DI BALIK CERITA ARCA BHAIRAWA BUDDHA

http://ejawantahtour.blogspot.ru/2014/03/di-balik-cerita-arca-bhairawa-buddha.html
Di Balik Cerita Arca Bhairawa Buddha - Cerita nama tokoh Bhairawa Buddha saya temukan pada saat berkunjung di area Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Secara pribadi cerita ini sangatlah menarik untuk di telusuri untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan, apalagi pada saat kita melakukan perjalanan wisata di tempat wisata sejarah, arkeologi dan budaya Indonesia. Untungnya tempat wisata seperti ini mudah di kunjungi bagi saya yang berlokasi di kawasan Jakarta. Dan lokasi Museum Nasional Indonesia ini berada di Jalan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat.

Konon nama tokoh Bhairawa Buddha merupakan salah satu perwujudan seorang bangsawan Kerajaan Majapahit keturunan Melayu yang kemudian menjadi Raja di daerah Sumatera. Hal ini tercatat di dalam keterangan dari pihak Museum Nasional Indonesia yang berada di sekitar Arca Bhairawa Buddha. Arca ini berada di ruang depan Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dan letak archa ini menghadap ke halaman tengah museum yang berada di gedung lama.

Informasi yang saya dapatkan dari pemandu wisata dari Museum Nasional Indonesia, Arca Bhairawa Buddha yang berdiri tegak ini memiliki ketinggian 4,41 meter dan berat arca Bhairawa Buddha sekitar 4 ton. Dan arca ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi saya dan para pengunjung yang hadir di Museum Nasional Indonesia. Hal ini dikarenakan arca Bhairawa Buddha merupakan salah satu koleksi patung artefak kuno tertinggi dan terbesar di antara artefak-artefak kuno koleksi museum yang lainnya yang berada di sekitar lokasi ruangan ini.

Lanjut...............
Dilihat dari dekat, arca ini sedang memegang mangkuk dan belati, mengenakan perhiasan berupa mahkota, kalung, kelat bahu, gelang tangan berupa belitan ulat dan juga ikat pinggang berukir kepala kala. Arca ini menggambarkan aliran Tantrayana yang menunjukan pengejawantahan dewa Siwa dan Buddha. Di mana bila kita perhatikan terdapat sebuah simbol yang menunjukan adanya pengaruh ajaran Buddha pada mahkota bagian depan yang berada di kepala arca ini, seperti photo yang di bawah ini.

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-cerita-arca-bhairawa-buddha.html

Lanjut informasi yang saya dapatkan...............
Dan untuk bagian bawah arca Bhairawa Buddha, kita bisa melihat bahwasanya arca ini berdiri tegak dengan menginjak manusia bertubuh kecil yang dikelilingi delapan tengkorak berupa kepala. Pada kakinya di beri gelang kaki belitan ulat yang sama seperti yang ada di tangan. Sedangkan untuk di daerah ke dua kaki di sekitar betis terlihat sangat jelas sekali bahwa arca Bhairawa Buddha ini di temukan dalam keadaan cacat, hal ini di akibatkan pada saat arca ini masih terpendam di dalam tanah dan yang terlihat berupa tonjolan batu, maka dengan ketidaktahuan masyarakat setempat batu tersebut di pergunakan untuk mengasah alat pertanian, seperti parang dan lesung padi.

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/di-balik-cerita-arca-bhairawa-buddha.html

Arca Bhairawa Buddha ini menggambarkan ritual aliran Tantrayana yang mengorbankan manusia untuk mengusir sifat-sifat jahat. Konon, mangkuk yang dipegang Arca Bhairawa Buddha itu berisi darah manusia untuk upacara ritual meminum darah. Sedangkan gambaran dari manusia kecil dan kepala tengkorang yang diinjak merupakan simbol-simbol pengorbanan dalam ritual tersebut. Konon dalam ajaran aliran Tantra menurut kepercayaan yang mereka yakini dulu, jika mereka mengorbankan manusia, maka manusia itu akan mudah masuk surga nirwana. Dan aliran ini  berkembang di agama Siwa yang di percaya dan diyakini sebagai dewa tertinggi kedudukannya pada masa itu.

Lanjut.........
Menurut informasi yang saya dapatkan di lokasi Museum Nasional Indonesia, penemuan arca Bhairawa Buddha ini tergolong tidak unik, karena posisinya tidak sengaja, dan di temukan oleh petani di daerah pesawahan kompleks percandian Padang Roso, Sumatera Barat. Setelah di lakukan penggalian di kawasan tersebut ditemukanlah arca besar ini. Dan arca ini dibawa pemerintah Hindia Belanda ke Kebun Margasatwa Bukittinggi pada tahun 1935, dan dipindahkan ke Museum Nasional di Batavia (saat itu belum berganti nama) pada tahun 1937.

Konon menurut informasi cerita, masyarakat di sekitar daerah penemuan arca Bhairawa Buddha di kawasan daerah Padang Roso, mereka percaya daerah tersebut merupakan sebagai pintu gerbang pusat pemerintahan Kerajaan Melayu. Dan keberadaan arca Bhairawa Buddha pada waktu itu berdiri menghadap sungai Batanghari yang mengarah ke arah timur, dan berfungsi sebagai markah tanah pada zaman tersebut.

Di Balik Cerita Arca Bhairawa Buddha yang saya dapatkan segala informasi ini adalah hasil perjalanan wisata sejarah yang saya lakukan di salah satu tempat wisata Jakarta. Di mana Jakarta memiliki tempat wisata yang indah dan bernilai sejarah yang banyak menyimpan kisah perjalanan catatan bangsa Indonesia yang panjang untuk di telusuri sebagai wahana edukasi dan rekreasi.




Salam wisata,

MENGENAL PRASASTI GAJAH MADA

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/mengenal-prasasti-gajah-mada.html
Mengenal Prasasti Gajah Mada - Banyak informasi ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan bila kita berkunjung ke salah satu obyek wisata di suatu daerah. Seperti perjalanan wisata sejarah yang bisa kita lakukan di tempat wisata sejarah Jakarta yang banyak menyimpan bukti-bukti otentik dengan fakta benda bersejarah yang bisa kita temukan dan lihat di lokasi tertentu. Seperti perjalanan wisata saya di lokasi Museum Nasional Indonesia ini.

Prasasti Gajah Mada yang saya temukan di lokasi museum menggambarkan sebuah bukti otentik sejarah cinta dan bhakti seorang Mahapatih Gajah Mada  kepada rajanya terurai dalam sebuah tulisan Jawa Kuno yang terpahat rapih untuk tokoh pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Raja Kertanegara untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau sebuah candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada.

Mengenal prasasti Gajah Mada secara langsung dapat mengantarkan kita dalam sebuah dimensi dari sekelumit cerita sejarah dari kisah perjalanan panjang Kerajaan Majapahit, karena di dalam Prasasti Gajah Mada tersebut sangat jelas tertulis bahwa pembangunan caitya atau candi pemakaman yang di sebuat dengan bangunan suci di dirikan pada tahun 1273 Saka atau pada tahun 1351 Masehi.

Lanjut.....
Sedangkan untuk pembagian lokasi pemakaman di dalam prasasti Gajah Mada di jelaskan bahwa untuk para brahmana Siwa dan Buddha lokasinya berada di lingkungan sekitar pedharman atau percandian Kertanegara di Singosari (Siwabudha) yang wafat pada tahun 1213 Saka atau 1291 Masehi. Tempat ini di sediakan sebagai tempat pemberian bakti sanak saudara atau keturunan Kertanegara yang setia kepadanya.

