De Groote River of Batavia merupakan sebuah Kali Basar yang membelah Kota Batavia., sungai yang lebar dan yang lurus membujur hingga ke arah utara pelabuhan Sunda Kelapa. Di mana pada masa dahulu Kali Besar terebut pernah menjadi jalur niaga perdagangan di kota Batavia terpenting pada zamannya.
Sinar matahari yang selalu memancarkan sebuah kesetiaan dalam memberikan kehidupan terasa melengkapi keindahan hari dalam menjelang sore hari di De Groote River of Batavia. Sinar yang menerobos gumpalan awan tipis mempbuat sinar dalam menembus pada pantulan cahayanya di kawasan De Groote River of Batavia tersebut.
Mendengar, melihat, dan merasakan sebuah jejak sejarah kota Batavia membuat hati selalu terbawa pada masa tempo dulu. Dimana kesibukan pelayaran yang penuh dengan mondar-mandirnya kapal di perairan De Groote of Batavia yang yang sekarang kita kenal dengan nama Kali Besar yang ada di daerah Kota Jakarta.
Dimana kala itu, aktivitas yang sering berlangsung adalah berlabuhya kapal-kapal untuk melakukan bongkar muat, dengan suatu misi kegiatan perdagangan demi menggerakkan perekonomian dan menopang pembangunan pada saat itu.
Sekilas sejarah........
Dalam sebuah catatan sejarah yang penulis dapatkan dari beberapa daftar pustaka pusat penerangan museum sejarah Jakarta. Pada abad ke -17, di sepanjang Kali Besar berderet bangunan yang menjadi bangunan fungsi ganda sebagai rumah dan toko di sepanjang Kali Besar, yang dihuni oleh orang-orang China.
Lanjut.........
Setelah peristiwa tragis yang disebut kerusuhan China pada tahun 1740, semua menjadi berubah. Dan orang-orang China keluar dari area tembok Batavia. Dan bangunan-banguanan yang tersisa yang ada dimanfaatkan untuk perkantoran, perusahaan, dan pergudangan bertingkat oleh pemerintah berkuasa pada saat tersebut
Namun, saat sekarang ini semua aktifitas tersebut sudah jarang sekali kita temukan di sepanjang lokasi Kali Besar. Tidak ada lagi pelayaran yang ramai seperti dulu, tidak ada lagi aktivitas perdagangan. Disaat penulis berkunjung ke lokasi Kali Besar bersama rombongan wisatawan dari Kota Bandung, yang mereka memiliki suatu aktifitas yang bergerak di photography. dalam menelusuri sepanjang kali, kita hanya bisa menikmati sebuah kisah yang terpancar dari setiap bangunan-bangunan tua yang tersisa sepanjang lokasi Kali Besar.
Napak tilas kami telusuri dalam sebuah perjalanan hingga Jembatan Ratu Juliana, dimana sebelumnya kami berhenti sejenak di seberang rumah toko merah yang pernah menajdi tampat tinggal gubernur Von Imhoff (1730-1741), dan melihat sebuah ketegaran bangunan tua yang memilki nilai historis dunia perbankan dunia, yaitu sebuah bangunan tua bekas peninggalan Charted Bank of Indonesia, Australia and China.
Menelusuri gedung -gedung tua bersejarah merupakan suatu petualangan yang mengasyikan. Apabila kita dapat mengenali setiap objek dari sudut kacamata yang unik. Namun, di satu sisi kita boleh menikmati suasana klasik di objek-objek seperti ini, dan di sisi lain kita harus peduli dengan kondisi bangunan tua yang ada di sekitar Kali Besar. Semoga dinas terkait yang ada di ibukota Jakarta dapat memperbaiki potensi objek wisata sejarah dan budaya yang ada di kota tua.
Mungkin bukan hanya penulis yang memiliki sebuah keinginan dan cita-cita akan suasana Kota Tua Jakarta yang bersih dan nyaman serta dapat berbenah diri untuk dapat mempercantik gedung-gedung tua sebagai penunjang objek wisata sejarah yang menjadi sebuah saksi bisu perjalanan sejarah kota Jakarta.
Lebih tertata kembali dalam hal penempatan lokasi-lokasi untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Bila hal ini dapat diwujudkan dengan rapih dan didukung oleh semua pihak dan warga masyarakat Jakarta, maka tidak mustahil Jakarta dapat menjadi sebuah target sasaran wisatawan dunia internasional yang akan selalu bernostalgia untuk mengenang jejak sejarah kake moyangnya yang ada di Indonesia, seperti peninggalan gedung tua Museum Sejarah Jakarta.
Salam Wisata,
Sinar matahari yang selalu memancarkan sebuah kesetiaan dalam memberikan kehidupan terasa melengkapi keindahan hari dalam menjelang sore hari di De Groote River of Batavia. Sinar yang menerobos gumpalan awan tipis mempbuat sinar dalam menembus pada pantulan cahayanya di kawasan De Groote River of Batavia tersebut.
Dimana kala itu, aktivitas yang sering berlangsung adalah berlabuhya kapal-kapal untuk melakukan bongkar muat, dengan suatu misi kegiatan perdagangan demi menggerakkan perekonomian dan menopang pembangunan pada saat itu.
Sekilas sejarah........
Dalam sebuah catatan sejarah yang penulis dapatkan dari beberapa daftar pustaka pusat penerangan museum sejarah Jakarta. Pada abad ke -17, di sepanjang Kali Besar berderet bangunan yang menjadi bangunan fungsi ganda sebagai rumah dan toko di sepanjang Kali Besar, yang dihuni oleh orang-orang China.
Lanjut.........
Setelah peristiwa tragis yang disebut kerusuhan China pada tahun 1740, semua menjadi berubah. Dan orang-orang China keluar dari area tembok Batavia. Dan bangunan-banguanan yang tersisa yang ada dimanfaatkan untuk perkantoran, perusahaan, dan pergudangan bertingkat oleh pemerintah berkuasa pada saat tersebut
Namun, saat sekarang ini semua aktifitas tersebut sudah jarang sekali kita temukan di sepanjang lokasi Kali Besar. Tidak ada lagi pelayaran yang ramai seperti dulu, tidak ada lagi aktivitas perdagangan. Disaat penulis berkunjung ke lokasi Kali Besar bersama rombongan wisatawan dari Kota Bandung, yang mereka memiliki suatu aktifitas yang bergerak di photography. dalam menelusuri sepanjang kali, kita hanya bisa menikmati sebuah kisah yang terpancar dari setiap bangunan-bangunan tua yang tersisa sepanjang lokasi Kali Besar.
Napak tilas kami telusuri dalam sebuah perjalanan hingga Jembatan Ratu Juliana, dimana sebelumnya kami berhenti sejenak di seberang rumah toko merah yang pernah menajdi tampat tinggal gubernur Von Imhoff (1730-1741), dan melihat sebuah ketegaran bangunan tua yang memilki nilai historis dunia perbankan dunia, yaitu sebuah bangunan tua bekas peninggalan Charted Bank of Indonesia, Australia and China.
Menelusuri gedung -gedung tua bersejarah merupakan suatu petualangan yang mengasyikan. Apabila kita dapat mengenali setiap objek dari sudut kacamata yang unik. Namun, di satu sisi kita boleh menikmati suasana klasik di objek-objek seperti ini, dan di sisi lain kita harus peduli dengan kondisi bangunan tua yang ada di sekitar Kali Besar. Semoga dinas terkait yang ada di ibukota Jakarta dapat memperbaiki potensi objek wisata sejarah dan budaya yang ada di kota tua.
Mungkin bukan hanya penulis yang memiliki sebuah keinginan dan cita-cita akan suasana Kota Tua Jakarta yang bersih dan nyaman serta dapat berbenah diri untuk dapat mempercantik gedung-gedung tua sebagai penunjang objek wisata sejarah yang menjadi sebuah saksi bisu perjalanan sejarah kota Jakarta.
Lebih tertata kembali dalam hal penempatan lokasi-lokasi untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Bila hal ini dapat diwujudkan dengan rapih dan didukung oleh semua pihak dan warga masyarakat Jakarta, maka tidak mustahil Jakarta dapat menjadi sebuah target sasaran wisatawan dunia internasional yang akan selalu bernostalgia untuk mengenang jejak sejarah kake moyangnya yang ada di Indonesia, seperti peninggalan gedung tua Museum Sejarah Jakarta.
Salam Wisata,




