Di Balik Cerita Arca Bhairawa Buddha - Cerita nama tokoh Bhairawa Buddha saya temukan pada saat berkunjung di area Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Secara pribadi cerita ini sangatlah menarik untuk di telusuri untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan, apalagi pada saat kita melakukan perjalanan wisata di tempat wisata sejarah, arkeologi dan budaya Indonesia. Untungnya tempat wisata seperti ini mudah di kunjungi bagi saya yang berlokasi di kawasan Jakarta. Dan lokasi Museum Nasional Indonesia ini berada di Jalan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat.
Konon nama tokoh Bhairawa Buddha merupakan salah satu perwujudan seorang bangsawan Kerajaan Majapahit keturunan Melayu yang kemudian menjadi Raja di daerah Sumatera. Hal ini tercatat di dalam keterangan dari pihak Museum Nasional Indonesia yang berada di sekitar Arca Bhairawa Buddha. Arca ini berada di ruang depan Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dan letak archa ini menghadap ke halaman tengah museum yang berada di gedung lama.
Informasi yang saya dapatkan dari pemandu wisata dari Museum Nasional Indonesia, Arca Bhairawa Buddha yang berdiri tegak ini memiliki ketinggian 4,41 meter dan berat arca Bhairawa Buddha sekitar 4 ton. Dan arca ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi saya dan para pengunjung yang hadir di Museum Nasional Indonesia. Hal ini dikarenakan arca Bhairawa Buddha merupakan salah satu koleksi patung artefak kuno tertinggi dan terbesar di antara artefak-artefak kuno koleksi museum yang lainnya yang berada di sekitar lokasi ruangan ini.
Lanjut...............
Dilihat dari dekat, arca ini sedang memegang mangkuk dan belati, mengenakan perhiasan berupa mahkota, kalung, kelat bahu, gelang tangan berupa belitan ulat dan juga ikat pinggang berukir kepala kala. Arca ini menggambarkan aliran Tantrayana yang menunjukan pengejawantahan dewa Siwa dan Buddha. Di mana bila kita perhatikan terdapat sebuah simbol yang menunjukan adanya pengaruh ajaran Buddha pada mahkota bagian depan yang berada di kepala arca ini, seperti photo yang di bawah ini.
Lanjut informasi yang saya dapatkan...............
Dan untuk bagian bawah arca Bhairawa Buddha, kita bisa melihat bahwasanya arca ini berdiri tegak dengan menginjak manusia bertubuh kecil yang dikelilingi delapan tengkorak berupa kepala. Pada kakinya di beri gelang kaki belitan ulat yang sama seperti yang ada di tangan. Sedangkan untuk di daerah ke dua kaki di sekitar betis terlihat sangat jelas sekali bahwa arca Bhairawa Buddha ini di temukan dalam keadaan cacat, hal ini di akibatkan pada saat arca ini masih terpendam di dalam tanah dan yang terlihat berupa tonjolan batu, maka dengan ketidaktahuan masyarakat setempat batu tersebut di pergunakan untuk mengasah alat pertanian, seperti parang dan lesung padi.
Arca Bhairawa Buddha ini menggambarkan ritual aliran Tantrayana yang mengorbankan manusia untuk mengusir sifat-sifat jahat. Konon, mangkuk yang dipegang Arca Bhairawa Buddha itu berisi darah manusia untuk upacara ritual meminum darah. Sedangkan gambaran dari manusia kecil dan kepala tengkorang yang diinjak merupakan simbol-simbol pengorbanan dalam ritual tersebut. Konon dalam ajaran aliran Tantra menurut kepercayaan yang mereka yakini dulu, jika mereka mengorbankan manusia, maka manusia itu akan mudah masuk surga nirwana. Dan aliran ini berkembang di agama Siwa yang di percaya dan diyakini sebagai dewa tertinggi kedudukannya pada masa itu.
Lanjut.........
Menurut informasi yang saya dapatkan di lokasi Museum Nasional Indonesia, penemuan arca Bhairawa Buddha ini tergolong tidak unik, karena posisinya tidak sengaja, dan di temukan oleh petani di daerah pesawahan kompleks percandian Padang Roso, Sumatera Barat. Setelah di lakukan penggalian di kawasan tersebut ditemukanlah arca besar ini. Dan arca ini dibawa pemerintah Hindia Belanda ke Kebun Margasatwa Bukittinggi pada tahun 1935, dan dipindahkan ke Museum Nasional di Batavia (saat itu belum berganti nama) pada tahun 1937.
Konon menurut informasi cerita, masyarakat di sekitar daerah penemuan arca Bhairawa Buddha di kawasan daerah Padang Roso, mereka percaya daerah tersebut merupakan sebagai pintu gerbang pusat pemerintahan Kerajaan Melayu. Dan keberadaan arca Bhairawa Buddha pada waktu itu berdiri menghadap sungai Batanghari yang mengarah ke arah timur, dan berfungsi sebagai markah tanah pada zaman tersebut.
Di Balik Cerita Arca Bhairawa Buddha yang saya dapatkan segala informasi ini adalah hasil perjalanan wisata sejarah yang saya lakukan di salah satu tempat wisata Jakarta. Di mana Jakarta memiliki tempat wisata yang indah dan bernilai sejarah yang banyak menyimpan kisah perjalanan catatan bangsa Indonesia yang panjang untuk di telusuri sebagai wahana edukasi dan rekreasi.
Salam wisata,
Konon nama tokoh Bhairawa Buddha merupakan salah satu perwujudan seorang bangsawan Kerajaan Majapahit keturunan Melayu yang kemudian menjadi Raja di daerah Sumatera. Hal ini tercatat di dalam keterangan dari pihak Museum Nasional Indonesia yang berada di sekitar Arca Bhairawa Buddha. Arca ini berada di ruang depan Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dan letak archa ini menghadap ke halaman tengah museum yang berada di gedung lama.
Informasi yang saya dapatkan dari pemandu wisata dari Museum Nasional Indonesia, Arca Bhairawa Buddha yang berdiri tegak ini memiliki ketinggian 4,41 meter dan berat arca Bhairawa Buddha sekitar 4 ton. Dan arca ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi saya dan para pengunjung yang hadir di Museum Nasional Indonesia. Hal ini dikarenakan arca Bhairawa Buddha merupakan salah satu koleksi patung artefak kuno tertinggi dan terbesar di antara artefak-artefak kuno koleksi museum yang lainnya yang berada di sekitar lokasi ruangan ini.
Lanjut...............
Dilihat dari dekat, arca ini sedang memegang mangkuk dan belati, mengenakan perhiasan berupa mahkota, kalung, kelat bahu, gelang tangan berupa belitan ulat dan juga ikat pinggang berukir kepala kala. Arca ini menggambarkan aliran Tantrayana yang menunjukan pengejawantahan dewa Siwa dan Buddha. Di mana bila kita perhatikan terdapat sebuah simbol yang menunjukan adanya pengaruh ajaran Buddha pada mahkota bagian depan yang berada di kepala arca ini, seperti photo yang di bawah ini.
Lanjut informasi yang saya dapatkan...............
Dan untuk bagian bawah arca Bhairawa Buddha, kita bisa melihat bahwasanya arca ini berdiri tegak dengan menginjak manusia bertubuh kecil yang dikelilingi delapan tengkorak berupa kepala. Pada kakinya di beri gelang kaki belitan ulat yang sama seperti yang ada di tangan. Sedangkan untuk di daerah ke dua kaki di sekitar betis terlihat sangat jelas sekali bahwa arca Bhairawa Buddha ini di temukan dalam keadaan cacat, hal ini di akibatkan pada saat arca ini masih terpendam di dalam tanah dan yang terlihat berupa tonjolan batu, maka dengan ketidaktahuan masyarakat setempat batu tersebut di pergunakan untuk mengasah alat pertanian, seperti parang dan lesung padi.
Arca Bhairawa Buddha ini menggambarkan ritual aliran Tantrayana yang mengorbankan manusia untuk mengusir sifat-sifat jahat. Konon, mangkuk yang dipegang Arca Bhairawa Buddha itu berisi darah manusia untuk upacara ritual meminum darah. Sedangkan gambaran dari manusia kecil dan kepala tengkorang yang diinjak merupakan simbol-simbol pengorbanan dalam ritual tersebut. Konon dalam ajaran aliran Tantra menurut kepercayaan yang mereka yakini dulu, jika mereka mengorbankan manusia, maka manusia itu akan mudah masuk surga nirwana. Dan aliran ini berkembang di agama Siwa yang di percaya dan diyakini sebagai dewa tertinggi kedudukannya pada masa itu.
Lanjut.........
Menurut informasi yang saya dapatkan di lokasi Museum Nasional Indonesia, penemuan arca Bhairawa Buddha ini tergolong tidak unik, karena posisinya tidak sengaja, dan di temukan oleh petani di daerah pesawahan kompleks percandian Padang Roso, Sumatera Barat. Setelah di lakukan penggalian di kawasan tersebut ditemukanlah arca besar ini. Dan arca ini dibawa pemerintah Hindia Belanda ke Kebun Margasatwa Bukittinggi pada tahun 1935, dan dipindahkan ke Museum Nasional di Batavia (saat itu belum berganti nama) pada tahun 1937.
Konon menurut informasi cerita, masyarakat di sekitar daerah penemuan arca Bhairawa Buddha di kawasan daerah Padang Roso, mereka percaya daerah tersebut merupakan sebagai pintu gerbang pusat pemerintahan Kerajaan Melayu. Dan keberadaan arca Bhairawa Buddha pada waktu itu berdiri menghadap sungai Batanghari yang mengarah ke arah timur, dan berfungsi sebagai markah tanah pada zaman tersebut.
Di Balik Cerita Arca Bhairawa Buddha yang saya dapatkan segala informasi ini adalah hasil perjalanan wisata sejarah yang saya lakukan di salah satu tempat wisata Jakarta. Di mana Jakarta memiliki tempat wisata yang indah dan bernilai sejarah yang banyak menyimpan kisah perjalanan catatan bangsa Indonesia yang panjang untuk di telusuri sebagai wahana edukasi dan rekreasi.
Salam wisata,