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/mengenal-prasasti-gajah-mada.html

Pada saat pembangunan Caitya ini Mahapatih Gajah Mada selaku inspirator dan tokoh utama Majapahit dan penasehat raja atau yang disebut "Sapta Prabhu" yaitu bernama Tribhuwantotungadewi yang tidak lain adalah ibu dari Maharaja Hayam Wuruk ikut hadir di lokasi.  Dan pada tahun tersebut Maharaja Hayam Wuruk baru menjabat selama 1 (satu) tahun menduduki tahta kerajaan sebagai kepala pemerintahan.  Dan sangatlah wajar jika langkah awal ini di jalankan dalam roda pemerintahannya sebagai bentuk mempersatukan keluarga besar atau "klan" Rajasa di sekitar Ibukota Majapahit.  ( Baca : Di Balik Pesona Keindahan Candi Jabung )

Itulah sebuah catatan kecil yang saya dapatkan dari nara sumber pusat innformasi Museum Nasional Indonesia tentang isi yang terdapat di dalam prasasti Gajah Mada. Dan informasi selanjutnya  yang saya terima dari pemandu wisata setempat,  Prasasti Gajah Mada ini di temukan pertama kalinya oleh penduduk setempat menemukan prasasti di sebuah kolam dekat dengan langar atau musholah milik Kyai Napii, di sebelah utara Candi Singosari, Malang, Jawa Timur.

Mengenal Prasasti Gajah Mada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, merupakan salah satu pengalaman perjalanan wisata sejarah di tempat wisata Jakarta. Di mana obyek wisata ini merupakan pusat sejarah dunia arkeologi yang dapat membantu kita bukan hanya mendapatkan informasi pengetahuan, namun juga menyajikan nuansa tempat wisata yang menarik dan menyenangkan di lokasi museum ini. Bila teman-teman dan pembaca setia hadir di lokasi Jakarta, bisa menyempatkan hadir di lokasi museum ini dan melihat koleksinya yang bernilai tinggi seperti prasasti Gajah Mada ini.





Salam wisata,

MENGENAL TRADISI SARKOFAGUS

http://www.ejawantahtour.com/2014/03/mengenal-tradisi-sarkofagus.html
Mengenal Tradisi Sarkofagus - Perjalanan wisata menuju ke suatu daerah tentu akan memiliki makna yang bisa kita dapatkan dari setiap tempat wisata yang kita kunjungi. Seperti hal nya dalam setiap perjalanan wisata yang bisa kita kunjungi di beberapa tempat yang memiliki situs purbakala  di daerah Indonesia.

Dari informasi yang saya dapatkan di lokasi tempat wisata sejarah dan arkeologi Museum Nasional Indonesia, Sartofagus merupakan sebuah batu yang digunakan untuk pemakaman. Di mana jenazah atau si mayit di masukan di dalam batu tersebut lalu di simpan di bawah tanah.  Biasanya pola konsep penguburan seperti ini di kenal pada jaman Yunani kuno, dan tempat ini di kenal sebagai penyimpanan mumi yang kremasi.

Kuburan batu atau Sarkofagus yang terdapat di dalam photo tersebut merupakan salah satu bentuk dari bangunan masa Megalitik. Dan penggunaannya hanya diperuntukan sebagai wadah orang-orang yang memiliki status sosial tinggi di mata masayarakat atau yang di kenal dengan nama tokoh masyarakat yang dituakan di suatu daerah tempat tinggal.

Sedangkan di Indonesia sendiri memiliki tempat wisata situs bersejarah yang memiliki situs purbakala seperti Sarkofagus, Dimana di kawasan tersebut terdapat obyek wisata yang memiliki +/- 1.000 situs purbakala yang bisa kita kunjungi di sana. Bila teman-teman akan mengunjungi kawasan tempat wisata tersebut tempat-teman dapat mengunjungi daerah Desa Grujukan, Bondowoso, Jawa Timur.

Mengenal tradisi Sarkofagus lebih dekat melalui perjalanan wisata sejarah akan memberikan informasi kepada kita bahwa konsep pemakaman dengan cara menyimpan jenazah di dalam batu seperti yang di lakukan pada jaman Yunani kuno pun pernah terjadi di wilayah Indonesia. Hal ini terungkap dalam catatan kecil yang bisa kita temukan di Museum Nasional Indonesia, bahwa dari hari-hasil penelitian arkeologi di situs-situs penguburan di beberapa tempat daerah Indonesia.




Salam wisata,

CERITA STASIUN KERETA API KEMAYORAN JAKARTA


Cerita Stasiun Kereta Api kemayoran Jakarta ini saya dapat dari seorang sahabat lama saya, dimana pada sore hari kami berkumpul dan bertemu dalam suatu pertemuan silaturahmi. Dalam obrolan sore hari itu saya mendapatkan informasi yang menarik tentang sebuah bangunan stasiun kereta api. Dimana stasiun ini lokasinya berada di daerah Jl. Raya Garuda Kemayoran, Jakarta Pusat.

Setelah saya mendapatkan informasi tentang bangunan stasiun kereta api di daerah kemayoran yang memiliki cerita sejarah dan bentuk bangunannya sudah tertata rapih dan terawat, maka saya pun menghampiri bangunan tersebut untuk melihat dari dekat dan menyaksikan sebuah keindahan gaya arsitekstur dari banguan bersejarah tersebut.

Stasisun Kereta Api Kemayoran memiliki luas bangunan yang tidak terlalu luas, bangunan stasiun ini telihat kecil dan mungil. Stasiun kereta api yang memiliki aktifitas jadwal kereta api yang padat ini semapat emncuri perhatian saya untuk melihat dari dekat bangunan yang bergaya klasik dan unik.

Bangunan stasiun kereta api Kemayoran Jakarta ini, berbentuk persegi panjang, dengan ruang tengah yang kosong, dan tempat penjual tiket kereta. Walau terlihat seperti memiliki dua lantai dari jauh, namun setelah memasuki ruang dalamnya stasiun ini hanya memiliki satu lantai dasar saja. Walau menurut catatan sejarah yang dilnasir dalam wikipedia awalnya bangunan stasiun kereta api kemayoran ini memang memiliki dua lantai pada tahun 1909. Namun, pada tahun 1920 - an stasiun kereta api Kemayoran terpaksa di hancurkan pada saat pembangunan aliran listrik.

Menelusuri bangunan stasiun kereta api kemayoran dengan melihat aktifitas warga di sekitar stasiun bagi saya merupakan suatu kenikmatan sendiri. Dimana aktifitas warga yang terlalu sibuk tidak akan pernah menanyakan kehadiran saya di tengah-tengah mereka dalam mengabadikan gambar satu demi satu yang menjadi pusat perhatian saya di lokasi stasiun kereta api kemayoran ini. Enak bukan ?.......

Hal inilah yang menjadikan perjalanan kali ini merasa lebih nyaman dan tidak merasa terganggung oleh pertanyaan dari orang. Padahal saya hanya ingin mengambil gambar foto dari bangunan stasiun kereta api Kemayoran ini yang memiliki sejarah panjang perjalanan dunia perkereta apian Indonesia, sejak di bukanya jalur kereta api dari Karawang - Cikampek - Bandung pada tahun 1906, dan pernah menjadi stasiun kereta api utama pada masa Staatsspoorwegen untuk kereta api yang datang dari dan menuju ke Bandung sebelum adanya staisun kereta api Gambir yang berada di dekat daerah Monumen Nasional (MONAS).

Stasiun kereta api Kemayoran Jakarta sampai dengan hari ini, masih aktif di gunakan untuk melayani jasa transportasi darat kereta api. Dan bangunan stasiun yang merupakan bangunan sejarah dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang terus dilestarikan dan di rawat di daerah Jakarta Pusat. Hal ini terlihat dari bentuk bangunan yang tua, namun tetap terawat dan dijaga kelestarian dan fungsinya oleh pemerintah Indonesia. Dan bagi anda yang mencari penginapan di lokasi stasiun kereta api Kemayoran, maka anda dapat mengunjungi daftar hotel murah kawasan Kemayoran Jakarta.

Semoga informasi tentang situs bangunan bersejarah stasiun kereta api Kemayoran ini, dapat memberikan sedikit informasi tentang bangunan situs bersejarah yang berada di ibu Kota Jakarta, Indonesia. Dan dapat terus dilestarikan dengan memeliharaha dan menjaga gaya arsitekturnya yang unik dan klasik yang memiliki sejarah ini. Dari lokasi ini anda dapat mengunjungi Bandar Kemayoran Jakarta di mana lokasi ini menjadi kota mandiri yang berada di kawasan Kemayoran Jakarta





Salam,

MENELUSURI JEJAK SEJARAH MENARA BANDARA KEMAYORAN JAKARTA

Menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta yang merupakan salah satu situs bersejarah yang memiliki perjalanan sejarah panjang bagi dunia penerbangan nasional. Menara bekas Bandara Kemayoran berlokasi di kawasan Bandar Kemayoran Jakarta.

Bekas Bandara Kemayoran Jakarta yang pernah memiliki nama besar dalam dunia penerbangan nasional Indonesia, dan sebagai salah satu pintu gerbang  penerbangan nasional jalur udara pertama di Jakarta. Bekas menara bandara Kemayoran ini pernah di jadikan tempat pencatatat nomor penerbangan dari penerbangan jalur nasional, internasional, bahkan penerbangan para tokoh-tokoh besar internasional bahkan artis besar internasional pun pernah tercatat dalam menara ini.

Foto Menara Bandara Kemayoran Jakarta :
Menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta ini pernah dekat dengan dunia kehidupan semua kalangan, teringat pada usia saya masih kecil yang memiliki hobi dalam membaca serial komik yang cukup terkenal di kalangan dunia anak-anak, kedua menara Bandara Kemayoran Jakarta ini pun sangat terkenal pada masa tersebut di dunia anak-anak.

Kutipan catatan sejarah Bandara Kemayoran Jakarta..............
Bekas Bandara Kemayoran Jakarta ini di bangun pada tahun 1934, walau pun pada catatan sejarah dunia penerbangan nasioanl pada tanggal 6 Juli 1940  pesawat udara maskapai penerbangan internasional pertama milik perusahaan Belanda KNILM (Koningkelije Nederland Indische Luchvaart Maatschapil) yang diterbangkan dari lapangan udara Tjililitan (Cililitan) sekarang Halim Perdanakusuma yang mendarat di Indonesia dengan pesawat DC-3 Dakota, namun  secara resmi Bandara Kemayoran Jakarta di buka dan beroperasi pada tanggal 8 Juli 1940. Dan....... Bandara Kemayoran Jakarta dengan kode JKT mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983. Sedangakan sejak tahun 1975 penerbangan internasional untuk sementara waktu di alihkan di Bandara Halim Perdanakusuma. (berbagai sumber)

Kisah perjalanan saya menelusuri jejak sejarah untuk menemukan kembali kedua bangunan situs ini di kawasan Bandara Kemayoran Jakarta ternyata tidak semudah pada saat tahun 1982, di mana pada masa tahun tersebut, menara kontrol pesawat bekas Bandara Kemayoran Jakarta ini masih mudah dilihat. Dan untuk tahun 2013 ini, menara bekas bandara Kemayoran Jakarta sulit sekali terlihat, adapun bila terlihat dari jarak pandang yang jauh, mungkin kebanyakan dari kita sudah tidak ada yang tahu bila bangunan tersebut merupakan salah satu situs bersejarah dunia penerbangan Indonesia yang pernah memiliki nama besar untuk bangsa Indonesia.

Foto Situs Bersejarah Di Tengah Hutan Kota Jakarta :

Menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta ini tertutup dengan di kelilingi tembok batu tinggi, dan rimbunan pohon besar di antara megahnya bangunan gedung-gedung megah di kawasan Bandara Kemayoran Jakarta. Seperti yang anda lihat dalam foto di atas tersebut.  Jalan yang dulunya di lalui pesawat terbang dari maskapai penerbangan mana saja, kini menjadi suatu pemandangan hutan kota metropolitan Jakarta yang hijau dan lebat tanpa penghuni manusia satu pun untuk merawatnya dengan berdiri tegak di antara gedung-gedung pencakar langit seperti foto yang berada di bawah ini.

Foto Situs sejarah di tengah hamparan pencakar langit :

Untuk sampai atau pun mendekati bangunan ini pun, saya harus berjalan memutar mencari pintu celah yang terbuka. Hampir setiap warga yang bermukim di sekitar lokasi menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta semuanya menjawab dengan jawaban yang sama, bahwa tidak ada pintu untuk dapat masuk ke lokasi Bekas Bandara Kemayoran Jakarta.

Foto Salah satu perkampungan Bandar Kemayoran Jakarta :

Menelusuri kawasan daerah perkampungan penduduk di depan kawasana JI Expo Kemayoran Jakarta, sambil bersiltaruhmi dengan penduduk daerah tersebut dan mencari tahu pintu masuk jalan menuju menara, tak satu pun jawaban yang dapat menunjukan saya menuju ke lokasi menara tersebut.

Semakin banyak saya menerima jawaban dari masyarakat yang menyatakan tidak bisa dan tidak boleh mendekati kawasan tersebut, semakin keras panggilan jiwa yang ada di dalam diri saya untuk mendekati kedua menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta tersebut. Hingga seorang kake tua yang tidak tahu dari mana arah datangnya, tiba-tiba menemui saya dan menanyakan maksud dari tujuan saya untuk datang ke lokasi menara tersebut.

Adapun jawaban yang saya berikan saya hanya ingin melihat dari dekat dan mengambil foto bangunan tersebut untuk koleksi pribadi. Sambil menatap wajah saya dengan matanya yang tajam, maka beliau pun mengarahkan saya, sambil menunjukan jalan untuk menerobos masuk mendekati gedung menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta. Pesan terakhir yang saya ingat dari kake tua tersebut, "Masuklah dari lubang pintu ini, dan ikuti jalan setapak yang akan menghantarkan kamu sampai di menara tersebut". Sayangnya setelah si kake tidak menemani saya dalam peneluran di kawasan ini, dan menghilang entah kemana.

Foto Jalan setapak menuju menara Bandara kemayoran Jakarta :
Lanjut cerita kisah penelusuran di kawasan menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta..................
Setelah saya ikuti dan telusuri jalan setapak yang di kelilingi semak belukar, maka terlihat dengan jelas bangunan menara Bekas Bandara Kemayoran Jakarta dari jarak berjauhan seperti foto gambar yang di bawah ini.
Melihat dan memperhatikan dari dekat situs bangunan tua bersejarah ini dari dekat, membuat hati saya menjadi miris. Bangunan menara bekas menara Bandara Kemayoran Jakarta yang memiliki nilai historis sejarah perjalanan dunia penerbangan nasional Indonesia yang pertama di Ibu Kota Jakarta yang ada di depan saya ini begitu terlantar sejak lama, terlihat bangunan ini tanpa terurus, dan hanya menjadi sebuah sarang burung, dan rumah para penghuni dunia lain.

Dengan perasaan takut dan kekhawatiran untuk memasuki salah satu gedung menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta yang berlantai 6, saya mencoba memberanikan diri untuk memasuki menara tersebut. Pintu masuk yang terbuka dan terlihat sudah rusak seraya memanggil diri ini untuk masuk ke dalam bangunan menara, menaiki setiap anak tangga dengan melewati setiap lantai demi lantai hingga di puncak lantai enam paling atas menara merupakan perjalanan yang penuh rasa kekhawatiran dalam diri saya.

Ada beberapa kekhawatiran yang menyelimuti diri saya dalam memasuki area gedung manara bekas Bandara Kemayoran Jakarta, setiap lantai dan anak tangga yang saya lalui untuk sampai ke lantai 6 menara yang terbuat dari besi keadaannya sudah berkarat dan sedikit rentan dan mudah menimbulkan reruntuhan besi-besi karat yang kita pijak. Namun dengan kehati-hatian dan rasa penasaran, semua itu dapat saya lalui dengan aman dan selamat. Dan dapat melihat keadaan situasi dalam area menara bandara kemayoran Jakarta melalui foto-foto di bawah ini.

Foto area luar dan dalam menara Bandara Kemayoran Jakarta :

Pada saat mencapai lantai puncak menara, terlihat bangunan mewah yang ada di sekitar kawasan Bandar Kemayoran Jakarta seperti yang terlihat di dalam foto di atas. Timbul pertanyaan dalam hati saya sebagai anak bangsa Indonesia yang menghargai sejarah, "Mengapa bangunan situs bersejarah ini di sia-siakan dan tidak di alih fungsikan tanpa harus merubah bentuk bangunan dan mengurangi nilai sejarah seperti di kawasan Kota Tua Jakarta ?"

Mungkin pertanyaan saya tersebut di atas, hanya merupakan salah satu segelintir pertanyaan dari sebagian besar masyarakat Inonesia yang mengetahui tentang Menara bekas Bandara Kemayoran Jakarta. Hanya rumput dan tanaman semak belukar  di sekitaran bangunan situs tua menara inilah yang selalu menjawab dengan jawaban pastti dengan waktu yang berjalan dari masa ke masa.

Dan terimakasih kepada bapak tua, siapa pun diri anda yang telah menunjukan pintu masuk melalui jalan setapak dalam kawasan ini, hingga saya dapat dengan mudah dan leluasa menggambil gambar foto-foto di kawasan tersebut dan tahu lebih dekat bangunan situs bersejarah menara Bandara Kemayoran Jakarta yang pernah memiliki nama besar dan membesarkan dunia penerbangan Indonesia.

Semoga perjalanan penelusuran saya secara pribadi di kawasan ini, yang hanya bermaksud ingin mengetahui dari dekat dan jelas keberadaan menara Bandara Kemayoran Jakarta, yang juga menjalankan amanah sesuasi UUD '45 bagi setiap warga negara Indonesia yang turut serta menjaga dan melestarikan aset bangsa agar tidak mengalami kepunahan, dan melalui media ini pula saya berbagi informasi perjalanan saya dalam menelusuri jejak sejarah Bandara Kemayoran Jakarta.




Salam wisata,

TAMAN BURGEMEESTER BISSCHOPPLEIN DI PUSAT KOTA JAKARTA

Taman Burgemeester Bisschopplein adalah Taman Suropati yang berada di pusat kawasan Menteng, dan lokasinya berada di pertemuan tiga jalan utama, yaitu Menteng Boulevard (Jl. Teuku Umar), Orange Boulevard (Jl. Diponegoro) dan Nasau Boulevard (Jl. Imam bonjol).

Taman Burgemeester Bischopplein di ambil dari nama Walikota atau "Burgemeester", sebagai perhargaan bagi Mr. G. J Bisschop yang menduduki jabatan pertama sebagai "Burgemeester" atau walikota di Batavia pada tahun 1916.

Pada awal mulanya Taman Burgemeester Bischopplien berbentuk bukit, dan dalam proses pekerjaannya Taman Burgemeester Bischopplien ini dipangkas, dan tanahnya sebagian dibuang ke Jalan Besuki.

Sejarah Singkat..........
Informasi yang penulis dapatkan dari beberapa sumber pustaka. Mr. G. J Bisschop pernah menduduki jabatan penting selama beberapa tahun sebagai birokrat di Hollandsche Gemeenteadmnistratie, yaitu suatu kementrian Administrasi Belanda.

Dan kareir Mr. G.J Bisschop telah banyak memberikan masukan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan birokrasi dan perencanaan pemerintah kota Oleh sebab itu, dia kemudia ipilih dan dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Burgemeester di Batavia yang pada waktu itu sedang stagnan.

Mr. G.J Bisschop sempat menjabat sebagai Sekretaris Ahli di Departemen Keuangan, jadi lengkaplah sudah pengetahuannya sebagai pejabat tinggi di Batavia yang akan mengurus segala masalah yang berkaitan dengan perkembangan perkotaan.

Selama kepemimpinan Mr. G.J Bisschop (21 Agustus 1961 - 29 Juni 1920), dia telah banyak mempelopori pembangunan sarana pelayanan bagi masyarakat Kota Batavia. Dan pada masanya, dia telah menggerakan pembuatan instalasi air leideng dari Ciomas - Bogor ke Batavia (1918 - 1920). Dan membangun lebih dari sepuluh sumur bor dan pompa di berbagai wilayah di Batavia untuk menambah keperluan air bersih di Kota Batavia.

Mr. G.J. Bisschop juga mempelopori pemberantasan nyamuk Malaria (Malaria Bestrijding) dengan mengeringkan dan menmbun beberapa rawa dan empang milik penduduk sekitar Batavia, khususnya Batavia bagian Utara, seperti Tanjung Priok, Angke, Kemayoran, Jembatan Merah, Pademangan, dan Sunter (1919), yang terkenal pada waktu itu sebagai tempat sarang nyamuk malaria. Walaupun demikian pada tahun 1960 -an wilayah-wilayah tersebut masih dikenal sebagai sarang nyamuk malaria.

Sebagi orang yang pernah menjabat di Departemen Keuangan Belanda, maka dia sangat mengerti bagaiman menarik pajak dari masyarakat dan mengembalikan kemabalikannya kembali kepada masyarakat melalui berbagai penyediaan sarana dan pelayanan kebutuhan masyarkat.

Dengan kata lain, dengan kedatangannya, Kota Batavia menjadi lebih dinamik, manusia, dan berkembang. Dan karena hasil kerja yang sangat memausakan maka pemerintah Pusat beserta masyarakat Belanda di Batavia memberikan penghargaan kepadanya dengan mencantumkan nama taman yang bagus dan luas di wilayah Menteng itu dengan namanya.

Taman yang kini disebut dengan Taman Suropati sejak tahun 1920, dan mulai ditanami pohon dan kembang, sudah menggantikan lapangan bundar yang luas dalam Rencana Moojen. Dan Taman Suropati ini sekarang telah menjadi taman yang ridang ditumbuhi pohon-pohon besar yang dihiasi dengan patung -patung dari pematung seluruh negara ASEAN.

Dalam benak penulis, nama sebuah Taman Burgemeester Bisschopplein berubah menjadi nama Taman Suropati, bukan berarti bangsa Indonesia tidak menghargai upaya yang telah dilakukan oleh Mr. G.J. Bisschop dengan hasilnya untuk masyarakat Batavia pada masanya.

Mungkin hal ini dilakukan pemerintah Indoensia untuk lebih memperkenalkan nama-nama dan tokoh masyarakat pada masa merebut perjuangan kemerdekaan Indonesia, dimana akan lebih banyak mengenal anak bangsa ini dengan para pahlawannya nasionalnya dengan mencantumkan nama Taman "Suropati" di taman ini sebagai pengganti nama Taman "Burgemeester Bisschopplein"

Nah, para sahabat traveller, ternyata Jakarta memiliki nilai keunikan tersendiri. Terutama bila kita mau lebih banyak mengenal tentang sejarah Kota Besar Jakarta, yang menjadi sebuah cerita yang tiada nilainya.

Disamping kita bisa menikmati keindahan kota dan taman yang berada di Taman Suropati ini, kita pun dapat menggali dan mencari tahu keunikan yang tersembunyi dari sebuah cerita sejarah. Karena suatu tempat akan selalu menajdi saksi sejarah dari bagian proses cerita yang sebenarnya. Seperti sejarah kota Jakarta yang dapat kita telusuri kawasan Kota Tua Jakarta.



Salam Wisata,

DE GROOTE RIVER OF BATAVIA SEBUAH PESAN DALAM POTRET SEJARAH

De Groote River of Batavia merupakan sebuah Kali Basar yang membelah Kota Batavia., sungai yang lebar dan yang lurus membujur hingga ke arah utara pelabuhan Sunda Kelapa. Di mana pada masa dahulu Kali Besar terebut pernah menjadi jalur niaga perdagangan di kota Batavia terpenting pada zamannya.

Sinar matahari yang selalu memancarkan sebuah kesetiaan dalam memberikan kehidupan terasa melengkapi keindahan hari dalam menjelang sore hari di De Groote River of Batavia. Sinar yang menerobos gumpalan awan tipis mempbuat sinar dalam menembus pada pantulan cahayanya di kawasan De Groote River of Batavia tersebut.

Mendengar, melihat, dan merasakan sebuah jejak sejarah kota Batavia membuat hati selalu terbawa pada masa tempo dulu. Dimana kesibukan pelayaran yang penuh dengan mondar-mandirnya kapal di perairan De Groote of Batavia yang yang sekarang kita kenal dengan nama Kali Besar yang ada di daerah Kota Jakarta.

Dimana kala itu, aktivitas yang sering berlangsung adalah berlabuhya kapal-kapal untuk melakukan bongkar muat, dengan suatu misi kegiatan perdagangan demi menggerakkan perekonomian dan menopang pembangunan pada saat itu.

Sekilas sejarah........
Dalam sebuah catatan sejarah yang penulis dapatkan dari beberapa daftar pustaka pusat penerangan museum sejarah Jakarta. Pada abad ke -17, di sepanjang Kali Besar berderet bangunan yang  menjadi bangunan fungsi ganda sebagai rumah dan toko di sepanjang Kali Besar, yang dihuni oleh orang-orang China.

Lanjut.........
Setelah peristiwa tragis yang disebut kerusuhan China pada tahun 1740, semua menjadi berubah. Dan orang-orang China keluar dari area tembok Batavia. Dan bangunan-banguanan yang tersisa yang ada dimanfaatkan untuk perkantoran, perusahaan, dan pergudangan bertingkat oleh pemerintah berkuasa pada saat tersebut

Namun, saat sekarang ini semua aktifitas tersebut sudah jarang sekali kita temukan di sepanjang lokasi Kali Besar. Tidak ada lagi pelayaran yang ramai seperti dulu, tidak ada lagi aktivitas perdagangan. Disaat penulis berkunjung ke lokasi Kali Besar bersama rombongan wisatawan dari Kota Bandung, yang mereka memiliki suatu aktifitas yang bergerak di photography. dalam menelusuri sepanjang kali, kita hanya bisa menikmati sebuah kisah yang terpancar dari setiap bangunan-bangunan tua yang tersisa sepanjang lokasi Kali Besar.

Napak tilas kami telusuri dalam sebuah perjalanan hingga Jembatan Ratu Juliana, dimana sebelumnya kami berhenti sejenak di seberang rumah toko merah yang pernah menajdi tampat tinggal gubernur Von Imhoff (1730-1741), dan melihat sebuah ketegaran bangunan tua yang memilki nilai historis dunia perbankan dunia, yaitu sebuah bangunan tua bekas peninggalan Charted Bank of Indonesia, Australia and China.

Menelusuri gedung -gedung tua bersejarah merupakan suatu petualangan yang mengasyikan. Apabila kita dapat mengenali setiap objek dari sudut kacamata yang unik. Namun, di satu sisi kita boleh menikmati suasana klasik di objek-objek seperti ini, dan di sisi lain kita harus peduli dengan kondisi bangunan tua yang ada di sekitar Kali Besar. Semoga dinas terkait yang ada di ibukota Jakarta dapat memperbaiki potensi objek wisata sejarah dan budaya yang ada di kota tua.

Mungkin bukan hanya penulis yang memiliki sebuah keinginan dan cita-cita akan suasana Kota Tua Jakarta yang bersih dan nyaman serta dapat berbenah diri untuk dapat mempercantik gedung-gedung tua sebagai penunjang objek wisata sejarah yang menjadi sebuah saksi bisu perjalanan sejarah kota Jakarta.

Lebih tertata kembali dalam hal penempatan lokasi-lokasi untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Bila hal ini dapat diwujudkan dengan rapih dan didukung oleh semua pihak dan warga masyarakat Jakarta, maka tidak mustahil Jakarta dapat menjadi sebuah target sasaran wisatawan dunia internasional yang akan selalu bernostalgia untuk mengenang jejak sejarah kake moyangnya yang ada di Indonesia, seperti peninggalan gedung tua Museum Sejarah Jakarta.



Salam Wisata,

JEMBATAN KOTA INTAN KOTA TUA JAKARTA KEINDAHAN RATU JULIANA DALAM SEJARAH JAKARTA


Jembatan Kota Intan merupakan salah satu jembatan yang terletak di sudut Ibukota Jakarta. Jembatan Kota Intan memiliki panjang 30 meter dan lebar 4,43 meter ini sering kali menjadi salah satu objek wisata yang selalu direkomendasikan pada saat berkunjung di wilayah objek wisata Kota Tua Jakarta.

Jembatan Kota Intan juga sering dijadikan tempat untuk berbagai macam kegiatan, mulai dari zona titik rute wisata observasi budaya yang bernilai sejarah, dan tempat lokasi ajang pengambilan gambar photo bagi para fotografer sampai tempat favorit pengambilan photo pre-wedding.

Jembatan Kota Intan yang memiliki keunikan dari panorama view arsitektur dan bentuknya, selalu membuat para mata yang melintah dikawasan Kota Tua Jakarta ingin mendekati dan mengabadikan sebuah momen unik pemandangan yang indah dan klasik bagi para wisatawan domestik dan luar negeri dari kamera photo yang mereka miliki.

Jembatan Kota Intan pernah mendapat julukan sebagai Jembatan Pasar Ayam ( Hoenderpasarbrug ) oleh masyarakat pribumi. Dikarenakan pada saat itu di sekitar Jembatan Kota Intan dijadikan area jual beli ayam. Dan pada tahun 1938 Jembatan Kota Intan ini rusak, dan sempat diperbaiki kembali dan bergati nama menjadi Jembatan Ratu Juliana ( Ophalsbrug Juliana ). Dan sekarang ini dikenal dengan nama Jembatan Kota Intan ( Diamond ). Dengan alasan pada waktu itu berdiri sebuah Kastil Batavia bernama Diamond.

Jembatan Kota Intan berlokasi persis berdekatan area Stasiun Bus Jakarta Kota yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 7 September 1972. Dan menjadi satu-satunya jembatan yang tersisa dan paling terkenal di Ibu Kota Jakarta dari sekian banyaknya yang pernah didirikan Belanda yang penulis ketahui dari beberapa sumber informasi daftar pustaka dan pusat sejarah Jakarta..

Banyak sensasi yang dapat kita rasakan di Jambatan Kota Intan ini, seperti pengalaman penulis pada saat hadir bersama para peserta wisata Jakarta City Tour yang penulis bawa untuk memperkenalkan di area Jembatan Kota Intan ini. Dimana kita bukan hanya dapat melihat bentuk jembatanya yang unik; namun, kita  juga dapat merasakan bentuk suatu jembatan yang khas, dan dapat membawa daya hayal imajinasi kita pada era masa lalu.

Pada saat kita mulai menginjakkan kaki diatas Jembatan Kota Intan ini, seketika itu pula kita langsung dapat memvisualisasikan perdagangan pada masa lampau, pada saat kapal-kapal yang sibuk hilir mudik dengan urusannya masing-masing berlalu lalang melintasi Jembatan Kota Intan di bawahnya yang terdapat sebuah kali besar.


Kini Jembatan Kota Intan usianya sudah renta dan semakin terlihat dari karat besi yang timbul di sisi-sisinya, walau selalu diperbaruhi, kekuatan kayunya pun tampak tidak sekokoh seperti dulu. Biarpun seperti itu, Jembatan Kota Intan yang penuh dengan sejarah ini menyisakan sebuah kisah yang menarik untuk ditelusuri. Jembatan Kota Intan tetap berjasa karena telah turut serta menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia khususnya Ibu kota Jakarta.

Jembatan Kota Intan kini tidak berfungsi sebagai jembatan yang membantu orang menyeberangi kali besar di daerah Kota Tua Jakarta, dan kini hanya bisa melayani para tamu wisatawan yang terkadang untuk melampiaskan segala inovasi kreatifitasnya dalam berkarya dengan segala bentuk kekagumannya dalam bentuk arsitektur yang unik dan memiliki cerita sejarah Jakarta ini.

Berbekal semangat hasrat menuangkan sebuah goresan karya dalam bentuk tulisan yang beredukatif selama melakukan perjalanan wisata edukasi sejarah di Kota Tua Jakarta, rasanya bila berbagi dari apa yang sudah penulis dapatkan merupakan suatu rasa kesenangan tersendiri yang tidak ternilai harganya.

Wisata Edukasi Sejarah Jakarta merupakan suatu perjalanan wisata yang kaya akan informasi ilmu pengetahuan bernilai sejarah yang dapat membuka cakrawala pengetahuan tentang budaya dan sejarah Ibu kota Jakarta. Perjalanan wisata yang dapat memberikan suatu nilai lebih dan unik dalam suatu konsep perjalanan wisata yang tidak membuat suasana menjadi tidak monoton dan dapat membantu peserta untuk dapat menambah cakrawala pengetahuan tentang Ibu kota Jakarta dengann cara yang unik dan mengasyikan.



Salam Wisata,

MUSEUM BANK INDONESIA FENOMENA KLASIK DE JAVASCHE BANK OF BATAVIA


Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia berperan sangat penting demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Bila kita ingin tahu seluk beluk dan sepak terjang Bank Indonesia, kita bisa datang mengunjungi museum Bank Indonesia yang berlokasi persis di seberang  Stasiun Kereta Api Kota Beos. Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat. Sejak lahir Museum Bank Indonesia hingga kini telah menjadi wahana penjelajahan yang penuh dengan edukasi dan rekreatif bagi para pengunjungnya.

Sejarah kantor pusat pertama Bank Indonesia merupakan bangunan rumah sakit (Binnenhospital) dan De Javasche Bank yang berdiri pada 24 Januari 1828. De Javasche Bank sendiri memiliki fungsi tempat sirkulasi berbagai macam perdagangan hasil bumi yang datang dari berbagai penjuru wilayah Hindia Belanda.

Dalam perjalanannya gedung ini sempat direnovasi beberapa tahap dan mengalami perluasan, sampai akhirnya ditempati oleh Bank Indonesia yang berdiri pada 1 Juli !953. Setelah kantor Bank Indonesia pindah dan gedung ini tidak terpakai lagi, pemerintah memanfaatkannya sebagai museum yang diresmikan pada 15 Desember 2006. Selanjutnya, museum ini terbuka untuk masyarakat.


Sejak saat itulah Museum Bank Indonesia melakukan pembenahan dan mempercantik diri untuk kepuasan pengunjungnya. Puncaknya adalah pada saat Presiden Republik Indoneisa, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan kembali museum ini pada tanggal 21 Juli 2009. Semenjak itu, tampilan dalam Museum Bank Indonesia lebih terlihat mantap. Kaya akan visual modern-klasik dan mengajak untuk memasuki lorong waktu sejarah yang mengesankan.

Jangan kaget bila di dalam Museum Bank Indonesia ini kita dapat menemukan banyak jenis dan bentuk uang. Sebelum menjelajah lebih jauh, penulis dan para peserta harus melewati pintu kasir dan dipandu sembari diberi informasi tentang sejarah Bank Indonesia secara umum lewat monitor yang bisa dioperasikan sendiri.

Setelah kita melalui itu semua, maka kita akan mengalami sensasi petualangan yang menggembirakan di Museum Bank Indonesia. Kita akan memasuki suatu moment langka yang terdapat di dalam Museum Bank Indonesia, yaitu dimana kita dapat merasakan permainan mandi uang. Dan di lorong yang tidak terlalu besar, kita akan bisa menangkap uang logam yang berterbangan pada layar yang melengkung tanpa harus memegangnya secara nyata.


Setelah kita berhasil menggenggamnya, maka kita akan mendapatkan informasi dari mata uang yang didapatkannya. Mainan yang mebuat kita hanya dalam suatu atmosfer interaktif di dalam Museum Bank Indonesia. Wahana ini ditunjang dengan menggunakan proyektor multimedia yang menjadi salah satu wahana favorit bagi setiap peserta wisata yang penulis dampingi ditempat ini. Kita akan diajak bagaikan berada dinegeri khayalan dalam dunia mimpi yang sedang dihujani uang.

Perjalanan terus berlanjut, menuju ke arah ruang teater yang menyuguhkan film-film menarik. tentunya dengan kemasan yang dijamin tidak membosankan. Di bioskop mini itu kita atau pun pengunjung dapat menyaksikan sinema tiga puluh menit tentang sejarah Bank Indonesia. Ruang Teater yang dapat menampung enam puluh orang ini sangat nyaman, sehingga informasi penting yang ada dalam rangkaian cerita filmya bisa lebih gampang diserap. Pengetahuan soal visi dan misi Bank Indonesia serta perannya menambah pengetahuan kita.

Menikmati sajian pertunjukan dalam teater di Museum Bank Indoneisa membuat tubuh ini malas beranjak dari tempat duduk studio mini yang sejuknya terasa hingga ke daging dan tulang. namun, kita harus melanjutkan perjalanan menuju ruang sejarah pra-Bank Indonesia. Persis setelah keluar dari rung teater, kita akan diajak untuk memasuki ruangan medium masa lampau.

Pada dinding awal ruangan terbentang peta kuno sebagian daratan Asia. peta zaman dahulu kala yang menggambarkan penuh sumber kekayaan alam. masih diruang yang sama, panel aktiitas perdagangan sebelum kedatangan bangsa Barat samapai terbentuknya Bank Indonesia menjadi sebuah rangkaian peristiwa yang disuguhkan lewat papan informasi dan televisi modern. kali ini, display elektronik otomatis-lah yang menajadi pemandu setia dalam menjelaskan lewat audio visual canggih perihal sejarah kondisi ekonomi, politik sepanjang masa.

Di ruangan ini kita cukup menggunakan ujung ibu jari untuk untuk menyentuh layar monitor display agar dapat mengikuti kronologi perekonomian Indonesia mulai dari Masa Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, Masa Revolusi Fisil, Masa RIS, hingga Masa Berdirinya Bank Indonesia.

Di Museum Bank Indonesia kita juga dapat langsung berkenalan dengan sejarah kelembagaan Bank Indoneisa. Secara garis besar kita dapat memahami fungsi Bank Indoneisa sehubungan dengan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran dari beberapa kurun waktu. Banyak sekali peran Bank Indoneisa bagi pemerintah dan bagi pengembangan sektor swasta, terutama usaha-usaha kecil lewat pemberian kredit kepada perbankan.

Kita bisa melihat sekilas metamorfosis logo Bank Indonesia, mulai dari tahun 1953 sampai yang terakhir tahun 2005. Sampai saat ini logo Bank Indonesia sudah mengalami tujuh kali perubahan. Pengubahan bentuk logo yang dilakukan Bank Indonesia semata-mata bermaksud agar lembaga tersebut lebih berwibawa dan semakin berkarakter.

Dari semua ruang pamer, ruang emas moneter menjadi favorit penulis dan para peserta wisata. Di sini, kita akan melihat tumpukan batangan emas yang dilindungi oleh kaca transparan. Mengkilau, memancarkan cahaya, dan menggambarkan simbol kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Batangan emas yang memiliki kadar emas 99,99 % tiap batangnya, dan memiliki ketebatan 4 cm serta berat 13,5 kg. Emas tersebut didimpan sebagai cadangan devisa Negara dan biasanya digunakan jika negara mengalami krisis politik dan ekonomi yang mempengaruhi nilai tukar mata uang.

Di dalam ruang numismatika kita hanya dapat merasakan cahaya sinar lampu temaram yag terdapat banyak kepingan dan lembaran uang, serta uang terbitan khusus yang sangat langka. Uang-uang ini dibagi ke dalam sembilan kelompok dan dipilih berdasarkan periode terbitnya. Contoh-contoh uang yang pernah dipergunakan di Nusantara itu mampu mebuat decak  kagum. Betapa tidak, di sini ada uang kertas Bank Indonesia yang pertama kali dikeluarkan paa tahun 1952. terdiri atas tujuh pecahan mulai dari Rp. 5 hingga Rp. 1.000,-


Di sini kita dapat menemukan uang seperti robekan karung beras bernama Kampua, uang kerajaan Buto, Sulawesi Tengara yang diprediksi pernah dijadikan alat tukar pada abad ke-14 - 19. Kita juga dapat menemukan uang Token yang hanya terbit di komunitas tertentu. Biasanya di perkebunan, di tempat rekreasi dan tempat perjudian. uang Token bentunya berbagai macam (segitiga, segolima, bundar) dan terbuat dari kertas, kayu, bambu, dan logam.

Mengamati semua koleksi yang bertebaran di Museum Bank Indonesia kita akan berhenti sejenak untuk diajak berpikir, apa yang kita lihat didalam berupa uang sobekan kertas dan logam di dalam Museum Bank Indoensia merupakan koleksi yang bertebaran merupakan kepingan kabar yang bila kita satukan menjadi sebuah cerita perjalanan bangsa Indonesia

Jakarta yang merupakan kota metropolitan yang memiliki kisah historis yang unik dan mengagumi untuk ditelusuri dan dinikmati dengan sudut kacamata yang berbeda. Dimana kita akan selalu menemukan hal baru dan istemewah dibalik sebuah cerita dalam sejarah setiap gedung-gedung tua yang ada di Kota Tua Jakarta.

Selamat menikmati indahnya Kota Jakarta dari nuansa yang berbeda.


Salam Wisata,

PESONA MUSEUM NASIONAL BAGAI ATMOSFER SEJARAH INDONESIA


Museum Nasional  sering kita sebut dengan Museum Gajah. Dikarenakan dihalaman depan museum ini terdapat patung gajah yang terbuat dari perunggu. Patung gajah yang terletak di halaman Museum Gajah merupakan salah satu hadiah pemberian hadiah kenang-kenangan dari Yang Mulia Somdej Praparamintrama Chulalangkorn dari Thailand yang pada waktu itu diberikan kepada pemerintahan Batavia, pada saat melakukan kunjungan pertamanya ke Indonesia (9 Maret - 15 April 1871).


Dari catatan sejarah informasi yang penulis dapatkan. Gedung Museum Nasional Indonesia dibangun pada tahun 1862. Dan pembangunan ini memang sejak awal dirancang untuk dijadikan museum. Museum Nasional Indonesia tersimpan koleksi milik Bataviaash Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yaitu sebuah lembaga independen pembentukan pemeintahan Belanda yang memiliki misi memajuka penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan.

Dan bangunan Museum Nasional Indonesia resmi berfungsi sebagai museum pada tahun 1868. Sebenarnya cikal bakal Museum Nasional sudah ada sejak Bataviaash Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (perkumpulan Kerajaan Batavia tentang seni dan ilmu pengetahuan) didirikan pada tanggal 24 April 1778 oleh pemerintah Belanda di Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda budaya yang kemudian menajadi dasar untuk pendirian Museum Nasional Indonesia, dan berubah nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) pada bulan Januairi 1950. Dan pada tanggal 17 Setember 1962 LKI mewariskan pengelolaan museumnya kepada pemerintah Indonesia.

Photo  :

Pada masa pemerintahan Raffles pada tahun 1811 -1816, Museum Nasional ini sempat dipindah ke bangunan yang sekarang berada di Jalan Majapahit No. 3. Setelah kolekasi memenuhi museum, pada tahun 1862 Gubernur Jendral JCM Radermacher memerintahkan pembangunan gedung baru di Jalan Merdeka Barat No. 12, yang sekarang dikenal dengan nama Museum Nasional.

Hadir di Museum Nasional Indonesia kita dapat menyaksikan sebuah fenomena bangunan megah yang tua. Namun, selalu menyinari atmosfer cahaya yang membuat kagum bagi para pengunjungnya yang dapat mengambil ilmu dari kunjungan di museum ini. Bangunan yang mengagumkan, dan jumlah koleksinya paling banyak di antara seluruh museum yang ada di Indonesia.

Photo:

Kini Museum Nasional memiliki dua unit gedung megah, dan telah berhasil menyelamatkan 142.000 koleksi. Seluruh koleksi yang memiliki nilai edukatif kultur yang berada di Museum Nasional ini terbagi menajdi 7 jenis dan ditata sedemikian rupa serta terklarifikasi menurut tema yang ada.

  1. Yang pertama adalah koleksi Prasejarah. Dimana kita akan diajak masuk menikmati atmosfer masa-masa ketika manusia belum mengenal tulisan. Koleksi yang ada disini antara lain ; kendi, kelang, tenkorak homo erectus, dan bejana.
  2. Kita akan menikmati koleksi arkeolgi yang meliputi arca, peralatan upacara, perhiasan, dan prasati.
  3. Kita akan menemui koleksi keramik yang kebanyakan berasal dari China.
  4. Kita akan menikmati koleksi Numismatik dan Heraldik yang terdiri atas medali dan mutu uang yang pernah berlaku pada zaman kerajaan serta masa penjajahan.
  5. Kita akan menikmati koleksi Etnografi. Dimana diruang ini kita akan disuguhkan benda-benda adat dari daerah-daerah di nusantara ini yang menampilkankeragaman akan kekayaan bangsa. 
  6. Kita akan memasuki ruang Geografi, dan
  7. Barulah kita akan memasuki ruang sejarah yang menampilkan perabot-perabot rumah.

Tidak semua koleksi yang dimiliki Museum Nasional Indonesia ini dipamerkan. Dari total 142.000 koleksi yang dimiliki museum ini, hanya sekitar 30 persen saja yang dapat dinikmati oleh para pengunjungnya. Seluruh tema koleksi yang diusung di Museum Nasional Indonesia telah mengerucut menjadi tema besar yang memberi pesan bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luar biasa.

Photo  :

Benda-benda koleksi yang berada di Museum Nasional merupakan benda yang didapat dari penggalian arkeologi, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan juga dari pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di Museum Nasional ini merupakan yang terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum Naional juga merupakan museum pertama dan terbesar di Asia tenggara

Museum Nasional merupakan informasi penting bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa ke masa. Sangat disayangkan bila kita mengunjungi Ibu Kota Jakarta namun kita tidak menyempatkan diri untuk menuju ke Museum Nasional. Selain tempatnya yang asri, banyak sekali ilmu yang akan kita dapat bila kita menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Nasional ini


Salam Wisata,

MUSEUM SENI BUDAYA DAN KERAMIK KEINDAHAN DALAM SEBUAH PRESTASI SENI BERNILAI SEJARAH

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/09/museum-seni-budaya-dan-keramik.html
Menjelajahi museum di kota tua merupakan perjalanan petualangan sambil membuka cakrawala pengetahuan kita tentang dunia sejarah Jakarta dan bangsa Indonesia yang memiliki nilai kelas tersendiri di dunia internasional. Memang sangat mengasyikan bila kita dapat menyelusuri sambil menusun setiap kepingan-kepingan yang bertabur di kota tua tentang sejarah kota Jakarta.

Museum seni budaya dan keramik yang terletak di seberang lapangan Fatahillah, tepatnya di jalan Kantor Pos No. 2 Jakarta Barat. Dulunya banguan ini merupakan bangunan kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Road van Justitie Binnen Het Kastel Batavia). Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 ini pernah menjadi markas tentara KNIL, pada tahun 1944 sebagai asrama militer TNI. Pada 10 Januari 1972, dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi.

Bangunan Museum Seni Budaya Dan Keramik ini juga pernah dijadikan Kantor Walikota Jakarta barat pada tahun 1973-1979. Baru setelah itu banguan ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa Jakarta dan akhirnya pada tahun 1990, diresmikan menjadi museum seni budaya dan keramik.

Sesuai namanya, museum yang memiliki delapan pilar besar sebagai penyangga terasnya ini menyimpan koleksi karya seniman Indonesia periode tahun 1800-an sampai sekarang. Ada juga keramik dari beberapa daerah di Indonesia dan mancanegara, misalnya dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, jepang, dn Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20.

Koleksi seni lukis dan seni rupa yang disimpan sangat bernilai tinggi karena dibuat oleh seniman terkemuka pada jamannya. Selain seni keramik, terdapat koleksi seni rupa kontreporer. Oleh karena itu dengan mengunjungi museum ini sangat dianjurkan bagi kita dan keluarga untuk mengetahui lebih jauh lagi.

Selamat menikmati Wisata di Kota Jakarta.

Salam Wisata,

TAMAN FATAHILLAH ALUN-ALUN BATAVIA PUNYA CERITA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2012/09/taman-fatahillah-alun-alun-batavia.htmlTaman Fathillah Alun-Alun batavia Punya Cerita. - Taman Fatahillah merupakan  taman yang berada dihalaman depan Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, yang mana dulunya merupakan sebuah taman atau alun-alun yang berada di pusat kota Batavia. 

Taman Fatahillah pada waktu itu terkenal dengan sebutan Standhuisplien atau "Taman Balaikota"
karena diselatan alun-alun ini terdapat Balaikota yan dibangun pada tahun 1710 dan kini bangunan tersebut difungsikan sebagai Museum Sejarah JakartaDi tengah Taman Fatahillah terdapat air mancur untuk keperluan air bersih pada abad 18.

Disebelah timur Taman Fatahillah terdapat terdapat deretan gedung tua, dan salah satunya adalah sebuah gedung yang dahulu merupakan gedung milik perusahaan "Geo Wehry" yang dibangun pada tahun 1912. Sejak tahun 1939 digunakan sebagai Museum Oude Batavia dan pada tahun 1975 hingga saat ini dijadikan Museum Wayang.

Disebelah utara Taman Fatahillah terdapat gedung Kantor Pos gedung bekas PT. Jasindo, gedung bekas milik Dasaad, serta satu bangunan kuno yang difungsikan sebagai Cafe Batavia. Dahulu diantara deretan gedung tersebut terdapat sebuah meriam diantara deretan gedung tersebut terdapat sebuah meriam Portugis yang oleh masyarakat diberi nama  Si Jagur.

Meriam ini sebelumnya berada di Malaka. Setelah berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis pada tahun 1641, Belanda membawanya ke Batavia. Sekarang meriam tersebut ditempatkan di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta.

Taman Stasiun Beos. Taman ini dikenal masyarakat Jakarta, khusunya sekitar Kota tua. Karena terletak persis didepan stasiun (kereta api) Beos atau Stasiun Kota. Banyak juga yang menyebutnya sebagai Taman Stasiun Kota.  Taman ini sering sekali di kunjungi para wisatawan, atau pun sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda di daerah kota tua Jakarta.

Tugu jam yang berada di tengah-tengah taman masih dapat kita saksikan dibangun dengan gaya Art Deco, sesuai dengan gaya gedung-gedung sekitar tahun 1920. Taman Beos kini telah berubah fungsi dengan adanya terowongan sebagai Tempat Penyeberangan Orang (TPO) serta dimanfaatkannya sebagian lahan untuk halte pemberhentian Trans Jakarta koridor I.

Menikmati keindahan Kota Jakarta degan segala keunikan tempat yang memiliki historis sejarah, merupakan keasyikan tersendiri yang dapat kita nikmati dalam menjelajah gedung-gedung tua yang menjadi saksi-saksi bisu di Kota Tua  Jakarta. Selamat menikmati keindahan Kota Tua Jakarta di sana kita dapat menemukan sebuah Taman Fathillah Alun-Alun Batavia Punya Cerita.


Salam Wisata,

KOTA TUA JAKARTA FENOMENA SEJARAH JAKARTA


Berada di Ibu Kota negara Indoneisa, Jakarta tentu tidak lengkap jika tidak mengunjungi Kota Tua atau yang biasa disebut dengan Batavia Lama (Oude Batavia-bahasa Belanda). Kota Tua yang memiliki luas 1,3 km dan dibangun sekitar tahun 1620 setelah Belanda di bawah pimpinan Jan Pietter Coenzon yang menaklukkan Jayakarta pada waktu itu dan menguasai perkampungan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa.


Kota yang baru dibangun tersebut diberi nama Batavia untuk menghormati Bataviaren, leluhur warga Belanda. Pada tahun 1635, pengenmbangan kota ini semakin meluas dan memakan waktu yang panjang. Baru di tahun 1650, pembangunan batavia selesai. Dibuat dengan gaya Eropa Belanda, lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan blok yang dipisahkan kanal, dengan pusat kota yang berada di lapangan atau Alun-alun Fatahalillah (sekarang menjadi halaman Museum Sejarah jakarta).

Kota Batavia dibangun sebagai tempat pemukiman, pusat kota, dan pemerintahan. Oleh karena itu Kota Tua Batavia memiliki banyak situs bersejarah yang layak untuk dikunjungi oleh para wisatawan. Karena Kota Tua Jakarta memiliki sebuah nilai sejarah dan keindahan bentuk bangunan peninggalan Belanda, khususnya bagi warga Ibu Kota DKI Jakarta.

Objek-objek sejarah yang menarik kita dapat temui di Kota Tua Jakarta :

1. Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)
2. Museum Seni Budaya dan Keramik.
3. Museum Wayang.
4. Museum Bank Mandiri.
5. Museum Bank Indoneisa.
6. Bank Standard-Chartered
7. Hotel Former
8. Jembatan Tarik Kota Intan
9. Galangan  VOC
10. Menara Syahbandar.
11. Museum bahari,
12. Pasar Ikan
13. Pelabuhan Sunda Kelapa
14. Gedung Arsip nasional
15. Pecinan Glodok dan Pinangsia
16. Stasiun Beos
17. Kali besar (Grootegracht)
18. Gedung Chandranaya,
19. Vihara Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti).
20. Toko Merah
21. Petak Sembilan, Peni
22. Masjid Luar Batang.


Dari pengalaman penulis  menyelusuri Kota Tua Jakarta sering mendapatkan moment-moment yang indah dalam nampilkan suatu tempat yang klasik dan unik ini. Terutama pertunjukan seni tradisional yang selalu di pertunjukan di halaman Fatahillah bagi setiap pengunjung yang hadir. Bila suasana cuaca mendukung, maka bagi kita para pecinta dunia photo graphi akan mendapatkan view gambar yang cantik dan indah melalui fenomena alam yang kita akan dapatkan diantara gedung-gedung tua bersejarah tersebut.

Sangat disayangkan bagi kita warga Jakarta khususnya dan warga Indonesia yang belum atau pun tidak mengetahui objek-objek wisata yang bernilai sejarah dunia ini. Dimana cikal bakal berdirinya pusat kepemerintahan Ibu Kota Negara Indonesia menjadi suatu nilai historis sejarah tersendiri bagi bangsa dan negaranya..

Kota tua Jakarta merupakan objek wisata yang sangat mengasyikan, penuh edukatif akan sebuah nilai bersejarah tentang Ibu Kota Jakarta dan sejarah bangsa Indonesia. Bagi para sahabat-sahabat yang akan melakukan perjalanan di kota tua sebaiknya kenali objek wisata yang akan kita datangi terlebih dahulu. Bila perlu kita dapat mengikuti suatu paket perjalanan dengan seorang yang telah berpengalaman dan mengetahui setiap objek yang akan dikunjungi.

Penulis sangat menyarankan kepada para sahabat-sahabatku jangan lupa siapkan kamera dan kostum yang menarik jika mengunjungi kota tua Jakarta. Dikarenakan kita akan menemui spot yang menarik untuk berfoto ria dengan rekan-rekan, sahabat, keluarga, atau pun pasangan kita. yang mana semua ini merupakan suatu kisah perjalanan yang menarik dan dapat berkesan dihati kita.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi rekan-rekan dan dapat berbagi pengalaman kepada rekan yang lainnya.



Salam Wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus