DE GROOTE RIVER OF BATAVIA SEBUAH PESAN DALAM POTRET SEJARAH

De Groote River of Batavia merupakan sebuah Kali Basar yang membelah Kota Batavia., sungai yang lebar dan yang lurus membujur hingga ke arah utara pelabuhan Sunda Kelapa. Di mana pada masa dahulu Kali Besar terebut pernah menjadi jalur niaga perdagangan di kota Batavia terpenting pada zamannya.

Sinar matahari yang selalu memancarkan sebuah kesetiaan dalam memberikan kehidupan terasa melengkapi keindahan hari dalam menjelang sore hari di De Groote River of Batavia. Sinar yang menerobos gumpalan awan tipis mempbuat sinar dalam menembus pada pantulan cahayanya di kawasan De Groote River of Batavia tersebut.

Mendengar, melihat, dan merasakan sebuah jejak sejarah kota Batavia membuat hati selalu terbawa pada masa tempo dulu. Dimana kesibukan pelayaran yang penuh dengan mondar-mandirnya kapal di perairan De Groote of Batavia yang yang sekarang kita kenal dengan nama Kali Besar yang ada di daerah Kota Jakarta.

Dimana kala itu, aktivitas yang sering berlangsung adalah berlabuhya kapal-kapal untuk melakukan bongkar muat, dengan suatu misi kegiatan perdagangan demi menggerakkan perekonomian dan menopang pembangunan pada saat itu.

Sekilas sejarah........
Dalam sebuah catatan sejarah yang penulis dapatkan dari beberapa daftar pustaka pusat penerangan museum sejarah Jakarta. Pada abad ke -17, di sepanjang Kali Besar berderet bangunan yang  menjadi bangunan fungsi ganda sebagai rumah dan toko di sepanjang Kali Besar, yang dihuni oleh orang-orang China.

Lanjut.........
Setelah peristiwa tragis yang disebut kerusuhan China pada tahun 1740, semua menjadi berubah. Dan orang-orang China keluar dari area tembok Batavia. Dan bangunan-banguanan yang tersisa yang ada dimanfaatkan untuk perkantoran, perusahaan, dan pergudangan bertingkat oleh pemerintah berkuasa pada saat tersebut

Namun, saat sekarang ini semua aktifitas tersebut sudah jarang sekali kita temukan di sepanjang lokasi Kali Besar. Tidak ada lagi pelayaran yang ramai seperti dulu, tidak ada lagi aktivitas perdagangan. Disaat penulis berkunjung ke lokasi Kali Besar bersama rombongan wisatawan dari Kota Bandung, yang mereka memiliki suatu aktifitas yang bergerak di photography. dalam menelusuri sepanjang kali, kita hanya bisa menikmati sebuah kisah yang terpancar dari setiap bangunan-bangunan tua yang tersisa sepanjang lokasi Kali Besar.

Napak tilas kami telusuri dalam sebuah perjalanan hingga Jembatan Ratu Juliana, dimana sebelumnya kami berhenti sejenak di seberang rumah toko merah yang pernah menajdi tampat tinggal gubernur Von Imhoff (1730-1741), dan melihat sebuah ketegaran bangunan tua yang memilki nilai historis dunia perbankan dunia, yaitu sebuah bangunan tua bekas peninggalan Charted Bank of Indonesia, Australia and China.

Menelusuri gedung -gedung tua bersejarah merupakan suatu petualangan yang mengasyikan. Apabila kita dapat mengenali setiap objek dari sudut kacamata yang unik. Namun, di satu sisi kita boleh menikmati suasana klasik di objek-objek seperti ini, dan di sisi lain kita harus peduli dengan kondisi bangunan tua yang ada di sekitar Kali Besar. Semoga dinas terkait yang ada di ibukota Jakarta dapat memperbaiki potensi objek wisata sejarah dan budaya yang ada di kota tua.

Mungkin bukan hanya penulis yang memiliki sebuah keinginan dan cita-cita akan suasana Kota Tua Jakarta yang bersih dan nyaman serta dapat berbenah diri untuk dapat mempercantik gedung-gedung tua sebagai penunjang objek wisata sejarah yang menjadi sebuah saksi bisu perjalanan sejarah kota Jakarta.

