budaya bangsa Indonesia dari masa dulu, kini dan yang akan datang dalam bentuk yang lebih inovatif.
Di bawah ini merupakan salah satu kegiatan pada saat saya mengunjungi museum ini dalam even Festival Museum Internasional dan hari ulang tahun Museum Nasional Indonesia yang ke-236 tahun, yang saya coba rangkai dalam gambar video, teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata dapat melihatnya dalam penayangan video di bawah ini. (Lihat Video : Gamelan Jawa "Acara Pembukaan Festival Museum Nasonal)
Wisata Sejarah Dan Budaya Di Museum Nasional Indonesia kita dapat ikut merasakan keindahan eksotisme tradisi dan budaya sejarah bangsa Indonesai. Semoga Museum Nasional Indonesia terus dapat mempertahankan dan melestarikan tradisi dan nilai sejarah budaya Indonesia yang sangat tinggi ini dan selamat ulang tahun ke-236.
Salam wisata,
Kehadiran sebuah museum bukan hanya sebagai gedung yang dapat menampung, menyimpan, dan memajang benda-benda koleksi yang berfungsi sebagai tempat menggelar koleksi kolekium-kolekium ilmiah saja, namun lebih dari itu kita sebagai para pengunjung dapat menikmati setiap sajian yang berada di lokasi museum tersebut.
Namun, lebih dari itu kehadirannya kini juga dapat memberikan suatu tempat sarana hiburan keluarga yang bernilai edukatif dengan tampilan yang di suguhkannya di dalam setiap penataan ruang dengan konsep keanekaragaman budaya dalam kesatuan bangsa Indonesia.
Aset yang berharga tidak serta merta menjadi pemicu masyarakat untuk berkunjung ke museum ini. Namun penerapan konsep kreatif, informatif, edukatif, komunikatif, dan atraktif dari sajian di dalam museum inilah yang dapat menjadikan museum ini dicintai oleh masyarakat domestik maupun mancanegara.
Melalui museum inilah kita banyak menemukan benda-benda koleksi peninggalan sejarah bangsa Indonesia, dari jaman pra sejarah, jaman Hindu Budha, jaman Islam, dan masa kolonial Belanda.
Kesan pertama yang menggoda memang tidak bisa disalahkan. Melihat wajah depan museum pasti banyak orang yang tidak enggan menoleh ke sebuah area bangunan yang memiliki keunikan gaya arsitektur kolonial Belanda dan bangunan modern yang terkesan hijau dan nyaman ini.
Lokasi museum ini letaknya sangat strategis dan mudah dijangkau dari arah mana saja. Karena letaknya berada di tengah-tengah pusat Kota Jakarta dan berada di dekat bundaran air mancur Monumen Nasional (MONAS). Untuk bisa sampai ke lokasi museum ini kita bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, motor, atau pun bagi kita yang menggunakan bus bersama rombongan. Kita hanya tinggal menemukan Jalan Merdeka Barat dari arah bundaran Hotel Indonesia menuju ke Istana Negara.
Sebuah pemandangan ikon "Patung Gajah" yang terbuat dari perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand Muangtai pada tahun 1871, menyambut kehadiran saya atau pun para pengunjung museum yang hadir di tempat wisata ini.
Bagi kita yang menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan Bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M - Kota, atau Bus City Tour Jakarta. Setelah turun dari angkutan umum di halte pemberhentian bus yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang museum ini.
Lanjut...........
Menelusri pintu gerbang masuk museum, kita akan melihat sebuah pemandangan bangunan lama bergaya masa kolonial Belanda yang merupakan bangunan lama dari museum. Bangunan ini memiliki bentuk keunikan gaya arsitektur dengan pilar-pilar penyanggah yang juga merupakan ciri khasnya.
Bila kita akan menelusuri museum ini kita bisa membeli tiket masuk melalui pintu utama yang berada di depan sebelah kanan gedung lama museum ini. Untuk informasi harga tiket dan jadwal hari serta jam kunjungan adalah sebagai berikut :
Harga tiket masuk museum :
1. Dewasa ===> Rp. 5.000,-/orang.
Rp. 3.000,-/ orang (rombongan, minimum 20 orang)
2. Anak-anak ===> Rp. 2.000,-/orang.
Rp. 1.000,-/orang (rombongan, minimum 20 orang).
3. Turis Asing ===> Rp. 10.000,-/orang.
Dan untuk hari serta jam operasinya museum ini adalah :
Hari Senin dan hari besar atau libur nasional tutup.
Hari Selasa - Jum'at 08:00 - 16:00 WIB.
Hari Sabtu - Minggu 08:00 - 17:00 WIB.
Daftar harga tiket masuk museum di atas merupakan daftar tiket masuk yang saya dapatkan informasinya melalui loket tiket yang tersedia di depan pintu masuk museum.Untuk informai selanjutnya anda dapat menghubungi pihak museum.
Lanjut.......
Konon dari keterangan catatan sejarah yang saya dapatkan di lokasi, museum ini dikenal dulunya dengan nama Museum Gajah, dan dibangun pada tahun 1862 oleh pemerintah kolonial Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jendral Reinier de Klerk.
Awalnya Reinier de Klerk ini memiliki sebuah cita-cita untuk membangun sebuah gedung yang dapat menampung, menyimpan, dan memajang benda-benda koleksi yang berfungsi sebagai kantor dan tempat menggelar koleksi kolekium-kolekium ilmiah.
Singkat cerita perjalanan museum ini konon dulunya pengelolaannya di serahkan kepada Perhimpunan Bataviaasch Gonootschep va Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1868 oleh Reinier de Klerk.
Sedangkan untuk pemberian nama museum ini berubah menjadi nama Museum Gajah asal mulanya adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Chulalonkorn dari Thailand yang telah menghadiahkan sebuah "Patung Gajah" yang terbuat dari perunggu pada tahun 1871, di mana patung gajah tersebut sampai hari ini masih terdapat di halaman depan museum dan sebagai salah satu icon museum ini.
Selanjutnya pada tanggal 29 Febuari 1950 nama gedung ini berubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Tepat 100 tahun setelah pembangunan museum ini pada tanggal 17 September 1962 Museum Gajah diserah terimakan kepada pemerinatah Republik Indonesia. Dan pada tanggal 28 Mei 1979 namanya resmi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia.
Sebuah pengenalan kilas balik perjalanan sejarah museum ini saya dapatkan dari pusat informasi museum dan pemandu wisata di lokasi yang memberikan keterangan tentang museum ini pada perjalanan wisata saya bersama para pengunjung dan tamu lainnya.
Lanjut.......
Menelusuri area pameran dalam museum ini, kita seperti diajak masuk dalam sebuah dimensi ruang masa mulai berdirinya museum ini. Seperti yang terdapat di dalam photo ini.
Semua terurai sangat jelas sekali, awal proses perjalanan sejarah museum ini didokumentasikan di dalam bentuk foto-foto dan keterangan berupa catatan yang memuat keterangan nama lokasi, tokoh, hingga kelembagaan yang terlibat dalam proses perjalanan museum ini di setiap lembarnya.
Di area pameran ini saya dapat menemukan sebuah koleksi dari hasil karya buah tangan kain batik seorang tokoh emansipasi wanita Indonesia R.A. Kartini, dan sebuah pelana tunggangan kuda dari pahlawan nasional Diponegoro seperti yang terlihat di dalam foto di bawah ini.
Lanjut..........
Koleksi di museum ini di kelompokan dan tertata rapih mulai jaman pra sejarah sampai dengan Hindu Budha. Di area jaman pra sejarah, kita dapat mengetahui di mana manusia belum mengenal tulisan. Kita bisa melihat-lihat jaman poleotikum yang berasal dari kebudayaan Pacitan seperti kapak genggam, kapak perimbas, alat serpih. Sedangkan yang berasal dari kebudayaan Ngandong kita dapat melihat kapak genggam, alat-alat tulang dan tanduk rusa.
Bergeser sedikit dari lokasi, kita bisa menemukan benda-benda koleksi yang berasal dari jaman mesolitikum. Di sini kita dapat menemukan alat-alat yang digunakan pada masa tersebut seperti ; kapak genggam Sumatera, alat-alat tulang dan tanduk, alat-alat serpih, kapak pendek dan lukisan gua.
Ada awal tentu juga ada akhir, seperti area koleksi ini. Era terakhir pra sejarah disebut dengan jaman neolitikum, dan di lokasi ini kita dapat menemukan koleksi benda-benda peninggalan pada jaman tersebut seperti ; kapak persegi, kapak lojong, kapak bahu, gerabah, perhiasan berupa gelang dan manik-manik, serta alat memukul yang terbuat dari kulit kayu.
Setelah melihat dan menyaksikan koleksi benda-benda museum pada jaman pra sejarah, kita dapat melanjutkan perjalanan wisata untuk menyaksikan koleksi benda-benda jaman Hindu Budha di museum ini.
Lanjut.......
Di lokasi ini kita dapat menyaksikan koleksi patung-patung Dewa Hindu Budha seperti ; patung Dewa Brahma, patung Dewa Wisnu, dan Patung Dewa Syiwa. Dimana patung-patung tersebut merupakan perwujudan dari raja-raja jaman Hindu Budha seperti ; Raja Airlangga yang pernah berkuasa di Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Beliau digambarkan sebagai Dewa Wisnu yang sedang naik burung Garuda; Patung selanjutnya adalah patung dari Raja Kediri, dan patung dari Raja Singasari dari Jawa Timur.
Konon menurut cerita, patung raja dengan tangan banyak merupakan simbol perwujudan sebuah dewa bagi rakyat banyak, patung tersebut merupakan perwujudan dari patung Raja Singasari yang perkasa seperti Dewa Siwa yang bertangan banyak.
Lanjut.........
Di museum ini juga terdapat koleksi benda-benda prasasti, di mana kita dapat menemukan sebuah prasasti yang merupakan catatan sejarah perjalanan pengabdian seorang Mahapatih dari Kerajaan Majapahit yang beranama Gajah Mada, di mana prasasti tersebut di kenal dengan nama prasasti "Gajah Mada"; Prasasti kaligrafi yang sangat indah, prasasti ini merupakan peniggalan dari kerajaan Islam di Indonesia, prasasti Mulawarman. serta kolekasi prasasti-prasasti lainnya.
Lanjut..............
Selain itu ada juga koleksi benda-benda keramik Cina dari Dinasti Han yang memerintah Cina antara tahun 206 SM - 220 M; Dinasti Tang yang memerintah Cina 618 - 906; dan Dinasti Ming yang berkuasa di Cina sejak tahun 1368 -1644.
Benda-benda berupa keramik tersebut di atas bisa sampai di Indonesia antara lain dikarenakan adanya hubungan dagang antara pedagang dari Cina dan kerajaan-kerajaan yang berada di nusantara Indonesia.
Di dalam area museum ini pun kita dapat menemukan tradisi dan kebudayaan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah, dari bentuk kerajinan tangan, rumah tradisional dalam bentuk miniatur, alat kesenian musik dan masih banyak lagi yang lainnya. Melalui area ini kita dapat melihat dari satu daerah ke daerah lainnya beragam bentuk dan warna kehidupan tradisi masyarakat Indonesia yang beragam. Walau terpisah dan beragam bentuk semua ini bisa menjadi sebuah kesatuan.
Lanjut..............
Yang tidak kalah menarik di museum ini terdapat koleksi benda-benda perhiasan emas yang indah dan artistik, serta singgahsana raja yang terbuat dari emas.
Kita dapat menyaksikan koleksi benda-benda peninggalan dari jaman kolonial Belanda, seperti meriam, senjata, buku catatan, peta kuno, serta parabotan bergaya eropa dari abad ke -18.
Semua koleksi dari benda-benda tersebut di atas merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai sejarah yang besar, tentu saja ini hanya merupakan bagian kecil yang dapat dilihat melalui artikel ini. Sebagai bangsa yang besar dan kaya akan keanekaragaman tradisi dan budaya, tentu hal ini merupakan sebuah aset yang harus dijaga dan dilestarikan.
Museum ini bukan hanya sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda bersejarah saja. Lebih dari itu museum ini juga sering mengadakan segala kegiatan aktifitas berupa pameran seni dan kriya yang ikut memperkenalkan sebuah tradisi dan budaya dari bangsa Indonesia seperti contohnya yang saya temukan di lokasi yaitu pembuatan batik, dan wayang kulit.
Menikmati wisata sejarah dan budaya Indonesia di museum ini bukanlah suatu perjalanan liburan yang membosankan bagi saya pribadi maupun banyak orang di lokasi museum ini. Ada banyak pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari setiap penjelasan yang terurai dalam siratan koleksi benda-benda bersejarah di tempat ini.
Dengan suasana yang tenang dan nyaman serta hidupnya sebuah kegiatan yang dapat merangsang kreatiftas dalam bentuk pengenalan dari tradisi budaya yang di olah dengan inovasi tentu dapat membuat para pengunjung lebih dapat menikmati liburan di museum seperti ini.
Bila kita berkunjung ke museum ini sekarang, maka kita akan melihat lokasi yang berada di tengah museum sedang dalam tahap pengembangan perluasan area, di mana bangunan gedung museum ini rencananya akan selesai pada tahun 2017 nanti dengan penampilan yang lebih mengasyikan seperti yang bisa dilihat di dalam foto-foto di bawah ini.
Bila melihat dari skema foto-foto cikal bakal dari area bangunan museum di atas, kita dapat membayangkan bahwa Indonesia akan memiliki sebuah bangunan museum yang bukan hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi kolekium-kolekium ilmiah bersejarah saja, namun juga menjadi sarana liburan yang nyaman dan modern nantinya, di mana semua sarana ini mengusung konsep kreatif, informatif, edukatif, komunikatif, dan atraktif dari sajian yang akan diberikan kepada para pengunjungnya sebagai bentuk pengejawantahan pemersatu sejarah tradisi dan budaya bangsa Indonesia dari masa dulu, kini dan yang akan datang dalam bentuk yang lebih inovatif.
Di bawah ini merupakan salah satu kegiatan pada saat saya mengunjungi museum ini dalam even Festival Museum Internasional dan hari ulang tahun Museum Nasional Indonesia yang ke-236 tahun, yang saya coba rangkai dalam gambar video, teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata dapat melihatnya dalam penayangan video di bawah ini. (Lihat Video : Gamelan Jawa "Acara Pembukaan Festival Museum Nasonal)
Wisata Sejarah Dan Budaya Di Museum Nasional Indonesia kita dapat ikut merasakan keindahan eksotisme tradisi dan budaya sejarah bangsa Indonesai. Semoga Museum Nasional Indonesia terus dapat mempertahankan dan melestarikan tradisi dan nilai sejarah budaya Indonesia yang sangat tinggi ini dan selamat ulang tahun ke-236.
Salam wisata,




