Lebih tertata kembali dalam hal penempatan lokasi-lokasi untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Bila hal ini dapat diwujudkan dengan rapih dan didukung oleh semua pihak dan warga masyarakat Jakarta, maka tidak mustahil Jakarta dapat menjadi sebuah target sasaran wisatawan dunia internasional yang akan selalu bernostalgia untuk mengenang jejak sejarah kake moyangnya yang ada di Indonesia, seperti peninggalan gedung tua Museum Sejarah Jakarta.



Salam Wisata,

JEMBATAN KOTA INTAN KOTA TUA JAKARTA KEINDAHAN RATU JULIANA DALAM SEJARAH JAKARTA


Jembatan Kota Intan merupakan salah satu jembatan yang terletak di sudut Ibukota Jakarta. Jembatan Kota Intan memiliki panjang 30 meter dan lebar 4,43 meter ini sering kali menjadi salah satu objek wisata yang selalu direkomendasikan pada saat berkunjung di wilayah objek wisata Kota Tua Jakarta.

Jembatan Kota Intan juga sering dijadikan tempat untuk berbagai macam kegiatan, mulai dari zona titik rute wisata observasi budaya yang bernilai sejarah, dan tempat lokasi ajang pengambilan gambar photo bagi para fotografer sampai tempat favorit pengambilan photo pre-wedding.

Jembatan Kota Intan yang memiliki keunikan dari panorama view arsitektur dan bentuknya, selalu membuat para mata yang melintah dikawasan Kota Tua Jakarta ingin mendekati dan mengabadikan sebuah momen unik pemandangan yang indah dan klasik bagi para wisatawan domestik dan luar negeri dari kamera photo yang mereka miliki.

Jembatan Kota Intan pernah mendapat julukan sebagai Jembatan Pasar Ayam ( Hoenderpasarbrug ) oleh masyarakat pribumi. Dikarenakan pada saat itu di sekitar Jembatan Kota Intan dijadikan area jual beli ayam. Dan pada tahun 1938 Jembatan Kota Intan ini rusak, dan sempat diperbaiki kembali dan bergati nama menjadi Jembatan Ratu Juliana ( Ophalsbrug Juliana ). Dan sekarang ini dikenal dengan nama Jembatan Kota Intan ( Diamond ). Dengan alasan pada waktu itu berdiri sebuah Kastil Batavia bernama Diamond.

Jembatan Kota Intan berlokasi persis berdekatan area Stasiun Bus Jakarta Kota yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 7 September 1972. Dan menjadi satu-satunya jembatan yang tersisa dan paling terkenal di Ibu Kota Jakarta dari sekian banyaknya yang pernah didirikan Belanda yang penulis ketahui dari beberapa sumber informasi daftar pustaka dan pusat sejarah Jakarta..

Banyak sensasi yang dapat kita rasakan di Jambatan Kota Intan ini, seperti pengalaman penulis pada saat hadir bersama para peserta wisata Jakarta City Tour yang penulis bawa untuk memperkenalkan di area Jembatan Kota Intan ini. Dimana kita bukan hanya dapat melihat bentuk jembatanya yang unik; namun, kita  juga dapat merasakan bentuk suatu jembatan yang khas, dan dapat membawa daya hayal imajinasi kita pada era masa lalu.

Pada saat kita mulai menginjakkan kaki diatas Jembatan Kota Intan ini, seketika itu pula kita langsung dapat memvisualisasikan perdagangan pada masa lampau, pada saat kapal-kapal yang sibuk hilir mudik dengan urusannya masing-masing berlalu lalang melintasi Jembatan Kota Intan di bawahnya yang terdapat sebuah kali besar.


Kini Jembatan Kota Intan usianya sudah renta dan semakin terlihat dari karat besi yang timbul di sisi-sisinya, walau selalu diperbaruhi, kekuatan kayunya pun tampak tidak sekokoh seperti dulu. Biarpun seperti itu, Jembatan Kota Intan yang penuh dengan sejarah ini menyisakan sebuah kisah yang menarik untuk ditelusuri. Jembatan Kota Intan tetap berjasa karena telah turut serta menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia khususnya Ibu kota Jakarta.

Jembatan Kota Intan kini tidak berfungsi sebagai jembatan yang membantu orang menyeberangi kali besar di daerah Kota Tua Jakarta, dan kini hanya bisa melayani para tamu wisatawan yang terkadang untuk melampiaskan segala inovasi kreatifitasnya dalam berkarya dengan segala bentuk kekagumannya dalam bentuk arsitektur yang unik dan memiliki cerita sejarah Jakarta ini.

Berbekal semangat hasrat menuangkan sebuah goresan karya dalam bentuk tulisan yang beredukatif selama melakukan perjalanan wisata edukasi sejarah di Kota Tua Jakarta, rasanya bila berbagi dari apa yang sudah penulis dapatkan merupakan suatu rasa kesenangan tersendiri yang tidak ternilai harganya.

Wisata Edukasi Sejarah Jakarta merupakan suatu perjalanan wisata yang kaya akan informasi ilmu pengetahuan bernilai sejarah yang dapat membuka cakrawala pengetahuan tentang budaya dan sejarah Ibu kota Jakarta. Perjalanan wisata yang dapat memberikan suatu nilai lebih dan unik dalam suatu konsep perjalanan wisata yang tidak membuat suasana menjadi tidak monoton dan dapat membantu peserta untuk dapat menambah cakrawala pengetahuan tentang Ibu kota Jakarta dengann cara yang unik dan mengasyikan.



Salam Wisata,

MUSEUM BANK INDONESIA FENOMENA KLASIK DE JAVASCHE BANK OF BATAVIA


Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia berperan sangat penting demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Bila kita ingin tahu seluk beluk dan sepak terjang Bank Indonesia, kita bisa datang mengunjungi museum Bank Indonesia yang berlokasi persis di seberang  Stasiun Kereta Api Kota Beos. Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat. Sejak lahir Museum Bank Indonesia hingga kini telah menjadi wahana penjelajahan yang penuh dengan edukasi dan rekreatif bagi para pengunjungnya.

Sejarah kantor pusat pertama Bank Indonesia merupakan bangunan rumah sakit (Binnenhospital) dan De Javasche Bank yang berdiri pada 24 Januari 1828. De Javasche Bank sendiri memiliki fungsi tempat sirkulasi berbagai macam perdagangan hasil bumi yang datang dari berbagai penjuru wilayah Hindia Belanda.

Dalam perjalanannya gedung ini sempat direnovasi beberapa tahap dan mengalami perluasan, sampai akhirnya ditempati oleh Bank Indonesia yang berdiri pada 1 Juli !953. Setelah kantor Bank Indonesia pindah dan gedung ini tidak terpakai lagi, pemerintah memanfaatkannya sebagai museum yang diresmikan pada 15 Desember 2006. Selanjutnya, museum ini terbuka untuk masyarakat.


Sejak saat itulah Museum Bank Indonesia melakukan pembenahan dan mempercantik diri untuk kepuasan pengunjungnya. Puncaknya adalah pada saat Presiden Republik Indoneisa, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan kembali museum ini pada tanggal 21 Juli 2009. Semenjak itu, tampilan dalam Museum Bank Indonesia lebih terlihat mantap. Kaya akan visual modern-klasik dan mengajak untuk memasuki lorong waktu sejarah yang mengesankan.

Jangan kaget bila di dalam Museum Bank Indonesia ini kita dapat menemukan banyak jenis dan bentuk uang. Sebelum menjelajah lebih jauh, penulis dan para peserta harus melewati pintu kasir dan dipandu sembari diberi informasi tentang sejarah Bank Indonesia secara umum lewat monitor yang bisa dioperasikan sendiri.

Setelah kita melalui itu semua, maka kita akan mengalami sensasi petualangan yang menggembirakan di Museum Bank Indonesia. Kita akan memasuki suatu moment langka yang terdapat di dalam Museum Bank Indonesia, yaitu dimana kita dapat merasakan permainan mandi uang. Dan di lorong yang tidak terlalu besar, kita akan bisa menangkap uang logam yang berterbangan pada layar yang melengkung tanpa harus memegangnya secara nyata.


Setelah kita berhasil menggenggamnya, maka kita akan mendapatkan informasi dari mata uang yang didapatkannya. Mainan yang mebuat kita hanya dalam suatu atmosfer interaktif di dalam Museum Bank Indonesia. Wahana ini ditunjang dengan menggunakan proyektor multimedia yang menjadi salah satu wahana favorit bagi setiap peserta wisata yang penulis dampingi ditempat ini. Kita akan diajak bagaikan berada dinegeri khayalan dalam dunia mimpi yang sedang dihujani uang.

Perjalanan terus berlanjut, menuju ke arah ruang teater yang menyuguhkan film-film menarik. tentunya dengan kemasan yang dijamin tidak membosankan. Di bioskop mini itu kita atau pun pengunjung dapat menyaksikan sinema tiga puluh menit tentang sejarah Bank Indonesia. Ruang Teater yang dapat menampung enam puluh orang ini sangat nyaman, sehingga informasi penting yang ada dalam rangkaian cerita filmya bisa lebih gampang diserap. Pengetahuan soal visi dan misi Bank Indonesia serta perannya menambah pengetahuan kita.

Menikmati sajian pertunjukan dalam teater di Museum Bank Indoneisa membuat tubuh ini malas beranjak dari tempat duduk studio mini yang sejuknya terasa hingga ke daging dan tulang. namun, kita harus melanjutkan perjalanan menuju ruang sejarah pra-Bank Indonesia. Persis setelah keluar dari rung teater, kita akan diajak untuk memasuki ruangan medium masa lampau.

Pada dinding awal ruangan terbentang peta kuno sebagian daratan Asia. peta zaman dahulu kala yang menggambarkan penuh sumber kekayaan alam. masih diruang yang sama, panel aktiitas perdagangan sebelum kedatangan bangsa Barat samapai terbentuknya Bank Indonesia menjadi sebuah rangkaian peristiwa yang disuguhkan lewat papan informasi dan televisi modern. kali ini, display elektronik otomatis-lah yang menajadi pemandu setia dalam menjelaskan lewat audio visual canggih perihal sejarah kondisi ekonomi, politik sepanjang masa.

Di ruangan ini kita cukup menggunakan ujung ibu jari untuk untuk menyentuh layar monitor display agar dapat mengikuti kronologi perekonomian Indonesia mulai dari Masa Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, Masa Revolusi Fisil, Masa RIS, hingga Masa Berdirinya Bank Indonesia.

Di Museum Bank Indonesia kita juga dapat langsung berkenalan dengan sejarah kelembagaan Bank Indoneisa. Secara garis besar kita dapat memahami fungsi Bank Indoneisa sehubungan dengan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran dari beberapa kurun waktu. Banyak sekali peran Bank Indoneisa bagi pemerintah dan bagi pengembangan sektor swasta, terutama usaha-usaha kecil lewat pemberian kredit kepada perbankan.

Kita bisa melihat sekilas metamorfosis logo Bank Indonesia, mulai dari tahun 1953 sampai yang terakhir tahun 2005. Sampai saat ini logo Bank Indonesia sudah mengalami tujuh kali perubahan. Pengubahan bentuk logo yang dilakukan Bank Indonesia semata-mata bermaksud agar lembaga tersebut lebih berwibawa dan semakin berkarakter.

Dari semua ruang pamer, ruang emas moneter menjadi favorit penulis dan para peserta wisata. Di sini, kita akan melihat tumpukan batangan emas yang dilindungi oleh kaca transparan. Mengkilau, memancarkan cahaya, dan menggambarkan simbol kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Batangan emas yang memiliki kadar emas 99,99 % tiap batangnya, dan memiliki ketebatan 4 cm serta berat 13,5 kg. Emas tersebut didimpan sebagai cadangan devisa Negara dan biasanya digunakan jika negara mengalami krisis politik dan ekonomi yang mempengaruhi nilai tukar mata uang.

Di dalam ruang numismatika kita hanya dapat merasakan cahaya sinar lampu temaram yag terdapat banyak kepingan dan lembaran uang, serta uang terbitan khusus yang sangat langka. Uang-uang ini dibagi ke dalam sembilan kelompok dan dipilih berdasarkan periode terbitnya. Contoh-contoh uang yang pernah dipergunakan di Nusantara itu mampu mebuat decak  kagum. Betapa tidak, di sini ada uang kertas Bank Indonesia yang pertama kali dikeluarkan paa tahun 1952. terdiri atas tujuh pecahan mulai dari Rp. 5 hingga Rp. 1.000,-


Di sini kita dapat menemukan uang seperti robekan karung beras bernama Kampua, uang kerajaan Buto, Sulawesi Tengara yang diprediksi pernah dijadikan alat tukar pada abad ke-14 - 19. Kita juga dapat menemukan uang Token yang hanya terbit di komunitas tertentu. Biasanya di perkebunan, di tempat rekreasi dan tempat perjudian. uang Token bentunya berbagai macam (segitiga, segolima, bundar) dan terbuat dari kertas, kayu, bambu, dan logam.

Mengamati semua koleksi yang bertebaran di Museum Bank Indonesia kita akan berhenti sejenak untuk diajak berpikir, apa yang kita lihat didalam berupa uang sobekan kertas dan logam di dalam Museum Bank Indoensia merupakan koleksi yang bertebaran merupakan kepingan kabar yang bila kita satukan menjadi sebuah cerita perjalanan bangsa Indonesia

Jakarta yang merupakan kota metropolitan yang memiliki kisah historis yang unik dan mengagumi untuk ditelusuri dan dinikmati dengan sudut kacamata yang berbeda. Dimana kita akan selalu menemukan hal baru dan istemewah dibalik sebuah cerita dalam sejarah setiap gedung-gedung tua yang ada di Kota Tua Jakarta.

Selamat menikmati indahnya Kota Jakarta dari nuansa yang berbeda.


Salam Wisata,

SEBUAH ATMOSFIR DI TAMAN FATAHILLAH JAKARTA


Museum Sejarah Jakarta sebuah sosok bangunan yang akrab dipanggil dengan sebutan Museum Fatahillah, dan merupakn icon tempat wisata di Kota Tua yang memiliki banyak cerita. Gedung yang dulunya di manfaatkan sebagai balai kota inilah yang mewariskan jejak-jejak perjalanan panjang lahirnya kota Jakarta

Museum Sejarah Jakarta juga menjadi tempat favorit anak-anak muda yang mencoba mengisi waktu dengan berbagai kegiatan seru di depan halaman Museum Sejarah Jakarta yang sering disebut Taman Fatahillah Jakarta, yang merupakan alun-alun kota Batavia pada masanya.

Kegiatan dan aktifitas yang ada di kota tua Jakarta berpusat di Taman Fatahillah yang lokasinya dikelilingi gedung-gedung tua dan dikawal oleh tiga museum ( yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Wayang) serta di salah satu sudut Taman Fatahillah kita akan menemukan tempat istirahat yang unik dan klasik yaitu Cafe Batavia.

Nah para sahabat, bagi yang belum pernah mampir atau yang masih bingung mau melakukan apa di lapangan Fatahillah, jangan terbutu-buru kita meninggalkan tempa ini. Karena bila kita mau saja berjalan dan memperhatikan disekeliling Taman Fatahillah, kita akan menadapatkan informasi beberapa aktifitas dan jajanan yang bisa kita temukan.

Menikmati atmosfer Taman Fatahillah yang terpancar di lokasi tersebut dapat membuat suasana yang ada menjadi asyik buat dinikmati bersama-sama. Kita dapat bercengkrama bersama rekan-rekan, duduk-duduk santai sambil berdiskusi membicarakan topik-topik ringan, atau berbicara ngalur-ngidul namun tetap fun.

Terkadang keasyikan kita dalam menikmati suasana di Taman Fatahillah membuat diri kita tenggelam dalam suasana yang unik hingga kita terbuat akan masalah waktu, hal inilah yang membuat waktu cepat berlalu . Bagi para sahabat-sahabat yang memiliki hobi photografi, di Taman Fathillah kita akan banyak menemukan view pengambilan gambar yang bagus-bagus di sini

Kita dapat menemukan para photograpi amatir sampai dengan photograpi profesional di Taman Fatahillah. Dikarenakan Taman Fatahillah kita dapat menemukan cukup banyak pilihan objek yang layak dijepret. Sudut-sudut bangunan tua yang tidak akan pernah habis sebagai bahan bidikan photo dan tidak pernag bosan untuk diabadikan.

Taman Fahillah hampir setiap akhir pekan selalu mengadakan pertunjukan seni budaya Indonesia yang dapat di lihat secara umum. Dan bagi pecinta  sepeda di Taman Fatahillah kita dapat menikmati sepeda dengan gaya orang-orang pada jaman dulu. Sepeda onthel yang dijejer di Taman Fatahillah meruapakan sarana yang dapat dinikmati oleh para pengunjunng Taman Fatahillah, tentunya ini semua disediakan untuk disewa

Sepeda onthel yang merupakan sarana transportasi pada zaman kuno (baheula) ini seru bila kita jadikan sarana saat mengelilingi Kota Tua Jakarta. Ada sensasi yang berbeda saat kita melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda onthel ini. Bicara mengenai tarif, sangat relatif murah. Dan semua itu dapat kita negosiasikan dengan para petugas. Apakah sepeda onthel tersebut akan kita pergunakan sendiri atau kita dibonceng oleh sang pemiliknya.

Menikmati keindahan Kota Jakarta dengan beragam keunikan dan cerita sejarahnya merupakan suatu perjalanan wisata yang sangat fenomena dan memberikan kesan tersendiri dalam kehidupan kita. Karena hal ini selalu membuat diri kita selalu ingin mengulanginya kembali, bagai magnet yang tersusun dalam goresan dinding tua yang selalu memberikan kesan kepada mata yang melihatnya hingga hati ini menjadi jatuh cinta.


Salam wisata,

MUSEUM SENI BUDAYA DAN KERAMIK KEINDAHAN DALAM SEBUAH PRESTASI SENI BERNILAI SEJARAH

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/09/museum-seni-budaya-dan-keramik.html
Menjelajahi museum di kota tua merupakan perjalanan petualangan sambil membuka cakrawala pengetahuan kita tentang dunia sejarah Jakarta dan bangsa Indonesia yang memiliki nilai kelas tersendiri di dunia internasional. Memang sangat mengasyikan bila kita dapat menyelusuri sambil menusun setiap kepingan-kepingan yang bertabur di kota tua tentang sejarah kota Jakarta.

Museum seni budaya dan keramik yang terletak di seberang lapangan Fatahillah, tepatnya di jalan Kantor Pos No. 2 Jakarta Barat. Dulunya banguan ini merupakan bangunan kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Road van Justitie Binnen Het Kastel Batavia). Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 ini pernah menjadi markas tentara KNIL, pada tahun 1944 sebagai asrama militer TNI. Pada 10 Januari 1972, dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi.

Bangunan Museum Seni Budaya Dan Keramik ini juga pernah dijadikan Kantor Walikota Jakarta barat pada tahun 1973-1979. Baru setelah itu banguan ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa Jakarta dan akhirnya pada tahun 1990, diresmikan menjadi museum seni budaya dan keramik.

Sesuai namanya, museum yang memiliki delapan pilar besar sebagai penyangga terasnya ini menyimpan koleksi karya seniman Indonesia periode tahun 1800-an sampai sekarang. Ada juga keramik dari beberapa daerah di Indonesia dan mancanegara, misalnya dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, jepang, dn Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20.

Koleksi seni lukis dan seni rupa yang disimpan sangat bernilai tinggi karena dibuat oleh seniman terkemuka pada jamannya. Selain seni keramik, terdapat koleksi seni rupa kontreporer. Oleh karena itu dengan mengunjungi museum ini sangat dianjurkan bagi kita dan keluarga untuk mengetahui lebih jauh lagi.

Selamat menikmati Wisata di Kota Jakarta.

Salam Wisata,

MUSEUM SEJARAH JAKARTA OBJEK WISATA EDUKASI DI KOTA JAKARTA

Museum Sejarah Jakarta merupakan salah satu museum yang memiliki nilai historis perjalanan sejarah kota Jakarta sebgai pusat Ibu Kota Negara Indonesia. Museum Sejarah Jakarta yang terletak di daerah Kota tua tepat dengan berseberangan dari stasiun Beos  Jakarta Kota. Museum Sejarah Jakarta yang diresmikan pada 30 Maret 1974 terletakdi jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat.

Museum Sejarah Jakarta dulunya merupakan Balai Kota (stadhuis), yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan Museum Sejarah Jakarta yang memiliki gaya arsitekur bergaya barok klasik, dibangun berdasarkan rujukan dari istana Dam Amsteram. temboknya di cat kuning tanah dengan kusen pintu dan jendela yang terbuat dari kayu jati yang dicat hijau daun. bangunan ini terdiri atas tiga lantai yang berfungsi sebagai kantor dan ruang pengadilan, serta penjara di lantai bawahnya.

Dengan mengikuti suatu perjalanan wisata bersejarah ke Kota Tua Jakarta dan hadir di Museum Sejarah Jakarta kita dapat menyaksikan benda yang berhubungan dengan sejarah Jakarta, misalnya koleksi kebudayaan Betawi, numismatika (koleksi mata uang), becak, dan meel antik dari abad 17-19, prasasti, replika peninggalan kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, serta hasil penggalian arkeologi di Jakarta.

Koleksi-koleksi tersebut disimpan di ruangan yang diberi nama berhubungan dengan sejarah Jakarta, misalnya Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakara, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH. Thamrin. Di halaman dalam, dipasang patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap memiliki kekuatan magis.

Itulah salah satu yang merupakan daya tarik objek wisata di kota tua yang memiliki nilai suatu sejarah perjalanan  yang terukir dengan tinta emas yang menggores sejarah kehidupan dunia internasional. Ikuti Perjalanan kota tua di objek-objek yang lainnya.

Para sahabat semua mari kita menikmati keindahan fenomena Jakarta dengan cara yang menarik dan berkesan. Yang mana kita dapat menikmati setiap goresan artikel sejarah yang terpatri dalam setiap goresan ukiran gedung -gedung tua dengan sejumlah cerita historisnya.

Selamat menikmati Kota Jakarta, Indonesia.


Salam Wisata,

TAMAN FATAHILLAH ALUN-ALUN BATAVIA PUNYA CERITA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/09/taman-fatahillah-alun-alun-batavia.htmlTaman Fathillah Alun-Alun batavia Punya Cerita. - Taman Fatahillah merupakan  taman yang berada dihalaman depan Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, yang mana dulunya merupakan sebuah taman atau alun-alun yang berada di pusat kota Batavia. 

Taman Fatahillah pada waktu itu terkenal dengan sebutan Standhuisplien atau "Taman Balaikota"
karena diselatan alun-alun ini terdapat Balaikota yan dibangun pada tahun 1710 dan kini bangunan tersebut difungsikan sebagai Museum Sejarah JakartaDi tengah Taman Fatahillah terdapat air mancur untuk keperluan air bersih pada abad 18.

Disebelah timur Taman Fatahillah terdapat terdapat deretan gedung tua, dan salah satunya adalah sebuah gedung yang dahulu merupakan gedung milik perusahaan "Geo Wehry" yang dibangun pada tahun 1912. Sejak tahun 1939 digunakan sebagai Museum Oude Batavia dan pada tahun 1975 hingga saat ini dijadikan Museum Wayang.

Disebelah utara Taman Fatahillah terdapat gedung Kantor Pos gedung bekas PT. Jasindo, gedung bekas milik Dasaad, serta satu bangunan kuno yang difungsikan sebagai Cafe Batavia. Dahulu diantara deretan gedung tersebut terdapat sebuah meriam diantara deretan gedung tersebut terdapat sebuah meriam Portugis yang oleh masyarakat diberi nama  Si Jagur.

Meriam ini sebelumnya berada di Malaka. Setelah berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis pada tahun 1641, Belanda membawanya ke Batavia. Sekarang meriam tersebut ditempatkan di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta.

Taman Stasiun Beos. Taman ini dikenal masyarakat Jakarta, khusunya sekitar Kota tua. Karena terletak persis didepan stasiun (kereta api) Beos atau Stasiun Kota. Banyak juga yang menyebutnya sebagai Taman Stasiun Kota.  Taman ini sering sekali di kunjungi para wisatawan, atau pun sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda di daerah kota tua Jakarta.

Tugu jam yang berada di tengah-tengah taman masih dapat kita saksikan dibangun dengan gaya Art Deco, sesuai dengan gaya gedung-gedung sekitar tahun 1920. Taman Beos kini telah berubah fungsi dengan adanya terowongan sebagai Tempat Penyeberangan Orang (TPO) serta dimanfaatkannya sebagian lahan untuk halte pemberhentian Trans Jakarta koridor I.

Menikmati keindahan Kota Jakarta degan segala keunikan tempat yang memiliki historis sejarah, merupakan keasyikan tersendiri yang dapat kita nikmati dalam menjelajah gedung-gedung tua yang menjadi saksi-saksi bisu di Kota Tua  Jakarta. Selamat menikmati keindahan Kota Tua Jakarta di sana kita dapat menemukan sebuah Taman Fathillah Alun-Alun Batavia Punya Cerita.


Salam Wisata,

KOTA TUA JAKARTA FENOMENA SEJARAH JAKARTA


Berada di Ibu Kota negara Indoneisa, Jakarta tentu tidak lengkap jika tidak mengunjungi Kota Tua atau yang biasa disebut dengan Batavia Lama (Oude Batavia-bahasa Belanda). Kota Tua yang memiliki luas 1,3 km dan dibangun sekitar tahun 1620 setelah Belanda di bawah pimpinan Jan Pietter Coenzon yang menaklukkan Jayakarta pada waktu itu dan menguasai perkampungan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa.


Kota yang baru dibangun tersebut diberi nama Batavia untuk menghormati Bataviaren, leluhur warga Belanda. Pada tahun 1635, pengenmbangan kota ini semakin meluas dan memakan waktu yang panjang. Baru di tahun 1650, pembangunan batavia selesai. Dibuat dengan gaya Eropa Belanda, lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan blok yang dipisahkan kanal, dengan pusat kota yang berada di lapangan atau Alun-alun Fatahalillah (sekarang menjadi halaman Museum Sejarah jakarta).

Kota Batavia dibangun sebagai tempat pemukiman, pusat kota, dan pemerintahan. Oleh karena itu Kota Tua Batavia memiliki banyak situs bersejarah yang layak untuk dikunjungi oleh para wisatawan. Karena Kota Tua Jakarta memiliki sebuah nilai sejarah dan keindahan bentuk bangunan peninggalan Belanda, khususnya bagi warga Ibu Kota DKI Jakarta.

Objek-objek sejarah yang menarik kita dapat temui di Kota Tua Jakarta :

1. Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)
2. Museum Seni Budaya dan Keramik.
3. Museum Wayang.
4. Museum Bank Mandiri.
5. Museum Bank Indoneisa.
6. Bank Standard-Chartered
7. Hotel Former
8. Jembatan Tarik Kota Intan
9. Galangan  VOC
10. Menara Syahbandar.
11. Museum bahari,
12. Pasar Ikan
13. Pelabuhan Sunda Kelapa
14. Gedung Arsip nasional
15. Pecinan Glodok dan Pinangsia
16. Stasiun Beos
17. Kali besar (Grootegracht)
18. Gedung Chandranaya,
19. Vihara Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti).
20. Toko Merah
21. Petak Sembilan, Peni
22. Masjid Luar Batang.


Dari pengalaman penulis  menyelusuri Kota Tua Jakarta sering mendapatkan moment-moment yang indah dalam nampilkan suatu tempat yang klasik dan unik ini. Terutama pertunjukan seni tradisional yang selalu di pertunjukan di halaman Fatahillah bagi setiap pengunjung yang hadir. Bila suasana cuaca mendukung, maka bagi kita para pecinta dunia photo graphi akan mendapatkan view gambar yang cantik dan indah melalui fenomena alam yang kita akan dapatkan diantara gedung-gedung tua bersejarah tersebut.

Sangat disayangkan bagi kita warga Jakarta khususnya dan warga Indonesia yang belum atau pun tidak mengetahui objek-objek wisata yang bernilai sejarah dunia ini. Dimana cikal bakal berdirinya pusat kepemerintahan Ibu Kota Negara Indonesia menjadi suatu nilai historis sejarah tersendiri bagi bangsa dan negaranya..

Kota tua Jakarta merupakan objek wisata yang sangat mengasyikan, penuh edukatif akan sebuah nilai bersejarah tentang Ibu Kota Jakarta dan sejarah bangsa Indonesia. Bagi para sahabat-sahabat yang akan melakukan perjalanan di kota tua sebaiknya kenali objek wisata yang akan kita datangi terlebih dahulu. Bila perlu kita dapat mengikuti suatu paket perjalanan dengan seorang yang telah berpengalaman dan mengetahui setiap objek yang akan dikunjungi.

Penulis sangat menyarankan kepada para sahabat-sahabatku jangan lupa siapkan kamera dan kostum yang menarik jika mengunjungi kota tua Jakarta. Dikarenakan kita akan menemui spot yang menarik untuk berfoto ria dengan rekan-rekan, sahabat, keluarga, atau pun pasangan kita. yang mana semua ini merupakan suatu kisah perjalanan yang menarik dan dapat berkesan dihati kita.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi rekan-rekan dan dapat berbagi pengalaman kepada rekan yang lainnya.



Salam Wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus